Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 33. RAPUH


__ADS_3

Saat Auriga kembali ternyata ruangan sudah tak lagi sepi, di sana Auriga dapat melihat dua sahabatnya serta Alona yang tampak sedang mengupas jeruk untuk Audy.


Auriga melangkah perlahan. Namun, ternyata kehadirannya tetap disadari. Untuk beberapa saat semua menjadi hening. Netra hitam pekat miliknya langsung terkoneksi dengan netra kopi cokelat milik Audy. Kontan setelah sepersekian detik mata ke duanya bertemu jantung Auriga pun langsung berdebar kencang.


Apakah Auriga salah mengartikan? Tapi, rasanya terlalu jelas.


Auriga dapat melihat binar itu, binar kebahagiaan di saat Audy melihat dirinya dulu. Auriga mendapati binar-binar yang penuh cinta untuknya di dalam mata wanita itu.


Waktu seakan berjalan lambat, Auriga perlahan mendekat ke arah Audy. Tepat saat sudah Auriga berdiri di depan Audy, wanita itu mengatakan hal yang cukup memberikan gelenyar kecewa pada hatinya.


"Oy, Ga, apa kabar? Baru kelihatan lagi lo ya."


Auriga tetap tersenyum. Setidaknya Audy masih bisa mengingatnya kali ini.


"Saya baik, kamu?" tanya Auriga berusaha mengusir sakit yang perlahan mulai menjalar di hatinya. Kenyataan tentang kemungkinan Audy akan melupakan separuh kenangan mereka secara permanen sukses memberikan rasa sakit yang tiada terkira dihatinya itu.


"Mau ngga?" tawar Audy dengan mengulurkan jeruk yang sudah di kupas oleh Alona barusan. Auriga tidak menjawab, tapi tubuhnya membungkuk untuk menerima suapan dari Audy.


"Manis," komentar Auriga.


"Kayak gue, iyakan?"


"Iya," jawab Auriga mantap yang justru malah membuat suasana canggung. Audy pun tampak tersenyum canggung, dia terlihat mengulurkan tangannya lalu mengusap pucuk kepala Auriga lembut.


"Bayi Beruang gue udah gede ternyata," tutur Audy yang berniat mengalihkan kecanggungan yang ada.


"Lo lucu, deh, gue yang kecelakaan malah lo yang pingsannya lama. Lo syok banget, ya?" Ada raut khawatir teramat sangat di binarnya.


Auriga mengangguk. Raut wajah pria itu mendadak berubah menggemaskan. Audy pun tanpa sadar sudah mendaratkan jemarinya di pipi pria itu lalu menjawilnya gemas.


...•••...


"Kayaknya gue pengen cari angin, deh, sumpek di kamar mulu," celoteh Audy yang langsung mendapat atensi Auriga, Kenan, dan Alona.


"Nody, mau saya temenin?" Alona tentu tidak keberatan untuk menawarkan diri terlebih dahulu.


Audy menggeleng. "Gue mau sama dia." Arah telunjuknya tepat menunjuk ke arah Kaivan yang sejak awal kehadirannya hanya sebagai cadangan. Pria itu hanya duduk dan fokus dengan game di ponselnya.

__ADS_1


Auriga tentu menolak. "Sama saya aja, dia lagi main game."


Audy menggeleng. "Gue lagi pengen cari angin tanpa siapa pun sebenarnya, tapi gue gak bisa juga sendirian, karena di ruangan ini cuma dia satu-satunya yang ngga bakal anggap gue ada, jadi gue pengen sama dia aja. Lo masih musuh gue, kan, bocah?"


Meskipun tidak lumrah, tapi alasan Audy cukup masuk akal, yang mana berhasil mengantongi izin Auriga.


"Kalau begitu saya mau bicara dulu sebentar sama Kaivan."


Auriga pun keluar lebih dulu yang selanjutnya di susul oleh Kaivan.


...•••...


Taman rumah sakit ternyata tidak buruk juga. Rasanya cukup menenangkan. Audy cukup nyaman berada di sana.


Ke dua mata Audy tampak fokus memandang bentangan langit sore yang selalu berhasil menawan hatinya dengan sesekali angin sore menerpa wajahnya halus.


Melihat langit Audy jadi teringat Auriga. Terdapat beberapa momen yang berkesan antara senja dan mereka.


Perihal Auriga tiba-tiba saja ingatannya terlempar pada kejadian siang tadi.


"Kai, kamu marah sama aku?"


Apakah ada kemungkinan dirinya salah dengar? Namun, sungguh Kaivan mendengarnya sangat jelas.


"Kai, apakah kamu masih benci sama aku?"


Seketika Kaivan menjatuhkan ponselnya. Dia terkejut bukan main.


"Lo?!"


"Aga pasti seneng kalau tahu." Kaivan tampak mengambil ponselnya dengan tangan yang cukup gemetar. Rasanya dia tak sabar memberikan kabar gembira untuk sahabatnya itu. Dirinya saja sampai gemetar karena terkejut apalagi Auriga, pasti dia akan senang bukan main.


"Engga. Jangan Kai! Jangan kasih tau Aga."


Kaivan memandang Audy heran. "Kenapa? Aga pasti seneng, Dy."


Audy menggeleng menolak keras usul Kaivan. Apakah Kaivan tidak cukup mengerti dengan alasan Audy bersikap seperti biasanya pada Auriga tadi?

__ADS_1


"Aku gak tau, Kai. Di satu sisi aku seneng bisa ingat semuanya, tapi di sisi lain hati aku sakit, aku inget semua penolakan Aga, aku inget kejadian kecelakaan yang pertama waktu itu ... dan aku makin sakit pas tahu mungkin saja Aga bersikap baik sama aku karena rasa bersalahnya," tutur Audy dengan suara serak.


Audy tampak mengusap kasar setetes air matanya yang meluncur bebas.


Kaivan memandang Audy dengan pandangan lemah. Untuk pertama kalinya Kaivan memandang Audy dengan sisi yang berbeda. Dulu Kaivan hanya melihat sisi wanita itu yang arogan dan egois, tapi kali ini Kaivan merasa terenyuh melihat Audy yang begitu rapuh.


Audy kini terlihat sedang mati-matian menahan tangisnya,, yang bahkan mau sebaik apapun wanita itu halau tetap meluncur bebas.


"Kai, maaf aku pengen nangis," ujar Audy terdengar sedikit gemetar. Audy mengulurkan tangannya dengan kepala yang tertunduk.


Kaivan melihat sebuah tisu.


"Kalau kamu gak suka denger aku nangis kamu boleh pakai tisu ini buat menyumpal telinga kamu," lanjutnya menjawab kebingungan Kaivan terhadap aksi Audy barusan.


"Nangis aja, gue gak papa."


"Terima kasih, Kai." Nada ketulusan tersirat sangat dalam di setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu. Kaivan tertegun mendengarnya.


Dan benar saja, setelahnya suara tangis Audy pun menggelegar. Bahkan terdengar begitu nyaring di tengah-tengah taman yang tampak sepi.


Audy menumpahkan tangis yang sudah ditahannya semenjak dia tersadar dari tidur panjangnya. Melepaskan segala belenggu yang menyesakan dadanya.


Sedangkan Kaivan dia hanya duduk di seberang Audy dengan pandangan lurus. Dalam hati Kaivan bergumam...


Apakah selama ini dirinya terlalu berlebihan menilai wanita itu?


Apakah selama ini dirinya terlalu abai dengan segala hal baik yang ada pada wanita itu?


Kenapa dirinya baru menyadari bahwa Audy punya sisi tulus yang luar biasa.


Terlebih Kaivan akui selain sisi itu Audy juga memiliki senyum yang menawan.


Kaivan menggeleng. Dia tidak boleh jatuh cinta pada wanita itu bukan?


Kaivan tidak mau menjadi orang jahat untuk yang ke dua kalinya. Terlebih saat tadi sebelum dirinya pergi mengantar Audy ke tempat itu, Auriga sempat berpesan.


"Kai, gue minta maaf untuk kejadian hari itu. Kata-kata gue terlalu kasar waktu itu. Dan buat lo, bagaimana pun keadaan hubungan gue sama Anggita, gue rasa perilaku elo ngga bisa dibenarkan. Kai, gue udah maafin elo, tapi untuk Audy gue beneran gak mau kasih lo jalan buat bisa dapatin dia. Gue bilang kayak gini, gue takut lo tiba-tiba suka Audy, dan melakukan hal serupa seperti sebelumnya karena kalau tentang Audy kali ini gue gak bakal bisa diam aja..."

__ADS_1


"Mungkin di waktu ini, di detik ini, elo gak bakal paham, tapi setelah 30 menit, atau bahkan satu menit pertama lo sama Audy gue rasa lo bakal menemukan alasan betapa Audy sangat layak untuk dicintai ... Audy mudah banget bikin orang kagum terus jatuh cinta sama dia. Dan kalau pun nantinya lo kagum dan jatuh cinta sama Audy, gue mohon, ya, lo mundur aja dan jangan pernah kasih tau gue."


...•••...


__ADS_2