Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 11. PERTEMUAN DUA NAMA


__ADS_3

Audy Maharani Tanujaya yang awalnya si maniak warna-warna cerah kini telah bertranformasi menjadi penggila warna-warna gelap. Hitam, cokelat, dan merah marun kini adalah warna andalannya.


Hari ini Audy tampak menawan dengan kaus merah marun yang dipadukan dengan kulot berwarna cokelat tua. Rambut panjangnya tampak digelung asal. Meskipun begitu kecantikannya tetap terpancar.


Audy sudah punya agenda untuk hari ini, semalam dia menyempatkan waktu untuk menyusunnya.


"Pagi, Ayah, Bunda, dan Abang gantengnya aku." Sapaan riang yang perlahan kembali mengisi pagi-pagi keluarga Tanujaya.


Semakin hari Audy semakin membaik, dia mulai terbiasa dengan keluarganya. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk dia merasa kembali nyaman berada di tengah-tengah keluarga Tanujaya.


"Wow! Semakin hari penampilan kamu semakin oke," puji Argantara tulus. Argantara akui meskipun adiknya yang anggun telah sirna kini Audy terlahir kembali dengan keunikan yang tetap berhasil membuat Sang adik selalu memukau. Pasang mata yang melihatnya tidak akan berhasil langsung lari sesaat setelah melihatnya.


Audy tampak mengedipkan sebelah matanya. "Tentu, aku gitu, lho." Yang mendapat respons senyuman geli dari Argantara.


"Yah, Bun, aku hari ini berniat mengetes bakat yang ada di diri aku, aku gak mungkin cuma diam aja di rumah sampai ingatan aku pulih, tapi aku belum ada niatan buat cari uang," mata bulatnya bergerak memandang Angga lama, "jadi Ayah putrimu ini izin untuk menghabiskan uang ya." Audy tahu Sang ayah adalah saudagar yang dermawan. Namun, tetap saja sebagai manusia yang baik dia tetap butuh izinnya.


"Tentu, uang Ayah pada dasarnya adalah milik anak-anak Ayah, tapi Ayah boleh meminta satu hal?" Seperti biasa, Angga selalu bijak dan penuh wibawa. Usianya yang tak lagi muda tampak membuatnya kian bijaksana. Pengalaman hidup mungkin telah mengajarkan banyak hal padanya.


Audy mengangguk.


"Gunakan uangnya untuk hal-hal yang baik ya, Ayah tidak mengizinkan uangnya dipakai untuk hal-hal yang merugikan diri kamu ataupun orang lain, dan Ayah percaya kamu pasti sudah bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik yang Ayah maksudkan."


Audy mengacungkan ke dua jempolnya lalu membuat gerakan hormat. "Siap Ayah!"


Argantara terkekeh, tangannya terulur mengelus gemas pucuk kepala Sang adik.


Sedangkan Anindya yang menyaksikan kehangatan yang perlahan mulai kembali tampak tersenyum haru.


"Sudah bisa dimulai sarapannya?" Anindya menginterupsi dengan senyuman yang kemanisannya diwariskan pada Audy.

__ADS_1


...•••...


Sebelum benar-benar menggali keahliannya Audy tentu harus mengurus para dayangnya terlebih dahulu. Tempat yang akan ditujunya hari ini adalah pusat perbelanjaan. Pertama-tama dimulai dari mengubah penampilan mereka.


Audy tidak mungkin membiarkan mereka bertugas di luar rumah dengan mengenakan baju seragam ART yang pastinya akan cukup mencuri perhatian banyak orang.


Sesampainya di tempat Audy lekas mengunjungi toko yang menjual perlengkapan pakaian.


"Pilih baju apapun yang kalian suka dengan catatan warnanya hitam dan model bajunya engga ribet, disarankan celana saja, kalian akan banyak kerja di luar rumah," cetusnya yang tentu saja tidak akan ada yang berani membantah.


"Lona lo juga, pilih baju yang lo suka."


"Baik, Nody."


Alona pun bergegas untuk segera memilih. Sedangkan Audy memilih bersantai ria di atas sofa dengan satu kotak susu stroberi di tangannya. Gaya duduknya yang biasanya anggun kini dengan tanpa bebannya Audy tampak mengangkat satu kakinya dengan sendal yang dilepas. Kaki dengan jemari mungilnya itu tampak dibalut sendal jepit hitam yang memiliki ketebalan 2 centimeter.


Audy tidak sadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang mengintainya. Tatapan mata itu tampak heran dan penuh tanda tanya. Dia Anggita.


Bayang-bayang darah yang bersimbah kala itu bahkan masih berhasil membuat Anggita mual. Kaki jenjang Anggita tanpa sadar melangkah ke arah Audy, yang kini membuat wanita yang tampak anggun dengan gaun selutut warna putih tulang itu berdiri tepat di depan Audy.


Audy yang pemandangannya merasa diganggu tentu langsung memfokuskan arah matanya ke arah Anggita.


"Bisa minggir ngga, Mbak? Mbak menghalangi pemandangan saya."


Anggita mengernyit saat mendengar hal yang sebelumnya tidak pernah dirinya duga. Anggita kira Audy akan memaki dirinya habis-habisan. Meneriaki atau mungkin menjambak rambutnya tanpa ampun. Bahkan saat detik pertama dia sadar telah berdiri di depan wanita itu Anggita merutuki dirinya.


Seperti yang Auriga bilang, bahwa Audy adalah wanita setengah gila, dia bisa melakukan apapun dan di manapun.


"Eh—Mbaknya malah melamun, kalau mau melamun jangan di depan saya, dong, Mbak. Ganggu tau."

__ADS_1


Anggita tidak sedang berhalusinasi. Audy benar-benar tidak mengenalinya?


"Kamu ngga kenal aku?" Anggita mencoba membayar keraguan akan apa yang disaksikannya hari ini.


"Engga. Jadi, minggir!" jawab Audy ketus.


"Aku Anggita pacarnya Auriga," lanjut Anggita berusaha memancing reaksi lain dari diri Audy, tapi sayangnya gagal. Audy tampak tak acuh.


"Oh. Yaudah minggir pacarnya Auriga. Gue hilang ingatan, maaf kalau lo tersinggung karena gue gak inget, tapi hari ini gue lagi ada urusan, kapan-kapan aja ngobrolnya ya." Kali ini Audy mengubah intonasinya sedikit lebih bersahabat, walaupun sebenarnya dia masih dongkol atas sikap lancang wanita itu yang tanpa permisi menghalangi arah pandangannya.


"Oh yaudah." Karena memang bukan perbincangan yang Anggita mau.


Setelah basa-basi sebentar akhirnya Anggita pun pergi meninggalkan Audy dengan kondisi hati yang buruk. Audy benci dengan hatinya yang terpengaruhi oleh kehadiran wanita yang bahkan tidak dirinya kenali. Audy akui wanita itu memiliki ornamen wajah yang memikat, tapi itu sama sekali tidak membuat suasana hatinya baik.


"Hari indah gue jadi berantakan gara-gara tuh manusia. Awas aja kalau si Auriga hari ini ganggu, gue tempeleng juga mereka."


Audy mengira rasa dongkol itu hadir murni karena Anggita yang telah mengganggu kesenangannya, padahal sebenarnya alasan itu tidak benar-benar mutlak.


Ingatannya boleh saja hilang, tapi hati tidak akan pernah salah menaruh rasa, dan tidak akan pernah bisa dikelabui. Hatinya dengan jelas bisa mengenali siapa pemberi lukanya, hatinya jelas tahu bahwa yang berhadapan dengannya tadi adalah seseorang yang telah meleburkan impiannya dan menaburkan luka.


...•••...


"Ga, aku perlu bicara sama kamu. Barusan aku ketemu Audy di mall, dan dia sama sekali gak mengenali aku ... Dia hilang ingatan. Aku pengen tahu alasan kenapa kamu gak kasih tahu aku tentang fakta itu?"


Anggita tentu sangat lega dengan fakta itu, dan Anggita rasanya seharusnya Auriga pun begitu. Itu artinya hubungan mereka tetap bisa berlanjut, karena sepertinya selain kehilangan ingatan Audy telah kehilangan rasanya terhadap Auriga.


Namun, kenapa Auriga memilih merahasiakannya? Bahkan teleponnya tak lagi diprioritaskan. Barusan saja teleponnya diangkat setelah dirinya menyeret nama Audy di pesannya.


...•••...

__ADS_1


Ketika segala rasaku hilang, bukankah itu artinya kamu menang?—Audy Maharani Tanujaya


__ADS_2