
Harum buku begitu menyengat. Auriga suka sekali dengan baunya. Sangat khas dan menenangkan. Namun, bagi Audy semua tampak biasa saja. Terlebih dia memang tidak suka membaca. Nilai Bahasa Indonesia-nya pun hanya pas KKM itu pun setelah sebelumnya menjalankan proses remedial. Otaknya memang terbatas dan antik. Alasan itu yang selalu diutarakannya kala dulu Auriga bertanya kenapa bisa sampai tidak tuntas.
Dua insan beda jenis itu kini tampak duduk berhadapan di sebuah meja panjang dengan deretan kursi yang tampak terisi beberapa.
Auriga sudah jelas sibuk dengan bukunya. Buku yang di bacanya pun sudah pasti berisikan ilmu-ilmu rumit yang memiliki faedah luar biasa. Sedangkan wanita di depannya, dia tampak membaca cerita fabel tanpa minat.
Baru beberapa menit berlalu Audy sudah mati kebosanan. Mata cantiknya tampak melirik objek di depannya. Seketika rasa bosan menguap entah ke mana.
Kini Audy sudah menemukan kesukaannya. Auriga sangat tampan jika sedang serius seperti sekarang. Ralat, bagi Audy ketampanan Auriga tidak mengenal mode, mau seperti apapun di matanya pria itu selalu membius kesadarannya.
Seperti sekarang, Audy tidak sadar sudah memandang Auriga tiga puluh menit lamanya. Auriga yang sudah menyadari sejak dua menit yang lalu pun tampak salah tingkah.
Auriga pun memberanikan diri mendongakkan kepalanya.
"Kamu sedang apa?" tanya Auriga pelan. Tentu saja, perpustakaan bukan tempat keributan. Bahkan suaranya yang sudah sangat di buat pelan pun tetap menimbulkan respons dari orang-orang sekitar, walaupun hanya sebatas menoleh tanpa minat.
Audy menggerakkan ke dua alisnya santai. Seolah bertanya. 'aku?'
"Iya, kamu sedang apa?"
"Memupuk cinta," jawab Audy lugas, yang mana sempat menimbulkan kekehan dari orang di samping wanita itu. Mungkin dia tidak menyangka dengan jawaban acak Audy yang terdengar seperti sebuah gombalan.
"Di baca bukunya," titah Auriga yang sebenarnya sedang di buat awut-awutan oleh wanita di depannya. Jawaban Audy cukup banyak memberikan reaksi, contoh kecilnya pada daun telinganya yang sedikit memerah.
"Ngga asyik, mending lihatin kamu," balas Audy masih dengan wajah tanpa dosa. Bahkan ke dua tangannya masih tampak apik menyanggah dagu dengan mata yang tidak pernah teralihkan.
Auriga yang tahu tidak akan mendapatkan apa maunya pun memilih membiarkan sebagaimana keinginan wanita itu.
"Aga," panggil Audy yang kini lebih memelankan suaranya. Meskipun dapat di pastikan seseorang di samping Audy—yang terlihat sedang fokus dengan bacaannya—dapat mendengarnya secara jelas.
"Hm."
__ADS_1
"Kamu nyadar ngga, sih, kalau kamu itu ganteng banget?" Tentu saja itu pertanyaan murni tanpa ada campur kemodusan. Audy sedang penasaran, apakah pria di depannya cukup sadar diri akan potensi visualnya yang menawan atau tidak. Pasalnya, Audy tidak pernah mendengar sekali pun rasa bangga akan kemolekan parasnya sendiri dari mulut pria itu.
"Kamu bisa berhenti bicara?" tanya Auriga sarkas.
Audy tampak langsung mengunci mulutnya. "Selama kamu tidak menyuruh aku untuk berhenti mencintaimu, maka setiap permintaan kamu aku bakal usahakan untuk bisa," ucapnya teramat lurus tanpa ada nada godaan sedikit pun, yang itu artinya ucapan Audy serius.
Namun, lagi. Pernyataan Audy mendapatkan kekehan dari orang di sampingnya. Bukan apa-apa, dia merasa dia seperti sedang menyaksikan dua tokoh novel yang menjadi nyata, satunya dingin, cuek, dan tampak datar, sedangkan yang satunya tampak heboh, ceria, dan banyak bicara. Dan tentu saja pernyataan Audy yang cukup nyeleneh.
...•••...
Sea world menjadi tempat mereka menghabiskan waktu setelah tadi sempat mampir untuk makan siang sebelumnya.
Audy tampak antusias. Sejak kakinya menapaki tempat itu sunggingan tak pernah lekang dari wajahnya.
Senyuman terpatri sangat indah diwajahnya, bahkan sedari tadi Auriga terus salah fokus pada keindahan yang ada pada birai wanita itu. Sesekali Audy tampak berlari kecil, matanya berbinar cantik kala melihat banyaknya hewan laut yang bertebaran.
"Aga, kenapa, ya, kok, ngga ada pecel ikan paus?" tanya wanita itu yang kontan menjadi pusat perhatian.
Auriga selalu mampu memahami Audy. Dia tahu kapan wanita itu serius dan bercanda, walaupun nyaris setiap kalimat pernyataan serta pertanyaan yang keluar dari bibir wanita itu tampak sama. Sama-sama seperti tidak serius.
"Karena tidak enak," tutur Auriga yang merasa jawaban itu cukup mudah untuk dipahami Audy, walaupun Auriga yakin sekali akan timbul pertanyaan lain setelahnya.
"Kok, kamu tahu? Kamu pernah nyobain?"
Tentu saja tidak
"Tidak, hanya saja saya yakin rasanya tidak enak, buktinya kamu tidak suka minyak ikan, kan?"
Audy mengangguk cepat. "Jadi semua minyak ikan itu terbuat dari paus? Ih kasihan, ya."
"Tidak semua, ada yang dari ikan tuna, ikan makarel, ikan salmon, dan lain sebagainnya."
__ADS_1
Audy tampak mengangguk mengerti. Audy pun kembali melanjutkan langkahnya untuk melihat-lihat. Ini memang bukan pertama kalinya wanita itu menginjakan kaki di sana. Namun, rasa bahagianya melebihi saat pertama kali dia menginjakan kaki di sana, tentu saja Auriga yang menjadi alasan rasa bahagianya memuncak berkali-kali lipat.
Auriga sudah seperti seorang ayah yang sedang menemani putrinya bermain, di sisi lain dia seperti seorang kakak yang sedang sabar dengan adik perempuannya, di sisi lain juga dia tampak seperti seorang kekasih yang begitu mencintai kekasihnya.
Sedari tadi, Auriga hanya melihat-lihat seadanya. Matanya banyak fokus pada Audy. Dia melihat bagaimana wanita itu tiba-tiba tertawa hanya karena melihat sekumpulan penyu yang katanya lucu, lalu di beberapa waktu tiba-tiba wanita itu tampak bersedih saat melihat ikan-ikan kecil yang menjadi santapan ikan yang besar. Lalu, beberapa menit berikutnya wanita itu tampak antusias dengan apa yang dilihatnya lalu melancarkan pertanyaan-pertanyaan di luar nalar setelahnya.
Seperti...
"Aga, penyunya imut banget, pasti kutunya juga lucu. Aga, pernah lihat kutu penyu ngga?"
Kutu Audy saja Auriga tidak pernah lihat apalagi kutu penyu. Rasanya ingin sekali Auriga mengatakan hal itu, tapi dia urungkan karena sudah pasti pembicaraannya akan merembet ke mana-mana.
"Aga, kita, tuh, sebagai pengunjung harusnya ngga cuma bahagia, tapi kita juga harus bersedih karena gugurnya ikan kecil-kecil itu. Ga, ikan kecil itu meninggalnya husnul khatimah, 'kan, Ga?"
Auriga rasanya tidak sanggup untuk tetap bersikap datar, dia ingin sekali menyemburkan tawa. Namun, dia gengsi, terlebih Audy tampak sedang menatapnya menunggu jawaban. Alhasil dia hanya memasang wajah datar.
"Iya."
Jawaban singkat padat dan jelas.
Dan yang ajaib, sedari dulu Audy selalu mempercayai apa yang Auriga katakan, dan ternyata masih berlanjut hingga kini. Raut wajah Audy tampak lega saat mendapatkan jawaban yang dirinya mau.
"Syukur, deh. Ngga sia-sia mereka meninggal untuk melestarikan hewan yang lainnya."
Sesekali mata Auriga juga menyipit untuk memastikan bahwa Audy berada dalam keadaan aman dari jangkauan siapa pun. Dan tak ayal kala wanita itu bersikap ceroboh Auriga dengan gesit mengulurkan tangannya untuk menolong.
Auriga yakin sekali, jika saja dirinya lalai sudah pasti tubuh Audy banyak memar. Baru menit pertama saja nyaris saja kepala Audy terpentok kaca aquarium, untung saja telapak tangannya lebih dulu mencapai kaca yang akan dijadikan landasan kepala wanita itu, walaupun dia harus mengorbankan telapak tangannya yang terasa cukup ngilu setelahnya.
Auriga masih begitu mengharapkan Audy. Bahkan, hari ini Auriga sudah tampak luluh. Dalam hati pria itu bertekad untuk mulai membuka hati untuk mempersilahkan Audy memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Namun, itu hanya rencana bukan?
Karena setelahnya Anggita hadir sebagai perebut?
__ADS_1