Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 38. TENTANG RASA


__ADS_3

Setelah tenang Audy menuntun Auriga untuk duduk di atas sofa dengan keadaan hening tanpa suara. Saat Audy hendak bangkit Auriga lebih dulu menahannya. Pria itu tampak mencekal pergelangan Audy.


"Aku mau ngambil air minum dulu," ujar Audy memberitahu.


"Ikut!" sahut Auriga dengan pandangan mata ketakutan. Pria itu hanya sedang berusaha menjaga apa yang menjadi bahagianya. Dia tidak mau mengambil risiko untuk kehilangan wanitanya.


Audy menarik ujung bibirnya, dia sedang menahan mati-matian untuk tidak tersenyum. Auriga lucu persis seperti anak TK yang tidak mau ditinggalkan ibunya.


Audy hanya diam seraya melangkah lebih dulu, sedangkan Auriga sudah seperti buntut Audy yang mengekor di belakang wanita itu dengan jemari yang menggenggam separuh baju bagian belakang miliknya.


Dan kali ini Audy tak lagi bisa untuk tidak tersenyum. Lengkungan manis itu tidak hanya tercipta di birai wanita itu, tapi juga tercipta di birai seluruh keluarga Tanujaya yang belum sempat beranjak.


...•••...


Audy meminta Auriga untuk duduk di salah satu kursi meja pantry tanpa suara. Seperti halnya balita, Auriga menurut dengan lugu, di tambah jejak basah yang tertinggal membuatnya semakin tampak imut.


Jika saja bukan sedang di kondisi seperti ini Audy sudah pasti akan mencubit, mengucek, pipi pria itu brutal.


Audy menyodorkan segelas air putih, "Di minum, tenggorokan kamu nanti sakit."


Auriga pun menurut tanpa suara.


Audy ikut mendudukkan diri di samping pria itu, matanya tampak sedang memindai keseluruhan ornamen wajah pria itu. Semuanya tampak sama seperti dulu, hanya lebih menjadi sempurna saja. Tentunya yang membuat pria itu semakin menawan.


Auriga menoleh tanpa aba-aba, Audy kontan terkejut. Dia pun memalingkan wajahnya.


"Ody," panggil Auriga bak alunan musik merdu. Audy tidak mau menoleh, dia yakin pasti dia akan tenggelam di setiap keindahan yang ada pada wajah pria itu.


"Kenapa?" sahut Audy dengan tatapan lurus ke depan.


"Saya tidak mau."


Audy diam, dia sedang memberikan Auriga kode untuk menjelaskan lebih detail apa yang ingin di katakan oleh pria itu.

__ADS_1


"Saya tidak mau pertunangan kita di batalkan," lanjut Auriga.


"Kenapa?" Kali ini Audy memberikan pertanyaan yang mana butuh sekali jawaban. Audy memang melihat bagaimana Auriga menangis tersedu-sedu dengan pilu. Pria itu pun tampak rapuh. Namun, Audy tidak ingin merobohkan tembok yang sudah di bangunnya tinggi-tinggi hanya karena sebuah prasangka, dia butuh kejelasan.


"Saya sedih, saya terluka, saya gak bahagia," jawab Auriga, yang ternyata melebihi ekspetasi Audy.


Audy menoleh, yang mana langsung membuat ke dua mata mereka bertemu. Audy sedang berusaha mencari kebohongan di dalam binar pria itu, walaupun sebenarnya Audy tahu kecil kemungkinan untuk Auriga berbohong. Auriga tidak pandai melakukan hal itu sejak dulu.


"Bukannya kamu gak suka dengan pertunangan kita?"


Auriga menggeleng cepat. "Dulu, mungkin iya."


"Lalu, apa yang membuat kamu berubah pikiran?"


"Saya tidak tahu, tapi yang jelas saya merasa kosong kalau gak ada kamu. Saya sakit pas dengar kamu pengen pergi dari saya ... Ody, saya tahu saya pernah dengan sangat kurang ajar mendorong kamu untuk pergi, tapi waktu itu saya lakukan karena saya kecewa sama kamu..."


Audy terdiam untuk beberapa saat. "Karena apa? Karena apa kamu kecewa sama aku? Apa yang membuat kamu begitu kecewa hingga membenci aku sedalam itu?"


"Aku butuh jawaban, Aga, bukan kata maaf."


Auriga tampak menghela napas berat. Dengan tatapan yang tetap pada objek awalnya, Auriga berucap...


"Saya kecewa karena hari itu, hari di mana kamu dan saya berjanji untuk bertemu kamu malah tidak datang, tapi saya sudah tahu alasannya apa."


Audy yakin tidak sesederhana itu. Auriga tidak mungin berubah seganas itu jika hanya karena alasannya sampai di situ.


"Apa hari itu terjadi sesuatu?" Audy melihat Auriga tampak memalingkan wajahnya.


"Kasih tau aku, Aga. Ayo kita perjelas semuanya sekarang, biar nanti kalau pun perpisahan tetap menjadi akhirnya, setidaknya meskipun akan menyakitkan kita bakal bisa kembali bahagia—"


"Engga! Saya gak akan pernah bahagia kalau kamu pergi, jadi kalau kamu tetap memberikan dua pilihan antara perpisahan atau kebersamaan saya lebih baik tidak menceritakannya, saya akan menghabiskan waktu hanya untuk melihat kamu saja!" tandas Auriga yang jika sedang tidak dalam situasi seperti ini Audy sudah pasti akan meleleh tak terkira.


"Oke! Kebersamaan."

__ADS_1


Auriga tentu senang bukan main. Namun, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


"Jadi, karena apa?" sambung Audy.


"Hari itu saya menunggu kamu sampai lupa waktu. Saya sempat kehujanan lalu pingsan karena kedinginan, pas saya bangun cuma ada Ibu yang nunggu, setelah besoknya, saya baru tahu kalau ternyata kakek saya sudah meninggal, di mana saya bahkan belum sempat bertemu untuk terakhir kalinya dengan beliau ... Saya marah pada diri saya yang saat itu lupa waktu, tapi di sisi lain saya juga kecewa sama kamu, saya bertanya-tanya kenapa kamu tidak datang bahkan di saat saya tetap memilih menunggu kamu ... Kamu tahu, kan, sedekat apa saya dengan kakek saya?"


Audy mematung. Audy merasa bersalah tentu saja, tapi dia pun tidak bisa mengulang waktu.


"Jangan merasa bersalah, Ody, semua bukan salah kamu, memang sudah takdirnya seperti itu, saya yang salah karena terlalu lama untuk bisa menerima semuanya. Terlebih saya juga tahu, setelah hari itu kamu selalu datang, kan, di hari pertemuan kita?"


Audy mengangguk.


"Terima kasih untuk hadiahnya. Saya suka," ujar Auriga berusaha mengusir raut sedih di wajah Audy.


"Ody, saya tidak pernah berhenti mencintai kamu, saya tidak pernah berhenti mengagumi kamu, kebencian saya waktu itu murni dari rasa kecewa saya, yang mana semakin besar ketika kamu datang lagi ke hidup saya dengan keadaan tanpa rasa bersalah. Saya mengira saya memang tidak berarti sejak awal."


Audy menggeleng. Dia menolak keras pernyataan terakhir Auriga. Jelas saja itu semua tidak benar. Auriga begitu berarti baginya.


Auriga tersenyum kecil. "Saya tahu itu tidak benar. Itu persepsi saya waktu itu."


"Ody, jangan pergi. Saya sudah sering melihat kamu nyaris hilang dari pandangan saya selamanya. Saya bisa gila jika kamu benar-benar ingin menghilang dari hidup saya," papar Auriga tidak main-main.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Auriga bisa berbicara sepanjang itu. Bahkan Audy yang biasanya banyak bicara kini tampak bungkam. Wanita itu sedang menikmati keterkejutan yang membuat jantungnya bergelora. Fakta Auriga yang memperjuangkannya sejauh ini membuat Audy merasa semua yang telah terjadi tidak begitu menyakitkan.


"Ody, tugasmu telah selesai, kini biar saya yang ambil alih. Mulai sekarang saya yang akan memastikan kamu selalu aman, mulai sekarang saya yang akan menjaga kamu, saya berani menukar apapun untuk melihat kamu tetap hidup."


Audy tak lagi bisa memandang netra hitam pekat milik Auriga. Binar kejujuran yang terpancar membuat Audy tak lagi mampu mengendalikan jantungnya yang kini tengah menciptakan deburan gila—yang jika mampu terdengar oleh indera pendengar pasti akan memekakkan telinga. Audy tampak memalingkan pandangannya.


"Terima kasih, terima masih Ody, terima kasih karena kamu tetap memilih setia untuk tinggal di saat saya mendorong kamu untuk pergi," tandas Auriga yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik wanitanya.


"Saya cinta sama kamu."


...•••...

__ADS_1


__ADS_2