Maaf Karena Aku Mencintaimu

Maaf Karena Aku Mencintaimu
BAB 12. 7 NOVEMBER


__ADS_3

Karena suasana hatinya yang buruk, Audy memilih memulangkan para dayangnya dan Alona lebih awal dari yang sudah direncanakan. Dia ingin menikmati waktu sendiri. Susunan acara yang sudah dirancangnya semalam pun hanya menjadi wacana.


Audy terus menyusuri jalanan tanpa tujuan. Yang pasti dia merasa tenang saat angin menyelusup lewat jendela mobil yang terbuka lalu menerpa kulit wajahnya halus seraya menerbangkan beberapa helai rambutnya pelan.


Alunan lagu Shoti berjudul LDR terdengar mengisi keheningan. Audy hanya memutar lagu acak, tanpa sengaja dia menemukan lagu yang ternyata cukup nyaman saat didengarkan lebih lanjut, hingga membuat dia terus mengulangnya. Memang ada beberapa penggalan kalimat yang tidak dirinya pahami, tapi itu sama sekali tidak mengganggunya.


I don't want love (I don't want love)


If love isn't from you (If love isn't from you)


...


You're always on my mind


That's how much I care


I can't think of a time


That you weren't there


I know that I'd be lying


If I didn't want you here


'Cause baby, I'm in love


And why can't you just live near


Audy tertawa geli saat menyadari keadaanya yang sangat melankolis. Tanpa sadar otaknya merancang adegan-adegan romantis ala drama.


"Apa gue jadi penulis aja?"


"Ah—ngga, gue gak pandai merangkai kata, ngomong aja masih suka ngang-ngeng-ngong."


Audy tampak menggerakkan ke dua bola matanya, mencoba mencetuskan bidang keahlian yang akan ditekuninya. Namun, tidak ada yang terlintas. Pandanganya kembali tergantikan pada jalanan.


Audy pun memilih meminggirkan mobilnya, ingin fokus saja menikmati nikmat Tuhan yang disampaikan-Nya lewat ornamen alam. Angin yang masih mendayu-dayu tampak serasi di satupadukan dengan senja. Audy tampak melihat-lihat suasana sekitar yang memang tempatnya itu dikenal ramai jika diwaktu menjelang matahari terbenam.


Banyak muda mudi yang sekadar duduk sembari menikmati jajanan kaki lima atau para orang tua yang menemani anak-anaknya bermain. Taman di tengah-tengah kota memang banyak diminati warga sekitar untuk sekadar destinasi singkat.


Audy memandang jauh ke arah dua anak kecil dengan dua jenis kelamin yang berbeda, yang tampak nyaman dengan aktivitas masing-masing tepat di bawah pohon rindang. Yang laki-laki terlihat hanya sibuk membaca buku di tangannya sedangkan yang perempuan terlihat sibuk memakan jajanannya dengan tangan mungil yang serius mencoret cat warna ke sebuah kanvas bergambar.


Hati Audy terenyuh. Ada rasa sakit dan haru yang hadir secara bersamaan. Audy bergeming cukup lama, dia mencoba mencari rasa yang dirasakannya. Audy mencoba menggali ingatan yang mungkin saja berkaitan dengan apa yang dilihatnya. Namun, tidak ada. Semuanya hitam. Audy sama sekali tidak mengingatnya.


Audy tahu Auriga adalah teman masa kecilnya. Namun, kenangan yang mampu diingatnya hanya sampai pada kilas balik tanpa makna.


Yang Audy ingat sebatas Auriga adalah anak yang kebetulan ditolongnya. Lalu, karena rumah mereka searah, mereka jadi sering menghabiskan waktu bersama untuk bermain. Menurutnya itu adalah hal yang wajar, tidak ada yang berarti bukan?


Semakin lama Audy memandang, rasanya semakin aneh. Audy menyentuh dada sebelah kirinya, tepat di mana jantungnya tinggal dengan nyaman di sana. Debarannya tidak beraturan dan iramanya terdengar memilukan.


...•••...

__ADS_1


Auriga terlihat memandang kosong. Anak laki-laki berusia 11 tahun itu tidak mau percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Meskipun dirinya masih sangat kecil untuk memaknai sebuah perpisahan, tapi dia tetap merasakan enggan untuk ditinggalkan.


Audy Maharani Tanujaya, malaikat pelindungnya sekaligus kakak kelasnya itu kini sedang duduk di sampingnya seraya membawa kabar yang tidak pernah dia bayangkan.


Audy akan pergi meninggalkannya.


"Kalau aku minta kamu tetap tinggal, gimana?" Setelah sekian menit suaranya tercekat kini Auriga berusaha mempertanyakan hal yang sejak awal jawabannya hanya ingin kata 'bisa'.


Audy terdiam. Auriga pun tahu jawaban yang diinginkannya tidak akan pernah bisa menjadi jawaban gadis itu.


"Aga, aku janji aku bakal kembali."


Auriga bergeming. Bola matanya berlarian, dia sedang berusaha mati-matian agar air mata yang ditahannya tidak tergelincir. Namun, rasanya terlalu menyesakan. Sungguh.


"Aku bakal kembali, Aga. Aku mungkin gak bisa kasih tahu kapan waktunya, tapi yang pasti aku bakal kembali."


Auriga menolehkan kepalanya, memandang Audy lamat-lamat. Netra hitamnya tampak sendu. Mata yang biasanya tanpa gelombang, kini tampak terbaca hanya dengan sekali pandangan. Auriga sedang kesakitan.


Audy yang melihatnya tentu merasa iba, tapi dia tidak punya kuasa untuk mengatakan akan tetap tinggal. Ke dua orang tuanya memilih untuk pindah. Dan dia tidak bisa mencegahnya. Alasan ke dua orang tuanya untuk pindah pun sangat masuk akal.


"Apa ada jaminan ketika kamu kembali, kamu masih menjadi Audy yang aku kenal?"


Audy mengangguk pasti. "Aku bisa jamin itu."


Auriga menghela napas berat. "Baiklah. Kamu mau janji satu hal?"


"Di tanggal 7 November kita harus selalu bertemu, setidaknya satu tahun sekali, apa bisa?" sambungnya.


Audy tanpa ragu mengangguk. Dia tampak mengulurkan jari kelingkingnya yang langsung mendapat sambutan.


Auriga yang biasanya tak banyak bicara, hari ini tampak mendominasi perbincangan.


"Aku, Audy Maharani Tanujaya berjanji akan selalu menghampiri Auriga Prayoga di bawah pohon ini. Tepatnya di tanggal 7 November."


"Aku juga, aku akan selalu menunggu kamu di bawah pohon ini."


Ke duanya saling berikrar janji di bawah rindangnya pohon dengan senja sebagai penghias latar. Senyuman terbit di birai ke duanya. Benar-benar suci dan lugu, murni dan tulus.


...•••...


Auriga yang melihat Audy yang baru saja turun dari mobil terlihat menghampiri wanita itu dengan cukup tergesa. Audy yang hendak melangkah ke dalam rumah kontan terdiam saat melihat raut wajah Auriga yang tampak khawatir? Audy tidak yakin.


"Kamu dari mana saja?"


"Kenapa kamu engga angkat telepon saya?"


"Kamu baik-baik aja? Apa ada yang luka?"


Audy mengembuskan napasnya, dia memutar ke dua bola matanya malas. Auriga dan kerempongannya.


"Ga, lo bisa gak nanya-nanyanya satu-satu. Gue pusing dengar lo ngoceh."

__ADS_1


"Kepala kamu pusing? Apakah baik-baik saja?"


Audy memandang raut wajah khawatir Auriga santai. Lalu tanpa permisi dengan beraninya dia memencet pucuk hidung mancung Auriga yang sontak membuat pria itu terdiam.


"Jawaban pertama, gue habis jalan-jalan aja. Gabut."


"Jawaban ke dua, kalau yang lo maksud telepon dari nomor yang gak terdaftar di kontak gue ... maaf, gue kira tukang tipu."


"Jawaban ke tiga, gue baik-baik aja. Ada lagi?"


Auriga mengambil jemari Audy yang sampai detik tadi masih bertengger di hidungnya.


"Saya senang dengar kamu baik-baik saja. Sekarang simpan nomor itu, dan langsung angkat ketika saya menelepon kamu. Ingat, harus selalu di dering pertama."


Audy berdecak tak percaya. "Wah, kacung kurang ajar emang, ya, elo tuh. Di mana-mana majikan yang harusnya nyur—"


"Saya calon suami kamu," sela Auriga.


Audy dengan kelancangannya. Tanpa aba-aba dia menempeleng kepala Auriga yang membuat pria itu sedikit terhuyung.


"Kenapa kamu pukul saya?" Meskipun kesakitan pria itu tetap menampilkan ekspresi datar.


"Pake nanya, lagi."


"Heh Dedek lo tuh udah punya cewek, pake ngaku-ngaku jadi calon suami gue lagi," omel Audy.


Audy tentu masih ingat dengan pembicaraannya bersama wanita anggun pemilik wajah jelita di mall siang tadi.


"Anggita. Cewek lo, kan?"


Auriga bungkam. Tidak. Bukan. Bukan fakta itu yang membuatnya terkejut melainkan fakta bahwa Audy yang tampak biasa saja saat menyebut nama wanita lain tanpa ada raut yang berarti.


"Gue tahu lo masih bocah tapi, kalau masalah soal perasaan jangan pernah main-main. Gue benci manusia gak bertanggung jawab, jadi jangan pernah lo bilang kayak gitu lagi di saat lo punya orang spesial. Sekalipun itu cuma becandaan."


Auriga masih tetap bungkam. Audy mengartikan diamnya Auriga adalah sebagi bentuk sebuah pemahaman. Tangan Audy terulur, kakinya berjinjit, dia berusaha menggapai pucuk kepala Auriga lalu mengacak rambut pria itu gemas. Layaknya perlakuan seorang kakak pada seorang adik.


"Gue capek, pengen istirahat. Gue masuk, ya," pamit Audy meninggalkan Auriga dengan kegamangan yang nyata.


Audy benar-benar telah berhenti?


Apakah Audy tidak akan pernah kembali lagi?


Apakah itu artinya dirinya telah dibebaskan sepenuhnya?


Auriga sudah menemukan jawabannya. Namun, kenapa justru dirinya malah menyangkalnya?


Rasanya tidak nyaman. Auriga benci situasi ini. Auriga tidak suka dengan fakta Audy benar-benar telah menghilangkan perasaanya hingga tandas.


Jika saja waktu itu Auriga memilih membiarkan Audy memasuki kehidupannya sekali lagi, apakah Audy yang hari ini akan ada?


Sialan. Bahkan kini Auriga benar-benar telah menjadi manusia tidak tahu diri sekaligus berengsek.

__ADS_1


...•••...


Aku rindu. Bisakah kamu bersikap seperti dulu?—Auriga Prayoga


__ADS_2