Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 08. CEMBURU LAGI


__ADS_3

Auriga tidak tahu golongan apa yang merasukinya. Namun, yang pasti dirinya persis seperti orang dungu yang telah memasuki satu persatu pusat perbelanjaan di ibu kota demi menemukan keberadaan Audy. Dia nekat mencari keberadaan Audy bermodalkan foto yang di posting Kenan. Alih-alih bertanya Auriga malah memilih untuk merepotkan diri sendiri hanya karena gengsi.


Anggap saja dirinya gila, karena bodohnya Auriga melakukan kegilaannya dengan secara suka rela. Ya, benar. Tanpa ada pemaksaan siapa pun.


Auriga terus mendatangi tempat-tempat yang di rasa (mungkin) akan Audy datangi, tentu saja Auriga tahu karena sebelumnya Audy selalu rutin mengabarinya tentang keberadaan wanita itu lengkap dengan tempat, dan alasan kenapa Audy bisa berada di sana.


Aga aku lagi di mall lho, lagi beli baju


Aga lihat deh aku suka baju ini warnanya baby blue unyu-unyu gitu


Oh iya Aga ini tempat fav aku lho kalau lagi ke mall


Dan masih banyak lagi.


Auriga memang tidak pernah membalasnya. Namun, untuk membacanya itu bukan hal yang sulit, terlebih membaca adalah salah satu hobinya. Bahkan pernah satu hari itu Audy mengiriminya 1000 pesan dengan setiap gelembung pesan yang panjang-panjang, tapi luar biasanya, Auriga tetap membacanya sampai selesai.


Gedung yang ditapakinya sekarang adalah pusat perbelanjaan terakhir yang pernah Audy informasikan waktu itu, semoga wanita itu benar-benar bisa ditemukannya di sana.


Dan saat Auriga mengecek fotonya kembali, saat itu pula Kenan tampak memperbarui statusnya. Foto yang menampilkan Audy yang memakai kaus putih kebesaran yang dipadukan dengan celana kulot biru dongker yang sedang memesan makanan.


Auriga tahu tempat itu. Itu tempat penjual Bakmi. Lebih tepatnya, bakmi langganan Kenan, dan lebih spesifiknya itu tempat favorit Kenan.


Sepertinya Kenan benar-benar ingin mencuri start. Auriga lekas mempercepat langkahnya.


Dan benar saja, Auriga dapat melihat Audy dan Kenan yang kini tengah asyik makan. Audy terlihat mendominasi percakapan. Wanita itu hilang ingatan atau tidak tetap saja cerewet, hanya saja kali ini kecerewetannya dipadukan dengan tingkahnya yang bar-bar. Yang jujur saja membuat wanita itu tampak jauh lebih menarik.


Belum sempat Auriga menyapa, Audy lebih dulu menyadari keberadaannya. Mulut Audy yang tampak penuh begitu lucu, pipinya yang gembul terlihat semakin seperti bakpao yang berhasil mengembang.


Audy melambaikan tangannya, yang membuat atensi Kenan teralih ke arah tatap mata Audy.


Tanpa ada yang tahu Kenan tersenyum miring.


"Lho, Ga, ngapain lo di sini?" tanya Kenan dengan raut wajah tanpa dosa.


"Pasti lagi nganter pacar, ya?" seloroh Audy sambil nyengir.


"Gak." Auriga tampak menarik kursi kosong di sebelah Audy.


"Mau?" Audy menawarkan dengan mata yang mengintai pergerakan Auriga.


Auriga menggeleng. "Saya ada urusan sama kamu."

__ADS_1


"Sama gue? Urusan apa? Perasaan gue belum ngutang, deh, ah ralat gak bakal pernah ngutang, lo tau, kan, bokap gue tajir melintir. Bahkan tiang di rumah gue lebih mahal dibandingkan harga sewa kedai ini. Gila gak tuh?"


"Bukan utang," jawab Auriga singkat.


Audy mengerutkan dahi dalam. "Terus?"


"Rahasia."


"Dih, najis kayak cewek lo!"


Kenan hanya terkekeh. Ah, Kenan tidak pernah menyangka ternyata menyaksikan Auriga yang cemburu amat sangat menghibur. Hatinya geli, dan jujur saja rasanya Kenan ingin tertawa sampai terbahak-bahak. Perpaduan wajah gengsi dan cemburu Auriga sungguh lucu.


"Sudah cepat makan, nanti kamu pulang sama saya." Seperti biasa bukan tawaran, melainkan perintah.


"Dayang-dayang gue gimana?"


"Biar mereka di jemput supir saja, atau naik taksi online nanti saya yang pesan sekaligus bayar."


Suara cukup nyaring terdengar, walaupun tidak begitu menarik atensi yang lain. Meskipun Audy cukup keras menggeplak bahu Auriga, tubuh pria itu tetap seimbang. Sepertinya, kekokohan tubuh Auriga tidak bisa dibandingkan dengan kepalan tangan mungil milik Audy, walaupun pukulan wanita itu tidak bisa dikatakan pelan juga.


"Santai, udah gue bilang, kan, kalau tiang rumah gue lebih mahal dibandingkan harga sewa kedai ini, gue masih mampu bayar kok, tunggu gue hubungin Alona dulu, biar mereka ngga perlu buru-buru juga keliling-kelilingnya."


Auriga hanya mengangguk.


...•••...


"Orang udik! Orang udik! Ngomongnya aneh! Huuuu."


"Kamu aneh, ngomongnya aneh, huuuuu."


Tampak seorang anak laki-laki dengan seragam merah putih melangkah tertunduk. Di belakangnya terdapat anak-anak sebayanya yang terus melontarkan kata-kata ejekan padanya.


Anak laki-laki itu terlalu fokus dengan mata yang terus memandang ujung sepatunya hingga tidak menyadari bahwa sedari tadi ada yang memantau dirinya, dan kini orang itu sudah berdiri di hadapannya. Bahkan, nyaris tertabrak oleh tubuhnya yang cukup tinggi untuk ukuran anak seusianya.


"Mau gue bom lo semua, hah?!" teriak sosok yang bahkan tubuhnya tampak mungil jika dibandingkan dirinya. Namun, hebatnya semua anak yang sedari tadi mengejeknya mendadak diam.


"Lo, lo, dan lo semua kalau besok masih ngejek anak ini, gue bakar pantat lo semua! Audy Maharani Tanujaya ngga pernah main-main!"


Anak-anak yang mengejeknya benar-benar hilang tanpa jejak saat anak laki-laki itu menolehkan kepalanya ke arah yang sama dengan arah pandang anak perempuan yang ternyata bernama lengkap Audy Maharani Tanujaya.


"Hai! Ngga usah takut, aku galaknya ke anak-anak nakal aja, kok," sapa Audy lengkap dengan senyuman manis sesaat setelah anak laki-laki itu menolehkan kepalanya ke arah yang berlawanan.

__ADS_1


"Kenalin, aku Audy. Nama kamu siapa?" Dengan ramah tamah Audy mengulurkan tangan pada anak laki-laki itu.


"Nama saya Auriga Prayoga," balas anak laki-laki itu dengan nada khas bahasa jawa yang begitu kental.


Ternyata Auriga diejek hanya karena logat bicaranya. Audy tak habis pikir dengan anak-anak yang sedari kecil sudah asing dengan perbedaan di saat semboyan negara Indonesia saja bhinneka tunggal ika. Apa mereka tidak diajarkan cara bertoleransi sejak dini?


Sungguh Audy merasa sangat bersyukur terlahir dari kelurga terdidik.


"Kamu keren, aku suka cara logat bicara kamu."


Auriga tampak memandang Audy dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kata Bunda aku, di Indonesia itu terbagi menjadi banyak suku, jadi kamu gak perlu merasa aneh, ya."


"Aku dari suku sunda lho. Nih aku perkenalan pake bahasa sunda sama logatnya juga, ya..."


"Tepangkeun nami abdi Audy Maharani Tanujaya, abdi asli Garut, abdi mah geulis pisan wlee...."


Kontan Auriga tertawa kecil mendengar logat bicara Audy yang lembut. Namun, secara bersamaan memiliki oktaf yang berirama. Khas suku sunda sekali.


Audy pun ikut tertawa. "Kamu tinggal dimana?"


"Di rumah."


Sekarang giliran Audy yang sontak tertawa renyah. "Ya pasti di rumah atuh cuma maksud aku teh alamatnya di mana?"


"Kulo ndak tau nama alamatnya, tapi tau jalannya."


"Yaudah kamu belok kanan atau belok kiri?"


"Kanan."


"Sama dong, perumahan pelita?"


"Nggih."


"Yowes bareng sama aku aja."


Hari itu Auriga yang baru saja menginjakan kaki di ibu kota merasa sangat terbantu dengan kehadiran Audy. Audy yang ramah dan suka sekali tersenyum, diam-diam Auriga mengukir nama Audy di tempat yang spesial.


...•••...

__ADS_1


Aku tidak tahu perihal rasa. Namun, ada rasa takut yang mendalam saat aku tahu bukan lagi aku pemilik hatimu.—Auriga Prayoga


__ADS_2