
Auriga berhasil membuat Audy kewalahan. Setelah kejadian di Restoran waktu itu Auriga benar-benar menempel kepadanya. Bahkan Audy sudah mendekati titik menyerah memaki pria itu agar tidak bersikap lebay seperti sekarang contohnya.
Melihat Auriga yang kini berkutat di dapur di jam sarapan bukan lagi pemandangan yang langka. Audy bahkan sudah hapal dengan menu-menu yang akan dihidangkan di setiap harinya. Hari ini, hari rabu, Auriga akan memasak ayam goreng sambal ijo yang nantinya akan dihidangkan dengan nasi hangat.
Audy duduk di kursi makan dengan baju tidur yang masih melekat. Hari ini dia sedang kedatangan tamu bulanannya—yang membuat Audy malas untuk sekadar mandi pagi. Apalagi ini hari pertamanya. Emosinya benar-benar naik turun.
Keluarga Tanujaya sudah tampak rapi dengan pakaian masing-masing, hanya Audy sendiri yang tampak awut-awutan, meskipun begitu dirinya tetap terlihat cantik dengan rambut yang digelung asal, tapi tampak cocok dengan baju tidur hitam bergambar Monokurobo yang dikenakannya.
Auriga tampak gagah membawa piring sarapan khusus untuk Audy sedangkan hidangan lainnya tampak di ambil oleh para ART yang mengikut di belakang pria itu.
Benar seperti tebakannya. Kini sepiring nasi putih lengkap dengan ayam sambal ijo bagian paha dan sayap di pinggirannya dihidangkan tepat di depannya yang mana tampak begitu menggugah selera.
"Menu hari untuk, Ody."
Dan setelah kejadian itu pula Auriga mulai mengakrabkan diri dengan panggilan yang katanya khusus untuk Audy.
Apakah Audy pernah menentang? Oh tentu saja.
Audy ingat sekali waktu itu.
Audy turun dari mobil milik Auriga sesaat setelah sampai di kediamannya. Namun, anehnya Auriga pun malau ikut turun. Padahal sebelumnya Audy sudah pamit dan meminta pria itu untuk langsung pulang saja. Berjaga-jaga kalau-kalau Auriga lelah dan ingin segera beristirahat.
"Ody, mulai hari ini saya bakal masakin kamu."
Audy tentu mengernyit. Tidak ada badai, topan, tsunami dengan lugas pria itu mengucapkannya begitu tiba-tiba.
"Lo udah jadi supir gue, sekarang lo mau jadi tukang masak juga? Gue tolak! Gue punya banyak ART di rumah."
"Kalau lo mau kasih bantuan, lo salah orang. Gue anak orang kaya raya, gak butuh sumbangan," lanjut Audy telak.
Auriga menggeleng pelan. "Saya sedang memberitahu kamu, bukan meminta persetujuan kamu."
"Tapi, kan yang mau lo masakin itu gue, jadi—"
"Sudah, ya, pokoknya saya yang bakal masakin kamu, saya bakal datang ke sini satu jam sebelum waktu sarapan kamu, dan di jam istirahat kamu yang datang mengunjungi saya, nanti pas jam makan malam kita pulang bareng dan saya yang bakal masak di sini lagi."
Pria satu ini memang dominan sekali.
__ADS_1
"Yaudah, kalau gitu saya pamit ya, Ody."
Audy menarik lengan Auriga saat pria itu nyaris berbalik.
"Ganti, gue gak suka nama panggilan lo! Kayak bocah, gak dewasa banget."
Auriga memandang Audy lama. Perlahan Auriga melepaskan cekalan jemari mungil wanita itu. Menatapnya tepat ke arah manik cokelat kopi milik Audy. Untuk beberapa saat netra hitam miliknya beradu pandang dengan netra cokelat kopi milik Audy.
"Engga mau. Saya pengen manggil seperti itu."
"Lo! Kenapa lo nyebelin?!"
Auriga tersenyum kecil. "Ody, bukan cuma kamu aja yang bisa jadi gila, saya juga bisa," pungkasnya yang tidak Audy pahami maksudnya. Setelah mengatakan penggalan kata itu Auriga pergi dengan langkah ringan bahkan Audy dapat melihat pantulan senyum lebar dari kaca mobil pria itu.
"Dasar aneh," bisik Audy yang memilih tak acuh kemudian masuk ke dalam rumah.
Kembali lagi pada pagi ini. Auriga tampak ikut duduk di samping Audy. Menyantap hasil olahan keterampilannya dengan sesekali berbincang ria dengan Angga dan Argantara. Dan ya niat baik Auriga disambut dengan baik oleh keluarga Tanujaya—kecuali Audy yang tampak biasa-biasa saja.
...•••...
Audy masih tampak bergelung di tempat tidurnya di temani para ART-nya yang dirinya perintahkan untuk bersantai ria di ruangan pribadinya itu.
Sebelumnya Audy tidak mempercayai perkataan Auriga yang mengatakan bahwa pria itu adalah calon suaminya. Namun, kini Audy merasa harus percaya. Auriga tampak tidak main-main terlebih sepertinya pria itu juga bukan tipikal orang yang suka bercanda.
"Lona," panggil Audy yang tentu saja langsung direspon tanggap oleh Alona.
"Kenapa, Nody? Ada yang bisa saya bantu?" Audy salah fokus pada senyuman tulus gadis itu. Audy yakin hati Alona pasti setulus senyumannya.
Audy memberikan isyarat untuk mendekat ke arah dirinya. Alona pun tampak pamit pada yang lain, dan melangkah pelan ke arah Audy.
"Ada yang mau gue omongin sama lo, tapi ngga di sini."
Raut wajah Alona mendadak muram. "Saya ada bikin salah, ya, Nody? Maafin saya, Nody."
Audy berdecak. Alona memang tulus dan baik hati, tapi minusnya dia sedikit bodoh. Lihat! Bahkan dia meminta maaf di saat dia tidak melakukan kesalahan.
"Berhenti meminta maaf ketika lo gak melakukan kesalahan, Na. Lo gak salah."
__ADS_1
"Maaf, Nody."
"Tuh, kan."
"Eh, iya, Nody, gak jadi minta maafnya." Alona meralatnya.
Audy kontan tertawa renyah. Audy tidak tahu kehidupan seperti apa yang Alona jalani hingga gadis itu tumbuh penuh ketakutan. Ah, iya, apakah sebelumnya Alona pernah bercerita tentang dirinya? Audy benar-benar melupakannya.
"Gue pengen tanya soal Auriga. Kata lo hubungan kita dekat, kan. Gue rasa lo tahu segalanya."
Alona terdiam. Yang mana Audy artikan keterdiamannya adalah jawaban dari apa yang dirinya butuhkan.
...•••...
Audy memandang langit kosong. Mengamati gelapnya malam, yang hari ini tampak mendung. Bintang-bintang sepertinya memilih bersembunyi dari amukan badai yang sebentar lagi akan datang.
Fakta yang diketahuinya tadi siang telah memengaruhinya. Terlebih kemungkinan kebenarannya 100% karena sumbernya sangat terpercaya. Audy yakin, apa yang Alona beberkan adalah yang sebenarnya, walaupun memang Alona tidak mengetahui semuanya.
Fakta bahwa Audy terjebak dalam hubungan rumit bersama Auriga dan kekasihnya.
Dan yang lebih membuatnya tidak habis pikir adalah dirinya sendirilah yang memilih menyelam ke dalam kubangan hubungan rumit itu.
Audy benci pada fakta yang diketahuinya. Karena di kisah tersebut Audy jadi penjahatnya.
Audy bahkan tak memedulikan panggilan Auriga baik dari balik pintu kamar maupun dari ponsel yang sedari terus berdering dengan pemilik nama yang sama.
Audy lelah. Audy merasa tenaganya terkuras habis hanya untuk sekadar mencari alasan kenapa dirinya memilih bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri di dalam hubungan ke dua insan yang katanya saling mencintai.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, dan Auriga persis seperti orang gila terus menerus memanggil namanya meksipun tidak ada sahutan—yang katanya akan tetap menunggu di depan pintu sampai Audy mau berbicara dengannya.
Apakah Audy peduli? Tentu saja peduli. Sisi empatinya masih hidup. Namun, di sisi lain dia tidak punya pernyataan atau bahkan pertanyaan yang akan disampaikannya pada Auriga.
Audy memilih mengurung diri seraya ditemani dinginnya angin malam serta gelapnya langit. Dan hujan pun turun.
Audy tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dirinya benar-benar tidak bisa mengingat apapun antara hubungan rumit antara dirinya, Auriga, dan Anggita. Namun, yang pasti saat ke dua nama itu di sebut secara berulang terdapat getaran nyeri di dadanya. Hingga tanpa sadar lelehan air mata ikut terjun bebas bersamaan hujan yang mengguyur bumi.
...•••...
__ADS_1
Aku tidak tahu apakah arti rasa sakit ini. Namun, yang pasti aku benci karena terlibat dengan dua hati. —Audy Maharani Tanujaya