Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 07. CEMBURU?


__ADS_3

Di sebuah taman, tepatnya di bawah pohon yang rindang terlihat dua anak kecil yang tampak asyik dengan kegiatannya masing-masing.


Bocah laki-laki yang sibuk dengan buku resep masakannya dan bocah perempuan yang sibuk buku menggambarnya. Mereka tampak sibuk dalam keheningan.


"Aga cita-cita kamu jadi apa?" Audy yang memang memiliki kepribadian yang supel dan ceria selalu menjadi pihak yang memulai percakapan, sedangkan Auriga yang memang tak pandai bicara cenderung kaku dan cuek.


"Jadi tukang masak," jawab Auriga datar.


"Wah, Aga hebat!"


Auriga hanya bergeming dengan bola mata yang masih sibuk menyusuri deretan kata di buku favoritnya. Semua buku tentang masakan Auriga sangat suka.


"Aga," panggil Audy cemberut.


"Hm."


Audy yang kesal tidak mendapatkan atensi menusuk pipi Auriga menggunakan ujung pensil bagian tumpulnya. Menciptakan lubang lucu di pipi gembul Auriga. Ya, walaupun tidak segembul Audy.


"Kenapa?"


"Kamu gak nanya gitu cita-cita aku apa?"


"Kamu cita-citanya apa?"


Audy tersenyum cerah. Audy memang suka sekali tersenyum. "Aku? Cita-cita pertama aku pengen jadi istrinya Aga biar bisa makan enak terus, kan Aga suka masak, aku engga. Terus cita-cita ke duanya aku pengen jadi tukang bikin baju soalnya aku suka gambar-gambar baju."


Auriga hanya memandang Audy tanpa ekspresi. Mulutnya pun tidak terbuka sama sekali.


"Aga mau ngga jadi suaminya aku?"


Auriga kembali fokus pada bacaannya. Namun, Audy tidak akan diam jika belum mendapatkan apa yang anak itu mau.


"Hm."


"Hm, apa?"


"Iya mau."


"Hore!"


...•••...


Auriga tidak suka dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini. Rasa panas membelenggu dadanya, belum lagi keinginan kuat menarik Audy dari jangkauan Kenan—yang kini tengah direcoki wanita itu dengan alasan ingin dibuatkan nasi goreng—sudah tak lagi dapat dibendung.


"Kenapa lo?" tanya Kaivan yang sedari tadi tak habis pikir dengan bola mata Auriga yang tidak pernah lepas dari wanita psikopat itu. Ya, itu adalah julukan yang diam-diam Kaivan sematkan pada Audy.


Bukannya menjawab Auriga justru malah bangkit lalu melenggang pergi untuk menghampiri ke duanya. Tangan putih bersih yang dilengkapi dengan urat-urat melintang Auriga tampak tangkas mengambil baju putih lengkap dengan topi kebanggaannya. Lantas memakainya dengan sigap. Siapapun yang melihatnya, pasti akan berkata bahwa perpaduan Auriga dengan baju khas koki merupakan hal yang sangat keren. Auriga terlihat seratus kali lipat lebih tampan saat memakainya, perpaduan kulitnya yang cerah dengan warna putih bersih sungguh cocok dan menawan. Oh jangan lupakan, gerakan menggulung lengan baju pun tak kalah mampu untuk memporak porandakan jantung para wanita yang melihatnya, dan sekarang pria itu tengah melakukan aksinya itu.


"Minggir!" Auriga menyerobot diantara Audy dan Kenan. Yang membuat Audy nyaris kepentok ke sisi bar. Meskipun Auriga lebih dulu sigap menarik kerah baju bagian belakang Audy tetap saja wanita itu tampak kesal dibuatnya. Auriga memang tinggi, berbanding terbalik dengan tubuh Audy yang mungil, tapi bukan berarti pria itu bisa seenaknya. Audy, kan, manusia bukan anak kucing.

__ADS_1


Audy memicingkan matanya. "Lo?! Punya masalah apa sih lo?!"


"Kepikiran cicilan? Atau karena masih jomblo?"


"Santai kali, lo cakep, pasti jadi incaran tante-tante sama dedek-dedek gemes. Nanti gue bantu seleksi."


Auriga hanya diam, menyuruh Kenan mundur dari area masak tanpa kata. Dan kini Auriga yang tampak sibuk dengan peralatan masak dengan nasi goreng yang sudah setengah matang.


"Kamu..." ucap Auriga seraya melirik Audy.


"Apa?!" delik Audy kesal.


"Kamu berhenti merepotkan Kenan! Repotkan saya saja!" Auriga mengalihkan atensinya sebentar, dia memilih fokus memandang Audy secara penuh.


"Ini ceritanya lo lagi ngelamar buat jadi kacung gue?" balas Audy dengan kepala yang mendongak dan raut wajah sengit. Tentu saja emosinya masih menggebu-gebu. "Gue kesel sama lo! Lo baru aja bikin tubuh berharga gue dipeluk marmer," dumelnya.


"Pokoknya kamu turuti kata-kata saya!" tekan Auriga yang kini sudah kembali sibuk dengan masakannya.


"Dih, siapa gue lo?! Tai gue juga bukan, belek gue juga bukan, upil gue juga bukan, terus—"


"Habiskan! Bikinan saya jauh lebih enak dibandingkan bikinan Kenan. Jadi, lain kali kalau lagi pengen nasi goreng lagi nyuruh saya aja." Auriga tampak menyodorkan nasi goreng lengkap dengan toping telur dadar juga telor mata sapi.


Dari baunya Audy akui memang cukup melambungkan keinginan makannya. Bahkan lidahnya sudah lebih dulu berliur saat aroma semerbak memasuki lubang penciumannya.


"Oke, thank you. Lamaran jadi kacung di terima," ujar Audy terlampau biasa saja. Kaki mungil yang kini akan lebih sering terbalut sepatu kets tampak melangkah tanpa beban dengan ke dua tangan yang membawa sepiring nasi goreng. Audy melangkah menuju balkon, menghampiri Alona yang sudah dimintanya untuk menunggu di sana.


...•••...


"Engga."


"Terus?"


"Terus apalagi?" Auriga tampak tak acuh.


"Gue yakin gak cuma gue, kan, yang sadar sama tingkah laku lo yang aneh." Kaivan melirik Kenan yang juga ikut serta di sana.


Ke tiga pria itu tengah lenggang, dan disela-sela waktu senggang sehabis bekerja mereka memang selalu menyempatkan untuk berkumpul. Hanya sekadar untuk memperkuat jalinan persahabatan yang memang sudah terjalin cukup lama.


"Auriga jadi lebih peduli sama Audy? Benar?" timpal Kenan.


Kaivan mengangguk. Tangannya terulur mengambil secangkir teh lalu menyeruputnya sembari menanti jawaban Auriga.


"Gue punya utang budi sama dia."


Jawaban Auriga tampak datar. Yang mana tidak ada satu pun diantara mereka yang bisa mengartikan kebenaran dari ucapannya.


Namun, Kenan adalah sosok yang paling peka. Meskipun ucapan Auriga barusan terkesan tidak peduli, tapi berbanding terbalik dengan cara pria itu memperlakukan Audy.


"Oke, jadi gue perjelas ya, elo bersikap kayak gitu ke Audy murni karena utang budi?"

__ADS_1


"Hm."


"Jadi gak papa, dong, gue deketin dia."


Mata hitam pekat Auriga sontak tersedot ke arah Kenan, yang kini tengah memandang Auriga dengan sebelah alis terangkat. Sedangkan Kaivan berusaha membaca raut emosi di wajah Auriga.


"Lo jangan main-main!"


"Sejak kapan gue suka main-main? Kalau gue suka main-main mungkin mantan gue udah bejibun."


"Dia tunangan gue!"


Kaivan mengerutkan alisnya dalam. Dirinya yakin pendengarannya masih berfungsi.


"Lo punya Anggita, Ga!" tekan Kaivan.


"Nah, iya, jadi Audy sama gue. Cocok, kan?"


Auriga memandang Kenan sengit.


Belum sempat Auriga melemparkan balasan ponsel milik Kenan sudah lebih dulu menginterupsi.


"Wah, panjang umur. Lagi diomongin, nelepon orangnya." Kenan tampak menunjukan layar ponselnya yang menyala lengkap dengan nama Audy yang tertera.


Kenan langsung saja mengangkatnya, tidak lupa dia juga menekan tanda pengeras suara.


"Halo, Princess!"


"Halo, Ken. Ken gue suka selera fashion lo, mau gak temenin gue belanja baju?"


Kenan tersenyum ke arah Auriga dengan tatapan mata seolah mengatakan; gue lebih menarik dibanding elo.


"Oh tentu, Kenan tersedia selalu. Mau aku yang jemput atau ketemuan di tempat lokasi?"


"Ketemu di lokasi aja, gue ribet bawa dayang-dayang soalnya. Kecuali kalau lo pake mobil truk baru muat."


"Oke, nanti di sherlock aja ya."


Sambungan pun terputus.


Kenan melirik Auriga dan Kaivan bergantian. "Gue cabut duluan ya, ada yang nunggu."


Tanpa disadari siapapun Auriga tampak mengepalkan ke dua tangannya. Dadanya panas, rasanya seperti akan meledak saking panasnya.


"Perasaan panas sialan!" umpat Auriga seraya beranjak ke arah kamar mandi, lalu membanting pintu sangat keras.


"Auriga pintu kamar mandi gue ******!" teriak Kaivan selaku pemilik tempat yang kerap dijadikan tempat berkumpul.


......•••......

__ADS_1


Aku tidak tahu perasaan apa ini, tapi rasanya sangat merusak seluruh fungsi syaraf dalam tubuhku untuk beberapa detik.—Auriga Prayoga


__ADS_2