
Padahal tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, bahkan sekitar sepuluh menit yang lalu langit pun masih tampak cerah. Namun, siapa yang menduga kini hujan telah menyambangi bumi. Audy dan Auriga terlihat terduduk di sebuah saung yang memang diperuntukan untuk para pengunjung beristirahat.
Mereka tampak berteduh dengan beberapa petugas serta pengunjung yang jumlahnya bisa dihitung jari.
Audy asyik memandangi setiap tetes air yang jatuh. Sedangkan Auriga dia masih sibuk menenangkan debaran jantungnya yang masih menggila karena aksi wanita di sampingnya beberapa menit yang lalu. Audy itu terkadang sulit terbaca dalam beberapa hal, yang mana aksinya itu kerap kali berhasil membuat Auriga kelabakan. Untung saja jantungnya tidak copot meskipun sepertinya ingin. Bahkan rasa-rasanya jantungnya tadi bukan hanya menari melainkan meloncat-loncat hingga lonjakan terasa seperti memukul-mukul dadanya.
"Aga, lo suka hujan ngga?" tanya Audy yang sebenarnya hanya ingin menyahuti suara gaduh yang disebabkan air hujan.
Auriga terdiam beberapa saat. "Engga," jawabnya singkat, padat, dan jelas. Bagaimana mungkin dia bisa menyukai hal yang pernah memberikan pengalaman buruk padanya?
Audy menoleh. "Kenapa? Hujan, kan, so sweet. Hujan itu emang dingin, tapi ngasih kehangatan tau."
"Bagi saya hujan itu sakit."
Audy tampak mengangguk-anggukkan kepalanya tak acuh. "Ga, kan, kata elo dulu gue gak suka daun seledri, lo tau gak alasannya apa?"
Auriga tanpa pikir panjang langsung menggeleng. Gestur bahwa dia memang benar-benar tidak tahu menahu.
Audy langsung berdecak tak percaya melihat reaksi Auriga yang dengan tanpa bebannya menggelengkan kepalanya. "Lo suka gue, tapi semua tentang gue gak tau. Payah! Lo dulu kayaknya gak peduli ya sama gue," tutur Audy terkesan melabeli. Padahal diam-diam dia sedang berusaha mengorek informasi.
"Bukan begitu, saya hanya tidak ingin membuat kamu tidak nyaman. Saat kamu bilang ngga suka, saya pengen kamu merasa diterima tanpa harus memberikan penjelasan yang mana mungkin saja gak nyaman buat kamu ceritakan. Saya tidak mau kamu merasa harus selalu menjelaskan segalanya di saat kamu tidak menginginkan sesuatu hal. Saya percaya bahwa ketika kamu tidak menyukai sesuatu pasti ada alasan yang jelas," papar Auriga yang cukup menghadirkan getaran hangat pada hati wanita itu.
"Terus apa yang lo tahu tentang gue?" tantang Audy yang sebenarnya kecanduan dengan getaran hangat yang perlahan menjalar membelenggu hatinya. Dia ingin merasakan getaran itu lebih lama dan jauh lebih kuat lagi.
"Kamu bolot."
__ADS_1
Bukannya getaran hangat yang menjalar kuat, justru jawaban Auriga itu malah membangkitkan emosi dongkol yang tak terkira.
"Maksud lo?!" sinis Audy yang meskipun benar, tapi tetap tidak terima.
"Dulu kamu udah kelas 6 masa minta diajarin sama saya yang baru kelas 4," jelas Auriga yang semakin membuat kedongkolan Audy bertambah pesat.
"Gue bukan bolot ya, itu namanya rendah diri," sergah Audy dengan emosi yang menggebu-gebu.
Auriga tertawa kecil, "Rendah hati, Bolot," ralat Auriga yang memang mengetahui maksud dari ucapan yang ingin di lontarkan oleh wanita itu.
Audy diam beberapa saat. Dia sedang berusaha mengontrol emosinya yang bila dibiarkan pasti akan membuat heboh seisi saung karena keinginan kuatnya dalam menjambak rambut Auriga.
"Terus, apalagi?"
Auriga memandang Audy sebentar sebelum melarikan pandangannya pada objek yang lain. "Kamu tulus."
"Iya dan tidak."
Audy mendengus. "Jawaban lo udah kayak dialog ala-ala film. Sok misterius," ejeknya.
"Ody, saya suka semuanya tentang kamu. Saya suka kamu yang tulus maupun yang bolot."
Dan kini rasa hangat itu bukan lagi terasa hangat melainkan panas, yang mana rasa panasnya menjalar sampai keluar, yang hasilnya terlukiskan di ke dua pipi wanita itu yang kini tampak merah merona.
Belum lagi jantungnya yang mulai heboh, bahkan Audy merasa di dalam dadanya seperti sedang mengadakan pertunjukan. Namun, untungnya Auriga tidak menyadari itu, dan tidak akan Audy biarkan pria itu sadar akan reaksinya itu.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun Audy lari ke tengah hujan yang membuat Auriga tak sempat untuk mencegahnya. Audy menerjang hujan dengan berani. Bahkan saat tetes demi tetes membasahi tubuhnya Audy malah tampak girang. Ekspresinya terlihat takjub dengan rasa senang yang dihadirkan kala dengan perlahan air hujan membasahi keseluruhan tubuhnya.
Auriga yang pandangannya sudah kembali terpaku pada Audy tentu tampak tak kalah takjub dengan pemandangan yang sungguh menyejukkan hatinya. Tawa Audy yang renyah juga ekspresi bahagia wanita itu adalah seindah-indahnya karya Tuhan yang pernah dirinya temukan.
"Aga! Sini! Hujan bikin seneng ternyata," teriak Audy tanpa memedulikan tanggapan orang sekitar yang untuk beberapa saat atensi mereka tampak terpusat padanya.
Auriga dengan ragu-ragu melangkah ke arah Audy yang kini sibuk berlarian kecil menikmati hujan. Dan saat Auriga sudah dekat Audy tampak meraih lengan pria itu lalu mengajaknya menari dibawah guyuran hujan yang semakin lama semakin deras.
Tawa riang Audy bahkan terdengar sangat jelas di telinga Auriga, berhasil menjadi musik latar yang sempurna terlebih yang saat dipadukan dengan bunyi khas air hujan yang ramai. Namun, terasa damai.
Kegembiraan mereka tampaknya menular pada pengunjung lain, buktinya kini bukan hanya mereka yang menikmati guyuran hujan itu.
Hari itu, Auriga yang pernah dilukai tanpa sengaja oleh hujan tampak bahagia. Dan hari itu juga hujan telah berhasil menjadi obat untuk luka menahun-nya dengan Audy yang masih menjadi pemeran utamanya.
...•••...
Faktanya di dunia ini tidak pernah ada yang benar-benar absolut. Yang dibenci bisa berubah menjadi hal yang paling dicinta dan hal yang pernah memberikan luka bisa tiba-tiba berubah menjadi pereda. Selama napas masih terembus maka tidak ada yang pasti. Segala hal bisa berubah. Sebenarnya, kepastian sesungguhnya adalah ketidakpastian bukan?
Tidak perlu terburu-buru untuk mengacu, jalani saja seadanya, jika pun hal yang paling berharga saat ini nantinya akan menjadi hal yang paling tidak ada makna. Tidak apa-apa, karena tidak semua hal harus berjalan dan bergulir sesuai dengan apa yang diinginkan.
Jangan terlalu digenggam, ikuti saja takdir. Karena sejatinya menahan takdir hanya akan kembali takdir.
Audy dan Auriga adalah sepasang insan yang pernah dipertemukan dan dipisahkan lalu dipertemukan kembali dan kini entah apa yang akan terjadi?
Entah sebuah perpisahan akan terulang, atau justru semua adalah awal dari kebersamaan yang utuh?
__ADS_1
Auriga yang kini menjadi pihak yang paling mengingikan kebersamaan tentu punya harapan. Namun, jika dia boleh punya harapan maka takdir juga punya hak untuk berperan.
...•••...