
Audy mengerjapkan matanya berkali-kali. Seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya wanita itu tampak menggosok ke dua telinganya cukup kuat, guna memaksimalkan fungsi pendengarannya.
"Lo, apa?" tanya Audy ingin memastikan.
"Saya sudah tahu," jawab Auriga tampak tanpa beban.
Audy tentu bingung. "Lo beneran gila, berarti, ya? Gila gara-gara di selingkuhi?" Otak Audy mulai merangkai skenario yang mungkin menjadi alasan kuat Auriga bisa senekat sekarang. Maksudnya, Audy sudah menolak pria itu, tapi dia tetap kukuh ingin bersama-Nya untuk membalas perlakuan kekasih pria itu dengan cara yang sama alias gila. Namun, jika benar, apa bedanya Auriga dengan kekasihnya itu kalau begitu?
Auriga yang sedari tadi hanya fokus pada Audy tentu merasa terhibur dengan segala mimik wajah wanita itu, termasuk dengan segala hal yang diucapkan dari bibir mungil bervolume milik wanita itu. Namun, Auriga amat sangat tidak setuju dengan pertanyaan Audy yang sebenarnya menjurus pada sebuah pernyataan.
Lengan berototnya terulur menyentil kening Audy pelan dan lembut. Namun, Audy yang terkejut tentu bersuara.
"Saya memang gila, tapi bukan karena Anggita, tapi gara-gara kamu."
Audy memicingkan matanya. "Gue gak mau, ya, dijadiin selingkuhan," tekan Audy.
Auriga tampak bangkit lalu menegakan tubuhnya lalu memberikan penghormatan. "Siap. Nanti saya akan urus masalah itu, sekarang saya pengen ke sana." Auriga menunjuk tempat yang penuh dengan wahana itu menggunakan isyarat mata.
"Kamu benar, saya butuh bermain ke sana, tapi bukan untuk hiburan melainkan untuk sebuah bentuk selebrasi."
Belum juga Audy memberikan persetujuan Auriga sudah lebih dulu menuntun wanita itu ke tempat yang menjadi tujuannya.
...•••...
"Kamu mau main apa? Saya mau main itu." Auriga tampak menunjuk wahana komedi putar dengan patung-patung kuda lucu yang bertebaran.
Audy mengangguk menyetujui. Dia tidak keberatan.
Auriga langsung saja melangkah ke arah kasir dengan tautan tangan yang tidak mau terlepas dari Audy. Wahana komedi putar yang dikhususkan untuk orang dewasa itu cukup sepi. Bahkan Auriga bisa dapat tiket tanpa perlu mengantri lama. Mungkin karena waktu yang semakin menuju malam—yang mana peminatnya lebih dominan anak-anak remaja yang masih sekolah.
Audy langsung saja menaiki kuda yang menurutnya menarik perhatian, Auriga yang semula ingin menawarkan bantuan pun tampak ikut naik di kuda di sebelah Audy.
Perlahan wahana tersebut berputar, yang mana semakin sering putarannya terjadi dengan perlahan juga membangkitkan antusias Audy.
"Seru banget! Minta tolong kencangkan, Abang!" teriak Audy yang mulai terbawa suasana. Rasa lepas dan bahagia terpupuk dihatinya.
Audy begitu menikmatinya. Berbeda dengan Auriga yang justru tampak gelisah. Padahal yang mengajak adalah dirinya, tapi dia tampak tidak menikmatinya.
__ADS_1
"Ody!" panggil Auriga susah payah untuk sampai bisa didengar oleh wanita yang kini sudah mengalihkan atensinya pada pria itu.
Audy tentu kaget saat melihat kondisi Auriga yang tampak memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya pun layu. Lengan Audy sontak terulur untuk membantu menopang tubuh Auriga yang nyaris rubuh.
"Dasar bayi beruang."
Audy pun mau tidak mau harus menguras rasa senang yang sempat menggebu-gebu. Dia meminta sang petugas untuk memberhentikan wahananya sebelum sampai pada putaran terakhir.
Dengan tertatih Audy membantu Auriga, memapah pria itu dengan tubuhnya yang mungil. Beberapa kali Audy tampak terhuyung.
"Lo lain kali kalau mau ajak main yang bener, dong. Kalau kayak gini gue yang repot," dumel Audy yang tak mendapatkan respons apapun dari pria itu. Mana mungkin juga dia menjawab, untuk menopang tubuhnya saja Auriga kesulitan.
Audy merasa sudah tidak kuat lagi menopang tubuh yang sudah seperti raksasa baginya itu, dia pun memilih ambruk membiarkan Auriga terlentang di atas tanah yang terhampar rerumputan hijau.
"Ody, kepala saya pusing," keluh Auriga berusaha bangun lalu menjadikan punggung Audy sebagai topangan. Audy memutar ke dua bola matanya, mulutnya tampak mengerucut lucu disertai tiupan frustrasi yang berhasil menerbangkan anak rambutnya yang berantakan. Wajar bukan jika Audy memanggil Auriga dengan sebutan bayi beruang?
"Ody saya mau munt—" belum sempat Auriga menyelesaikan ucapannya rasa hangat sudah lebih dulu terasa menjalar membasahi punggung Audy. Tanpa perlu memeriksa pun Audy sudah tahu apa penyebabnya.
Audy rasanya ingin menangis, tapi sialnya kemana stok air matanya yang berharga itu? Kenapa tidak menetes bahkan setetes pun?
"Lega sekali, Ody. Perut saya tadi bergejolak, terus pusing, terus mual, sakit dada saya," sambung Auriga terdengar seperti rengekan tanpa dosa.
Auriga bergumam. Persis seperti anak kecil yang sedang merasa bersalah. "Maafin saya, Ody."
...•••...
Auriga tidak terhenti tersenyum. Bukan sebatas senyuman seperi biasanya, tapi benar-benar senyuman lebar dengan mimik penuh suka cita. Senyuman yang ternyata memiliki kadar gula yang tinggi. Pantas saja jarang diekspos, memang jika keseringan tidak baik untuk yang melihatnya.
Wajah rupawan-nya sungguh menjadi maha karya yang memukau saat dipoles dengan senyuman lebar miliknya. Sayang sekali Audy tidak bisa melihatnya. Wanita itu sedang fokus dengan rasa kesal yang mengakar di dadanya.
Dan alasan yang membuat pria itu sulit berhenti tersenyum adalah karena baju yang dipakainya dengan Audy tampak senada. Auriga memang sengaja tadi membeli pakaian untuk pasangan di toko baju yang juga masih berada diarea tempat wahana. Tak menyangka akan sangat cocok dipakai oleh dirinya dan Audy. Bahkan secara diam-diam Auriga memotret dirinya dengan Audy yang ikut terlihat dengan posisi wajah yang membelakangi kamera.
Audy masih kesal. Dia sedari tadi masih belum mau membuka mulut. Matanya hanya fokus dengan interaksi di sekitarnya. Berusaha tidak mengacuhkan keberadaan Auriga.
"Ody, saya minta maaf. Saya gak tau kalau saya gak bisa naik wahana keliling gitu," ujar Auriga yang kembali merasakan luapan emosi bersalah. Senyuman yang sungguh manis kini sudah tak tampak lagi.
Audy menoleh dengan tatapan tajam. "Jadi barusan yang pertama kali?"
__ADS_1
Auriga mengangguk pasti.
"Terus kenapa lo ngajak gue?"
"Kirain seru, dulu pas waktu saya kecil pengen naik kayak gitu, tapi di kampung saya gak ada, dan pas saya udah pindah ke Jakarta Ibu sama Bapak juga sibuk jadi tidak sempat."
Audy terenyuh mendengarnya. Rasa kesal yang sempat membeludak mendadak surut.
"Saya minta maaf, ya, saya kasih kupon permintaan maaf, deh."
Tak lama bunyi notifikasi dari ponsel Audy terdengar—yang mana pengirimnya adalah Auriga. Audy langsung melihatnya, dan disana Auriga tampak mengirimkan sebuah gambar dengar latar biru muda disertai tulisan hitam bertuliskan kata maaf lengkap dengan emoticon menangis.
"Apaan, nih?"
"Dulu, kalau kamu melakukan kesalahan, kamu suka kasih kupon permintaan maaf ke saya, cuma bedanya kupon yang kamu kasih warna merah muda."
"Gue gak inget," tukas Audy seadanya. "Terus fungsinya apa?" sambung Audy tidak memedulikan riak wajah Auriga yang sempat murung karenanya.
"Kupon permintaan maaf ini berisikan satu permintaan kamu, yang mana harus saya kabulkan sebagai bentuk penebusan atas kesalahan saya," jelas Auriga.
"Oke, gue simpan. Nanti, kalau gue butuh, gue pakai."
Auriga tersenyum tulus. Satu langkah telah dirinya arungi, dan kini Auriga merasa dirinya akan kembali berhasil menjadi pria istimewanya wanita itu. Kepercayaan diri memang adalah langka yang bagus bukan?
"Kamu masih mau main, ngga?"
Audy tampak melihat jam di ponsel, belum sampai tengah malam memang. Lagi pula ke dua orang tuanya dan sang kakak amat sangat tidak keberatan jika dirinya bersama dengan Auriga. Yang penting perginya jelas dan memberikan kabar selalu. Hanya itu syaratnya.
"Boleh."
Audy masih belum puas menjelajah permainan di sana. Waktunya tadi banyak terbuang percuma untuk mengurusi Auriga dan mengantri di toilet umum.
"Saya yang pilih, ya." Kali ini memang sebuah permintaan, tapi bagaimana mungkin wanita itu bisa menolak saat binar lugu begitu terpancar kuat dari manik mata hitam milik Auriga yang biasanya tampak dingin dan tak tersentuh.
"Oke."
"Saya mau ke rumah hantu."
__ADS_1
...•••...
Aku akan terus melangkah sampai akhirnya aku dan kamu berada di jalur yang sama dengan tujuan yang sama.—Auriga Prayoga