Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 20. BENTUK KEPEDULIAN


__ADS_3

"Ga, besok kalau gue ajak makan mau?"


Auriga diam. Memastikan kembali bahwa dirinya tidak salah dengar. Namun, melihat sebelah alis Audy yang terangkat, yang merupakan isyarat bahwa wanita itu sedang menunggu jawaban. Auriga pun yakin bahwa Audy benar-benar menanyakan pertanyaan tersebut, yang mana cukup mustahil jika yang bertanya adalah Audy yang sekarang.


"Kamu udah cinta sama saya?" Bukannya menjawab Auriga malah menyuarakan pertanyaan yang jujur saja telah menciptakan letupan kembang api di dada pria itu.


Audy sontak menempeleng bahu Auriga.


"Ngga usah ngarep, deh."


"Itu ... barusan kamu nanya kayak gitu."


Audy memandang Auriga sangsi.


"Kamu juga tadi pas mengusap kepala saya senyum," lanjut Auriga yang berhasil membuat Audy memandang Auriga dengan tatapan tak habis pikir.


"Bukan cuma lo, ya, gue bisa ngelakuin hal itu ke semua orang, tukang sate kek, tukang ketoprak kek ... Lagian gue gak mau suka sama lo."


"Kenapa? Saya ganteng," sahut Auriga tanpa ekspresi.


"Lo pikir gue suka sama orang karena gantengnya aja?"


"Saya juga pinter."


"Lo pikir gue suka sama orang karena pintarnya aja?"


"Saya juga kaya raya," tandas Auriga meyakinkan Audy bahwa dirinya layak untuk dicintai wanita itu.


"Lo pikir gue suka sama orang karena kaya—"


"Saya juga orang yang kamu cintai," potong Auriga yang membuat Audy mendelik tak terima.


"Pernah-nya ketinggalan woy! Pernah, ya! Catat! Dan sekarang udah ngga!"


Auriga mendadak diam. Dia kesal dengan penolakan Audy yang terkesan ngotot.


"Jadi mau atau ngga?" sambung Audy sama sekali tidak peduli dengan kondisi perasaan Auriga.


Auriga mengangguk.


"Yaudah, sana balik."


Auriga tampak memandang Audy, mulutnya terbuka tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun, Audy lebih dulu menyela.

__ADS_1


"Gak ada alasan mampir! Kita udah makan barusan di luar, jadi ngga ada alasan mau masakin makan malam. Sana balik!"


Auriga diam. Merasa yang dikatakan Audy tidak dapat dirinya bantah.


"Sana balik! Gue juga mau tidur. Besok gue kabarin tempat sama jamnya."


Audy hendak berlalu. Namun, Auriga menahannya. "Saya boleh tahu ngga tukang sate sama tukang ketopraknya cewek atau cowok?"


Dan kini Audy dibuat menganga dengan pertanyaan nyeleneh pria itu.


Auriga dan kecemburuannya memang selalu tampak menggemaskan.


...•••...


Audy memilih membawa Auriga ke tempat makanan yang ramah kantong dan juga ramah cita rasa. Tenda yang menyediakan banyak lauk yang berbahan dasar daging ayam merupakan tempat yang Audy pilih. Banyak olahan berbahan dasar ayam di sana, seperti ayam goreng, sate usus, sate kulit, ceker dan kepala ayam, yang dilengkapi dengan lalapan yang cukup lengkap.


Tenda yang tampak sederhana. Namun, bersih itu Audy pilih bukan tanpa alasan. Menurut Alona, tempat ini menjual makanan siap santap yang mampu menggoyang lidah. Tentu saja Audy tergiur saat melihat mata Alona yang berbinar-binar saat menceritakannya. Audy bahkan berniat membungkus makanannya untuk Alona dan ART pribadinya.


Bagi Audy dan Auriga makan di restoran mewah bukan lagi hal yang spesial. Baginya, dimana pun tempatnya selama cocok di lidah dan punya selera tempat yang bersih maka Audy sama sekali tidak keberatan.


"Biar saya yang pesan. Kamu tunggu di sini."


Audy hanya mengangguk. Sedangkan Auriga sudah mulai melangkah ke arah yang pegawai yang siap sedia melayani para pembeli. Kali ini Audy merasakan debaran yang aneh saat netra-nya terpaku pada punggung tegap Auriga.


Audy kembali dibuat bingung. Karena otaknya menolak mengingat. Hanya ada bayangan hitam tanpa cahaya.


Andai Audy tahu bahwa debaran itu hadir karena hatinya merasa bahagia akan momen yang selalu dirinya tunggu di waktu dulu. Menyaksikan punggung Auriga yang perlahan menjauh bukan untuk meninggalkannya dengan segala sakit di dada melainkan untuk memesankan dirinya makanan, lalu berakhir dengan mereka menyantapnya dengan nyaman dan bahagia.


Tak lama Auriga kembali. Audy pun berusaha tampak biasa saja, menyapa dan meledek Auriga alakadarnya. Tak lama pesanan pun datang.


Netra Audy kontan berbinar-binar. Lidahnya berdecak kagum dengan pemandangan makanan yang dihidangkan. Air liurnya seperti akan menetes.


"Dari sampul aja udah enak, apalagi rasanya." Audy hendak mencomot asal salah satu lauk yang ada. Namun, Auriga sudah lebih dulu menyelanya. Tanpa kata Auriga mengarahkan tangan Audy ke dalam mangkuk berisi air kobokan, membasuh jemari mungil milik wanita itu dengan telaten.


"Makasih, Aga," ujar Audy antusias. Dia sudah tidak sabar ingin menyantap makanannya.


Hidangan ayam goreng serta sate-satean lengkap yang Auriga pesan benar-benar telah membangkitkan selera makannya. Perutnya seakan mengerti bahwa yang dimakannya adalah makanan enak hingga mengirimkan sinyal lapar yang tiba-tiba membombardir. Audy langsung saja mengangkat tangan untuk berdoa, wanita itu siap sedia menghabiskan makanan yang tertata sangat apik itu.


Auriga yang melihat Audy tampak antusias terlihat tersenyum kecil. Auriga juga tampak menggeser beberapa piring berisi lalapan ke arah Audy yang langsung dicomot oleh Audy.


"Mm ... Enak banget." Audy tampak mengangguk-angguk lalu sesekali terdengar bersenandung ria.


Auriga memandang Audy dengan tatapan kagum juga rindu. Audy tidak pernah benar-benar berubah, masih banyak hal yang ada pada diri Audy. Salah satunya adalah kebiasaan wanita itu saat makan makanan yang menurutnya enak. Ya, Audy akan memberikan respons yang antusias dan gembira, seperti menggeleng, mengangguk, bersenandung, serta berceloteh ria memuji makanannya.

__ADS_1


Malam ini Auriga bahagia. Dia bahagia karena telah diizinkan untuk bisa menyaksikan kembali momen itu.


Audy selalu punya cara unik untuk bisa diingat dalam ingatannya. Auriga kini sadar, bahwa Audy tidak pernah benar-benar meninggalkan hatinya.


...•••...


Selepas mengajak makan—dengan Auriga yang tetap ngotot ingin membayar makanannya. Audy tentu menolak. Namun, sudah jelas siapa bukan pemenangnya?—kini Audy membawa Auriga ke sebuah taman yang mana di seberang jalannya terdapat pasar malam yang dilengkapi dengan wahana-wahana permainan baik untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa.


Terlihat ke duanya sedang duduk di kursi panjang yang tersedia. Suasananya memang ramai, tapi tidak riuh.


"Kamu mau ke sana?" tanya Auriga setelah cukup lama terduduk di sana.


Audy menggeleng.


"Lalu?"


"Lo yang nanti butuh ke sana," jawab Audy yang membuat Auriga mengernyit.


"Saya? Untuk apa?"


Pertanyaan Auriga tergantung. Audy memilih diam untuk beberapa saat, seperti sedang mempersiapkan sesuatu.


"Ada yang mau gue bilang sama lo."


"Silahkan, saya pasti dengarkan."


"Tapi, lo jangan mewek, gue gak ada tisu ... Eh, tapi boleh, deh, untuk saat ini gue biarin lengan baju gue lo pake buat lap ingus. Nih!" Audy tampak mengulurkan lengannya ke samping, tepat ke depan Auriga.


"Untuk apa saya menangis?" Auriga tentu bingung. Apa Audy akan memberikan kejutan yang begitu menyakitkan hingga membuat dirinya akan menangis? Apakah Audy akan pergi meninggalkannya tanpa memberikan dirinya kesempatan? Jika iya, maka Auriga akan dengan sangat lancang menyeret Audy ke KUA terdekat.


Audy tampak menghela napas berat. Matanya dia buat lurus, Audy tidak mau memandang raut wajah Auriga yang bisa saja nanti sangat terlihat menyedihkan.


"Cewek lo selingkuh," ujar Audy cepat. Namun, Auriga masih dengan jelas bisa mendengarnya.


Hening.


Audy harap-harap cemas, dia tampak memejamkan mata siap-siap untuk mendengar suara tangisan. Namun, satu detik, dua detik, bahkan sepuluh detik berlalu tak ada respons apa-apa.


Apakah Auriga pingsan saking terkejutnya? Pikiran Audy mulai kemana-mana.


"Oh, saya sudah tahu sejak lama."


...•••...

__ADS_1


Aku tahu, kamu masih peduli tentangku. Jadi berlarilah kini aku punya banyak bahan bakar untuk mengejarmu.—Auriga Prayoga


__ADS_2