
Nuansa feminin begitu kental di ruangan yang di dominasi oleh warna merah muda tersebut. Ranjang berukuran besar dengan kelambu senada mengelilingi setiap sisi kasur. Tentunya lengkap dengan sang pemilik yang masih bergelung cantik dalam selimut.
Audy. Putri keluarga Tanujaya yang kehidupannya nyaris menyerupai putri raja. Semua fasilitas dia dapatkan dengan mudah. Audy tidak pernah tidak merasa tercukupi dalam hal materi.
Jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Kebiasaan yang sering Audy lakukan adalah tidur kembali setelah melaksanakan ibadah subuh-nya. Wajar jika jam segini dia masih meringkuk dengan ditemani boneka beruang besar di sampingnya.
"Nona, waktu sudah menunjukan pukul enam. Nona harus segera bangun." Suara salah satu pelayan yang dipekerjakan di rumah bak istananya terdengar dari interkom yang terletak di samping kanan tempat tidurnya.
Audy tampak menggeliat, jemarinya bergerak menyingkirkan penutup mata karakter beruang yang selalu dipakainya menjelang tidur. Audy bukan tipe yang butuh dibangunkan berkali-kali, bahkan suara sekecil apapun mampu memengaruhi kesadarannya. "Iya, Bibi aku sudah bangun, Bibi silakan masuk," sahut Audy.
Selepas mendengar perintah sang Nona Muda para pelayan yang bertugas untuk memenuhi keperluannya pun masuk. Dengan sigap mereka membagi tugas untuk menyiapkan kebutuhan Audy.
Hanya dalam hitungan menit Audy sudah terlihat cantik dengan gaun berwarna baby blue yang di satu padukan dengan aksesoris lucu dan elegan, terlebih anting-anting panjang berbentuk bintang tampak cocok untuknya.
"Terima kasih, Bi telah membantu aku bersiap."
Para pelayan mengangguk serentak. "Sudah tugas kami, Nona," jawab salah satunya mewakilkan.
Audy pun lekas melangkah ke arah ruang makan. Makan bersama adalah rutinitas wajib yang dilakukan oleh keluarga Tanujaya. Sesibuk apapun mereka, kewajiban itu tetap harus dipenuhi.
...•••...
Audy memarkirkan mobil merah muda-nya di depan sebuah Restoran yang mengusung tema klasik budaya sunda. Bukan tanpa alasan dia berada di sana—yang mana seharusnya saat ini dia tengah berkutat dengan pekerjaannya.
Kaki kecilnya yang dibalut sepatu berhak pendek melangkah masuk. Namun, bukannya duduk dan memesan, Audy malah berjalan ke arah dapur. Tempat dimana Audy dapat menemui sang pujaan hati.
"Ayang Aga!" panggilnya tak memedulikan sekitar.
Salah satu dari teman satu profesi Auriga terlihat melirik Auriga geli karena ekspresi pria itu yang kontan berubah 180 derajat. Sedangkan teman satunya lagi tampak mendengus tak suka.
Auriga bekerja sebagai Koki di sana. Keahliannya dalam mengolah makanan menjadikan Auriga banyak diincar oleh para pendiri usaha kuliner, tapi rupanya, pilihan Auriga jatuh pada Restoran milik keluarga Tanujaya yang mana menjadi Koki di sana merupakan impian sebagian para juru masak. Selain gedungnya yang tampak asri, makanan-makanan khas sunda juga terkenal dengan kemampuannya yang bisa mengguncang perut dan bikin candu. Merupakan sebuah kehormatan bagi para Koki untuk bisa menghidangkan makanan dengan kekentalan budaya yang khas.
"Lho, kok, cemberut, sih? Gantengnya mana?"
Perkataan Audy sontak mendapat sorak sorai dari salah satu Koki utama serta lima Asisten Koki yang terlihat masih muda-muda itu.
Kenan, si salah satu Koki utama dari tiga Koki utama lainnya—yang tidak lain Auriga dan Kaivan— ialah merupakan orang yang mendukung penuh Audy untuk mendapatkan Auriga. Dia yang selalu menyambut kedatangannya dengan baik. Gigi bergingsul miliknya selalu terlihat kala Audy berkunjung. Sedangkan, Kaivan, yang lebih condong mendukung keharmonisan hubungan Auriga dan Anggita tampak dingin dan tak acuh padanya. Tatapannya persis seperti kucing yang ingin menerkam tikus, tapi lebel anak pemilik Restoran tempatnya bekerja menjadi alasan Kaivan memilih tidak kebablasan.
"Kebiasaan, calon istrinya datang—"
"Calon perebut pacar orang kali," potong Kaivan. Seperti biasa kata-kata sinis pun kerap kali pria itu layangkan. Koki yang andal dalam membuat makanan penutup itu membenci Audy sebesar Auriga membencinya. Namun, bedanya Kaivan hanya sebatas sampai pada bermulut cabai saja, sisanya dia tidak pernah seinci pun berani menyentuh Audy. Jika pun berani, tentu saja Audy tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
"Kamu kalau jatuh cinta sama aku, tahu rasa! Mampus, nanti akunya udah jadi istri Aga," tukas Audy sinis.
"Gak minat!" Kaivan berdecih.
"Gak minat, ujung-ujungnya nanti cinta mati, kan, berabe!" Tentu saja, Audy sama sekali tak berniat diam mendengar perkataan Kaivan yang menurutnya tidak sopan untuk ukuran karyawan yang bekerja di Restoran milik keluarganya. Meskipun mulutnya kurang ajar, tapi Audy masih merasa tidak punya wewenang untuk menendang teman dari orang yang dicintainya itu. Setidaknya hidangan yang dibuatnya mampu menghipnotis para pengunjung, itu yang membuat Kaivan di ampuni.
Kaivan memilih tak menyahut. Dia tahu, Audy bukanlah tipe orang yang akan mau kalah. Buktinya, Auriga direbutnya.
"Sudah tak perlu bertengkar, kamu mau aku bikinin sesuatu gak?" tanya Kenan ramah serta santun. Andai jatuh cinta bisa direncanakan, maka Audy akan memilih mencintai Kenan saja. Pria itu selain tampan, selera fashionnya pun cukup membuat Audy tak bisa berpaling sebelum sampai hitungan 15 detik.
"Kamu emang paling baik, Ken. Semisal aku kecelakaan terus hilang ingatan, aku mohon kamu maju paling depan ya, buat ngambil hati aku."
"Dasar wanita murahan!" desis Auriga yang masih bisa di dengar oleh banyak pasang telinga di sana.
"Whoam! Aku menguap barusan jadi gak dengar apa-apa," elak Audy. Selama ini Audy bukannya tidak punya hati, dia hanya pura-pura tuli. Bohong rasanya jika Audy tidak sakit hati.
"Oh iya, Ken, aku mau nasi goreng dengan satu telur mata sapi dan satu telur dadar ... Dan, perkataan aku tadi bukan lelucon, kalau saja aku bisa memilih, maka aku akan memilih untuk jatuh cinta sama kamu."
Suara bantingan yang berasal dari spatula terdengar nyaring, dan Auriga adalah pelaku utama. Baru saja Audy ingin bertanya, dering telepon milik pria itu lebih dulu menginterupsi.
"Aku ke sana, kamu tunggu di sana Anggi."
Audy tak lekas beranjak, dia memilih untuk menyantap hidangan mengunggah selera buatan Kenan terlebih dahulu, karena memperjuangkan cinta membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
"Silakan dimakan Princess."
"Terima kasih, Prince Kenan," balas Audy disertai tawa renyah.
Kenan mencondongkan tubuhnya, berniat menyingkirkan sehelai rambut Audy yang akan mengganggu kenyamanan perempuan itu saat makan nanti.
"Ngomong-ngomong aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu yang tadi, aku sudah punya perempuan yang aku cintai, tapi jika tawaran untuk menjadi kakak ke dua mu ada, aku tentu bersedia," ucap Kenan pelan.
Audy tersenyum cerah, "Baiklah, Kak Kenan!"
Kenan terkekeh, lengannya terjulur mengelus pucuk kepala Audy.
...•••...
Audy melangkah pelan ke arah dua insan yang sepertinya tengah bersitegang. Audy tahu, pasti pembahasan mereka menyangkut dirinya.
"Halo calon mantannya Aga," sapa Audy begitu lugas serta ramah.
__ADS_1
Anggita kontan memandang Audy tajam. "Kenapa kamu melakukan ini Audy? Kamu tahu bukan bahwa Auriga adalah milikku."
Audy menggandeng lengan Auriga pelan, dan si empu tak mungkin menolak, Restoran adalah kawasan Tanujaya, akan banyak alat bukti yang bisa dipergunakan Audy, jadi sudah jelas siapa yang jauh lebih berkuasa di sini. Terlebih Auriga tahu betul selicik apa Audy.
"Kamu rupanya sudah mengerti, diam atau perempuan jelek itu akan menderita, misal; dengan mempercepat tanggal pernikahan kita," bisik Audy dengan raut yang dibuat semenyebalkan mungkin, tentunya agar Anggita kesal setengah mati.
Auriga mengepalkan tangannya, tapi hanya sebatas itu. Dia tak mampu mengelak bahkan memberikan penjelasan pada Anggita.
"Apa ini? Kenapa kamu tidak menolak, Ga?"
"Sudah jelas bukan, bahwa Aga menginginkanku juga. Satu hal lagi, sejak awal dia milikku, dan kamu yang merebutnya dariku!" Pancaran mata Audy berubah tajam.
"Bahkan setelah hari ini dan seterusnya hanya aku yang bisa melakukan ini..."
Dan satu kecupan mendarat tepat di pipi Auriga. Anggita terlihat mematung, wajahnya pucat pasi, bahkan perlahan matanya mulai memerah.
"Kamu tega, Ga," ucapnya sebelum melenggang dengan air mata yang nyaris jatuh. Audy memutar bola matanya, merasa jengah dengan tingkah Anggita yang ternyata masih suka memainkan drama.
Auriga melepaskan lengan Audy. Meskipun gerakannya lamban, tapi raut wajah Auriga tampak diliputi amarah.
"Wanita sialan!" desis Auriga. Auriga berlalu begitu saja. sepertinya pria itu berniat menyusul sang kekasih.
Audy berdiri kaku, lalu tiba-tiba dia tertawa, bahkan hingga terbahak-bahak. Jemarinya tampak mengelap air mata yang jatuh membasahi ke dua pipinya tanpa permisi.
"Aku?"
"Sialan?"
"Waw!"
...•••...
Setelah menenangkan diri beberapa menit, Audy pun memilih meninggalkan balkon Restoran yang juga merupakan bagian favoritnya, tempat yang juga dijadikan Auriga sebagai tempat berbicara dengan Anggita tadi.
Audy melangkah pelan menuju pintu keluar, dia terdiam saat melihat Auriga yang terlihat masih berdebat dengan Anggita di bahu jalan, tapi itu bukan fokusnya.
Audy sontak menjatuhkan tasnya lalu berlari kencang ke arah ke duanya, seperti kilat, semua terjadi begitu cepat. Auriga dan Anggita terjerembab cukup kuat sedangkan Audy tampak terbaring kaku dengan darah yang bersimbah ruah.
...•••...
Aku terlalu mencintaimu hingga membayangkan kehilanganmu saja aku tak mampu. —•Audy Maharani Tanujaya
__ADS_1