
Audy terdampar di sebuah kedai bakso bahkan di saat matahari masih mengintip malu-malu. Awalnya Audy tak yakin jika akan menemukan kedai yang buka. Namun, buktinya Auriga dan dirinya kini sedang duduk menunggu pesanan.
Semalam Auriga mengirimi Audy pesan hendak menagih janjinya untuk makan bakso sesuai yang telah disepakati ke duanya. Namun, karena kemarin Audy tidak bisa dihubungi rencana mereka pun gagal, dan akhirnya Auriga pun meminta gantinya di hari ini. Di mana di jam yang lebih pantas dijadikan waktu untuk sarapan.
"Ga, lo sehat?"
Auriga menoleh. Jantungnya tengah berdentum ria. Dia senang mendengar pertanyaan Audy yang menjurus kepada kepedulian. Auriga mengangguk mantap.
"Kata gue, sih, engga, ya. Orang sehat mana yang ngajak makan bakso di waktu sarapan kayak gini?" sindir Audy yang kontan melunturkan raut berseri-seri Auriga.
Auriga kamu berharap apa? Auriga tampak tersenyum kecut. Dia memang aneh, saat Audy mengejar dirinya malah memilih berlari, dan disaat Audy berhenti kenapa malah dirinya yang berbalik menunggu?
"Saya, kan, kerja, kalau pulang kerja nanti kamu gak bisa lagi."
Audy tak yakin jika dirinya mendengar nada sendu di dalam kalimat pria itu. Namun, saat bola mata cokelat kopinya melirik Auriga, dengan jelas dia melihat riak kesedihan di sana. Apa Auriga kemarin kelaparan karena menunggunya? Pikirnya. Jika iya, Audy merasa bersalah.
"Yaudah, sebagai bentuk permintaan maaf gue karena kemarin udah lupa, gue hari ini mau main sama elo. Gimana?" tawar Audy. Dirinya tak tega melihat mimik Auriga yang tampak sedih dan kecewa?
Lagi. Memori milik Audy boleh saja hilang, tapi hatinya tidak pernah salah dalam menimbulkan rasa. Tentu saja, sedari dulu kesedihan Auriga adalah salah satu hal besar yang selalu berhasil memengaruhinya. Mengacak-acak perasaannya dan bahkan mampu menghilangkan kewarasannya.
Auriga yang mendengarnya tentu gembira bukan main. Namun, dia tidak tahu cara mengekspresikannya. Auriga hanya berdeham dengan pandangan mata yang lurus. Namun, jika diamati secara saksama ada senyum kecil yang terpatri.
"Gue gak bisa masak, sih, tapi kalau goreng telor bisa, ya meskipun gak sesempurna elo yang tukang masak. Nanti siang, mau gue bawain makan siang engga?"
Di dadanya persis seperti bunga kuncup yang bermekaran. Rasanya hati Auriga begitu menggebu-gebu penuh kegembiraan dan kehangatan.
"Mau."
Singkat, padat, dan jelas. Namun, yakinlah Audy yang dulu akan langsung menyadari betapa bahagianya Auriga ketika satu kata itu keluar tanpa upaya.
__ADS_1
Kata yang hanya akan terucap ketika Auriga benar-benar antusias akan sesuatu. Auriga tidak pernah kesulitan untuk bilang tidak, tapi untuk bilang iya dan mau pria itu memang tidak begitu pandai. Antara malu dan gengsi. Ke duanya memiliki peran sama besarnya untuk dijadikan alasan.
Dua mangkuk bakso terhidang dengan asap yang masih mengepul. Audy benar-benar tak habis pikir, ternyata ada juga kedai bakso yang buka di pagi pagi buta. Bahkan mereka berdua tampak menjadi satu-satunya pelanggan.
Lagi pula siapa yang akan makan bakso di pagi buta selain orang ajaib seperti Auriga dan tentu saja (kini) seperti dirinya.
Auriga menyerahkan mangkuk dengan pesanan sesuai selera Audy dengan mengandalkan ingatannya di masa lampau. Bakso kuah bening dengan tiga sendok sambal tanpa daun seledri adalah racikan favorit wanita itu dulu.
"Lho, punya gue gak ada daun seledri-nya?"
Auriga mengernyit. "Kamu, kan, gak suka daun seledri?"
"Engga. Gue suka," bantahnya, "udahlah, gak papa, Abangnya mungkin lupa."
Auriga memandang mangkuk berisi bakso milik Audy yang sudah teraduk sempurna, yang kemudian tampak dicicipi oleh wanita dengan rambut di cepol asal itu.
Bagaimana mungkin Auriga lupa? Bakso adalah makanan favorit Auriga dulu, dan Audy ikut menyukainya saat Auriga sering memakannya. Mereka pun berakhir memesan pesanan yang sama di setiap ada kesempatan.
Namun, setau Auriga, Audy membenci daun seledri. Bahkan untuk mencium baunya saja Audy tidak bisa.
"Sebenarnya apa yang coba alam bawah sadar kamu lindungi, Dy? Kenapa kamu melupakan banyak hal? Hal-hal yang bahkan engga bisa saya cerna maksudnya apa?" gumam Auriga dengan tangan yang sibuk mengaduk kuah bakso miliknya dengan pandangan yang kosong. Membiarkan pertanyaan Audy mengambang. Audy tampak tak acuh. Audy yang sekarang tak lagi keberatan dengan apapun respons Auriga.
...•••...
Bagi Audy menemani Auriga makan bakso merupakan salah satu hal yang paling menyenangkan. Audy suka saat melihat pipi laki-laki itu tampak mengembung kala satu bulatan bakso di makannya dalam sekali suapan.
Auriga memang lucu. Tubuhnya boleh saja tinggi dan cukup berisi, tapi tingkah lakunya tak ayal membuat Audy gemas. Meskipun, dalam beberapa hal Auriga bisa sangat dewasa dalam menyikapi dirinya yang terkadang bersikap seperti anak TK.
"Kamu mau?" tanya Auriga. Matanya tak sengaja melihat Audy yang tengah memandanginya dengan mata yang berbinar-binar. Seolah yang dilihat perempuan itu adalah hal yang menakjubkan.
__ADS_1
Auriga mengira Audy menginginkan makanannya.
Audy menggeleng. "Aga, lebih suka bakso atau aku?"
"Bakso," jawab Auriga pasti dan tanpa ragu-ragu. Namun, bukannya merasa dongkol justru Audy malah tersenyum cerah.
"Iya, engga papa. Justru kalau Aga jawab suka aku malah aneh."
Auriga tidak menyahut, dia kembali fokus dengan makanannya. Sedangkan segaris senyum masih terpatri di birai Audy.
Perempuan yang kini sudah resmi menginjak bangku putih biru itu sengaja menyempatkan waktu untuk bersantai ria dengan sahabatnya itu. Karena mulai besok dia akan sibuk mempersiapkan diri untuk test masuk sekolah.
"Aga, besok aku gak bisa nemenin Aga makan bakso."
Auriga memang tidak menyahut, tapi gerakannya spontan berhenti. Audy yang mulai paham cara berkomunikasi Auriga tentu mengerti apa maksud dari gerakan Auriga. Semacam; Kenapa? Ada apa memangnya?
"Aku mau belajar buat test, aku, kan, sedikit oon jadi harus benar-benar belajarnya. Kalau Aga mah belajar sambil main bola juga tetap aja bisa."
Auriga mengangguk dan kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya.
Audy tersenyum kecil.
Auriga memang tidak pandai dalam mengekspresikan rasanya. Dia cenderung banyak diam. Namun, Audy yang seakan memang di desain untuk laki-laki itu dapat memahaminya bahkan di saat Auriga memilih bungkam.
Auriga kecewa karena esok hari dan mungkin untuk beberapa hari ke depan Audy tak bisa bermain bersamanya seperti biasa. Namun, Auriga pun cukup mampu untuk memahami kemampuan Audy dalam menyerap pembelajaran. Bahkan tak jarang Auriga yang notabennya adik kelas sering membantu Audy untuk mengerjakan soal-soal kelas 6 padahal dia saja baru duduk di bangku kelas 4.
...•••...
Aku kini tahu arti dari ketakutan yang aku rasa. Aku takut kamu menghilangkan tentangku sepenuhnya baik itu di ingatanmu maupun di hatimu.—Auriga Prayoga
__ADS_1