
"Duduk di sana saja, jangan ganggu aku," Nicholas menunjuk sofa panjang yang jauh dari meja kerjanya.
Zahra berjalan mendekati sofa dengan raut cemberut dan bibir yang dimanyunkan. Sedang Nicholas masa bodoh dengan Zahra yang terlihat kesal.
"Lex, bawa berkas kemarin ke ruangan saya sekarang," ucap Nicholas melalui telepon.
Zahra makin kesal karena kakaknya mengabaikan kehadiran dirinya.
Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu dan Alex masuk membawa setumpuk berkas. Wajah kantuknya begitu kentara.
Zahra yang melihat kantung mata Alex yang hitam legam hanya melongo, tak menyangka kakaknya sekejam itu kepada Alex. Alex langsung meletakkan semua berkas tanpa sepatah kata pun.
Dengan raut lesu, Alex hendak berlalu pergi, "Bagaimana wawancaranya?"
Alex mengehela napas kasar, "Mana aku tahu bos, kan aku baru selesai mengerjakan berkas-berkas itu dari semalam."
"Baiklah, istirahat sana."
Zahra perlahan mendekat ke meja kerja Nicholas. Dengan tatapan kagum dan heran miliknya yang tajam terus menatap Nicholas.
"Waaahhh, kakak benar-benar membuatnya begadang tadi malam? Pantas saja perusahaan tak ada kemajuan sedikitpun. Pegawainya saja tertekan begitu."
"Anak kecil diam saja, itu kan sudah tugasnya. Lagi pula dia aku gaji," sahut Nicholas tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun.
"Ah! Aku mengerti sekarang, grup Santoso sekarang hancur pun karena ulahmu bukan?"
"Alex yang melakukannya, bukan aku. Tanya saja dia," sahut Nicholas enggan mengaku.
"Sudahlah, pergi sana. Aku sedang tidak ada waktu untuk bermain denganmu," sambung Nicholas.
Zahra berlalu kesal dengan menghentakkan kakinya. Sepatu hak tinggi dan lantai yang beradu membuat Nicholas ikut kesal karena terlalu berisik.
Baru saja Zahra memegang hendel pintu, Nicholas kembali angkat bicara.
__ADS_1
"Jika Nona Zahra tak ingin dipecat, sebaiknya nona harus sudah sampai di kelas 15 menit lagi," celetuk Nicholas.
Mendengar celotehan Nicholas, mata Zahra langsung membulat ketika melihat jam tangan mungil yang setia mendekap pergelangan tangan kirinya. Zahra langsung berlari ke lobby dan mengendarai mobil sportnya dengan ugal-ugalan.
Universitas dibawah naungan ZN Group memang seketat itu. Tidak peduli itu dosen atau mahasiswa, tidak ada toleransi keterlambatan. Namun, dengan peraturan yang demikian membuat universitas tersebut menjadi salah satu universitas terbaik dan paling disiplin.
"Sial! Kalau bukan gara-gara peraturan gila yang dibuat Nicholas aku tidak akan mengalami hal ini," gerutu Zahra sambil terus melajukan mobilnya dengan gila.
Meskipun Zahra tengah terburu-buru diburu oleh waktu dan mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan, ia malah jadi semakin memperhatikan jalan. Tentu saja karena Zahra masih menginginkan nyawanya.
Setelah kepergian Zahra, Nicholas membuka akses CCTV di ruang wawancara. Ia penasaran dengan penampilan seorang Hanna ketika diwawancarai.
Sudut bibir Nicholas perlahan naik membentuk senyuman. Mendapati Hanna yang selalu arogan didepannya tampak begitu pandai bernegosiasi.
"Pak Hendra, setelah wawancaranya selesai tolong langsung ke ruangan saya."
Pak Hendra langsung menyahut diujung telepon.
Senyum sumringah terpatri di bibir tipis Hanna. Hanna menyambut tangan Pak Hendra dengan senang hati dan juga 2 pewawancara lain. Meski salah satu diantara mereka berdua tampak judes dan tak menyukai Hanna, Hanna harus tetap profesional.
Setelah selesai, Hanna mencoba menghubungi Zahra untuk mengajaknya makan siang bersama. Namun, mendapati panggilannya yang tak kunjung dijawab membuat Hanna sedikit kesal.
"Zahra ini kemana sih," gerutu Hanna.
Akan tetapi, perut Hanna yang sudah minta diisi membuatnya melangkah memasuki sebuah restoran di dekat perusahaan.
Melihat ada restoran barbeque, perut Hanna langsung meminta Hanna untuk masuk. Perut yang sudah meronta-ronta minta diisi membuat Hanna tidak memperhatikan jalan dan menabrak seorang. Untungnya, Hanna ditangkap oleh orang tersebut sehingga Hanna tak jatuh ke lantai.
"Ma- loh! Kamu?" pekik Hanna mendapati siapa yang ia tabrak.
"Hi Bu Hanna, kita bertemu lagi."
Hanna mengerjapkan mata dan langsung melepaskan diri dari pelukannya.
__ADS_1
"Ma-makasih Zicho."
Zicho yang melihat Hanna begitu kikuk malah tertawa terbahak-bahak membuat semua orang yang ada di restoran menatap ke arah mereka.
Pipi Hanna merona malu. Tapi, di mata Zicho Hanna tampak sangat menggemaskan ketika sedang malu begitu.
"Ah, maaf. Kamu mau makan siang? Dengan siapa?"
Hanna mengangguk, " Sendiri."
Zicho menarik tangan Hanna menuju ruang VIP restoran dan meminta pelayan untuk menghidangkan makanan dan tak boleh ada pelanggan lain yang masuk.
Restoran yang ternyata milik Zicho ini ternyata begitu besar dan mewah. Melihat tampilan ruangan yang terlihat mewah tersebut membuat Hanna khawatir tak bisa membayar makanannya.
"Zi-Zicho, kurasa aku tak bisa makan disini. Makanan disini terlalu mahal untukku," ucap Hanna mencoba mengajak Zicho keluar dari restoran tersebut.
Hanna belum tahu jika restoran itu milik Zicho. Melihat ekspresi khawatir Hanna, Zicho hanya diam, duduk dan menikmati minuman yang sudah dihidangkan.
Hanna semakin khawatir, tapi Zicho tak bergeming sedikitpun.
"Khawatir sekali, aku yang mentraktirmu hari ini. Duduklah," ucap Zicho dengan santainya.
"Lagi pula, restoran ini kan..." sambung Zicho terputus oleh suara ponselnya yang berdering.
"Sebentar, kamu nikmati saja hidangannya."
Hanna hanya bisa pasrah mulai menikmati hidangan yang sudah tersaji dengan tenang.
"Wah wah wah, tikus dari mana ini?" ucap seorang wanita dengan dandanan menor mendekati Hanna.
Hanna yang tak tahu jika yang dimaksud wanita itu adalah dirinya, ia terus saja menikmati makanan yang tersaji di depan mata.
"Hei, aku bicara padamu!" teriak wanita itu menjambak rambut Hanna.
__ADS_1