Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 14. RUMIT


__ADS_3

Audy benar-benar mengunjungi Auriga. Bahkan sekotak bekal yang hanya berisikan nasi dan telur goreng di dalamnya tampak ditentengnya.


Hari ini rambut panjangnya tampak di biarkan terurai. Kaus hitam yang dipadukan dengan celana kulot senada menjadi pilihannya hari ini. Cuaca yang cukup terik membuat Audy memilih untuk mengenakan kacamata hitam berbingkai kotak.


Bibirnya yang memang sudah berwarna merah muda alami hanya dibalut pelembab, sedangkan untuk kulit wajahnya dia merasa lebih nyaman hanya dengan menggunakan serangkaian produk perawatan kulit tanpa hiasan sedikit pun.


Wajahnya tampak polos. Namun, meskipun begitu Audy tetap cantik. Apalagi senyuman manisnya selalu terukir.


Alona yang sudah seperti buntut ikut melangkah sejajar bersama Nona Mudanya itu.


Saat memasuki area dapur yang pertama Audy lihat adalah Kenan yang tengah mencuci tangan di wastafel.


"Kenan!" panggilnya yang membuat sang empu nama berbalik. Tak lupa menyambut kedatangan Audy dengan senyuman khas. Gingsul milik Kenan tampak tampil menawan.


"Hai," sapa Kenan balik. "Kok, ngga bilang mau ke sini?"


Auriga yang tidak suka melihat interaksi ke duanya dengan sigap menghampiri Audy. "Kenapa harus bilang sama lo?" tanya Auriga sinis.


Kenan hanya mengangkat bahunya tak acuh. Sedangkan Kaivan yang sedang mengecek bahan-bahan makanan tampak diam saja.


"Nih." Audy tampak menyodorkan kotak bekal yang di bawanya ke depan Auriga, "udah, ya, gue lunas utangnya."


Auriga tentu saja langsung menyambutnya. Pria itu langsung duduk di kursi dengan meja yang tersedia. Namun, saat hendak membuka tutup kotak bekalnya. Seseorang dari arah pintu belakang menginterupsi. Dia Anggita.


Audy yang melihatnya tentu langsung mengenalinya.


"Halo, Ga!" sapa Anggita disertai senyuman kecil. Bahkan tanpa dipersilahkan wanita itu masuk dengan ke dua tangan penuh membawa bingkisan. Kaivan yang melihat Anggita tampak kerepotan sigap membantunya.


"Lho, kamu bawa bekal?" Anggita melirik kotak bekal yang kini sudah terbuka sepenuhnya. Namun, belum sempat tersentuh.


Audy yang melihat Anggita yang membawa makanan—yang sudah dapat dirinya tebak untuk Auriga—sedikit merasa bersalah karena telah membiarkan Auriga memakan makanannya. Padahal yang berstatus sebagai kekasih pria itu adalah wanita yang hari ini tampak anggun dengan gaun selutut semi formal. Bukan dirimya.


Audy dengan cepat merampas kotak bekal di hadapan Auriga. "Ah, engga, ini punya gue."


Anggita tersenyum. "Oh yaudah, ini aku bawain makan siang buat kamu, Ga. Sekalian buat teman-teman kamu juga."


Audy merasa suasananya canggung. Auriga bahkan kini sedang memandangnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Entahlah, Audy tidak berniat mencari tahu riak emosi yang ada di wajah pria itu.


"Kalian makan aja, gue mau ke balkon dulu." Audy memilih untuk kabur saja.


"Aku ikut, Dy." Kenan tampak beranjak.


Audy mengangguk saja. Kemudian, Audy, Kenan dan Alona pun meninggalkan ruangan.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Auriga datar.


"Masa mau ketemu kekasih sendiri harus pakai alasan," jawab Anggita santai. Tangannya tampak sibuk menyiapkan makanan. Termasuk makanan untuk Kaivan yang sudah duduk manis di samping Auriga.


"Kamu senagaja, kan?"

__ADS_1


Anggita kontan menghentikan aktivitasnya. "Maksud kamu apa, Ga?"


"Kamu gak lupa, kan, kalau aku masih kekasih kamu?" timpal Anggita.


Auriga memusatkan pandanganya pada Anggita. Memandang Anggita dengan tatapan dingin. "Kita putus. Apa itu bisa bikin kamu gak bakal datang lagi ke sini?"


Anggita tentu saja tidak percaya saat mendengar pernyataan Auriga. Wanita itu bahkan tertawa hambar, mencoba menanggapi kalimat Auriga sebagai sebatas pernyataan konyol.


"Gak lucu, Ga."


"Memang, tidak ada yang lucu."


Anggita memandang Auriga lamat-lamat. "Kamu gak lupa, kan, yang selalu ada buat kamu selama ini aku."


"Aku gak mau putus. Oke, kalau sekarang kamu lagi engga punya waktu buat aku. Aku pulang."


Anggita benar-benar pergi. Namun, anehnya Auriga tetap bergeming.


"Lo gak mau nganterin Anggita?" Kaivan bertanya dengan datar.


Auriga tidak menjawab, dia justru malah melenggang pergi. Tentu saja ke arah yang berbeda dengan arah yang dituju Anggita.


Kaivan memandang punggung Auriga dengan tatapan tak percaya.


...•••...


Matanya memandang tajam pada kotak bekal yang sepertinya sudah di santap sebagian. Lalu, amarah mulai membelenggunya saat melihat Kenan dengan lancangnya menerima suapan dari Audy.


Auriga bergegas dengan dada yang bergemuruh. Matanya sama sekali tidak lepas dari ke dua mahluk yang berperan besar terhadap luapan emosinya.


Tepat saat satu sendok akan kembali mendarat di mulut Kenan saat itu pula Auriga merampasnya.


"Lho, Ga. Lo ngapain di sini?" Audy keheranan, dia tampak celingukan mencari sosok yang mungkin saja ikut serta di belakang Auriga. Namun, dirinya tak mendapati siapa pun.


"Ini bekal saya, Dy. Kenapa kamu kasih ke dia?"


Audy tidak menyadari bahwa di balik cara bicara Auriga yang tanpa intonasi itu terselip kecemburuan yang membara.


"Elo, kan, udah dapat dari cewek elo. Jadi, ini gua kasih ke Kenan aja, ya? Sayang dari pada gak di makan."


"Tapi ini punya saya."


Kenan yang tahu Auriga tengah di lahap habis oleh api cemburu malah tampak santai. Bahkan ada niatan dihatinya untuk memperbesar gejolaknya.


"Iya, elo itu jangan rakus, dong. Yang ini buat gue aja. Ayo, Dy, suapin aku lagi."


Tepat sasaran. Auriga semakin meradang bukan main. Bahkan kini tatapan tajam yang jarang sekali dilayangkan tengah menghunus ke arah Kenan. Kenan tak peduli, dia sekadar mengangkat sebelah alisnya tanpa dosa.


Auriga melihat isi kotak bekalnya yang hanya menyisakan sekitar lima sendok nasi dengan telor goreng yang sisa separuh.

__ADS_1


Tanpa kata Auriga jongkok di samping Audy. Yang mana sempat membuat Audy juga Alona kebingungan. Sudah jelas-jelas di sana masih ada kursi kosong. Namun, Kenan yang paham hanya tersenyum geli. Auriga ingin menjadi benteng pemisah antara dirinya dan Audy. Auriga sengaja menghalau jarak antara dirinya dan Audy yang memang duduk berdampingan.


Auriga memakan isi kotak bekal itu lahap, menghabiskannya sampai tandas. Tentunya setelah sebelumnya membaca doa.


Audy memandang Auriga dengan tatapan horor. Auriga persis sekali seperti orang yang tidak pernah bertemu nasi dan telur. Tampak rakus dan tidak sabaran.


Dan akhirnya pria itu pun kena batunya, dia tersedak dengan nasi yang berhamburan dari mulutnya.


"Ody!"


Audy, Kenan, dan Alona tercengang mendengarnya. Selain karena nama panggilan lucu yang disematkannya untuk Audy, mereka juga terkejut dengan nada bicara Auriga.


Benarkah pria itu baru saja merengek? Sulit dipercaya.


Tangan dengan urat yang melintang milik pria itu tampak berusaha menyingkirkan semburan nasi di area bajunya.


Audy yang merasa kasihan pun memilih membantunya. Tidak lupa Audy juga membersihkan butiran-butiran nasi yang berkeliaran di area wajah pria itu.


"Lo gak makan seabad ya?" sindir Audy.


"Saya lapar," adu Auriga dengan tangan yang mengambil gelas milik Audy lalu tanpa izin langsung meminum isinya.


"Lain kali bilang sama cewek elo suruh bawa makanannya porsi kuli."


"Saya gak makan barusan."


"Maksudnya?"


Audy tentu tidak paham. Anggita membawa makanan untuk Auriga bukan? Lalu kenapa pria itu bilang seperti itu?


"Kamu tahu? Saya gak makan apa-apa lagi setelah sarapan bakso sama kamu. Saya sengaja biar bisa makan masakan kamu, dan kamu dengan tanpa izin saya malah kasih ke dia."


Lucu. Satu kata yang pantas di sematkan pada tingkah Auriga yang tentu saja tidak disadari pria itu. Dari mulai tingkah impulsif-nya sampai dengan cara dia berbicara.


Jujur saja Kenan dan Alona baru melihat sisi menggemaskan pria itu. Audy tentu saja pernah, hanya saja Audy tidak ingat sepenuhnya.


"Jadi, salah gue?"


"Iya."


"Enak aja lo! Dasar kacung kurang ajar," cibir Audy.


"Biarin."


Audy memandang Auriga tajam. Kenapa Auriga jadi menyebalkan? Padahal setahu Audy, dulu Auriga bukan manusia rese seperti sekarang.


...•••...


Aku jatuh cinta sama kamu. Bahkan sejak dulu, tapi aku tidak menyadarinya kala itu. Lalu, saat perlahan kamu pergi aku yang kini ingin kembali bersamamu.—Auriga Prayoga

__ADS_1


__ADS_2