Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 31. TUGAS AGUNG


__ADS_3

Dunia Auriga seolah runtuh, rubuh dan porak-poranda. Bahkan bising yang melanda sama sekali tidak mampu menerobos indera pendengarannya. Hanya dengungan pekat yang mampu membombardir gendang telinganya tanpa ampun. Auriga berusaha bangkit dengan keadaan tubuh yang bergetar hebat, dia berusaha menyeret kakinya untuk memastikan kebenaran. Sungguh Auriga sangat familiar dengan suasana ini.


Suara teriakan yang diiringi sebuah suara hantaman cukup keras lalu dengan keadaan dirinya dan Anggita yang sama persis seperti waktu itu. Waktu kejadian yang telah mengubah Audy dengan hebatnya, waktu yang juga menjadi tragedi menyakitkan.


Lagi-lagi Audy kembali menjadi malaikat penolongnya untuk yang kesekian kalinya. Wanita itu telah mengorbankan dirinya untuk seorang pria yang bahkan pernah dengan sengaja melukai hati Audy secara brutal.


Auriga memandang kerumunan dengan pandangan yang kabur. Netra-nya itu tampak dilapisi cairan bening yang sebagian banyak sudah tumpah ruah.


Auriga berjanji, mulai detik seluruh hidupnya dia serahkan kepada Audy. Pemilik Semesta adalah saksinya. Auriga pastikan dia akan merawat dan menyayangi Audy melebihi dari dirinya. Dia tidak akan pernah sekali pun menyianyiakan wanita itu.


Semakin dekat langkahnya semakin pula dirinya di buat lemas, dan saat matanya melihat darah segar yang mengalir di atas aspal saat itu pula Auriga tak mampu melanjutkan langkahnya. Auriga rubuh dengan kesadaran yang sepenuhnya hilang.


Sesaat kesadarannya belum sepenuhnya terenggut dalam hati Auriga berbisik.


"Jika Tuhan kasih aku kesempatan, aku janji aku bakal jaga Audy terus, aku akan selalu berada di sisinya, bersamanya, menebus hari-hari menyakitkan yang pernah tercipta."


...•••...


Auriga kecil terbangun di ruangan serba putih dengan bau yang khas. Tanpa bertanya pun Auriga sudah tahu di mana kini dirinya berada. Auriga memandang sekitar dengan pandangan kosong. Setitik harapan kecil dihatinya masih tersimpan, bahwa Audy akan terdeteksi dalam pandangannya. Meskipun harus terlambat sekali pun, tidak apa-apa. Auriga tidak akan mempersalahkannya. Namun, nihil. Auriga tidak menemukan sosok gadis dengan senyuman manis itu.


Di ruangan yang cukup luas itu hanya terdapat dirinya beserta wanita yang telah melahirkannya yang kini tampak tertidur pulas dengan kepala menelungkup di ranjang.


Auriga memandang langit langit nanar. Audy telah mengingkari janjinya. Lucu sekali, padahal saat dirinya meminta untuk berjanji gadis itu menyetujuinya tanpa banyak berpikir. Mulanya, Auriga kira itu merupakan bentuk dari posisi dirinya yang sama dengan betapa istimewanya posisi Audy di hidupnya. Namun, ternyata sikapnya kala itu adalah bentuk betapa Audy tidak bertanggung jawab atas ucapannya.


Auriga ingat sekali, tepat di hari di mana gadis itu pergi meninggalkan kota. Mereka sempat banyak berbincang.


"Aga, aku pergi, ya. Aku udah pastikan ngga bakal ada lagi yang ganggu kamu di sekolah, aku tahu kamu rajin, tapi aku tetap pengen bilang belajar yang rajin ya. Kamu nanti jangan punya temen cewek, ya, aku aja ya, mau?"


Auriga mengangguk. Dia memang tidak berniat untuk merekrut teman baru. Apalagi seorang perempuan.


Auriga memandang gadis dengan gaun merah muda lengkap dengan pita senada yang tersampir di sebelah uraian rambutnya dengan pandangan penuh arti.

__ADS_1


"Aga, aku bakal kembali, kamu sedihnya jangan lama-lama ya, biarin aku aja yang lama-lama sedihnya," lanjut gadis yang memang memiliki kebawelan tingkat kronis. Raut wajah Auriga waktu itu memang tenang, tapi hati siapa yang tahu. Mungkin jika hati letaknya di luar maka sudah pasti siapa pun akan melihat seberapa parah lukanya.


"Nih aku punya sesuatu buat kamu..." Audy menyerahkan sebuah gantungan kunci dengan karakter beruang yang terbuat dari kain wol ke depan Auriga.


"Itu hasil karya aku, lho, aku tahu jelek ya, tapi ngga papa, kan, yang bikinnya cantik."


Auriga menerimanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kamu, kan, tubuhnya tinggi gede, aku yang lahirnya duluan bahkan kelihatan kayak kurcaci. Jadi aku pikir kamu sama kayak beruang."


Audy terus berceloteh. Yang mana aksinya itu secara bersamaan menghibur lara dan memperparah lukanya.


Lamunan Auriga buyar saat suara lembut Sang Ibu mengalun memanggil namanya.


"Kamu baik-baik aja, Nak?" tanyanya yang disertai raut khawatir.


Auriga tidak menjawab, dia memandang sorot penuh luka Sang Ibu, yang mana itu disebabkan oleh aksi cerobohnya tadi sore.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Anjani mendengar suara isak tangis Auriga yang begitu keras dan memilukan. Anjani hanya diam tanpa kata, hanya tubuhnya yang tak sedikit pun beranjak dari sisi putranya itu. Anjani membiarkan Auriga menumpahkan segalanya.


Hari itu, Auriga terluka sangat parah. Dia kecewa luar biasa hebatnya.


Auriga berlebihan?


Tidak. Karena tidak ada porsi minimum untuk terluka. Sekecil apapun luka itu rasa sakitnya tetap valid.


Mungkin bagi sebagian orang luka itu biasa saja, tapi bagi sebagian yang lainnya bisa jadi luka itu merupakan sumber trauma. Tolong pahami dan resapi, agar nanti tidak mudah menghakimi.


...•••...


Auriga terbangun dengan keadaan tubuh yang lunglai, bahkan untuk membuka matanya saja dia luar biasa berat. Jika saja tangis Anjani tidak sekencang sekarang mungkin dia akan tetap memilih untuk terpejam saja.

__ADS_1


Pertama-tama Auriga berusaha membiasakan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Auriga tentu tahu di mana kini dirinya berada. Dan saat penciumannya mulai berfungsi saat itu pula dirinya seolah disadarkan akan sesuatu.


Audy, darah, dan tragedi itu.


Auriga berharap semua itu hanya mimpi. Auriga kontan terbangun dari baringnya, yang membuat Anjani kontan menghentikan tangisnya, tapi hanya untuk beberapa detik saja, karena selanjutnya tangis Anjani semakin keras. Sepertinya rasa haru dan lega bercampur menjadi satu.


Auriga memandang Anjani dengan pandangan buram saat tahu betul bahwa kejadian itu bukanlah mimpi.


"Ibu," panggil Auriga serak. Anjani yang paham langsung mengambil gelas yang sudah terisi air lalu meminumkannya pada Auriga.


Auriga tidak menolak.


"Bu, Ody..." ujar Auriga menggantung yang mana langsung di mengerti oleh Sang Ibu.


"Audy sudah baik-baik saja, dia sudah sadarkan diri beberapa hari yang lalu."


Auriga tampak bernapas lega. Untuk saat ini informasi itu sudah cukup, tapi tunggu beberapa hari yang lalu? Apa dirinya....


"Kamu justru yang bikin kami semua panik, Audy yang terluka, tapi kamu yang lama tidak sadarkan diri," papar Anjani dengan isak tangis yang masih tersisa.


"Bayangkan kamu tidak sadarkan selama tiga minggu."


Selamat itu? Tapi kenapa rasanya Auriga baru tertidur beberapa menit saja. Auriga yang merasa masih lemas pun kembali membaringkan tubuhnya.


Anjani terus berceloteh yang mana membuat rasa kantuknya naik berkali lipat. Auriga pun kembali memejamkan mata, kali ini dia terpejam dengan keadaan hati yang tenang.


Audy-nya baik-baik saja. Wanitanya telah selamat. Kini yang harus dirinya lakukan adalah mengumpulkan energi untuk memenuhi janjinya. Auriga harus mulai menyiapkan diri untuk melaksanakan tugas agung.


Auriga pun terlelap dengan nyaman.


Tugas agung, tunggulah Sang Panglima sedang bersiap. Sebentar lagi dia akan berjuang untuk meraih cintanya.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2