
Denting lonceng terdengar nyaring saat Audy memasuki sebuah Kafe khas anak milenial, tempat yang dipilih Anggita untuk bertemu dengannya. Audy bertanya-tanya topik penting apa yang ingin wanita itu bahas dengannya. Namun, yang pasti Anggita berhasil membuat Audy penasaran.
Audy lebih dulu meminta Alona dan para ART-nya pulang terlebih dahulu. Sedangkan Audy ke sana memilih menggunakan motor sport yang sudah resmi menjadi miliknya.
Anggita tampak melambaikan tangan saat melihat Audy yang tengah mencari keberadaan wanita itu. Audy pun bergegas ke arah wanita itu. Tentu saja dia langsung duduk tanpa butuh persetujuan Anggita.
"Ada apa?" tanya Audy yang sudah jelas tidak pandai basa-basi.
"Aku kira kamu gak bakal datang."
"Ada apa?" ulang Audy yang tidak suka dengan Anggita yang terlalu bertele-tele.
"Oke, jawab pertanyaan aku, kamu kenal aku?" Sebenarnya itu merupakan pertanyaan untuk tahu apakah Audy masih kehilangan ingatannya atau tidak.
Audy tampak mengerutkan keningnya dalam. Sepertinya Anggita suka sekali memperluas waktu. "Ya, lo ceweknya si Aga."
"Lebih tepatnya sekarang mantan," sanggah Anggita yang sama sekali tidak mendapat respons berlebih dari Audy. Lagi pula itu tidak penting baginya.
"Terus?"
"Aku yakin Auriga mutusin aku gara-gara kamu."
"Kalaupun iya gue ngga peduli, jadi topik penting yang lo maksud ini?"
"Kamu ... kamu gak inget apapun soal kejadian sebelum kecelakaan waktu itu, kan?"
Audy terdiam untuk beberapa saat. Audy memang tahu bahwa dirinya kecelakaan, dan bukti nyata dari kecelakaan itu adalah separuh ingatannya yang hilang. Hanya saja, entah kenapa Audy sama sekali tidak merasa keberatan dengan fakta itu. Jadi itu pula yang membuatnya tidak begitu merasa harus tahu akan sebab muasal terjadinya kecelakaannya kala itu.
"Auriga adalah penyebabnya," sambung Anggita dengan nada yang begitu meyakinkan.
"Maksud, lo?" Audy sebenarnya tidak ingin melanjutkan percakapan yang bisa saja hanya sebuah pernyataan konyol dari seorang wanita patah hati yang baru saja putus cinta, hanya saja Audy tidak bisa abai dengan sorot mata Anggita. Yang tampak menggebu-gebu.
__ADS_1
Wanita itu tampak ingin menyampaikan sesuatu hal yang amat krusial.
"Kamu harus tahu betapa murahannya kamu sebelum kecelakaan itu, bahkan Auriga pun muak sama tingkah kamu."
Sorot mata Audy berubah tajam. Tentu saja dia tidak terima dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Anggita. "Engga ada wanita murahan melebih wanita tukang selingkuh," balas Audy telak.
Anggita tampak tidak bisa membantah. Namun, ambisinya untuk menghancurkan jalinan yang sedang terbangun antara sang mantan dengan wanita di depannya sangat kuat. Jadi dia tidak akan menyerah walaupun sebenarnya ingin.
"Hari itu kamu datang ke restoran tempat Auriga kerja, dan kamu tahu? Menyambangi Auriga adalah hal yang sering kamu lakukan sebelum berangkat kerja, Auriga bahkan sering bercerita seberapa muak dirinya sama kamu, tapi sayangnya dia tidak bisa berbuat banyak karena restoran tempatnya bekerja adalah milik keluargamu. Namun, waktu itu kebetulan aku datang untuk membicarakan permasalahan pertunangan sepihak Auriga yang di latar belakangi oleh kamu. Waktu itu kami bertengkar, dan kamu yang menjadi penyebabnya. Saat kami sedang beradu argumen tiba-tiba kamu datang, dan ya, kecelakaan pun terjadi. Intinya semenjak kecelakaan itu Auriga berubah drastis, dia selalu mengutamakan kamu sebagai bentuk balas budi, dan karena dia merasa bahwa dia adalah penyebab kecelakaan yang menimpa kamu itu terjadi, dan aku rasa memang begitu faktanya," papar Anggita yang mendapat atensi penuh Audy, walaupun secara kasat mata Audy tampak tak acuh.
"Audy jika kamu tidak mempercayai kata-kataku kamu boleh tanyakan pada Kenan seberapa sering Auriga menolak kehadiranmu, atau mungkin pada teman Auriga yang lainnya, Kaivan. Mereka tahu semuanya."
...•••...
Audy tentu langsung mendatangi restoran di keesokan harinya, dia bahkan sengaja meminta Auriga untuk cuti hari ini dengan alibi bahwa Audy akan mengajak Auriga ke suatu tempat. Namun, Audy tidak menyampaikan kapan waktunya. Hingga saat Auriga tahu bahwa waktunya adalah sore hari, dia cukup keberatan, tapi karena sudah terlanjur izin cuti satu hari penuh Auriga pun tidak bisa masuk kerja.
Benar saja, pria itu tidak ada di tempat. Auriga benar-benar sudah menjadikan Audy dunianya.
Audy sebelumnya tidak begitu tertarik dengan keberadaan pria itu, meskipun notabene-nya dia adalah teman Auriga, tapi jujur saja Audy merasa asing dengan sosoknya.
Namun, jangan panggil dirinya Audy Maharani Tanujaya jika merasa terintimidasi dengan hal remeh seperti itu. Dirinya memang canggung, tapi rasa ingin tahu dari kebenaran cerita Anggita meluluh lantahkan rasa itu.
Jika dia adalah teman Auriga, Audy tebak pasti umurnya pun dibawah dirinya. Katakanlah dia bocah ingusan jika dibandingkan dengan dirinya. Fakta itu cukup membuatnya tidak ciut.
"Kaivan," panggil Audy datar. Sang empunya nama tampak menghentikan kegiatannya. Namun, dia tetap tidak menoleh. Kaivan hanya menyahut singkat.
"Gue kemarin ketemu Anggita..." Audy memulai pembicaraan. Namun, entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, Audy melihat bahu pria itu sempat menegang untuk beberapa saat.
Dan berhasil, awal topik yang dimulainya berhasil menarik atensi pria itu. Audy kini yakin bahwa reaksi yang dilihatnya tadi bukan sekadar perasaannya, melainkan fakta baru yang ternyata cukup gila.
"Apa yang mau lo bicarakan sama gue?" tembak Kaivan. Audy cukup takjub dengan kepribadian pria itu yang sepertinya berbeda dari Auriga maupun Kenan. Dia tampak ketus dan dingin.
__ADS_1
"Katanya lo tau banyak tentang permasalahan gue sama Auriga, gue mau nanya sebenci apa Auriga sama gue dulu?" tentu saja Audy yang tidak suka basa-basi langsung ke inti.
Dan sepertinya Kaivan pun begitu. "Ya. Menurut lo sebenci apa sampai Aga pernah ngatain lo wanita murahan?"
Audy tidak bisa berkutik. Lagi? Dua kata itu sungguh mengguncang seluruh harga dirinya. Kemarin wanita itu, dan sekarang bocah ingusan dihadapannya.
"Gue? Murahan?"
Kaivan mengangguk mantap. "Memangnya kata apalagi yang pantas selain itu? Gue setuju banget sama perkataan Auriga waktu itu."
Audy bangkit, lalu tanpa aba-aba satu tamparan melayang bebas dan mengenai sasaran empuk. Pipi Kaivan tampak merah padam. Bahkan bunyi yang dihasilkan membuat segala kegiatan yang ada di ruangan itu terhenti begitu saja.
"Gak sopan!" hardik Kaivan.
Audy tidak mungkin menyerah hanya dengan nada tinggi dan tatapan tajam milik pria itu. Dia justru terlihat mendekat ke arah Kaivan. Tepat di depan wajah pria itu serta dihadapan para Asisten Koki lainnya Audy berkata dengan lantang. "Terus menurut lo selingkuh sama pacar temen itu sopan?!"
Riak penuh amarah Kaivan mendadak berubah menjadi keterkejutan yang teramat sangat. Bahkan kini pria itu mematung dengan tatapan lurus memandang Audy.
"Bangsat! Tai!" jerit Audy yang membuat suasana semakin menegang. Semua yang menyaksikan tentu ikut terkejut dan bingung dengan situasi yang terjadi.
"Tarik ucapan lo itu anjing! Gue gak sudi dapat kata itu dari mulut orang yang bahkan gak punya harga diri kayak lo!"
Audy kalap. Dia benar-benar berteriak tanpa ampun. Sedangkan Kaivan masih diam membisu dengan keadaan tubuh yang mematung.
"Kalau gue murahan, lantas lo apa? Cowok tanpa harga diri, huh?!"
Tepat saat Audy ingin menjambak rambut Kaivan saat itu pula tubuhnya tertarik ke belakang, seseorang mengamankan Audy dari arah pandang Kaivan yang sepertinya mulai bereaksi.
Dia adalah Kenan. Dia datang bersama Alona yang kini tengah mendekap Audy erat dengan air mata yang berurai.
Suara ribut terdengar dari arah Kaivan. Kaivan tampak membanting barang yang ada, lalu setelahnya dia melenggang pergi tanpa kata.
__ADS_1
...•••...