
Auriga sangat bahagia karena hari ini merupakan hari dimana dirinya kembali bertemu dengan Audy. Dirinya memang tidak menangis saat Audy berpamitan pada hari dimana gadis itu pergi ke kota kelahirannya. Namun, bukan berarti Auriga tidak kenapa-kenapa.
Anak yang masih duduk di bangku terakhir sekolah dasar itu tampak menunggu di bawah pohon rindang. Tempat yang dijadikan ke duanya sebagai tempat pertemuan mereka sebagaimana janji yang pernah terikrar.
Auriga terus memandangi sekitar berharap di antara salah satu yang terkena pandangannya adalah Audy—sahabat yang sedang dirinya nanti. Namun, setelah detik mulai berlalu dan menit pun mulai berganti jam Audy masih tak kunjung datang.
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Namun, tanda-tanda kedatangan Audy belum tampak. Bahkan langit yang tadinya cerah kini telah berubah mendung.
Auriga adalah seorang bocah manis yang teguh pendirian. Dia akan tetap menunggu Audy di sana sebelum Audy datang dan menghampirinya sebagaimana janji mereka.
Langit yang tampak mendung pun perlahan mulai menumpahkan tangisnya. Rintik hujan mulai menciptakan jejak basah pada bumi. Namun, Auriga tetap tidak beranjak.
Auriga mengabaikan kulitnya yang mulai mengeriput dan badannya yang kini sudah menggigil karena kedinginan. Sedangkan tanda-tanda hujan akan berhenti tidak ada, justru semakin detik bertambah hujan pun semakin deras. Belum lagi suara guntur yang terdengar saling bersahutan yang disertai dengan kilat, yang mana menciptakan suasana yang mencekam.
Auriga benar-benar sendirian di tengah-tengah derasnya guyuran hujan. Tekadnya benar-benar tidak goyah. Namun, sayangnya pertahanan tubuhnya tidak sekuat tekadnya. Auriga tumbang. Dia tidak sadarkan diri dengan keadaan tubuh yang sudah nyaris kaku.
Dalam ketidaksadarannya Auriga bergumam, "Ody kenapa kamu bohong? Kenapa kamu tidak datang?"
...•••...
Audy memilih untuk berdamai dengan Auriga. Namun, dia tetap pada pendiriannya, yang untuk sekarang dan sampai pada waktu yang belum bisa ditentukan Audy tidak bisa menerima Auriga sebagai seseorang dengan label status lebih dari teman. Begitupun dengan Auriga yang kukuh dengan pilihannya, pria itu tetap akan memperjuangkan Audy, dan mengubah status pertemanan ke duanya menjadi ikatan asmara penuh glora dan bahagia.
Dan kini Audy sedang menunggu kedatangan seseorang yang ikut andil dalam kerumitan yang ada. Audy tadi malam sudah menghubungi Anggita dengan sengaja mencuri nomor kontak wanita itu dari ponsel Auriga.
"Hai, maaf aku nyaris terlambat." Anggita datang dengan pembawaannya yang anggun dan elegan. Pakaian yang dikenakannya pun selalu dengan pemilihan warna yang netral. Proporsi tubuh wanita itu yang ideal tentu menjadikan semua model baju yang dipakainya tampak cocok untuknya.
Sedangkan Audy, wanita itu tampak nyentrik dengan kaos kebesaran berwarna kuning dengan gambar kartun Spongebob yang menjadi sorotan. Sepertinya cikal bakal Audy yang suka warna-warna cerah perlahan timbul walaupun masih dengan gaya yang tidak ada kata anggun seperti sebelumnya. Kaki mungilnya tampak dibalut dengan celana kulot putih. Bergeser ke bawah kakinya tampak dibalut sepatu kets senada.
Wanita yang hari ini memilih menguncir satu rambutnya itu tampak mempersilakan Anggita untuk duduk.
__ADS_1
"Langsung ke intinya aja, gue gak bisa basa basi," pungkas Audy yang langsung mendapatkan atensi penuh dari Anggita.
Anggita mengangguk dan tersenyum. Wanita itu sungguh anggun. Bahkan Audy akui Anggita adalah tipe manusia cantik dengan semua pandangan. Kulitnya pun bersih dan cukup putih. Walaupun senyumnya tidak semanis miliknya.
"Ini tentang gue, Auriga, dan elo."
Anggita memandang Audy lekat. Bola matanya tampak sedikit membeliak.
"Gue belum ingat, tapi gue udah tahu apa hubungan kita. Gue pelakor-nya dan elo pacarnya Auriga. Benar, kan?"
Anggita tampak mengembuskan napas lega. Meksipun jika tidak diperhatikan lebih detail siapa pun tidak akan menyadari.
"Menurut lo apa alasan gue tetep mau sama Auriga padahal udah jelas Auriga punya elo?"
Anggita diam dengan gelagat yang cukup menarik perhatian Audy. Sepertinya dia sedang berusaha mencari jawaban yang tepat, yang mana setiap gerak geriknya tak luput dari ke dua netra Audy.
"Karena kamu suka Auriga." Jawaban yang tidak menguntungkan, tapi juga tidak merugikan. Cukup normal dan masih bisa diterima oleh akal. Namun, Audy yang jeli tentu tahu bahwa Anggita hanya sedang cari aman.
Anggita mengangguk pasti. "Aku keberatan."
"Auriga cinta sama lo?"
Meskipun responsnya tidak sesigap pertanyaan yang dilayangkan sebelumnya. Namun, Anggita tampak mengangguk.
"Sebesar apa?"
Anggita mulai tidak nyaman. Dia menatap Audy dengan pandangan tak suka. Audy sadar, tapi dia tidak peduli.
"Aku dan Auriga saling mencintai, sebelum kamu datang kami bahagia. Auriga telah memilih aku. Kamu tiba-tiba datang dan merebu—"
__ADS_1
"Lo selingkuh," sergap Audy yang sukses membuat Anggita diam seribu bahasa dalam hitungan detik.
Dan ternyata Audy menemukan fakta yang tidak disangka-sangka. Padahal Audy niatnya hanya iseng, sengaja memberikan umpan yang mana tidak pernah terpikirkan akan mendapatkan hasil pancingan. Walaupun gelagat Anggita memang cukup membuat Audy berpikir ke arah sana, hanya saja dia tidak menyangka bahwa prasangkanya benar adanya.
"Wah, ternyata benar."
Mungkin itu juga merupakan fakta yang dijadikan Audy (yang belum kehilangan ingatan) sebagai dalih untuk tetap meresmikan perjodohan mereka. Ya, bisa saja bukan?
Audy tampak bangkit, dengan keadaan Anggita yang masih tampak terguncang. Sepertinya Anggita tidak menduga sebelumnya bahwa hal ini akan terjadi, wajar saja jika reaksinya tampak seperti manusia bolot. Perselingkuhan? Ah sial Audy benar-benar membenci proses pengkhianat dengan label nama itu, selain tampak payah juga menjijikan.
"Gue emang oon di bidang akademik, tapi soal kecerdasan emosional boleh di adu. Gue mudah memahami situasi, jadi jangan keluarin argumen apapun atau lo bakal malu," tandas Audy sebelum benar-benar meninggalkan Anggita.
Audy lega. Setidaknya dia bisa memakai alasan bahwa dirinya yang dulu bukan sedang merebut seseorang melainkan sedang menyelamatkan orang yang lainnya, yaitu Auriga. Walaupun Audy tetap tidak terima dengan fakta bahwa dirinya harus berperan menjadi duri dalam jalinan hubungan dua manusia itu.
Audy berdecak. "Auriga emang tolol ternyata." Ada sedikit rasa iba, tapi saat mengingat perilaku menjengkelkan pria itu Audy jadi sebal sendiri.
Dan seperti tahu sedang berada di dalam pikirannya nama pria itu kini tertera di layar ponselnya. Audy berniat mengabaikannya, tapi pesan yang dikirimkan pria itu setelahnya membuat Audy mengurungkan niatnya.
"Dasar tukang ngancam," dumelnya seraya menekan ikon telepon berwarna hijau.
...•••...
Auriga
Angkat atau besok kita nikah!
Audy tentu tidak bisa menyepelekan perkataan Auriga. Pria itu suka sekali bertindak sesuka hati dan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Intinya Auriga menyebalkan.
Sungguh entah setan apa yang dulu merasuki dirinya hingga bisa-bisanya jatuh cinta pada berondong gila seperti Auriga. Padahal jelas-jelas Kenan lebih menawan.
__ADS_1
...•••...
Kamu salah memahami.—Audy Maharani Tanujaya