Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 32. KEMBALI UTUH DALAM LUKA


__ADS_3

Auriga memandang pantulan dirinya di cermin. Penampilan sudah sangat sempurna. Style Auriga pun tak perlu diragukan, walaupun perpaduan warnanya selalu monokrom, tapi tetap membuatnya tampak keren dan menawan. Auriga memang tampan, wajar jika Audy bisa tergila-gila.


Hari ini adalah hari yang istimewa baginya. Tepat setelah dirinya dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit Auriga pun langsung saja dengan semangatnya menuju rumah kediamannya.


Tiga hari setelahnya dia habiskan untuk merawat dirinya, dari mulai memangkas rambut, mencukur bulu-bulu di area wajahnya, hingga melakukan olahraga ringan untuk melatih otot-ototnya yang kaku. Tentu saja, hal itu dirinya siapkan tiada bukan dan tiada lain untuk menciptakan sebuah pertemuan yang berkesan untuk Audy. Kini, segala hal yang menyangkut Audy harus selalu ditampilkan dan diberikan dengan keindahan. Audy sangat indah dia pun layak mendapatkan hal-hal indah.


Selepas dirinya terbangun dari tidur panjangnya Auriga memang belum sempat menemui Audy. Bukan karena tidak mau melainkan Auriga ingin Audy melihat dirinya dalam keadaan sebaik-baiknya dari dirinya. Auriga sudah bilang bukan? Audy hanya boleh melihat hal-hal indah saja ... kalau pun nanti tanpa sengaja Audy melihat hal-hal yang indah Auriga akan langsung mencari hal indah untuk menggantikannya.


Auriga sungguh merasa bahagia. Bahkan saking bahagianya Auriga sampai kesulitan untuk menahan lengkungan manis di wajahnya.


Hari ini Auriga memilih tampil dengan kemeja cokelat muda yang dipadukan dengan celana berwarna putih tulang. Santai, tapi tetap memesona. Rambutnya dia sisir rapi dengan sedikit kesan acak-acakan di bagian depannya.


Setelah merasa cukup dengan penampilannya Auriga pun beranjak. Tidak lupa dia tampak membawa sebuket bunga mawar putih yang terbuat dari kertas di atas nakas.


...•••...


Auriga mengetuk pintu rawat Audy pelan. Sesekali dia tampak menghirup udara rakus. Sedari tadi jantungnya tak hentinya terus berdebar kencang, rasanya seperti mereka kembali dipertemukan untuk pertama kalinya lagi. Auriga merasa, pertemuan setelah perpisahan kala itu akan terjadi di hari ini.


Tak kunjung mendapat sahutan Auriga pun berinisiatif memasuki ruangan, dan ternyata wanita cantik itu tengah terlelap. Pantas saja, dia tak mendapatkan sahutan.


Auriga menutup pintu dengan sangat pelan, dia pun melangkah dengan penuh perhitungan. Sungguh Auriga tak mau mengganggu tidurnya, karena Audy yang Auriga kenal dulu adalah orang yang cukup sensitif dengan suara di sekitarnya. Dulu bahkan Audy bisa terbangun hanya kerena suara air yang mengalir dari keran.


Dengan pelan sekali Auriga menaruh bunga hasil karya tangannya di atas meja. Dengan perlahan dia mendudukkan diri di kursi tunggu. Dirinya memang sudah terlebih dahulu memberitahukan keluarga Tanujaya perihal kunjungannya, hal itu pula yang membuat ruangan itu hanya terdapat dirinya dan wanita cantik yang sedang terbaring di atas ranjang. Keluarga Audy sepakat untuk menyisakan ruang untuk ke duanya.

__ADS_1


Auriga memandang Audy dengan pandangan yang tak lagi bisa dirinya manipulasi. Sebenarnya alasan dia selalu menghindari menatap wajah Audy lama-lama waktu itu karena dia takut kebablasan memandang Audy penuh cinta seperti saat ini.


Auriga mengulurkan tangannya untuk mengelus pucuk kepala Audy. Rasa haru seketika merayap ke seluruh syaraf tubuhnya.


Audy lebih dari sekedar sosok wanita baginya. Dia adalah segala hal indah yang ada pada dirinya. Auriga menyesal karena pernah mendorong Audy dengan sangat keras hanya karena rasa kecewa yang belum tuntas.


Auriga tersenyum sendu. "Maafkan saya, Ody," ujarnya pelan.


Auriga meneliti setiap ornamen wajah gadis itu. Semuanya masih tampak sama, hanya saja proporsinya saja yang berubah yang mana membuat wanita itu terlihat semakin cantik.


Di antara ornamen wajah wanita itu yang paling menjadi favorit Auriga adalah matanya. Di saat semua orang mengagumi senyumannya, maka Auriga justru lebih dulu di tawan oleh matanya.


Audy memiliki sorot mata yang selalu bersinar. Netra-nya tampak selalu berbinar penuh kebahagiaan. Netra kopi cokelatnya memiliki bulatan besar yang pas, yang ketika mata itu melihatnya Auriga selalu di buat jatuh ke dalam pesona wanita itu. Area mata wanita itu pun tak kalah menawan, Audy memiliki dua garis cantik di masing-masing tepat di bawah matanya, lalu di atasnya terdapat dua lipatan simetris yang membuat mata wanita itu kian memukau. Dan yang lebih cantik ketika Audy tersenyum matanya pun ikut tersenyum.


Audy yang dulu bersamanya adalah wanita dengan sejuta tawa. Tawa adalah hal yang paling melekat dengan wanita itu. Bahkan ketika Auriga hanya menunjukan ekspresi kebingungan Audy mampu tertawa lepas. Auriga tidak tahu apa yang lucu, tapi melihat Audy yang tertawa karenanya pria itu sama sekali tidak keberatan untuk menampilkan ekspresi seperti itu sesering mungkin.


Audy selalu bahagia. Bukan karena dia tidak pernah menangis melainkan karena alasan wanita itu bahagia selalu yang paling sederhana. Dari Audy dulu Auriga pernah belajar bahwa bahagia itu bukan tentang seberapa nilainya melainkan seberapa banyak rasa syukur yang ada pada diri.


Auriga rasanya ingin memaki habis dirinya karena pernah dengan lancang menyakiti Audy. Sungguh dia menyesal.


"Ody, saya rindu kamu. Maaf untuk waktu itu, sebenarnya saya tidak pernah membenci kamu, saya hanya sedang berusaha untuk membohongi diri ... Saya takut kecewa lagi, yang mana nantinya saya takut membuat saya benar-benar membenci kamu. Dan bodohnya saya, saya baru menyadari sekarang, setelah banyaknya luka yang saya kasih ke kamu..."


"Ody, lari lah, jika itu nantinya yang kamu mau, biarkan saya yang meraihmu. Kali ini saya yang akan menghampiri kamu, lalu setelah itu, mari kita selesaikan kesalahpahaman di antara kita."

__ADS_1


"Ody, saya mencintai kamu. Sangat."


...•••...


Audy membuka matanya saat dirinya sudah memastikan Auriga tak lagi ada di tempat. Auriga pergi sesaat dia menerima telepon.


Audy memandang langit langit dengan pandangan sendu. Audy mendengar semuanya bahkan dari saat Auriga mengetuk pintu dengan suaranya yang pelan.


Hatinya perih. Dadanya sesak saat mendengar pengakuan dari pria itu. Tanpa permisi air matanya mengalir lebat. Audy menangis tanpa suara.


Dia mati-matian agar suara isakannya tak keluar. Rasa sakit dan rasa haru di dalam dirinya memuncak secara bersamaan. Rasa sakitnya berasal dari bayangan kala Auriga menolaknya tanpa ampun dan rasa harunya tercipta ada karena fakta Auriga yang tidak pernah membencinya baru saja dirinya ketahui.


"Aga, aku cinta kamu juga," ucapnya di sela-sela air mata yang berderai.


Audy berusaha menghapus air matanya, jemarinya sibuk menghalau basah yang menganak sungai di ke dua pipinya.


Kecelakaan kemarin telah mengembalikan separuh ingatannya yang hilang. Hingga detik ini, alasan itu pula yang membuat Audy belum siap untuk bertatap muka dengan Auriga.


Harapan Audy, ketika Auriga mendapatinya terlelap pria itu akan pergi. Namun, ternyata tidak begitu.


Audy semakin kuat menangis dalam diamnya. Kini luka-luka lama yang sempat di hindari oleh alam bawah sadarnya dulu telah kembali terkuak.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2