Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 45. LAMAR AKU


__ADS_3

Meskipun kini Audy sudah sembuh sepenuhnya, tapi dia tetap memilih untuk tidak sesibuk seperti biasanya. Audy masih ingin menikmati hidup yang sudah digariskan Tuhan dengan nyaman.


Terlahir dan hidup di keluarga kaya raya yang harmonis adalah impian setiap insan, jadi kini Audy sedang mensyukuri apa yang telah Tuhan kasih. Tak jarang Audy menonton series di kala suntuk menyerang dia menemukan kisah-kisah yang mungkin cukup akrab dengan sebagian orang, seperti kisah tentang si miskin dengan keluarga harmonis dan si kaya dengan keluarga problematik. Tak ayal Audy bergidik ngeri dengan permasalahan orang kaya yang kisahnya dia tonton. Dan, dirinya amat sangat merasa bersyukur karena di gariskan terlahir di keluarga kaya raya dan harmonis, walaupun Audy otaknya menjadi salah satu poin kekurangannya. Namun, Audy sudah sangat lapang dada dengan fakta itu.


Otaknya boleh saja tidak cerdas dalam bidang-bidang yang kebanyakan orang bilang keren, tapi perihal adab Audy berani di adu.


Audy kembali pada rutinitas awalnya. Kini Audy tak lagi merasa tidak nyaman saat para ART mengerjakan tugasnya. Kehidupannya sudah kembali pada setelan awal yang versi original.


Tuan Putri Tanujaya itu tampak sudah tampil manis dengan gaun di bawah lulut bertema bunga anyelir. Kepalanya tampak ditutupi sebuah topi berwarna putih senada. Sedangkan ke dua alas kakinya tampak dibalut cantik oleh sepatu hak pendek yang juga berwarna putih.


Cuaca akhir-akhir ini memang sangat panas. Bahkan, jika bukan karena Sang Kekasih Audy enggan untuk keluar di siang bolong seperti ini. Hari ini, Audy pun sudah mengantongi janji temu dengan Auriga seperti hari-hari biasanya. Mereka berniat makan siang bersama dan tentunya sekalian melepas rindu yang tak ada habisnya.


Menikmati makan siang bersama adalah rutinitas yang apabila Audy izin untuk meninggalkannya Bayi Beruangnya pasti merajuk, Audy bisa saja terus melakukan hal yang sama, tapi dia tak tahan dengan kelucuan Auriga kala merajuk. Bahkan rasa-rasanya Audy ingin menyeret Auriga ke KUA pada saat itu juga. Audy takut tak kuasa menunggu lamaran yang di janjikan kekasihnya itu.


"Nody, mobil sudah siap," lapor Alona. Gadis itu pun tampak anggun dengan baju yang Audy sarankan. Alona itu sangat cantik, dan apabila di tunjang dengan fashion yang sesuai dia terlihat semakin dan semakin cantik.


"Ayo! Kita berangkat!" ajak Audy tidak lupa mengambil tas selempang yang terletak di atas ranjang.


Alona mengangguk, gadis itu sempat menawarkan untuk membawakan tas Sang Nona Muda. Namun, Audy menolak dengan lembut. Walaupun sudah kembali ke versi original Audy kini jauh lebih mandiri. Dia mengusahakan untuk hal-hal yang bisa ditanganinya secara mudah dia akan melakukannya sendiri.


Mobil warna merah muda kembali menjadi kereta kencana kebanggaannya, bahkan dia tampak menarik bingkai kacamata hitamnya untuk melihat dengan jelas penampakan mobil yang dia ingat telah diberi nama olehnya.


Lolly, namanya.


"Long time no see, Lol!"


Alona yang melihatnya tentu masih suka terharu. Gadis itu masih tidak menyangka Nody-nya telah kembali. Walaupun sebelumnya pun Audy tidak sepenuhnya menjadi orang lain hanya tingkahnya saja yang semakin ajaib.


"Ayo, Lon!" seru Audy seraya menurunkan kaca mobil saat melihat Alona tampak masih berdiri tanpa ada niatan akan beranjak.


Alona mengangguk lambat dan lekas melangkah ke arah pintu mobil sebelah pengemudi.


...•••...

__ADS_1


Audy memasuki Restoran dengan anggun, yang mana di sampingnya terdapat Alona yang ikut membersamai. Tentu saja, dapur adalah tujuannya. Penampilannya yang cukup heboh beberapa memancing lirikan dari sekitar. Namun, Audy tampak tidak peduli dan memilih melangkah dengan nyaman.


Tepat saat beberapa langkah lagi dia mendengar suara Sang Kekasih yang tampak sedang beradu argumen dengan seseorang yang sudah jelas dirinya kenali.


Dia Anggita.


Rupanya wanita itu masih belum mau menyerah. Baik lah, baik lah, Audy pun tidak keberatan jika harus bergulat. Sekadar informasi, dirinya akan tetap terlihat cantik paripurna bahkan ketika adu jotos sekali pun.


"Selamat siang, Bayi Beruang-nya akuuuu!" Audy tampak langsung menyerobot masuk, tubuhnya dengan sengaja menyenggol bahu Anggita. Audy kini berdiri tepat di depan Auriga, yang mana jika dirinya ingin melihat wajah Sang Kekasih dia harus mendongak cukup tinggi.


"Ody, saya bisa jelaskan." Kepanikan tampak nyata di raut wajah Auriga. Pria itu takut jika kekasihnya salah paham, dan berakhir dengan Audy yang nantinya memutuskan akan meninggalkannya. Bahkan sekadar membayangkannya saja hati Auriga sudah berdenyut nyeri.


Audy menampakan deretan giginya. "Iya, aku percaya, kok, sama kamu. Pasti calon Nenek Lampir ini yang nempel-nempel, ya?"


Dengan menggemaskannya Auriga mengangguk dengan binar polos yang berhasil membuat Audy ingin menjawil ke dua pipi prianya itu. Namun, harus dia tahan karena ada hama yang harus di basmi terlebih dahulu dengan segera.


"Lo bisa apa?" tanya Audy dengan tatapan meremehkannya pada Anggita. Khas Audy sekali yang tidak suka basa-basi. Sembari menunggu jawaban Audy tampak melakukan gerakan mengambil sesuatu dari tubuhnya, "adabnya udah gue taro. Ngomong sama lo ngga perlu pake adab, kan?" sambung Audy sarkas.


Audy berhasil mendidihkan darah Anggita bahkan di detik pertama kedatangan wanita itu, dan kini Anggita merasa sangat tersentil oleh perkataan Audy. Terbukti dari raut wajahnya yang memerah karena menahan amarah.


Audy mengangkat sebelah alisnya. Seolah berkata 'Apa?!'


"Dasar perusak hubungan orang!" sentak Anggita yang mana berhasil menerbitkan senyuman miring di birai Audy.


"Lalu? Aku harus menghinamu dengan sebutan 'dasar manusia bangsat'? Tidak ada yang lebih pantas bukan untuk manusia yang sejak awal memohon untuk dijadikan pasangan, tapi justru malah punya selingkuhan?"


Audy memang bukan manusia suci. Jelas saja dia berlumuran dosa. Dirinya manusia biasa walaupun kecantikannya bak bidadari.


"Gue juga emang sampah karena udah egois dan sempat menerjun-bebaskan harga diri gue, tapi sayangnya gue ngga suka ada sampah yang lebih bau dari gue. Itu, lo!"


Anggita hanya mampu memandang Audy dengan kilatan penuh amarah. Karena bagaimana pun yang dikatakan Audy adalah hal yang tidak bisa Anggita elak.


"Sudahlah! Lo kalah, jangan mancing kegilaan gue!"

__ADS_1


Anggita semakin di buat dongkol. Namun, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, itu pula yang membuat Audy dengan berani mencondongkan tubuhnya lalu membisikan sesuatu pada Anggita.


"Dari segi level kita beda, dari cinta pun gue jelas menang, dan kalau pun lo habis ini mau main dukun, silakan! Dukunnya yang bakal lari," bisik Audy benar-benar hanya dapat di dengar oleh Anggita saja.


"Dia milik gue! Auriga milik Audy," tekan Audy.


Audy pun memundurkan tubuhnya, lalu dengan anggun dia berucap, "Mau duel?"


Anggita yang sebenarnya sudah kalah telak memilih untuk berbalik badan, meninggalkan ruangan dengan perasaan dongkol bukan main.


"Hei! Malah kabur! Gak asyik lo!" teriak Audy.


Auriga pun lekas menarik lengan Audy lembut, pria itu memposisikan kekasihnya itu di sampingnya.


"Aku cemburu, tapi aku ngga mau marah," cetus Audy seraya mengerucutkan bibirnya.


Tingkah lakunya berhasil membuat Auriga gemas. "Iya boleh. Saya suka, kok."


Dengan cepat Audy melirik Auriga. "Apa? Kamu suka apa?"


"Saya suka semuanya yang ada di kamu. Saya suka kalau kamu cemburu, bahkan kalau kamu mau marah pun saya ngga papa, saya tetep suka," jelas Auriga yang mendapatkan decakan tak percaya dari Kenan yang sedari tadi menjadi salah satu saksi kejadian.


Audy yang mendengarnya tentu tersanjung bukan main. Terlebih, Audy tahu yang dikatakan oleh kekasihnya itu jelas bukan gombalan.


Lalu dengan asal bunyi Audy pun menyahut. "Mau bulan madu di mana?"


Kontan ucapan Audy itu mendapat respons salah tingkah Auriga, seketika ke dua telinga tampan Auriga memerah.


"Nikah aja belum, udah nanyain bulan madu, sesat! Sesat!" komentar Kenan bercanda.


Audy pun terkekeh geli saat menyaksikan telinga Auriga yang tak kunjung berwarna normal. Bahkan komentar Kenan hanya dijadikan angin lalu oleh wanita itu, fokusnya hanya pada sosok Bayi Beruang-nya.


"Cepet lamar aku, aku pengen nikah sama kamu," ungkap Audy yang mana berhasil membuat seluruh wajah Auriga memerah menahan malu.

__ADS_1


"Lamar aku, Ga," pinta Audy benar-benar tulus.


...•••...


__ADS_2