Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 36. MANIS


__ADS_3

Hari ini rasanya begitu berat bagi Auriga, selain pekerjaannya yang luar biasa padat karena kedatangan klien restoran dari luar negeri, hari ini juga Auriga di buat uring-uringan karena Alona yang mendadak tidak dapat dihubungi untuk ditanyai perihal kabar wanitanya. Ke dua orang tua Audy pun tidak membalas pesannya sama sekali seharian ini, dan saat tadi dia datang ke kediaman wanita itu pun penghuni utama rumah sedang tidak ada di tempat. Katanya sedang pergi untuk urusan keluarga. Begitulah informasi yang di dapat Auriga dari kepala pelayan di sana. Auriga tidak punya pilihan lain selain pulang, karena ingin menunggu pun dia tidak punya informasi jelas kapan keluarga Tanujaya akan kembali.


Auriga memberhentikan mobilnya di halaman depan rumah Prayoga, dia sama sekali tidak berniat memasukannya ke dalam garasi, dia berpikir biar lah nanti saja Pak Supir di rumahnya yang memindahkan. Tubuhnya terasa lemas sekali.


Pria dengan penampilan yang jauh dari kata segar itu tampak melihat layar ponselnya sebelum benar-benar turun dari mobil.


Auriga menghela napas dalam saat tak melihat ada pesan balasan dari mereka yang diharapkan, setelahnya dia pun keluar dengan lesu.


Tiba saat dirinya memasuki rumah dia mendapati Sang Ibu sedang terduduk di ruang tamu dengan keadaan memunggungi dirinya. Auriga mengerutkan keningnya dalam. Tumben sekali Ibunya itu jam segini masih berkeliaran di luar kamar, pikirnya.


"Ibu, sedang apa di sana?"


Anjani tidak menyahut, yang mana membuat Auriga semakin keheranan. Auriga pun melangkah ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu. Namun, belum sempat langkahnya sampai suara isakan lebih dulu terdengar.


Auriga tentu panik. "Lho, Ibu, kenapa? Ibu baik-baik aja?" tanyanya seraya meraih tangan Sang Ibu saat sudah duduk di hadapan wanita itu.


Anjani memandang wajah putranya dengan pandangan sendu. Telapak tangannya yang sempat di genggam Auriga kini tampak berpindah tempat ke sebelah pipi pria itu.


"Nak, maafin Ibu, ya, maaf kalau selama ini Ibu begitu egois sama kamu, maaf kalau selama ini kamu harus menerima rasa sakit akibat sikap Ibu. Nak, apakah kamu baik-baik aja?" tutur Anjani dengan pandangan penuh kasih pada anaknya itu.


Anjani bahkan baru menyadari bahwa putranya sudah tumbuh sebesar ini. Badan mungil yang dulu sering di peluknya kini sudah mampu melingkupi tubuhnya.


"Aga, baik-baik aja Ibu, Ibu kenapa?"


Anjani tidak langsung menjawab, dia memandangi rupa putranya dengan penuh cinta, lalu memeluknya begitu erat dengan tangis yang mulai gaduh.


Auriga yang belum memahami kondisi pun hanya bisa membalas pelukan Sang Ibu seraya menenangkan lewat tepukan pelan di bahu Anjani.


Setelah di rasa cukup tenang, Anjani melepaskan pelukannya, netranya kembali memandang Auriga.


"Nak, sekarang Ibu tidak akan memaksakan. Semua terserah pada Aga. Apapun yang menjadi bahagia Aga, Ibu akan bahagia ... maafin Ibu ya, Sayang?"


"Ibu, Aga ngga paham, kenapa Ibu tiba-tiba bersikap seperti ini? Apa Ibu baik-baik saja?" Auriga mulai khawatir luar biasa.


Anjani tersenyum, lalu berkata. "Audy sudah memberitahu Ibu bahwa sebenarnya kamu sejak awal menolak perjodohan kalian, tapi karena hati kamu yang begitu baik kamu memilih tetap melanjutkan ... Ibu bangga sama kamu, Nak, bahkan di saat kamu tidak menginginkan perjodohan kalian, kamu tidak menentang kami secara brutal, terlebih kamu juga membuktikan pada kami bahwa kamu tetap bisa memperlakukan Audy dengan baik di saat kamu tidak mencintainya..."


"Sekali lagi maaf karena Ibu sudah begitu abai sama perasaan kamu ... Sekarang kamu bebas memilih apapun yang menjadi kebahagiaan kamu ... Audy sudah memutuskan perjodohan kalian—"

__ADS_1


"Apa, Bu?" potong Auriga. Auriga sangat terkejut mendengarnya, tapi semoga saja dia salah dengar.


"Iya, Audy sudah mengambil keputusan untuk hubungan kalian—"


"Ayah sama Ibu setuju?"


Anjani mengangguk yang mana langsung membuat raut wajah Auriga membeku. "Bagaimana dengan Om Angga dan Tante Anin?"


"Kamu tidak perlu khawatir, mereka sangat baik, mereka menyetujuinya."


Tubuh Auriga mendadak lemas. Rasanya kini tubuhnya seperti tak bertulang. Anjani tentu merasa heran, tidak ada reaksi yang diharapkan pada putranya.


"Bu, Aga mencintai Audy," lirih Auriga nyaris tak berdaya.


Anjani dengan sisa air mata yang mengering kontan membelalak.


"Beneran?"


Auriga mengangguk lesu.


Auriga kontan berdiri tegap. "Kalau begitu Aga pamit, Bu."


...•••...


Auriga tidak terima dengan keputusan sepihak Audy, meskipun sejak awal memang semua berjalan sesuai dengan yang diinginkan wanita itu, tapi untuk kali ini dia tentu tidak akan membiarkannya begitu saja. Kini Auriga sudah berada di kediaman keluarga Tanujaya dengan keadaan jantungnya yang masih berdebar awut-awutan. Bahkan rambut yang biasanya rapi termodif kini tampak berantakan akibat kebiasaanya yang kalau sedang merasa gelisah kerap kali mengacak rambut.


Kedatangannya di sambut hangat oleh Argantara, karena memang Audy, Anindya dan Angga belum tiba di kediaman. Sepertinya mereka pun sedang berusaha menenangkan hati sang putri yang sama hancurnya seperti pria yang kini menatap Argantara penuh harap.


"Audy, di mana Bang?"


Argantara jelas mengerutkan kening dalam. "Lho, aku kira kamu ikut, Ga. Aku dengar kemarin Audy sempat membuat janji temu dengan Ayah Bunda juga orang tua kamu," terang Argantara.


Auriga kontan terduduk lesu. Dia tidak tahu sejauh apa Audy menarik jarak darinya.


"Engga, Bang. Abang tahu sekarang Audy di mana?" Pertanyaan bodoh bukan? Padahal jika sedang tidak kacau Auriga akan cukup mudah untuk memahami jawaban Argantara sebelumnya.


"Engga, aku gak tahu. Sebentar aku telepon dulu." Argantara tampak sibuk mengotak atik ponselnya.

__ADS_1


"Tidak di angkat, Ga."


Auriga kontan tersungkur lemah. Dia sama sekali tidak peduli dengan penampilannya yang makin terlihat berantakan. Kini Auriga tampak berjongkok di lantai dengan posisi kepala tertunduk.


Argantara tentu kebingungan. Namun, saat pria itu ingin bertanya isak tangis Auriga lebih dulu menggema. Bahkan bukan lagi isak, melainkan raungan.


Auriga menangis dengan kerasnya persis seperti anak kecil yang kehilangan jejak Ibunya kala bermain di taman hiburan.


Argantara berdiri mematung. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sebelumnya dia tidak pernah ada di kondisi secanggung ini.


Sedangkan Auriga sama sekali tidak memedulikan sekitar, yang ingin dia lakukan hanya lah menangis dengan keras.


Hatinya sakit. Sungguh sangat sakit ketika kilasan bayangan hidup tanpa Audy hadir, ditambah lagi kilasan demi kilasan perlakuan buruknya terhadap wanita yang dicintainya mulai berseliweran. Auriga benar-benar tidak siap untuk kehilangan wanita itu lagi. Auriga bahkan tidak pernah mempersiapkan untuk kehilangannya lagi.


Dadanya luar biasa sesak. Kepalanya pun pusing bukan main. Semakin lama semakin keras pula tangisnya, dan seperti mantra di saat suara lembut nan hangat memanggilnya.


"Aga."


Ajaib sekali karena hanya dalam hitungan detik tangis Auriga terhenti.


Auriga yakin dia tidak salah mengenali. Perlahan kepalanya terangkat.


Yang terlihat pertama kali adalah mata indah milik wanitanya.


"Ody," panggil Auriga serak. Pria itu terlalu keras menangis sehingga suaranya nyaris hilang.


Mata indah milik Audy memandangnya penuh cinta. Tatapan itu adalah tatapan yang sama dengan tatapan Audy kala itu. Benar bukan? Waktu itu dia tidak sedang salah lihat.


"Bayi aku nangis, hm?" ucap Audy yang justru malah memancing tangis pria itu lagi.


Hanya saja kali ini Auriga menangis tepat di depan Audy dengan telapak tangan yang menutupi wajah. Auriga malu, tapi dia tidak bisa tidak menangis. Kali ini tangisan haru yang mendominasi.


Sedangkan Audy tampak terkekeh geli. Lucu sekali Bayi Beruang di depannya itu. Audy tampak mengusap pucuk kepala Auriga lembut. Sabar menunggu hingga tangisan si bayi itu reda.


Akhir yang manis bukan? Terkadang memang seperti itu. Kamu hanya perlu ikhlas.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2