Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 37. #KILAS BALIK - LUKA YANG KEMBALI


__ADS_3

Audy keluar dari mobil bersama dengan Alona yang menggandeng tangannya. Sejak pulang dari rumah sakit hingga kini Audy sama sekali belum bersuara. Alona yang sudah tahu bahwa Nona Mudanya itu sudah kembali mengingat segalanya pun paham betul dengan kondisi wanita itu.


Audy sengaja meminta untuk Alona saja yang menemaninya, dia berterus terang bahwa selain ingin beristirahat Audy juga sedang berada di kondisi yang kurang baik secara mental. Dia merasa dirinya sedang butuh waktu. Dengan mengambil jarak untuk sementara waktu setidaknya Audy bisa melindungi orang-orang sekitar dari amukan hatinya yang sedang terluka.


"Aku mau langsung istirahat aja, Lon," ujar Audy lemah. Alona mengangguk membersamai Audy menuju kamar wanita itu.


Rupanya kamar yang Audy pilih adalah kamarnya yang dulu. Tepat setelah pintu kamar terbuka Audy mematung beberapa detik. Namun, kemudian dia tetap memilih melanjutkan langkahnya.


Ruangannya itu masih sama. Masih seperti saat dirinya belum mengalami kecelakaan kala itu. Audy memandang sekitar lamat-lamat, lalu tanpa bisa dicegah air matanya jatuh.


Audy sedang teringat tentang bagaimana antusiasnya dirinya kala itu, saat dirinya tahu akan kembali bertemu dengan Auriga setelah sepuluh tahun perpisahan mereka. Kala itu, kala itu Audy berlarian mengitari kamar dengan derai tawa yang tak pernah putus.


Salah satu telapak tangannya memegang dada sebelah kirinya. Bahkan jantungnya pun masih mengingat euforia yang meluluh lantakan kewarasannya kala itu.


Audy tak kuasa menahan haru sekaligus sakit secara bersamaan. Lebih menyakitkannya lagi, kini rasa rindu begitu memuncak di hatinya.


"Aga, aku kangen," lirihnya seraya berjongkok dengan jemari yang berusaha menghalau air mata yang keluar.


Cukup lama Audy berada di posisi itu. Kini dia bangkit berusaha menyeret dirinya ke ranjang. Ke dua netra cokelat kopinya langsung terpaku pada penutup mata karakter beruang yang tertata rapi di atas bantal.


Air mata yang sempat terhenti kini kembali mengalir. Karakter beruang itu adalah karakter yang dirinya sematkan pada Auriga. Bahkan di saat hari perpisahan mereka dulu Audy memberikan gantungan kunci berkarakter hewan bertubuh besar itu pada Auriga. Semenjak itu Audy kerap kali membeli pernak pernik yang berhubungan dengan beruang guna untuk pengingat bahwa di dalam hidupnya ada sosok bocah besar seimut beruang yang sedang sama-sama menunggu untuk bertemu.


Matanya kini beralih pada sendal tidur dengan karakter yang sama terletak tepat di samping ranjang. Audy kembali menumpahkan air matanya dengan sangat deras.


"Aga," panggilnya begitu sendu.


Auriga adalah cinta segala cintanya. Audy begitu mencintainya. Rasanya sakit membayangkan cepat atau lambat dia akan meninggalkan pria itu, karena sepertinya bukan dirinya yang pria itu mau.

__ADS_1


Audy menangis dengan sangat tersedu-sedu. Audy bertahan cukup lama di kondisi itu, lalu perlahan tubuhnya dia seret ke arah ranjang hendak menumbangkan tubuhnya ke atas kasur.


Isak tangisnya masih terdengar hingga perlahan rasa kantuk mendatanginya. Audy pun tertidur tanpa sadar dengan jejak air mata yang masih basah.


...•••...


Ketukan pintu berhasil membangunkan Audy. Audy sudah hapal itu pasti Alona yang membawakan hidangan makan malam untuknya. Hari sudah berganti, tapi wanita itu masih menolak untuk bertegur sapa dengan keluarganya. Bukan tanpa alasan, melainkan karena hatinya yang masih kacau balau. Dia tidak mau jika keluarganya harus melihat keadaanya yang seperti ini.


Audy masih sering menangis untuk hal-hal remeh yang mengingatkannya pada Auriga, itu juga yang membuat matanya selalu tampak sembab.


Audy selalu menangis setelah melihat apapun yang bisa mengingatkannya pada Auriga. Yang lebih menyakitkannya lagi segala titik di ruangan yang di dominasi oleh warna serba merah muda itu selalu berhasil mengingatkannya pada pria itu. Namun, Audy juga tidak mau jika harus berada di kamarnya yang baru. Dia merasa lebih nyaman berada di sana.


Audy membuka pintunya sedikit, lebarnya hanya sampai bisa masuk nampan saja. Alona pun tak banyak bicara, gadis itu selalu memahaminya, dia akan berbicara jika benar-benar perlu saja.


"Makasih, Lona," tutur Audy sebelum menutup pintu. Alona pun sekedar menyahut pelan.


Audy jelas tahu betul. Makanan yang selalu dihidangkan padanya adalah masakan Auriga. Menu makannya boleh saja sama dengan masakan yang lainnya, tapi Audy bisa langsung tahu bahwa yang memasak hidangan makanannya bukan orang lain.


Audy punya rasa favorit asin pedas gurih dengan rasa manis yang tidak terasa sama sekali, dan selama Audy mencoba berbagai masakan dengan menu yang sama, hanya menu masakan yang dibuat oleh Auriga yang cita rasanya selalu sempurna sesuai selera dirinya.


Audy menaruh nampan berisi makan malamnya di atas meja, dia melanjutkan tangisnya, seperti biasanya.


Hari-hari setelah kepulangannya dari rumah sakit kebanyakan dia habiskan untuk menangis dan menangis. Mungkin rasanya tak akan sesakit ini jika saja kepulangannya itu bukan untuk sebuah perpisahan.


Audy tersedu pilu. Jemarinya berusaha mengusap air mata yang sudah tumpah ruah. Sekuat tenaga Audy menyingkirkan air mata dan tangisnya.


"Aga, aku kangen..."

__ADS_1


Kalimat itu sudah seperti camilan wajib, Audy kerap kali mengucapkan di sela-sela tangisnya di setiap sesi.


"Aga..."


Audy memang sudah mengambil keputusan sejak beberapa jam matanya terbuka saat di rumah sakit. Dan ya, meninggalkan Auriga adalah pilihannya. Namun, Audy tidak pernah menyangka rasa sakitnya akan terasa jauh lebih sakit dari apa yang dibayangkannya.


Bayangan-bayangan kenangannya bersama Auriga semakin hari bukannya semakin terkikis habis justru malah terpupuk subur. Baik kenangan di masa lampau mau pun yang tercipta di waktu-waktu dekat. Terlebih Auriga seperti selalu mengitari keberadaanya.


Seperti saat ini, Audy tahu bahwasannya Auriga masih selalu datang di setiap harinya. Mobil pria itu bahkan selalu hilang di atas jam sembilan malam yang mana jika tidak ditahan akan membuat Audy menerobos pintu kamarnya dan memeluk pria itu erat lalu mengatakan...


"Aga, aku kangen."


Isak tangis masih tersisa. Namun, air matanya sudah tak sederas tadi, dengan perlahan Audy pun mengambil sendok lalu menyuapkan makanannya.


Rasa makanannya selalu enak di lidah, tapi tidak di hati. Rasanya sungguh sangat perih. Audy tetap memakan makanannya walaupun dengan air mata yang kembali keluar.


Audy berpikir, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa mencicipi masakan pria itu.


Sesekali bahkan Audy tersedak karena terlalu sulit menahan isakan.


Rasanya memang menyesakan. Namun, Audy pun tak punya kuasa untuk menghentikan air matanya. Semakin dia ingin semakin deras pula air matanya.


"Aga, aku kangen..."


Lagi dan Lagi. Oh Audy dengan segala cinta tulusnya.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2