
Auriga memarkirkan mobil hitamnya di sebuah rumah yang tak kalah mewah seperti tempat tinggal Audy. Bedanya bangunan itu lebih mengusung rumah joglo khas jawa.
Audy tampak melihat sekelilingnya dengan pandangan takjub, mulutnya bahkan sampai terbuka sedikit. Audy membuka pintu mobil dengan mata yang tetap fokus memindai sekitar.
"Gila, lo bawa gue ke kerajaan?" ungkapnya pada Auriga yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Auriga tak berniat memberikan penjelasan.
"Ayo, masuk," ucap pria itu datar.
Audy mengikuti jejak langkah Auriga dengan perasaan yang masih terpesona terhadap desain bangunannya. Bangunan itu tampak luas dan nyaman. Terlebih yang diusung adalah gaya klasik khas budaya yang mana membuat suasananya terasa asri dan hangat.
Pintu yang terbuat dari kayu jati yang penuh dengan ukiran-ukiran seni itu terbuka, yang mana saat Audy mulai menapaki ke dalamnya semakin membuatnya menganga. Audy benar-benar dibuat takjub dengan tata letak juga barang-barang yang ada di sana. Semuanya sangat cocok dan berhasil membuatnya kagum.
"Wah, gila. Keren."
"Lo ternyata anak orang kaya juga, ya. Mau gak nikah sama gue? Biar nanti anak cucu kita nanti bisa jadi saudagar kaya raya yang dermawan sampai kiamat."
Auriga yang mendengar celotehan Audy kontan memberhentikan langkahnya, yang membuat Audy tanpa sengaja menabrak punggung lebar pria itu.
"Sakit anjir! Gila, itu punggung atau batu bata?" Audy tampak memegang dahinya seraya meringis kesakitan.
"Kamu bilang apa?" Auriga mencoba meyakinkan bahwa dirinya tidak salah dengar. Auriga tadi dengan jelas mendengar ada kata 'menikah' yang Audy ucapkan.
"Sakit anjir," ulang Audy.
"Bukan yang itu."
"Gila?"
Auriga menggeleng.
"Batu bata?"
"Bukan."
"Terus yang mana? Tinggal bilang. Ribet banget lo jadi manusia!"
"Kamu bilang ... menikah?"
"Iya, tapi, gue barusan berubah pikiran, ogah gue punya suami ribet kayak lo. Mau memastikan sesuatu aja harus pakai wawancara segala."
"Terus kamu mau yang seperti apa? Kenan?" Tanpa sadar Auriga menaikan oktaf bicaranya saat menyebut nama sahabatnya itu.
"Boleh juga. Kalau dilihat-lihat Kenan emang baik, sih, sabar lagi orangnya. Cakep juga, tajir juga, terus stylenya oke jug—"
"Tidak! Saya tidak setuju!"
Audy memandang Auriga dengan sorot mata tajam. "Sejak kapan majikan harus butuh izin kacungnya?"
"Pokoknya kamu tidak boleh suka sama Kenan."
"Dih, suka-suka gue. Lo siapa gue? Tai gue juga bukan, belek gue juga buk—"
"Saya calon suami kamu!" tandas Auriga yang membuat Audy mematung. Namun, hanya beberapa detik. Selanjutnya derai tawanya menggema.
"Hei, percaya diri sekali Bapak Auriga ini. Inget, ya, gue gak suka berondong. Gue gak doyan daun muda kayak lo. Gue cuma kehilangan sebagian ingatan aja ya, gue masih inget ya kalau lo lebih muda dua tahun di banding gue."
__ADS_1
"Tapi saya lebih dewasa dibanding kamu. Kamu ceroboh, dulu juga pas SD kamu masih suka nangis kalau kehabisan susu stroberi."
"Heh! Kurang ajar lo ya bocah!" delik Audy seraya berjinjit, berniat menjambak rambut Auriga. Auriga yang tentunya memiliki postur lebih tinggi dapat menghindar dengan mudah.
"Tinggian saya juga. Kamu umur doang yang tua, kelakuannya masih kayak anak TK."
Audy tentu saja semakin dibuat kesal. Dia marah, bahkan wajahnya sampai terasa panas menahan amarah.
"Awas ya lo, Aga!" jerit Audy yang berhasil membuat Auriga terdiam. Audy baru saja memanggilnya dengan sebutan ... Aga?
Auriga sedang melayang dilanda keterkejutan sedangkan Audy sedang siap-siap merancang strategi untuk menjambak rambut Auriga.
Dan tanpa pikir panjang Audy lompat ke punggung Auriga, membuat wanita itu tampak seperti sedang digendong Auriga.
Lalu serangan Audy layangkan dan teriakan Auriga pun menggelegar.
...•••...
"Kalian berdua ini sudah dewasa, tapi kok tingkahnya seperti anak kecil. Aga kamu itu sudah 21 tahun, dan Audy kamu sudah 23 tahun, masa masih berantem."
Anjani yang tadi tengah disibukkan dengan tanaman kesayangannya tiba-tiba dipanggil oleh salah satu ART hanya untuk memisahkan ke dua bocah yang terperangkap di tubuh manusia dewasa itu untuk menghentikan pergulatan sengit ke duanya.
"Aga, kamu itu meskipun lebih muda jangan lupa kalau kamu itu pria. Masa kamu melawan Audy."
Audy yang merasa dibela tentu saja jumawa, dia tampak memeletkan lidahnya ke arah Auriga.
"Audy yang gigit telinga Aga, Bu. Kalau ngga gigit Aga juga gak akan hilang kendali," adu Auriga seraya menunjukan cuping telinganya yang memang tampak merah padam. Di sana juga, terlihat dua garis kecil bekas gigi Audy.
Audy yang takut disalahkan tentu tidak akan mau kalah. "Tapi, lo juga narik tubuh gue kenceng banget ya! Baju gue sampai sobek, terus nih..." Auriga kontan memalingkan wajah saat dengan sengaja Audy menarik kausnya untuk memperlihatkan bekas cakaran Auriga di sana. Meskipun masih ada kaus dalam yang tersisa, tapi sebagai pria sejati Auriga tidak akan memanfaatkan situasi.
Anjani tahu betul bahwa ke duanya akan terus memberikan pembelaan terhadap masing-masing diri untuk itu dia tidak akan berbicara lebih lanjut.
"Sudah cukup, kalian berdua Ibu hukum."
...•••...
"Gue minta maaf."
"Saya minta maaf."
Ke duanya terus mengulang kalimat itu dengan Audy yang sibuk mengikat rambut Auriga menjadi beberapa kunciran lengkap dengan jepitan bunga-bunga yang di susun asal. Sedangkan Auriga tampak sibuk mengecat kuku kaki Audy dengan warna yang sangat tidak Audy sukai. Warna merah muda.
Anjani yang menyaksikan ke duanya tampak cekikikan menahan tawa menggelegar. Diam-diam Anjani mengabadikan momen itu, dan tidak lupa ikut serta mengajak calon besannya untuk tertawa ria menyaksikan kekonyolan anak dan calon mantunya.
...•••...
"Kalau nanti ada yang jahat sama kamu lagi, tinggal bilang aja kalau kamu temennya aku. Anak-anak udah tahu aku, kok."
Auriga mengangguk. "Matur nuwun, nggih. Njenengan sudah baik sama kulo."
"Iyo, sami-sami. Kan kita temanan sekarang, jadi aku gak bakal biarin teman aku kesusahan sendirian."
Auriga memandang punggung Audy yang melangkah tegap dengan senyum yang Auriga tebak selalu tersungging dibirai gadis manis itu. Audy dan senyumnya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.
Auriga pun berbalik arah menuju kelasnya yang kebetulan memang berada cukup jauh dari kelas Audy.
...•••...
__ADS_1
"Orang ndeso kayak kamu mana mungkin temenan sama Audy. Yang kamu maksud itu Audy kakak kelas kita, kan?" ledek siswa pemilik tubuh cukup tambun.
"Selain ndeso kamu juga tukang bohong ya." tambah yang lainnya.
Auriga yang baru satu minggu tinggal di Ibu Kota tentu belum terbiasa dan belum mampu menanggapi ejekan dari mereka. Auriga hanya bisa tertunduk memandang kotak bekal yang belum disentuhnya.
Dalam hati, Auriga hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar mendatangkan Audy untuk menjadi malaikat pelindungnya sekali lagi.
"Oh jadi elo, Gendut, yang suka mengejek teman gue hah?!"
Auriga seperti bermimpi saat sepersekian detik dia meminta saat itu pula telinganya menangkap suara nyaring yang tentu saja Auriga kenali siapa pemiliknya.
"Kurang ajar ya lo! Lo ngatain apa tentang teman gue, hah?!"
Audy memang anak perempuan imut, manis dengan tubuh mungil. Namun, siapa sangka dia begitu disegani.
"Mau gue hajar lo?! Sok banget lo! Jangan salahkan gue kalau besok lo udah gak sekolah di sini lagi!" Ancaman yang selalu berhasil membuat para murid nakal gentar.
Ya. Audy Maharani Tanujaya adalah anak dari pemilik sekolah. Tentu saja, Audy merasa punya wewenang untuk mengatakan ancaman seperti itu.
Mungkin bagi para murid nakal Audy tak ubahnya monster. Namun, bagi para murid yang bernasib seperti Auriga, Audy adalah malaikat pelindung.
Gadis itu banyak disukai sekaligus disegani karena kepribadiannya yang ramah sekaligus sedikit gila. Dia baik laksana ibu peri, tapi juga bisa jahat seperti penyihir. Tergantung siapa yang dihadapinya.
Dan tentu saja, dia akan menjadi penyihir jahat untuk anak-anak nakal yang bahkan sedari kecil sudah berani-beraninya mendiskriminasi orang. Tidak ada pengecualian untuk kasus pembullyan. Siapa pun pelakunya harus ditindaklanjuti secara tegas.
"Sekolah gue gak butuh murid nakal dan jahat kayak lo!"
Murid-murid yang tadi semena-mena pada Auriga tampak ciut.
"Sekali lagi gue lihat pembullyan kayak gini, di dalam sekolah maupun di luar sekolah selama kalian sekolah di sini gue gak bakal pernah menoleransinya lagi. Ini yang terakhir."
......•••......
"Enak?" tanya Audy saat Auriga menyedot susu kotak stroberi varian kesukaannya.
Auriga mengangguk. Lantas kembali menyedotnya untuk menghabiskannya. Saat itu pula Audy yang duduk di depannya kontan memalingkan muka. Gerak geriknya tentu terpantau Auriga. Auriga dengan kejeliannya dapat melihat dengan jelas setetes air yang jatuh dari pipi Audy. Auriga tentu bingung.
"Kamu nangis?"
"Iya," jawab Audy dengan suara serak menahan tangis.
"Kenapa?"
"Gue suka susu stroberi, tapi tadi mau beli habis."
Auriga memandang Audy lama. Auriga tampak mengambil sesuatu dari tas tempat kotak bekalnya, lalu menyodorkan satu kotak dengan varian yang sama ke depan Audy tanpa kata.
Audy yang melihatnya langsung mengambilnya. Langsung saja dia sedot dengan semangat.
"Terima kasih, Aga," ujar Audy dengan senyuman yang kembali terukir. Meskipun sisa-sisa tangisnya masih ada tetap saja tak mengalahkan kemanisan senyumnya. Gadis itu tampak cantik.
Auriga tidak menjawab. Auriga memilih memalingkan wajah sekadar untuk menghindari Audy sebagai objek pandangnya.
...•••...
Jika aku bilang ini adalah rasa cinta. Apakah belum terlambat?—Auriga Prayoga
__ADS_1