Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 34. KEBENERAN


__ADS_3

Auriga menyadari jika Audy sedang menghindarinya, hanya saja Auriga tidak tahu apa alasan wanita itu melakukannya. Setelah keluar dari rumah sakit Audy jadi sulit untuk ditemui. Bahkan label sebagai koki pribadi wanita itu pun tak membuahkan hasil. Audy lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya. Rutinitas seperti sarapan, makan siang, dan makan malam Audy lakukan di kamar. Keluarga Tanujaya pun memaklumi karena memang kondisi Audy yang belum pulih sepenuhnya.


Orang-orang mungkin tidak keberatan, tapi tidak dengan Auriga. Dia rindu wanita itu. Auriga ingin berbincang dengannya, atau mungkin jika hal itu terlalu berlebihan Auriga sekadar ingin melihat wajahnya tanpa kata.


Malam ini Auriga tetap datang ke kediaman Tanujaya untuk membuat hidangan makan malam yang nantinya akan di antar ke kamar Audy, tentu saja bukan olehnya, tapi Alona. Audy hanya bersedia berinteraksi dengan Alona.


"Nak, sudah larut, bukankah lebih baik kamu bermalam di sini?" Suara lembut milik Anindya mengalun mengembalikan kesadaran Auriga yang sempat berlarian tanpa arah.


Auriga yang sedari tadi sibuk dengan segala kecamuk pikirannya dengan tangan yang sibuk bekerja mencuci peralatan bekas memasaknya tampak tersentak.


"Eh Tante ... Aduh, Aga sampai lupa waktu, maaf, ya Tan..."


Anindya tersenyum maklum. "Kamu boleh selesaikan dulu, nanti temui Tante di ruang tamu ya, ada yang ingin Tante bicarakan," ujar Anindya lembut. Auriga mengangguk mengiyakan.


Auriga menyempatkan waktu untuk memeriksa jam di ponselnya, tangannya yang basah dia lap asal ke apron yang dipakainya.


Pantas saja Anindya menyuruh pria itu menginap saja rupanya Auriga sudah menghabiskan waktu begitu banyak. Bahkan kini rasa kebas di telapak tangannya baru terasa. Auriga pun cepat-cepat menyelesaikan aktivitasnya.


Auriga tadi sempat sedikit memaksa untuk membereskan sendiri peralatan bekas memasaknya, dengan alasan dia bisa berlama-lama berada di kediaman Tanujaya yang mana berharap mendapati kemungkinan bisa melihat Audy. Namun, sudah nyaris tengah malam wanita itu tak kunjung menampakan diri.


Rasanya rindu dihatinya terlalu meluap, yang mana membuatnya lupa dengan segala hal yang berjalan di sekitarnya, termasuk detik yang mulai berpindah menjadi jam.


...•••...


"Ga, terima kasih, ya, kamu sudah mencintai putri tante dengan sangat baik."


"Kamu begitu sabar menghadapi segala hal yang terjadi pada Audy, makasih ya."


Auriga terenyuh diam-diam. Apakah Sang Ibunda wanita yang dicintainya itu akan tetap mengatakan kalimat yang sama jika tahu bahwa pria di depannya itu pernah melukai putrinya dengan sangat tanpa perasaan?

__ADS_1


"Aga merasa sangat beruntung bisa mengenal Ody, tante."


Anindya tersenyum tulus.


"Tante tidak tahu apa yang terjadi dengan Audy, tapi sepertinya sekarang Audy sedang butuh waktu. Kami pun belum bisa mengajaknya bicara, Aga masih bersediakah untuk menunggunya?"


Auriga tidak mungkin menjawab tidak. "Tentu, tante. Berapa lama pun jawaban Aga akan selalu bersedia," pungkasnya begitu yakin...


"... karena kini hidup tanpa Audy adalah kehancuran." sambungnya dalam hati.


Anindya terharu mendengarnya. Dalam benaknya dia terus bergumam bahwa putrinya itu beruntung bisa dicintai dengan hebatnya oleh pria tampan di depannya itu.


"Audy tidak salah memilih orang yang dicintainya, cintanya tidak sia-sia ternyata. Kamu tahu? Audy itu sudah bucin sama kamu dari dulu tahu," celoteh Anindya dengan pembahasan yang lebih energik dari sebelumnya.


"Kamu tau ngga? Audy itu dulu suka sekali dengan daun seledri, tapi hari itu tiba-tiba saja pas tante masak sayur sop Audy bilang ngga mau pake daun seledri. Tante heran, yaudah tante tanya alasannya kenapa ... kamu tahu jawabannya apa?"


Auriga menyimak dengan antusias, walaupun nyatanya mimik yang ditampilkan terlihat kalem. Kini semua tentang Audy selalu penting. Bahkan dari bagian hal terkecil sekalipun.


Anindya tentu akan selalu ingat dengan perkataan putrinya waktu itu, soalnya ekspresi Audy waktu itu sungguh sangat menggemaskan. Anindya tidak rela jika harus melupakan mimik putrinya yang terlampau lucu kala itu.


Auriga kontan mematung. Jadi hal itu yang menjadi alasan Audy tidak menyukai daun hijau berbentuk seperti daun stroberi itu? Audy tidak pernah bilang, selama ini yang Auriga tahu Audy sebatas tidak menyukai saja.


"Terus ada lagi, waktu itu tante inget banget. Pulang sekolah dia senyum-senyum terus, lebih riang dari biasanya pokoknya. Tante ngga nanya cuma waktu itu Audy yang bilang, katanya dia senang banget habis di kasih bunga sama Aga, dia mau rajin belajar soalnya habis di kasih bunga sama kamu ... dia kasih lihat ke tante bunganya, ternyata bunganya itu hasil karya tangan kamu ya. Bagus tau, kamu sepertinya memang punya tangan ajaib ya? Nah dari situ Audy mulai suka banget sama bunga mawar putih, lho, pokoknya di setiap acara kelulusan dia selalu minta di bawain buket bunga mawar putih, bucin banget, kan dia?"


Auriga tersenyum kecil. Namun, dalam hati pria itu tidak bisa tidak terharu. Sungguh, Audy selalu punya cara yang unik dalam menghargai dirinya. Kenapa wanita itu manis sekali? Bukan hanya senyumnya, tapi juga sikapnya.


"Tapi hari itu ada momen yang bikin Audy sempat marah besar pada tante dan om, Waktu itu Audy sempat bilang katanya hari itu dia punya janji temu sama kamu ... jauh-jauh hari Audy sudah memberitahu kami, dan kami pun tidak keberatan terlebih Audy mau bertemu sama kamu, tapi hari itu tante sama om malah minta izin pergi dulu menghadiri pernikahan saudara, yang mana malah kejebak hujan besar, jadi kami pulang sangat telat..."


Raut wajah Anindya tampak sendu seolah masih bisa merasakan kekecewaan yang dirasakan putrinya waktu itu.

__ADS_1


"Sebelumnya Audy merengek untuk minta di antar Abangnya, tapi tante sama om tidak mengizinkan dan menjanjikan bahwa kami yang akan mengantarnya langsung niatnya sekalian mau silaturahmi juga sama orang tua kamu..."


"Audy marah besar, benar-benar marah. Katanya dia marah bukan karena kami yang telat, tapi dia marah karena kami yang tidak bisa menepati janji, dia menangis semalaman karena dia pun merasa kecewa dengan kami yang tidak bisa menepati janji, bagaimana dengan kamu, kamu pun pasti bakal kecewa katanya."


"Dan semenjak hari itu Audy tidak pernah mau diantar kami lagi, selalu Abangnya yang antar..."


"Eh kamu tau ngga, Ga? Pas hari pertama dia mau ketemu kamu lagi, dia sampai siapin hadiah khusus tahu, tapi waktu itu dia sedih katanya gak bisa ketemu kamu jadi gak bisa kasih langsung hadiahnya ... Audy bilang dititipin ke satpam komplek katanya."


Fokus Auriga yang sedari tak pernah goyah mendadak tercerai berai saat mendengar penuturan kalimat terakhir Anindya.


"Ke Pak Agung bukan, tan?"


"Iya. Bahkan waktu itu Audy cerita—"


Auriga sudah tak bisa mencerna apa yang dikatakan Anindya, kini fokusnya terpatri pada informasi yang baru diketahuinya.


Auriga kontan berdiri. Alam sadarnya memimpin untuk lekas mengunjungi komplek perumahannya dulu.


"Tante terima kasih untuk yang tante ceritakan, yang tante ceritakan barusan sungguh berarti buat Aga ... Aga pamit ya tante, ada hal yang harus Aga lakukan."


Belum juga Anindya bereaksi Auriga sudah lebih dulu menyalami tangannya.


Sedangkan Auriga pergi dengan membawa jantung yang berdentum keras.


Audy tidak pernah benar-benar mengingkari janjinya. Justru dirinya yang telah jahat pada wanita itu. Sungguh Auriga menyesal, dia menyesal karena selepas kejadian Audy tidak pernah datang dirinya memutuskan untuk tidak mendatangi tempat pertemuan yang pernah disepakati ke duanya kala itu.


Ternyata justru dirinya lah yang telah mengingkari janji yang dibuatnya. Parahnya bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.


...•••...

__ADS_1


Terkadang, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hal itu tidak baik. Kamu yang mungkin saat ini terluka bisa jadi telah melukainya lebih dalam. Dia yang terlihat biasa saja bukan berarti lukanya tidak apa-apa melainkan karena rasa tulusnya yang besar tak terkira.


...•••...


__ADS_2