
"Saya mau ke rumah hantu."
"Gak!" tolak Audy tegas. Mendengar namanya saja sudah tidak nyaman bukan? Ketemu hantu satu saja sudah menyeramkan apalagi harus datang ke rumahnya.
"Kenapa?"
"Gue alergi setan," jawab Audy seadanya yang mana sebenarnya dia tidak suka dengan segala hal berbau horor. Terlebih hantu jadi-jadian biasanya lebih ganas dan menyeramkan.
"Kan, ada saya. Nanti kalau kamu takut tinggal bilang saya aja," ujar Auriga tampak yakin.
Audy memicingkan matanya. Dia sedang memindai raut wajah Auriga. Namun, Audy tidak menemukan jawaban pasti. "Lo pernah ke rumah hantu?"
"Belum, tapi saya sudah sering lihat hantu," jelas Auriga berusaha lebih meyakinkan.
"Dimana? Kapan? Berapa kali?" berondong Audy.
"Di film, dan sudah sangat sering."
"Itu di film, dodol!" Setidaknya kalau di film jika hantunya kelewat seram Auriga punya pilihan untuk mematikan tayangannya bukan?
"Tapi, kan, sama saja. Ayo, Ody! Saya pengen ke rumah hantu."
Audy mengerjapkan matanya. Audy tak menyangka pria semaskulin Auriga bisa merengek seperti barusan yang mana cukup menggemaskan. Untuk reaksi Audy tampak normal, tapi tidak dengan hati yang menjerit mengakui kelucuan pria itu.
Dengan setengah hati Audy pun mengiyakan. Sepertinya kegemasan Auriga telah mencuri separuh kesadarannya.
Kini mereka telah tiba di loket. Auriga sudah pasti senang, beda dengan Audy yang was-was. Pasalnya Audy memang begitu tidak suka dan anti dengan hal-hal yang berbau horor. Entah itu dalam bentuk audio, video maupun visual. Tentu saja alasan dia tidak suka dan anti karena rasa takut terhadap hantu yang sangat tinggi.
Waktu yang semakin malam membuat suasana terasa semakin mencekam. Audy tampak terdiam beberapa saat sebelum memutuskan untuk melangkah ke dalam rumah hantu tersebut. Auriga tampak santai menyodorkan tangannya untuk digandeng.
__ADS_1
"Ayo! Tenang, ya, kan, ada saya."
Audy pun menyambut baik tawaran Auriga. Memang untuk saat ini dia tidak bisa untuk menolak.
Saat kaki ke duanya mulai masuk ke dalam ruangan, saat itu pula mereka langsung disuguhi suasana yang tentu saja berhasil membuat bulu kuduk Audy berdiri. Lampu yang temaram disertai musik latar yang memekakkan telinga berhasil menciptakan situasi mendebarkan.
Audy semakin erat mencengkeram lengan Auriga saat mereka mulai memasuki ruangan semakin dalam. "Ga, udah, yuk balik aja."
Suara tawa khas mahluk berdaster putih terdengar melengking. Audy benar-benar menyesal telah menyetujui penawaran Auriga. Dia yakin, pasti nanti malam dia tidak akan bisa tidur.
Auriga sebenarnya juga sudah sedikit merasa takut. Namun, rasa gengsi membuat pria itu menolak usulan Audy.
"Serem," adu Audy dengan mata yang diusahakan untuk tidak terbuka sepenuhnya.
"Gak apa-apa, kan, ad—" ucapannya harus terpotong oleh teriakan yang mana berasal dari dirinya sendiri. Ya, yang barusan berteriak adalah Auriga. Auriga yang sama dengan Auriga yang bilang tenang ya, kan, ada saya. Bahkan kini pria itu tampak menyusupkan wajahnya di belakang Audy. Audy pun tak kalah kencangnya berteriak, hanya saja yang menjadi alasan Audy berteriak karena kaget mendengar suara Auriga.
"Ody, hantunya jelek sekali."
Audy berusaha menggerakkan tubuhnya ditengah-tengah rasa takut yang menggila, dan berhasil. Dia pun menarik tangan Auriga dan berlari ke arah pintu masuk. Tidak peduli dengan apapun, bahkan terhadap fakta bahwa mereka belum setengah jalan sekali pun. Audy tidak sanggup lagi untuk menahan gejolak ketakutan yang luar biasa.
Petugas yang berjaga tentu dibuat terkejut dengan kehadiran mereka.
"Kenapa, ya, Mbak, Mas? Apa ada yang ketinggalan?" tanya sang petugas berusaha memberikan penanganan terbaik.
"Saya mau udahan aja, Mas, saya takut," jelas Audy. Sedangkan Auriga tampak berdiri di samping wanita itu dengan jantung yang sama berdentum kerasnya.
Raut panik sang petugas mendadak hilang. Kini diganti dengan raut kebingungan. Sebelumnya memang tidak pernah ada kasus seperti ini.
"Maaf, Mbak, ngga bisa. Kalau sudah masuk harus keluar lewat pintu keluar. Itu sudah aturannya, Mbak," papar sang petugas dengan penuh pengertian.
__ADS_1
"Tapi, saya takut Mas, teman saya juga takut hantu Mas." Audy benar-benar merasa tidak sanggup jika harus kembali masuk ke dalam.
"Kalau saya temani Mbak bersedia?" tawar sang petugas yang sepertinya mampu melihat seberapa besar kilat ketakutan yang hadir di mata Audy.
Auriga hendak menyela. Namun, Audy lebih dulu menginterupsi. "Boleh. Saya mau."
"Baiklah saya temani, sebentar saya pamit dulu ke rekan saya dulu."
Dan sungguh memalukan begitulah akhir dari malam hari ini. Namun, jika dipikir-pikir sungguh menggemaskan bukan?
Malam yang panjang juga penuh kenangan bukan?
Langit malam hari ini pun tampak menawan dengan taburan bintang dan separuh bulan yang cantik. Indah seperti perasaan Auriga.
...•••...
Audy tampak rapi dengan baju serba hitam. Tidak lupa satu buah topi tersampir indah di kepalanya dengan keadaan rambut hitam legamnya yang di kucir kuda. Audy melangkah menuruni anak tangga yang di belakangnya diikuti oleh Alona serta para ART pribadinya dengan warna pakaian yang senada. Tidak lupa kacamata hitam bertengger kece badai membingkai pasang mata mereka.
"Kalian tunggu di luar, gue mau sarapan dulu," titah Audy yang di angguki secara serempak.
"Selamat pagi kesayangannya aku," sapa Audy begitu riang pada semua anggota keluarganya. Tentu saja Audy mendapati sambutan hangat serta respons yang sesuai.
Percakapan hangat pun terdengar mengisi ruangan. Derai tawa tak ayal menimpali. Tanujaya berhasil menjadi salah satu keluarga yang ada dimuka bumi dengan kebahagiaan yang nyaris sempurna. Nikmat yang paling banyak diimpikan seluruh umat manusia. Namun, sayangnya tidak semua mampu dan bisa.
"Ayah, Bunda, Abang, aku udah tahu mau jadi apa," ucap Audy setelah sesi sarapan bersama selesai.
Saling menghargai dan membuat satu sama lain merasa dihargai adalah hal yang sudah tertanam tersirat sejak dini di keluarga Tanujaya. Wajar jika Audy kini sedang dijadikan atensi. Semua anggota keluarga tampak antuasias dan menanti tak sabar dengan apa yang akan Audy sampaikan. Terlebih ini mengenai hal yang akan digeluti oleh satu-satunya nona muda di keluarga Tanujaya yang mana berlian apapun tidak ada harganya jika dibandingkan arti dirinya bagi keluarga Tanujaya.
"Aku mau jadi pembalap," jawab Audy mantap.
__ADS_1
...•••...