Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 16. FAKTA GILA


__ADS_3

Audy memilih balkon kamar sebagai tempat yang tepat untuk membicarakan topik yang diusungnya. Kebetulan balkon kamar miliknya merupakan satu-satunya yang menghadap ke arah taman—yang mana jika memandang lebih jauh terdapat lapangan komplek yang biasa dijadikan tempat bermain oleh sekumpulan anak-anak.


Audy tampak duduk di sebuah ayunan dengan Alona yang duduk di sebuah sofa tepat di sampingnya.


"Gue pengen lo kasih tau gue, tentang semua fakta sebelum gue hilang ingatan."


Alona memandang Audy gugup. Bagaimana tidak? Di satu sisi dia tidak mungkin bisa berbohong pada Audy, tapi di sisi lain Auriga sudah lebih dulu mengultimatum dirinya agar tidak buka suara pada Nona Mudanya itu.


Audy yang menyadari kegelisahan Alona tampak mengulurkan tangannya, jemarinya tampak membenarkan arah pandang Alona yang kini memandang tepat ke arahnya.


"Kenapa?"


"Den Auriga sudah lebih dulu meminta saya untuk bungkam," cicit Alona. Kan, sudah dirinya bilang, bahwa dia tidak bisa bohong pada Audy. Nona Muda sekaligus malaikat tanpa sayapnya.


Alona bahkan rela menukar nyawanya untuk Audy. Audy telah dengan sangat baik memungutnya. Audy mungkin lupa siapa dirinya, tapi Alona tidak akan pernah lupa siapa Audy di hidupnya.


"Dia ngancam lo? Wah, kurang ajar tuh kacung gue!"


Alona menggeleng tegas. "Bukan, Nody. Den Auriga tidak mengancam, hanya saja berpesan untuk tidak membicarakan masa-masa Nody sebelum kehilangan ingatan."


"Gue tanya, ya. Menurut lo alasan Aga bilang kayak gitu itu demi kebaikan gue atau kebaikan dia?"


Alona terdiam. Alona tahu jawabannya, dan Audy pun tahu maksud dari keterdiaman Alona.


"Oke, gue yang nanya dan elo tinggal jawab, ya. Terus kalau nanti gue minta lo buat ceritain semuanya, gue minta tolong buat ceritain semuanya."


Alona mengangguk. "Nody, saya akan sebisa mungkin membantu, Nody."


Audy tersenyum, dan keraguan dalam diri Alona untuk buka suara pun sirna.


"Apa benar Auriga itu calon suami gue?"


Alona mengangguk seraya berkata, "Ya, Nody."

__ADS_1


Audy langsung berdecak tak percaya. Bocah itu benar-benar calon suaminya? Audy tak habis pikir dengan seleranya sendiri. Sejak kapan dia suka bocah ingusan? Maksudnya berapa pun umurnya jika dia lebih muda darinya pasti Audy akan menganggapnya bocah.


"Kok bisa? Lo yakin dia gak melet gue? Secara kalau gue dalam keadaan sadar, gue benar-benar gak minat sama dia. Gila. Dia adik kelas gue."


Alona meringis. Haruskah Alona memberitahukan faktanya? Rasa ragu mulai hinggap kembali. Bagaimana kalau nanti Audy pingsan saat tahu kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan bahwa betapa wanita itu pernah tergila-gila hingga nyaris lupa waras.


"Kalian dijodohkan—"


"Apa?!" pekik Audy. Audy masih yakin bahwa dirinya tidak mungkin memilih Auriga dalam keadaan sadar.


"Emang masih jaman, ya, di jodohkan kayak gitu? Kan, gue bilang juga apa, gue itu gak minat sama bocah kayak dia. Kalau karena dijodohin, sih, gue percaya, secara mungkin gua anak berbakti waktu itu," cerocos Audy yang membuat Alona menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


"Oke, lanjut, terus dulu gue pernah cerita ngga kenapa gue nerima perjodohannya?"


"Karena Nody mau," jawab Alona apaadanya dengan tanpa hambatan. Audy menganga dan sulit berkata-kata.


Dan siapa sangka dari tiga kata itu memancing seribu tanya yang akhirnya di uraikan dalam untaian kata yang tanpa pernah Audy duga sebelumnya.


Siang itu, tepat saat satu jam menuju jam makan siang Audy mengetahui fakta yang jika bisa di putar kembali Audy memilih untuk tidak mau tahu saja.


...•••...


Semalam Alona meyakinkan Auriga dan keluarga Tanujaya untuk tidak khawatir pada kondisi Audy. Karena itu merupakan pesan dari Audy, yang tepat setelah pembicaraan mereka selesai menjelang siang kemarin Audy meminta untuk agar Alona menyampaikan pesannya itu. Audy butuh waktu sendiri. Dia merasa harus mencerna semua fakta itu dengan baik.


Audy memandang jam dinding hitam tanpa angka yang terletak di tembok sebelah kanan. Jarum pendeknya menunjukan pukul delapan lebih lima belas menit. Audy memang sengaja bangun siang.


Tanpa kata Audy pun bangkit setelah cukup lama terduduk di pinggir ranjang. Kaki mungilnya melangkah ke arah kamar mandi.


Dengan keadaan baju tidur yang masih melekat Audy melangkah ke arah shower lalu memutar kerannya. Ribuan tetes air perlahan mulai membasahi seluruh tubuhnya. Kepalanya tertunduk lunglai.


Detik terus bertambah, tubuhnya kian basah kuyup hingga perlahan-lahan sayup-sayup suara air terdengar bersahutan dengan suara tangisnya, yang semakin lama semakin kencang.


Audy menangis sekencang yang dia bisa. Dia berusaha meluapkan perasaanya. Dia berusaha mencari rasa sakit yang sejak semalam bersarang dihatinya. Dia berusaha mencari kenangan yang mungkin saja akan datang. Namun, sekuat apapun mencari hanya rasa sakitnya yang kian terasa nyata sedangkan kenangan yang berusaha mati-matian dicarinya hanya berakhir dengan kegelapan.

__ADS_1


Audy meraung, berteriak, bahkan menjerit. Dia ingin membebaskan rasa sesak di dadanya.


"Auriga sialan!"


"Auriga anjing!"


"Auriga bangsat!"


Sesekali Audy mengeluarkan makian yang dirasa mungkin bisa meringankan sakitnya. Memang berhasil walaupun tidak sepenuhnya.


Bahkan ke dua tangan mungilnya tampak ikut berkontribusi untuk melegakan sesaknya. Ke dua telapak tangannya terlihat mengepal erat, lalu dengan brutal memukul dadanya kuat-kuat.


Saat itu pintu kamar mandi terbanting paksa. Auriga adalah pelakunya. Sejak kegaduhan terjadi Auriga yang lebih dulu menyadari. Pria itu memang memenuhi janjinya yang akan menunggu sampai Audy mau keluar dari kamar. Semalaman Auriga memang berjaga di depan pintu kamar Audy tanpa wanita itu tahu.


Dan kegaduhan tangis yang Audy ciptakan berhasil melepaskan seluruh kepeduliannya untuk memaksa masuk. Keluarga Tanujaya yang sama khawatirnya tentu mengizinkan Auriga untuk membobol pintu tanpa izin si empunya.


Tepat saat pintu terbuka, saat itu pula makian terhadap dirinya terdengar, yang membuat Auriga maupun keluarga Tanujaya tercenung. Dan kesadaran mereka di tarik paksa saat mendengar suara nyaring lainnya. Suara benturan yang sangat keras. Mungkin tampak seperti benturan, karena gema yang diciptakan.


Auriga hilang kewarasan. Dia mendobrak pintu dengan seluruh tenaga yang dirinya punya ... dan apa yang dilihat Auriga benar-benar seperti menguliti dirinya hidup-hidup.


Auriga sesak melihat Audy yang kacau. Buliran bening pun tak bisa Auriga bendung. Sigap dia melangkah ke arah Audy, merengkuh tubuh ringkih Audy dengan lembut. Ke dua lengannya berusaha mendekap Audy tanpa menyakitinya.


"Saya salah. Saya salah. Saya mohon jangan sakiti diri kamu." Auriga berbisik di tengah-tengah guyuran air yang kini ikut membasahi tubuhnya juga.


Sedangkan Audy yang merasa tenaganya sudah habis tampak pasrah. Dia menikmati rasa hangat yang tercipta dari eratnya pelukan Auriga.


Auriga tanpa sadar ikut tergugu. Pria itu menangis tak kalah kerasnya dengan tubuh yang tetap mendekap tubuh Audy.


Sedangkan Angga, Anindya, dan Argantara hanya bisa mematung menyaksikan semuanya.


Mereka tidak tahu pertengkaran hebat seperti apa yang telah dilalui ke duanya. Namun yang pasti, Audy dan Auriga sama-sama sedang tidak baik-baik saja.


...•••...

__ADS_1


Jangan hukum aku dengan melukai dirimu karena rasanya sangat menyakitkan.—Auriga Prayoga


__ADS_2