Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 29. TERTAWAN JOKER?


__ADS_3

Langit hari ini begitu cerah dan menawan. Sore hari adalah waktu yang sungguh pas untuk menikmati keindahan karya Tuhan yang biasa disangkut pautkan dengan suasana romantisme itu.


Audy pun salah satu orang yang juga cukup mengagumi keindahannya. Audy habiskan setengah hari yang tersisa di restoran hanya untuk bersantai ria. Seperti saat ini, Audy tampak sedang menikmati senja di balkon yang merupakan spot favoritnya.


"Nih, buat ganti yang tadi."


Sebuah uluran tangan dengan selembar uang terjulur tepat di depannya. Audy memandangnya, belum berniat untuk mengambilnya.


"Kembaliannya ambil aja," sambungnya yang langsung mendapat lirikan Audy.


"Ogah, gua bukan anak yatim yang harus disantuni," sela Audy yang membuat Kaivan berdecak.


"Lo emang nyebelin, ya!"


"Lo juga nyebelin! Ngaca, dong!" Audy tak kalah ngebut saat mengucapkannya.


Kaivan tahu, hilang ingatan atau tidak wanita di sampingnya itu memang tidak akan pernah mengizinkannya untuk menang. Kaivan berdeham. Pria itu harus mengalah.


"Jadi mau diterima atau engga?"


"Engga. Anggap aja gue lagi minta maaf karena kemarin udah bikin lo hampir kena penyakit darah tinggi."


Audy sebenarnya masih kesal dengan tragedi kemarin. Namun, harus dirinya akui dirinya pun tak sepenuhnya benar.


Kaivan tampak terdiam beberapa saat.


"Makasih," ujar Kaivan tiba-tiba yang mana menghasilkan kerutan dalam di kening Audy.


"Makasih karena udah ngga bilang sama Aga tentang masalah kemarin. Gue emang ada niatan mau ngomong sama Aga, tapi nanti gue lagi cari waktu yang tepat," lanjutnya.


"Engga sama-sama," sahut Audy. Wanita itu tidak merasa sudah melakukan aksi heroik apapun untuk pria yang juga memiliki usia di bawahnya.


"Aga udah tau soalnya, bahkan lebih dulu tahu dari pada gue." Sebenarnya pernyataan itu tebakan Audy saja, karena Auriga memang tidak pernah mengatakannya secara langsung siapa yang menjadi teman perselingkuhan mantan pria tersebut. Namun, Audy yakin seribu juta persen kalau Auriga sudah tahu bahwa Kaivan adalah orangnya. Audy saja sudah bisa langsung mengenali apalagi Auriga.


Kaivan tentu saja mendadak terdiam. Dia bingung sekaligus malu.


"Lain kali kalau lo suka ambil dengan cara yang baik," nasihat Audy yang mendapat seringai sinis dari pria yang masih mengenakan baju kebanggaannya itu.


"Aneh rasanya dengar dari orang yang sempat jadi perusak hubungan orang."


"Gue rasa, gue gak jadi sepenuhnya perusak. Gue yang sebelum ingatan sepertinya udah tahu perselingkuhan lo sama Anggita, makannya gue tetep ngotot sama Aga. Lo tahu apa bedanya lo sama gue?" tekan Audy.


"Gue mengacak untuk memperbaiki, tapi lo mengacak untuk merusak," tandas Audy yang berhasil membungkam Kaivan.


"Ody!" panggil seseorang yang sudah jelas siapa orangnya.

__ADS_1


"Saya, kan, sudah bilang kamu itu nikahnya sama saya. Jadi mau kamu pedekate sama Kai juga tetep sama aku nikahnya. Dan lo Kai, lo harus ingat lo itu benci sama Audy, jadi jangan tiba-tiba lo mau sama dia," cerocos Auriga. Lengan kekarnya bahkan kini sudah menggandeng tangan Audy posesif.


Kehilangan Audy untuk ke dua kali? Rasanya Auriga pasti akan mati. Jadi sudah pasti dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Gak usah lebay, deh, ya lo! Lagian gue cuma bercanda kali, kan, udah gue bilang gue gak minat sama bocah kenyes-kenyes kayak kalian berdua!"


"Saya bukan bocah!" sergah Auriga.


"Terus apa? Bayi Beruang?"


"Calon suami kamu!"


Audy kontan memutar ke dua bola matanya. "Kai, lo tuker tambah sama chiki temen lo ini, gih! Males gue!"


Kaivan tidak bergeming. Dia memilih beranjak tanpa suara.


Sedangkan Auriga memilih untuk memandang Audy lamat-lamat.


"Ody, saya tidak main-main, saya beneran tidak mengizinkan siapa pun untuk memilki kamu selama saya mampu memenuhi segala hal yang kamu butuhkan. Bahkan di saat saya belum mampu pun saya akan mengusahakannya."


"Saya minta jangan jadikan umur saya alasan untuk kamu menolak saya, karena itu di luar kapasitas saya. Kalau saya bisa milih, pasti saya bakal memilih untuk lahir dua tahun lebih dulu dibanding kamu."


Deretan huruf mendadak menguap dari indera pengecap Audy. Sungguh kata-kata beserta tatapan mata Auriga telah berhasil membiusnya. Bahkan rasanya kaki Audy lemas seperti jelly. Belum lagi rasa hangat yang menjalar di seluruh syarafnya.


Auriga benar. Dia bukan bocah. Bocah macam apa coba yang berhasil membuat lawan bicaranya mati kutu.


Sial. Apakah hatinya pun akan tertawan? Oh ayolah Audy, ingat balas dendam-mu.


...•••...


Auriga dengan memasak sudah seperti langit malam bertaburan bintang. Sangat indah dan memukau. Malam ini Auriga kembali memasak untuk makan malam Audy.


Malam ini anggota Tanujaya tampak hanya ada Audy saja dengan para ART yang berkeliaran berjaga-jaga untuk membantu Sang Nona Muda. Ke dua orang tuanya mendadak ke luar kota untuk pekerjaan, sedangkan sang kakak masih di kantor yang mana sudah memberi kabar akan pulang larut malam.


Kali ini Audy meminta menu mi kuah rasa kari dengan bumbu serta mi yang dibuat langsung oleh Auriga. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk para ART yang bertugas bertanggung jawab terhadap Audy. Alona pun tampak duduk di sana.


Pembalasan dendam baru saja dimulai. Namun, anehnya ketika Audy mengutarakan keinginannya itu, bukannya cemberut justru Auriga malah tampak kegirangan.


Tentu saja Audy keheranan, lalu dia pun bertanya. "Kok, lo malah seneng, sih?"


"Saya senang bisa kamu andalkan, saya bahagia karena itu."


Audy pun hanya berdeham saat mendengar jawabannya. Bingung juga mau menyahut apa.


...•••...

__ADS_1


"Besok saya jemput, ya."


Audy menyorot Auriga dengan pandangan penuh selidik.


"Tumben, ngga maksa."


Auriga terdiam beberapa saat. "Saya memang mau maksa, tapi nanti kalau kamu kasih jawaban ngga mau."


Sekali menyebalkan, maka akan terus menyebalkan. Audy mendengus. "Engga, besok gue berangkat sendiri, mending lo siapin tenaga buat masak, soalnya gua mau minta di masakin menu baru," timpalnya.


Auriga tersenyum lebar, yang mana refleks membuat Audy termenung. Bukan main, manisnya. Menghirup udara saja pria itu sudah tampak tampan dan menawan, apalagi jika tersenyum, Audy akui sungguh jadi sangat-sangat tampan.


"Lo!" Tanpa sadar Audy berteriak, yang tentu saja membuat Auriga kontan terdiam.


"Ada apa? Saya ada salah bicara?"


Dengan napas naik turun Audy tidak berani memandang wajah Auriga. Sejak kapan jantungnya merusuh coba?


"Lo jangan sering senyum kayak barusan!"


Auriga tercenung, pasalnya dia pun tidak sadar kalau dirinya baru saja tersenyum. Hanya saja rasa bahagia karena Audy yang mulai berani mengandalkannya benar-benar memuncak.


"Kenapa? Senyum saya jelek, kah?"


Audy mengangguk untuk menutupi fakta. Audy belum siap mengakui secara terang-terangan.


"Kayak Joker, serem."


Auriga kontan mematung.


...•••...


Malam ini Auriga kembali memilih untuk pulang ke kediaman orang tuanya. Memang semenjak dirinya melakoni perannya sebagai juru masak pribadi Audy dia sudah jarang sekali menyambangi apartemennya.


Jarak tempuhnya jauh lebih dekat ke kediaman orang tuanya dibandingkan ke apartemen tempatnya tinggal.


Auriga memandang lama dirinya di depan cermin dengan keadaan tubuh yang tampak segar juga jejak basah di rambutnya yang masih tertinggal, sebuah handuk kecil putih pun masih terlihat tersampir di lehernya.


"Apakah seseram itu senyumku?" gumamnya.


Perlahan Auriga menarik ke dua ujung bibirnya, menciptakan sebuah lengkungan pisang. Auriga mengernyit, senyumnya memang tampak kaku, tapi kalau disamakan dengan Joker Auriga merasa tidak juga.


"Apa aku harus latihan senyum?"


"Kayakanya iya."

__ADS_1


Tingkah manusia dengan segala rasa cintanya memang aneh. Namun, cukup menggemaskan bukan?


...•••...


__ADS_2