Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 43. #KILAS BALIK - SEMAKIN MENGGILA


__ADS_3

Auriga tahu Audy memang selalu memberikan kejutan dalam setiap tingkah lakunya. Namun, jika sampai segila seperti waktu itu Auriga belum berpikir sampai ke sana. Wanita itu benar-benar ajaib. Dan anehnya keajabiannya itu pula yang dulu bahkan hingga kini berhasil mengikat jantung hatinya.


Kejadian kemarin siang sukses menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan para Asisten Koki. Dan tentu saja dirinya jadi bahan olokan Kenan. Sahabatnya itu bahkan masih sempat-sempatnya melemparkan godaan lewat pesan saat dirinya memberitahukan bahwa hari ini dirinya izin tidak masuk.


Selain Auriga mendapati kejutan hal yang terduga itu, pria itu juga mendapatkan kejutan lain berupa fakta bahwa restoran yang di pilihnya merupakan milik keluarga Tanujaya. Auriga memang tahu jika restoran itu milik salah satu keluarga konglomerat. Namun, dia tidak pernah menyangka ke dua orang tua Audy adalah pemiliknya.


Pria itu telah siap dengan kemeja hitam yang di padukan dengan celana bahan senada. Hari ini Auriga sengaja mengambil cuti. Dia sedang tidak mau berurusan dengan godaan-godaan yang Kenan layangkan secara brutal, kalau lewat setidaknya dirinya punya pilihan untuk tidak membacanya. Selain itu Auriga juga ingin menenangkan diri dari keterkejutan akan takdir.


Hari ini dia berniat mengunjungi gramedia. Sebenarnya tidak ada buku yang perlu di ulik, dia hanya merasa tenang ketika mencium wangi buku.


Tepat saat pintu kotak besi apartemennya terbuka, saat itu pula dirinya menemukan sosok yang dikenalnya sedang duduk manis di atas sofa yang berada di lobi.


Bahkan dari jarak yang cukup jauh seperti sekarang Auriga bisa langsung mengenalinya.


Audy Maharani Tanujaya.


Wanita itu benar-benar pantang menyerah dan sulit di jinakkan. Sepertinya acara menenangkan dirinya tidak akan sesuai yang dia rencanakan.


Auriga tidak akan dan tidak mau memutar arah. Dan tepat saat kaki panjangnya melangkah di depan Audy saat itu pula suara bak lonceng peringatan menggema.


"Suami aku, yuhuuu!"


Auriga tentu tidak akan menyahut. Dia tidak mau jadi pusat perhatian. Bahkan kakinya masih terus melangkah ke arah basemen. Namun, belum sempat kakinya berbelok Audy sudah lebih dulu menyeretnya bar-bar.


Audy menggandeng paksa lengan kokoh Auriga. Sedangkan Auriga yang cintanya tidak pernah hilang sepenuhnya tentu tidak akan bisa menolak sepenuhnya pula. Pria itu hanya sedang bersikap malu-malu singa.


"Audy, kamu mau bawa saya ke mana?" tanya Auriga di sela-sela cengkeraman Audy. Langkah kaki Audy yang terburu-buru sama sekali tidak menyulitkannya. Tentu saja, tiga langkah Audy sama dengan satu langkah Auriga.


"Kamu pilih?! Habisin waktu sama aku atau kita ke KUA?" tembak Audy. Sejenak menghentikan langkahnya.


Auriga menghela napas. "Kenapa pilihannya sulit sekali?"


Audy mendelik. "Pilih! Kalau nggak, aku yang bakal pilihkan."


Yang tidak Audy ketahui bahwa pertanyaan itu sangat berpengaruh pada dentuman jantungnya. Sahutan ketus tak ubahnya hanya sebuah alibi untuk menutupi euforia yang membara.


"Terserah kamu," timpal Auriga tampak pasrah.

__ADS_1


Audy mengangguk mengerti. "Baiklah, silahkan masuk calon suamiku."


"Biar saya yang nyetir," tawar Auriga.


Audy tentu menggeleng cepat. "Pilihan ada di aku, jadi aku yang bawa mobil."


Audy mempersilakan Auriga untuk menempati kursi di samping kemudi. Tidak lupa dia menyuguhkan senyuman manisnya. Untuk beberapa saat Auriga terlihat menahan napas. Jantungnya kembali bergema heboh. Auriga terus berusaha menenangkannya sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa kini Audy sudah duduk cantik di sampingnya.


"Siap menuju ke jalan kebahagiaan wahai Kakang Prabu?" tanya Audy begitu antusias.


Seperti biasa, Auriga tidak menyahut. Bahkan pria itu menampakan raut dongkol. Namun, Audy adalah Audy. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan hal itu.


Entah kenapa sebanyak apapun penolakan pria itu Audy semakin merasa dia di tarik untuk semakin dekat.


...•••...


Auriga paham betul bahwa Audy selalu bertindak penuh kejutan dan tentunya selalu di luar perkiraan nalar manusia. Seperti sekarang. Ternyata, kata terserah yang Auriga berikan membawa mereka pada gedung bertuliskan Kantor Urusan Agama.


"Kamu gila?!" pekik Auriga saat mobil yang di kendarai mereka benar-benar memasuki area gedung.


Audy tampak mengulum senyum, matanya melirik Auriga lalu memberikan kerlingan menggoda pada pria itu. "Tenang, si gila ini cuma tergila-gila sama kamu."


Dengan tanpa dosanya Audy turun lebih dulu lalu berjalan memutar membukakan pintu untuk Auriga. "Ayo, Ga, kita nikah!"


Auriga benar-benar di buat linglung. Kelakuan Audy terlampau ajaib.


"Saya mau main aja. Ayo kita habisin waktu bersama!" seloroh Auriga.


"Yaudah, ayo! Tapi kita nikah dulu," balas Audy begitu enteng.


"Audy saya nggak lagi mau bercanda."


Audy tampak berkacak pinggang. Lalu tanpa aba-aba dia mensejajarkan wajahnya dengan Auriga. "Apakah aku kelihatan bercanda?"


Auriga mati kutu. Dia memang tidak melihat itu. Namun, siapa yang mengajak nikah seperti sedang mengajak membeli tahu bulat? Tantu saja, Audy Maharani Tanujaya.


"Saya gak mau nikah sama kamu."

__ADS_1


"Kenapa? Aku cantik, lho, Ga." Ya, Audy memang tidak berbohong. Dia cantik paripurna.


"Aku kurang ... bahenol, ya?" bisik Audy di akhir kalimatnya yang berhasil membuat ke dua telinga Auriga memerah. Bisa-bisanya Audy mengatakan hal seperti itu dengan gamblang.


Auriga mendorong kening Audy menggunakan telunjuknya. Dia bisa kehabisan napas jika terus dalam posisi seperti itu, dia tak kuasa untuk sekedar menghirup oksigen jika jarak wajah mereka terlalu dekat.


"Bukan," jawab Auriga cepat, yang kecepatannya setara kilat.


"Lalu?"


"Kan, nikah, itu ada prosesnya. Ada acara lamaran—"


"Oh aku paham! Kamu mau aku lamar dulu, ya?" Sungguh tangkapan sinyal pemancar Audy benar-benar langka. Kenapa bisa mengartikan sejauh itu?


"Oke, kamu mau aku lamar kayak gimana? Mau pakai hadroh? Biar lebih islami, atau mau pake Singa Barong? Atau Barongsai? Atau Kuda Lumping? Kamu pilih aja! Aku ngikut kamu aja. Kamu bahagia, aku pun bahagia."


"Ah, atau pakai pesawat biar lebih romantis? Atau mau aku sewain pulau?"


Auriga memijit pangkal hidungnya. "Bukan begitu, Audy. Saya tidak mau menikah sama kamu."


"Iya, karena apa?"


"Karena saya sudah punya kekasi—"


"La La La! Balonku ada lima rupa-rupa warnanya, hijau, kuning, kelabu, merah mudah, dan biru..." potong Audy yang tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat Auriga.


"Yaudah, nikahnya bisa nanti. Jadi hari ini kita main!" seru Audy begitu bersemangat. Dia pun tampak kembali mengitari mobil.


"Mau main ke mana?" tanya Audy setelah menghidupkan mesin. Auriga tampak berpikir, sepertinya pria itu kapok untuk bilang terserah.


"Perpustakaan Indonesia," cetus Auriga.


Audy tidak pandai belajar. Buku bukanlah barang favoritnya. Namun, jika Auriga meminta maka tak apa, lagi pula yang penting bukan bukunya, melainkan bersama siapa sekarang dirinya berada.


"Yaudah, tapi nanti pulangnya kita ke SeaWorld."


Auriga pun hanya mengangguk. Audy pun langsung tancap gas.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2