
Auriga mengendarai mobilnya dengan alunan musik yang mengalun merdu mengisi kekosongan hatinya. Auriga tampak menikmati kepadatan serta sahutan klakson kendaraan. Raut wajahnya tampak tenang.
Auriga Prayoga. Jika di lihat dengan secara kasat mata tidak ada cacat yang tertera. Dia tampan juga mapan. Sekilas saja siapa pun melihatnya akan langsung berasumsi bahwa tidak ada yang sulit baginya.
Wajahnya yang rupawan tentu membuat pria itu tak susah untuk dikerubungi wanita, karirnya pun begitu cemerlang. Lantas, apa yang menjadi cacat baginya? Tidak ada bukan?
Namun, hidup tidak pernah sesederhana itu bukan? Walaupun mungkin antara rumit versinya dan versi yang lainnya berbeda, tapi pada dasarnya semua mahluk di muka bumi tetap berjuang dalam masing-masing persoalan hidup.
Auriga memang tampan dan mapan, tapi hatinya kosong. Sampai usianya yang kini sudah berkepala dua, dia tidak pernah sekali pun menjalin hubungan asmara dengan siapa pun. Masa sekolahnya dia habiskan hanya untuk belajar dan belajar. Dia tidak tertarik. Karena sebenarnya hatinya sudah terikat sejak lama.
Audy. Gadis mungil itu mungkin kini telah tumbuh dewasa. Entah bagaimana kabarnya. Selepas hari di mana mereka berpamitan dan berjanji untuk bertemu kembali, hari pertemuan itu tidak pernah datang hingga detik ini. Auriga pun tidak berniat mencari tahu kabar wanita itu ... walaupun sebenarnya ingin.
Auriga tersenyum kecut. Saat lagi dan lagi nama sahabat di masa kecilnya melintas tanpa permisi di benaknya. Padahal sepuluh tahun sudah berlalu. Namun, ingatannya tentang Audy tidak pernah usang.
Mungkin saja wanita itu sudah hidup bahagia bersama pilihan hatinya. Dan saat membayangkan hal itu ada denyutan nyeri di dadanya.
Auriga terkekeh sinis. Cinta monyet macam apa yang membuatnya tak memiliki minat pada wanita lain?
Mobilnya terparkir gagah di halaman tempat dia bekerja.
Koki adalah pilihan profesi Auriga. Untuk itu dia turun di depan sebuah gedung surganya pecinta kuliner khas makanan sunda.
Sesampainya di dapur, Auriga tentu langsung berganti pakaian. Ke dua sahabatnya yang juga merupakan Koki di sana belum terlihat batang hidungnya. Wajar, Auriga memang selalu datang lebih awal.
"Kejutaaaaaan!"
Auriga kontan mematung, jemari berurat-nya yang sedari tadi sibuk dengan kancing bajunya pun ikut berhenti. Dia tentu mengenal suara itu, bahkan ketika dirinya memunggungi sumber suara.
Apa barusan dirinya sedang berhalusinasi?
Auriga tampak menggeleng linglung setelah beberapa detik terpaku. Dia rasa, dirinya sudah menjadi gila. Bahkan hingga detik ini, Audy masih begitu melekat di hati juga dipikirannya.
"Aga, yuhuuuu!"
Auriga semakin di buat terkejut. Kini pria itu sedang meyakini bahwa ada yang salah dengan otaknya, yang mana berimbas pada terjadinya delusi.
__ADS_1
"Ih Aga, kok, malah diem aja, ini aku, lho!"
Auriga mengerjapkan matanya beberapa saat, hingga dengan keadaan jantung yang berdegup kencang dia pun memutuskan memutar tubuhnya.
Dan, seseorang yang berdiri di depannya benar-benar Audy. Gadis manis yang kini telah tumbuh dewasa menjadi wanita memesona. Walaupun dari segi penampilan wanita tetap tampak imut dari usianya. Audy adalah kakak kelasnya, tapi kini justru malah dirinya yang tampak lebih unggul dalam hal usia.
Mata Auriga terpaku pada sosok di depannya. Wanita yang tampak anggun dengan gaun kuning pastel yang panjangnya sampai di bawah lutut. Sepatu hak pendek berwarna senada terpasang cantik di kaki mungilnya. Selera warna-warna baju wanita itu ternyata masih sama seperti dulu.
"Ih malesin, masa ngga bereaksi apapun. Kamu masih kayak dulu ternyata, masih cuek dan sangat minim ekspresi, ya," ujar Audy tampak melangkah mendekat ke arah pria yang masih terpaku di tempat.
"Sapa balik atuh, ih."
Audy pun semakin mendekat saat tak melihat pergerakan apapun dari pria di depannya, sahabat masa kecilnya yang kini telah tumbuh dengan tampan sekali.
Audy pun menjulurkan tangannya dengan susah payah, wajar saja tinggi badan mereka yang kontras cukup membuat Audy yang mungil kesulitan, Audy tampak mengusap pucuk kepala Auriga.
"Aku kangen," cetus Audy dengan gamblang.
...•••...
Dan kini Auriga tengah berada di tempat yang dulu merupakan tempat terakhir mereka bertemu. Tidak ada lagi pohon rindang dan kursi kayu yang melintang, yang ada hanya sebuah bangunan yang difungsikan sebagai kopi shop.
Dirinya bodoh bukan? Bersikap selayaknya membenci wanita itu dan anti dengan hadirnya, tapi diam-diam dia malah merapikan setiap kenangan tanpa pernah ada niatan untuk membuangnya.
Bukannya memutar arah dan masuk kembali ke dalam mobil kaki jenjangnya justru malah melangkah ke dalam gedung itu. Auriga bukan pecinta kopi. Namun, seiring berjalannya waktu dia sering mampir ke tempat itu yang akhirnya membuat lidahnya terbiasa dengan cita rasa kopi yang khas.
Auriga pribadi lebih suka kopi dengan sedikit gula, karena sejujurnya dia bukan penyuka makanan atau pun minuman manis. Hanya senyuman Audy yang dirinya sukai tak peduli sebanyak apa takaran gula yang ada di dalamnya.
Sesaat bel pintu masuk berdentang Auriga langsung menuju tempat yang memang sudah menjadi tempat favoritnya di sana selama tiga tahun terakhir ini.
Auriga tidak pernah absen dengan pertumbuhan tempat itu, dulu gedung itu difungsikan sebagai toko buku. Tak lama di ganti dengan toko minuman dan jajanan viral pada masanya, lalu barulah kopi shop.
Auriga menyeruput kopi yang masih tampak mengepulkan asap. Matanya memandang jauh ke depan.
Mulutnya boleh saja bungkam, tapi hati dan pikirannya begitu gaduh.
__ADS_1
Kenapa dia kembali menemuinya?
Apa yang membuat dia memutuskan datang lagi ke hidupnya?
Kenapa dia bersikap seakan semua masih sama seperti dulu?
Apakah dirinya hanya lelucon?
Kenapa? Kenapa dia begitu seenaknya datang dan pergi?
Sepuluh tahun bukan lah waktu yang sebentar, dan untuk ukuran manusia yang telah ingkar janji Auriga akui Audy tidak punya malu.
Dia datang seakan semua baik-baik saja.
Auriga tahu bahwa tidak seharusnya dia bersikap kekanakan seperti sekarang, tapi di sisi lain rasa sakit saat melihat Audy berada di depannya pun tak bisa terelakan.
Antara rindu dan kecewa. Semuanya bersatu padu.
Belum lagi, Auriga belum siap untuk mengetahui fakta tentang wanita itu.
Bagaimana jika kedatangan wanita itu bermaksud untuk memberitahunya sesuatu? Semisal Audy mau menikah dengan seseorang.
Dan denyut nyeri menyeruak begitu saja saat membayangkan kemungkinan itu bisa menjadi kemungkinan yang nyata.
Suara notifikasi dari ponselnya terdengar, Auriga berniat mengabaikannya, tapi saat netranya tak sengaja melirik nomor tak di kenal di layar ponsel yang tergeletak di atas meja, dia pun mengambilnya.
Aga, kamu ke mana? Aku anggap reaksi kamu itu adalah bentuk dari rasa bahagia yang tak terkira, aku dapat nomor ponselmu dari tante anjani, ya sudah kalau kamu masih terkejut, sampai ketemu nanti malam yaa
Tanpa memperkenalkan diri pun Auriga sudah tahu siapa dalang dari pengirim pesan.
Wanita itu masih sama. Dia selalu ugal-ugalan tak sabaran, kecerobohan yang ada dalam dirinya ternyata masih melekat.
"Ody, how are you?" ucap pria itu lirih seraya mata yang memandang lekat ke arah layar ponsel.
...•••...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yaaa