
Audy duduk terdiam dengan pandangan kosong, satu tangan tampak menyangga kepala sedangkan satu tangan lainnya terlihat mengetuk-ngetuk meja. Dirinya merasa tak habis pikir dengan jalan pikiran otaknya saat masih menjadi Audy yang sebelum hilang ingatan.
"Haha! Gue gila! Gue milih jadi tukang jahit." Sedari tadi kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Alona hanya bisa mematung menyaksikan keanehan sikap Nona Mudanya itu.
Alona memang tidak tahu kronologi kecelakaannya, tapi jika di lihat dari kelakuan aneh Audy, Alona rasa cedera paling parah memang ada di kepala. Selain kehilangan ingatan Audy juga seperti kehilangan dirinya yang dulu. Bahkan nyaris 180 derajat.
"Terus sekarang gue harus gimana? Apa gue jadi pengangguran aja?" beonya.
"Menurut lo gimana?"
"Aku setuju saja dengan pilihan Nody," ujar Alona seadanya.
"Yaudah gue jadi pengangguran aja. Toh gue kaya raya."
Alona hanya meringis. Kata-kata yang di lontarkan oleh Audy sangat berbanding terbalik dengan kata-kata yang diucapkannya pasca lulus sekolah dulu.
"Pokoknya aku mau kerja, aku mau belajar menghasilkan uang dengan keahlian yang aku punya, aku gak mau jadi pengangguran, terlebih aku ngga punya keterbatasan dalam itu, sedangkan di luar sana masih banyak yang pengen kerja, tapi karena satu dan lain hal mereka terpaksa nganggur, nah aku gak mau jadi orang yang tidak bersyukur, udah dikasih jalan malah males-malesan, ih bukan aku banget."
"Iya gue jadi pengangguran aja. Selama ingatan gue belum pulih gue nganggur aja. Gue juga belum tahu keahlian gua apa," tuturnya berbicara sendiri.
"Bentar..." Audy tampak merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.
Tangannya bergerak lincah di atas papan ketik.
"Gue mau recokin Kenan aja, deh."
Auriga yang baru masuk ke dalam ruangan tampak berdiri kebingungan saat Audy sudah beranjak.
"Lo masih di sini? Lo gak kerja?"
"Mungkin saya akan mengambil cuti." Dan pemikirannya itu baru tercetus beberapa detik yang lalu.
"Ngapain? Mau nikah lo?" tanya Audy tampak cuek. Auriga bahkan tidak melihat sisa-sisa rasa yang tertinggal. Audy benar-benar telah berubah.
"Tidak. Hanya ingin saja. Kamu mau ke mana?"
"Gue mau nyamperin Kenan."
"Tidak!" seru Auriga. Bahkan Audy sempat memundurkan kepalanya saking merasa terganggu dengan oktaf suara Auriga.
"Kenapa? Masalah buat lo?"
"Saya tahu kamu sedang hilang ingatan, tapi saya akan beri tahu kamu kalau saya punya peran penting di hidup kamu sebelumnya."
"Lo lagi baca puisi atau lagu?"
Alona yang mendengar balasan Audy kontan tertawa. Namun, hanya beberapa saat. Telapak tangannya berusaha menghadang suara yang akan timbul kembali.
"Audy saya serius!"
"Lo pikir gue lagi ngelenong?"
__ADS_1
"Bukan begitu, tapi—"
"Udah lah, gue gak paham sama apa yang lo omongin. Gue mau ke tempat Kenan. Kalau lo mau ikut ya ayo."
Lagi. Auriga kembali memandang punggung Audy. Yang mana sebelumnya posisi mereka selalu terbalik. Dirinya lah yang selalu meninggalkan Audy, dirinya lah yang selalu melangkah lebih dulu, dan biasanya Audy lah yang selalu memandang punggungnya.
Entah karena alasan apa, Auriga merasa tidak nyaman. Auriga tidak suka melihat punggung Audy yang perlahan menjauh meninggalkannya.
Auriga jadi teringat masa itu. Masa di mana Audy yang selalu sabar dengan sikapnya yang cukup buruk dalam memperlakukan wanita itu. Ah tidak, bukan cukup, tapi sangat buruk.
•••
Audy si manusia manis yang suka sekali dengan warna-warna pastel, hari ini tampak menawan dengan gaun kuning selutut berhiaskan manik-manik berbentuk bintang disekitaran roknya. Sepatu hak pendek berwarna putih yang dipakainya pun tampak cocok menunjang proporsi tubuh mungilnya.
Rambut panjangnya tampak digerai dengan hiasan jepitan bintang berwarna perak yang terpasang di sebelah kiri.
Penampilan Audy sungguh sangat manis dan menggemaskan secara bersamaan. Bahkan siapapun tidak
Mata Audy langsung tertuju pada sosok jangkung yang ditunggunya sejak tadi. Audy kontan beranjak dan melangkah ke arah laki-laki tampan dengan kemeja hitam andalannya.
"Selamat malam, Aga," sapa Audy selalu terdengar riang.
Auriga hanya melirik Audy tanpa minat. "Mau apa kamu?"
Auriga tentu tahu, perempuan yang berdiri di depannya sekarang adalah anak dari pemilik Restoran. Yang mana satu minggu yang lalu telah mengenalkan diri sebagai teman masa kecilnya.
Tentu saja, mula-mula Auriga menyambutnya. Sesekali dirinya pun ikut menimpali akan kenangan-kenangan masa kecil yang ditarik menjadi topik pembahasan oleh perempuan itu. Namun, ternyata sikapnya yang terlalu ramah hari itu merupakan sebuah kesalahan.
Berlanjut pada Auriga yang sudah berada di titik jengah, akhirnya Auriga pun mengungkapkan fakta tentang hubungannya dengan Anggita—yang mana memang tidak mendapat restu dari Arviga dan Anjani.
Auriga kira alasan itu cukup untuk membuat Audy berhenti berulah lalu memilih menjauh. Tetapi tidak. perempuan itu malah semakin berani.
"Hari ini saya di jemput pacar saya, saya ada makan malam bersamanya."
Audy tampak tersenyum. Dan Auriga akui senyuman Audy memang menawan.
"Oh ya?"
Dering ponsel Auriga terdengar, tanpa meminta izin Auriga langsung mengangkat panggilan yang tertera dengan nama Anggita.
Sambungan terputus setelah beberapa saat Auriga bercakap-cakap.
"Gak jadi ya? Yasudah bareng aku aja, aku yang antar."
"Tidak perlu, saya bawa mobil."
"Maaf tapi bannya aku kempesin, gimana dong?" ucap Audy dengan raut wajah tanpa dosa.
Auriga kontan melangkah ke parkiran. Mencoba mengeceknya dan ternyata benar. Dua ban mobil depannya tampak kempes.
"Hehe, maaf. Aku tadi gabut."
__ADS_1
Andai saja dirinya terlahir dengan didikan tak bermutu maka sudah pasti saat ini Audy akan babak belur.
"Kamu gila?"
"Ya! Dan aku butuh kamu untuk meredakan kegilaan ku."
"Sudah, yuk masuk! Sudah jam setengah sebelas malam. Nunggu taksi akan sangat lama."
Auriga berdecak sebal. Ingin rasanya dia memaki. Namun, tidak. Dirinya harus menahannya.
"Biar saya saja yang menyetir. Saya masih mau hidup."
Audy menyingkir mempersilakan Auriga dengan ke dua tangan yang terulur memberikan kunci, "Oh silakan. Ya tentu saja, kamu harus tetap hidup untuk hidup bersamaku."
Dan malam itu penantian Audy tidak sia-sia. Biasanya, Audy akan berakhir dengan membuntuti mobil Auriga.
Sesampainya di kawasan apartemennya Auriga pun memilih langsung turun, dia sama sekali tidak ingin repot-repot mengucapkan terima kasih, karena memang dirinya merasa tidak terbantu. Anggap saja Audy sedang membayar utang padanya karena telah dengan lancang menyabotase kendaraannya.
Audy tersenyum kecil di dalam mobil. Saat punggung Auriga semakin menjauh semakin lebar pula senyuman Audy.
"Dari belakang aja udah ganteng, makasih udah jadi orang yang aku cintai, Aga."
Entahlah. Sulit membedakan mana tulus dan mana bodoh. Keduanya tampak nyaris sama jika Audy orangnya.
Sedangkan di sisi lain, Auriga sedang berada di dalam kotak besi besar. Ponselnya berdentang, dengan malas Auriga merogoh dan membaca pesan yang masuk.
Audy
Langsung mandi yaa, mandinya pakai air anget. Kalau sudah sempatkan memakan roti agar perut tidak kosong. Lalu tidur dengan nyenyak
Satu lagi
Tidak perlu menunggu chat dari calon mantan kekasihmu itu, dia tidak akan mengirimi pesan, jadi langsung tidur
Auriga hanya memandang isi pesan tanpa minat. Audy memang kerap kali mengiriminya pesan-pesan acak seperti barusan. Namun, untuk satu baris paling bawah ini yang pertama.
Auriga tidak pernah membalas pesan dari Audy tersebut. Namun, anehnya semua yang Audy katakan tanpa sengaja selalu dirinya lakukan.
Auriga tak pernah lagi tidur dalam keadaan perut kosong. Dan setelah menekuni kebiasaan barunya itu, Auriga merasa tidurnya jauh lebih nyenyak.
•••
Terkadang sesuatu yang kita tolak mati-matian adalah sesuatu hal yang pernah kita inginkan keberadaanya. Hanya saja mungkin dia hadir dalam wujud yang berbeda sehingga kita cukup sulit mengenalinya.
Jangan terlalu keras menolak yang datang, karena bisa saja dia adalah yang tidak pernah kamu inginkan kepergiannya.
•••
Aku sering memintamu untuk berhenti mencinta ku, dan di saat waktu itu datang kenapa aku terkesan kesulitan?
—Auriga Prayoga
__ADS_1