
Entah mengapa hari ini rasanya ringan sekali. Audy merasa bahwa rasanya sungguh berbeda dari biasanya. Bahkan sedari bangun pagi hingga kini tak ada satu detik pun dirinya merasa kesal, bahkan disaat tadi dirinya sempat harus berurusan dengan pengguna jalan yang tidak bertanggung jawab sekalipun dia tetap merasa nyaman.
Audy bangun dengan keadaan hati yang tenang, yang dilanjutkan dengan sarapan pagi dalam keadaan senang. Lalu di lanjutkan pada aktivitas yang sudah menjadi rutinitasnya yaitu mengunjungi sirkuit untuk menekuni keahlian barunya dengan keadaan yang bahagia.
Sehabis itu dia pun sempat menghabiskan banyak waktu untuk makan bersama Alona beserta para ART lainnya. Dan sekarang tepat setelah melaksanakan ibadah wajib lima waktunya yang pertama Audy tampak berada di halaman restoran. Tentu saja, untuk makan siang dengan hidangan hasil olahan Auriga sesuai permintaanya.
Audy masih terduduk di atas motornya. Saat Audy sibuk membuka helm dia tanpa sengaja melirik Auriga yang tengah berdiri berhadapan dengan Anggita?
Audy memicingkan matanya. Sepertinya ke duanya sedang bersitegang. Audy menaruh helm-nya, dia sama sekali tidak tertarik dengan masalah yang terjadi diantara ke duanya. Namun, saat Audy hendak melangkah, dia menyadari satu hal.
Tanpa banyak kata Audy berlari dengan sangat kencang, dia mencoba menghalau apapun yang menghalanginya. Hingga semua terjadi begitu saja.
Seperti de javu ... kini tubuh Audy berbaring bersimbah darah dengan keadaan tubuh yang kaku. Sedangkan Auriga dan Anggita terpental ke arah pinggir jalan dengan kesadaran penuh.
...•••...
Auriga hari ini begitu sumringah, bahkan dia bangun lebih subuh dari biasanya. Saat semalam dia menerima daftar menu yang di kirim Audy lewat pesan, dirinya dengan sigap langsung mencatat bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan, saat subuh tiba dia pun bergegas ke pasar.
Kini pria itu tampak asyik dengan segala peralatan tempurnya yang mana bersamaan pula tercium wangi harum masakan yang menyeruak, belum lagi suara bising yang khas terdengar begitu syahdu. Auriga seperti sedang menciptakan dunianya sendiri. Bahkan Kenan dan Kaivan yang sedari tadi menyuruhnya untuk sekadar minum dulu tampak tidak dihiraukannya.
Kenan dan Kaivan pun memilih untuk menikmati makan siangnya lebih dulu.
Tiga menit berlalu dengan nyaman. Tiba-tiba saja seseorang yang kehadirannya tidak pernah diharapkan datang. Dia Anggita.
Kenan dan Kaivan hanya memandang Anggita tanpa kata, wanita itu kini tengah berdiri dengan pandangan lurus ke depan, objek pandangnya tentu saja adalah punggung Auriga. Pria yang memutuskan hubungan mereka dengan mudahnya.
"Ga, aku mau ngomong sama kamu," ujarnya setelah kini dia berdiri di belakang Auriga. Auriga yang tampak sedang memberikan sentuhan akhir pada hasil masakannya terlihat berbalik badan.
"Tentang?"
"Hubungan kita, dong, Ga. Aku ngga terima kamu putusin gitu aja."
__ADS_1
Auriga tidak mau membuang energi positifnya hari ini, dia tidak sedang dalam keadaan ingin meladeni emosi wanita di depannya.
"Lo sama gue udah selesai, pergi aja. Gue sibuk hari ini."
Tentu saja perkataan Auriga berhasil membuat Anggita meradang. "Semudah itu, Ga?"
"Ya, semudah itu."
Auriga hendak melangkah ke arah wastafel, dia bahkan belum sempat membersihkan tangannya. Namun, hal yang tak terduga terjadi. Hal yang telah menghancurkan jerih payahnya tanpa ampun.
Anggita, wanita itu dengan lancang membanting wadah yang berisikan hasil masakannya tanpa perasaan, membuatnya berserakan tidak tertolong. Kini makanan yang dibuatnya dengan sepenuh hati juga pengabdian jiwa raga itu telah bercampur dengan pecahan beling.
Auriga memandang hasil olahan tangannya dengan pandangan nanar. Bahkan tidak hanya satu, kini Anggita kembali merusak dua menu lainnya, menjadikan semuanya seperti masakannya yang pertama. Hancur lebur, berantakan dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Apakah Anggita tahu? Bahwa tidak ada yang lebih menyeramkan dibanding dengan marahnya orang sabar.
Auriga terdiam. Namun, siapa pun yang menyaksikan akan tahu bahwa pria itu sedang marah. Bahkan saking kuatnya amarah yang memuncak tubuhnya tampak sedikit menggigil. Kaivan yang juga sadar akan hal itu secepat kilat menarik Anggita dari jangkauan Auriga.
"Anjing!"
Dengan emosi yang membabi buta Auriga berusaha meredam amarahnya. Dia berjongkok, berusaha menghalau rasa panas di dadanya yang bahkan seperti membakar habis jantungnya.
Auriga mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak mau main tangan pada siapa pun terlebih wanita.
Sedangkan Anggita, dia pun tak kalah terkejutnya, bahkan tubuhnya terasa dingin karena syok yang mendera. Namun, secara bersamaan pula rasa iri menyusup ke dalam hatinya ... Anggita tak sengaja mencuri dengar dari para Asisten Koki yang sempat menjadikan aksi bucin Auriga sebagai topik obrolan ketika dirinya bergegas ke tempat itu. Katanya, Auriga sampai nyaris menghabiskan waktu istirahatnya untuk membuat hidangan yang nantinya akan di persembahkan untuk Audy. Yang mana saat ketika mereka menyadari kehadiran dirinya, semuanya langsung bungkam yang disertai dengan raut wajah tak enak hati.
Anggita tidak terima saat mengetahui fakta bahwa karena sebuah hidangan untuk wanita lain selain dirinya Auriga bahkan sampai mengumpat. Hal yang sebelumnya sulit sekali pria itu lakukan.
Rasa iri di hatinya perlahan memupuk kelancangan mulut miliknya yang seharusnya diam saja.
"Sehebat apa memangnya Audy itu, hah? Bahkan sampai untuk berpegangan tangan saja denganku kamu enggan Auriga?! Bahkan saat status kita berganti menjadi sepasang kekasih, kamu menghindari aku seperti mahluk yang menjijikan!" jerit Anggita yang juga dijadikan ajang untuk meluapkan segala emosi yang sudah dia tahan untuk waktu yang lama.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa hanya Audy yang kamu izinkan untuk menjadi hal yang paling indah di hidup kamu?!"
"Kenapa hanya dia? Kenapa hanya wanita sialan itu?!"
Anggita bukan hanya sedang mengumpankan dirinya melainkan wanita itu telah dengan sengaja meminta Auriga untuk melahapnya hidup-hidup.
Auriga yang sempat dengan susah payah membendung amarahnya pun perlahan bangkit, sorot matanya penuh kobaran amarah yang membara.
Kaivan menyadari itu, dia dengan cepat menghadang Auriga untuk menghampiri Anggita.
"Lepasin gue!" Memang pelan, tapi siapa pun tahu bahwa di setiap kata itu tersimpan luapan amarah yang menggebu-gebu.
"Ga, dia cewek." Kaivan tahu Auriga adalah manusia paling anti dengan kekerasan. Namun, melihatnya yang sedang diliputi emosi Kaivan pun berusaha mengingatkan.
Auriga terbahak sinis. Lagi, semua yang mendengarnya terkejut. Auriga yang mereka kenal selama ini adalah manusia tanpa emosi yang berarti.
"Maksud lo, cewek lo? Kenapa gak bilang 'Ga, dia cewek gue'!"
Kenan yang tidak tahu menahu soal itu tentu terkejut bukan main dengan fakta itu.
Kaivan tidak bisa mengelak. "Ga, gue bisa jelasin, gue—"
"Lo pikir gue goblok hah?! Engga! Bahkan gue tahu sejak awal, tapi apa gue kelihatan marah setelah gue tahu? Engga, kan?! Ya karena gua gak peduli. Sejak awal gue gak pernah punya perasaan apa-apa sama cewek bangsat lo itu, cewek yang pura-pura terluka padahal dia aja bukan manusia setia. Lo tahu, dia..." Auriga menunjuk Anggita dengan emosi yang kian memuncak.
"Dia yang mohon-mohon buat jadi cewek gue, dia yang sujud di kaki gue, yang mana waktu itu gue udah bilang kalau gue gak punya perasaan apapun sama dia."
Anggita tiba-tiba menjerit, wanita itu sedang berusaha mengecoh keadaan. Meskipun yang diucapkan Auriga adalah kebenaran setidaknya izinkan dia untuk memungut rasa malunya walaupun dengan keadaan berceceran sekalipun.
"Oke, kalau lo emang udah gak bisa gue miliki, yaudah gue bakal bunuh Audy!"
Setelah mengatakan itu Anggita pun melangkah meninggalkan ruangan. Auriga tentu ketakutan, apalagi tadi Audy sempat mengiriminya pesan bahwa calon wanitanya itu sedang di perjalanan menuju ke tempatnya. Jika dihitung dari jarak tempuh seharusnya wanita itu sudah sampai.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Auriga menyusul Anggita.
...•••...