
"Saya cinta sama kamu."
Kalimat itu berhasil meluncur bebas dari mulut Auriga, yang berhasil membuat Audy mematung untuk beberapa saat.
Waktu seperti berhenti. Ke duanya sama-sama terkejut. Audy terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya sedangkan Auriga terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkannya. Auriga hanya tidak menyangka akan mengucapkannya di keadaan dirinya yang sedang kacau seperti sekarang.
Namun, beberapa detik kemudian suara tangis Audy terdengar nyaring.
Audy menangis sangat keras, yang mana sontak membuat Auriga kebingungan. Auriga mencondongkan tubuhnya meraih telapak tangan Audy yang dipakai wanita itu untuk menutupi wajahnya.
"Kamu kenapa menangis? Apa ada yang salah dengan ucapan saya?"
Audy menggeleng. "Lalu?" tanya Auriga.
Audy mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. Netra cokelat kopinya memandang Auriga dengan jejak basah yang masih terlihat jelas.
"Aga, maafin aku," ujar Audy yang semakin menambah kebingungan Auriga.
"Maaf untuk apa? Kamu ngga salah, Ody."
"Maaf karena aku mencintaimu," tutur Audy dengan suara serak.
Auriga menggeleng, raut wajahnya yang tadi tampak kebingungan kini tampak di penuhi riak ketakutan. Pikiran negatif mulai menghantui kepala Auriga.
"Tidak, Ody, saya tidak mau menerima maaf kamu, karena cinta kamu ke saya bukan sebuah kesalahan ... Ody, kamu udah memilih untuk bersama saya, saya gak kasih kamu kesempatan untuk memilih pilihan yang lain, kamu gak boleh ninggalin saya," jelas Auriga panjang lebar yang mana malah mendapatkan cubitan gemas dari Audy tepat di ke dua pipi pria itu.
"Kamu kayaknya parno banget, siapa yang mau ninggalin kamu? Aku masih inget pilihan aku, aku gak pikun lho, ya!" delik Audy.
Auriga dengan wajah polosnya memandang Audy penuh tanda tanya. "Terus maksud kamu bilang kayak gitu apa?"
"Aku bilang kayak gitu, karena mulai sekarang kamu selamanya gak punya kesempatan buat lari dari aku, mulai sekarang kamu bakal selalu deket-deket aku yang aneh ini, kamu tahu, kan, aku agak gila ... aku merasa bersalah karena itu."
"Engga papa, saya gak keberatan, meskipun menurut kamu, kamu itu aneh, tapi saya gak keberatan. Lagian kamu pernah bilang, kan, kamu gila dan saya adalah obat dari kegilaan kamu, dan saya juga pernah bilang kalau saya juga ikutan gila, dan saya mau kamu sebagai obatnya ... kita sama-sama menyembuhkan satu sama lain, jadi kamu jangan merasa bersalah lagi, ya."
Audy memandang Auriga dengan tatapan penuh cinta, "Ah, Aga, aku, kan, jadi meleyot ... sejak kapan coba kamu ini jadi bayi pinter gombal."
"Saya gak gombal, saya beneran," bantah Auriga yang semakin membuat Audy melayang bukan main. Prianya itu memang tidak bisa di ajak becanda yang benar-benar becanda.
"Iya, serius," ralat Audy.
"Jadi, kamu gak bakal batalkan pertunangan kita, kan?"
"Iya engga."
"Yaudah kalau gitu besok kita nikah," tandas Auriga yang berhasil membuat Audy melotot.
__ADS_1
"Kamu pikir nikah segampang itu?"
Dengan entengnya Auriga mengangguk, yang mana respons pria itu membuat Audy menganga tak percaya.
"Tapi, aku belum bisa masak."
"Saya jago."
"Tapi, aku, kan, juga pengen masakin kamu, meskipun cuma mi instan," sahut Audy yang memang sudah punya tekad untuk belajar memasak.
"Nanti saya ajarin."
"Aku juga belum belajar ilmu parenting lebih dalam."
"Nanti kita belajar bareng-bareng," tandas Auriga dengan keyakinan yang tidak main-main.
"Kamu yakin? Aku ini sekarang-sekarang gila dan masih belum normal, nanti deh, setidaknya pas aku udah mulai bisa mengontrol emosi dengan baik, terus pas aku udah ngga terlalu rewel, gimana? Mau ya," usul Audy yang sama sekali tidak meluluhkan niat Auriga.
"Engga, Audy Maharani Tanujaya. Saya maunya besok! Saya gak peduli sama apa yang kamu bilang itu, saya tahu kamu bakal jadi istri yang baik," tegas Auriga.
"Dari mana kamu tahu aku bisa jadi istri yang baik?"
Auriga tampak terdiam beberapa saat. "Ody, kepala saya pusing," rengek Auriga tiba-tiba. Audy kontan memegang dahi Auriga. Audy ikut menempelkan telapak tangannya yang lain di dahi miliknya.
Tidak panas. Syukurlah Auriga tidak demam. Begitulah kira-kira raut wajah Audy berbicara.
Auriga hanya mengangguk.
"Yaudah, tunggu sebentar, ya, aku tinggal sebentar," ucap Audy sebelum beranjak ke arah dapur bagian dalam untuk membuat teh manis.
Terdengar suara berisik khas alat-alat dapur yang bersatu padu. Lalu beberapa saat kemudian suara Audy terdengar menyusul.
"Aga, gulanya berapa sendok?" teriak wanita itu yang berhasil menciptakan lengkungan manis di wajah Auriga.
"Dua sendok aja, Ody," jawab Auriga.
"Sendoknya yang besar atau yang kecil?"
"Sendok makan, Ody, tapi jangan banyak-banyak secukupnya aja," balas Auriga lagi.
Suara wanita itu tak lagi terdengar. Beberapa menit kemudian Audy datang dengan satu gelas teh manis buatannya.
"Minumnya pelan-pelan, masih panas banget," nasihat Audy. Namun, justru Auriga malah tidak hati-hati yang pada akhirnya air teh itu sedikit tumpah mengenai jemari Auriga.
Audy jelas panik. Namun, wanita itu tampak berusaha untuk tetap tenang. Dengan cepat-cepat Audy mengambil lap basah beserta mangkuk kecil berisi air. Dengan penuh telaten Audy membungkus pelan-pelan jemari Auriga yang tampak memerah.
__ADS_1
"Sakit, ya. Ngga papa, pasti sebentar lagi membaik, kalau kamu pengen nangis, nangis aja, ya," ucap Audy dengan mata yang fokus pada objeknya dan lengan yang aktif merawat luka Auriga.
Sedari awal memang Auriga hanya sedang berpura-pura, dia hanya ingin Audy sadar bahwa wanita itu lebih dari kata cukup untuk menjadi pendamping hidupnya nanti.
Lalu tiba-tiba Auriga bersuara, "Ini. Ini bukti bahwa kamu adalah istri yang baik, Ody."
Audy kontan berhenti dari kegiatannya.
"Ody, saya tidak menuntut kamu untuk melakukan hal-hal yang tidak kamu kuasai, tapi jika memang kamu ingin saya akan membantu kamu untuk mempelajarinya. Ody, keahlian dapat di asah, tapi ketulusan itu hanya milik orang-orang berhati baik."
Audy harus sadar betapa baiknya dirinya. Betapa dia sangat berharga. Hal itu yang ingin Auriga sampaikan secara tidak langsung pada wanitanya.
"Ody, kamu bahkan dulu tidak pernah sekali pun merasa tersinggung ketika harus di ajari saya yang notabennya adik kelas kamu, kamu bahkan menghargai apa yang saya bisa tanpa pernah sekali pun merasa gengsi. Ody, kamu memang tidak cukup pandai dalam beberapa hal, tapi saya tidak peduli tentang hal itu. Saya menerima segala kurang dan lebih kamu sebagaimana kamu tidak mempersalahkan apapun yang ada pada diri saya."
Audy tertegun. Seindah itu kah dirinya di mata Auriga?
"Mau, ya, besok nikah sama saya?"
Audy mengerjapkan matanya. "Jangan besok juga, aku belum punya persiapan apapun, aku pengen terlihat luar biasa di momen terindah aku ... sedangkan kalau besok aku kan belum sempat ke salon, belum sempat tidur cukup juga, nanti kelelahan gimana?"
"Beneran itu alasannya? Kamu bukan sedang mengulur waktu, kan?"
Audy mengangguk pasti. "Iya, lagian kalau pun di ulur waktunya aku juga kan tetep nikahnya sama kamu."
"Saya gak mau kamu kepincut yang lain," ujar Auriga berterus terang.
"Enak aja! Gak, ya! Aku itu setia garis keras!"
"Tapi kan saya udah pernah bikin kamu luka, saya takut kamu berpikiran buat cari yang lain," tutur Auriga sendu.
Audy menghela napas dalam. Dengan posisi Audy yang masih berdiri dan Auriga yang masih duduk membuat tinggi mereka jadi tampak sejajar.
Tangan Audy yang semula masih memegang lengan Auriga kini ke dua lengannya tampak bertengger di kepala pria itu, Audy terlihat sedang membenahi rambut Auriga yang awut-awutan.
"Aga, yang kita lakukan kemarin adalah saling melukai, dan yang sedang kita lakukan sekarang adalah saling mengobati, kita sama-sama terluka dan sedang sama-sama belajar saling menyembuhkan. Aku gak papa, aku gak bakal pergi ninggalin kamu," ucap Audy yakin.
"Terima kasih banyak, Ody."
"Sama-sama, Aga," balas Audy.
"Aku minta sesuatu boleh?" ujar Audy dengan jemari yang masih asyik membenahi rambut Auriga.
Auriga tidak mungkin menolak, dengan cepat dia mengangguk.
"Aku pengen di lamar secara resmi," ungkap Audy yang seketika memberikan desiran hangat di hati ke duanya.
__ADS_1
Tanpa ragu Auriga pun menjawab. "Baik lah."
...•••...