Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 43


__ADS_3

"Zahra," panggil Nicholas.


"Apa! Kau masih ingat padaku?"


Nicholas menghela napas ketika mendengar nada bicara Zahra yang meninggi. Meski begitu, ia tetap sabar menghadapi adiknya yang ganas itu.


"Hei, kakak laknat! Kau apakan kesayanganku? Kenapa dia pindah rumah?"


"Tau dari mana kau?" Tanya Nicholas balik.


Nicholas yang jelas-jelas sudah memberitahu anak buahnya agar tak memberitahu apapun yang terjadi kepada Zahra pun menjadi curiga. Sepertinya ada anak buah Zahra diantara orang yang ia suruh menjaga Hanna.


"Tidak penting. Katakan saja apa yang kau lakukan padanya. Awas saja kau membuatnya dalam bahaya, ku hajar kau habis-habisan."


"Kalau kau tahu Hanna pindah, seharusnya kau tahu apa yang terjadi bukan? Sudahlah, aku kan mau tanya ngapain kau ngamuk begitu?"


"Mana ada, Sam menipumu itu."


"Zahra, tak usah bohong. Aku sudah mendengar semuanya," ucap Nicholas lembut.


Zahra langsung bungkam.


Nicholas kembali menghela napas berat. Ia paham betul dengan adiknya yang mulai merasa bosan karena tak diizinkan pergi kemana-mana selama masa perawatan.


"Jangan buat masalah dulu, kakak usahakan dalam waktu dekat ini ke sana bersama Hanna."


Nicholas memijit pangkal hidungnya pelan. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Zahra yang mengamuk hanya karena bosan.


Meski demikian, suara girang Zahra terdengar amat jelas. Hal tersebut pun membuat Nicholas merasa lega. Sekarang ia perlu fokus mengurusi Hanna.


Nicholas yang tadinya keluar untuk menelepon Zahra pun kembali masuk.


"Hanna.... !"


Betapa terkejutnya Nicholas melihat Hanna yang terkapar di lantai. Nicholas langsung menggendong Hanna kembali ke kamarnya.


"Kenapa badannya panas sekali," gumam Nicholas setelah menyentuh dahi Hanna.


Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Hanna. Selain itu, ia juga menelepon dokter untuk datang memeriksa Hanna.


Dengan telaten Nicholas merawat Hanna. Dokter memang sudah memeriksa kondisi Hanna, tapi Nicholas masih lebih percaya kepada dirinya sendiri.


Dengan lembut ia lap tangan Hanna yang berkeringat. Demam Hanna yang sangat tinggi membuatnya tak bisa beristirahat dengan nyaman. Hal itu juga membuat Nicholas tak tega meninggalkan Hanna begitu saja.


"Ibu.... ! Ibu.... !" Gumam Hanna.


Melihat Hanna bergumam memanggil ibunya membuat Nicholas merasa sedih. Ia pun terus merawat Hanna dengan sepenuh hati.

__ADS_1


"Tak apa, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Nicholas pelan.


Tanpa sadar, Nicholas pun ketiduran ketika merawat Hanna.


Pagi-pagi sekali Nicholas terbangun dan langsung memeriksa suhu badan Hanna. Ketika demam Hanna sudah turun, ia pun bergegas pergi memasak. Ia membuatkan Hanna bubur untuk sarapan sebelum minum obat.


Hari semakin siang, cahaya matahari yang menyusup melalui celah-celah gorden menyilaukan mata Hanna.


"Ugh! kepalaku sakit sekali," lenguh Hanna.


Perlahan ia bangun dan merasakan ada sesuatu yang menempel di dahinya.


"Handuk?"


Hanna pun menoleh ke nakas mencari ponselnya dan malah mendapati sebuah baskom berisi air.


Hanna pun mencoba bangun mencari siapa yang sudah merawatnya semalam.


"Aw!"


"Hanna.... ! Kenapa? Ada apa? Kamu, mana yang terluka?" rentet Nicholas yang berlari dengan memegang sendok sayur.


Nicholas yang panik karena mendengar teriakan Hanna bahkan tak sadar bahwa ia masih memegang sendok sayur. Sedang Hanna, ia terus tertawa terbahak-bahak melihat raut panik Nicholas yang bahkan tak sadar berlari sambil membawa sendok sayur.


"Aku tak apa," jawab Hanna sambil tertawa.


Nicholas yang merasa sia-sia karena mengkhawatirkan Hanna pun pergi kembali memasak.


Dengan raut kesal Nicholas terus bergumam meluapkan emosinya.


Nicholas tersenyum dalam gumamannya, "Ck, menggemaskan."


"Hanna.... Ayo sarapan," teriak Nicholas.


Hanna yang sudah kelaparan bergegas menuju meja makan. Ia duduk dengan tak sabar menunggu Nicholas mengambilkan makanannya.


"Ini,"


"Hei, kenapa bubur? Aku kan tak suka bubur."


Hanna mengerucutkan bibirnya kesal.


Nicholas tertawa kecil melihat tingkah Hanna yang semakin terlihat menggemaskan. Hanna yang seperti anak kecil baru pernah ia lihat sekarang ini. Hatinya tergelitik melihat Hanna yang merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan permen.


"Zahra juga dulu begitu," gumam Nicholas.


Hanna langsung menatap Nicholas dengan tatapan bertanya-tanya. Nicholas yang sadar langsung tergagap-gagap mencari jawaban.

__ADS_1


"Ah, itu. Itu, aku kan dari kecil bersama Zahra. Jadi, aku tahu," ucap Nicholas terbata-bata.


Hanna menyipitkan mata menyelidik, "Aneh, aku kan tak mengatakan apa-apa. Kenapa kamu menjelaskannya begitu?"


"Ah, sudahlah. Buatkan makanan lain untukku, ya," rengek Hanna mengerucutkan bibirnya.


Nicholas sambil menahan gemas menggeleng kuat. Ia sudah hampir tak bisa menahan tawa saking gemasnya kepada Hanna.


"Mukamu merah sekali, kau sakit?" tanya Hanna polos.


Muka Nicholas semakin merah karena Hanna tiba-tiba berdiri dan memegang wajahnya.


"A-aku tak apa. Duduklah, aku buatkan roti selai nanas kesukaanmu," ucap Nicholas ngibrit ke dapur.


Hanna tertawa kecil melihat Nicholas yang malu. Ia kembali duduk dan mencicipi sedikit bubur yang sudah Nicholas siapkan untuk dirinya.


Hanna yang tak pernah menyukai bubur malah memakan habis bubur buatan Nicholas hingga tak bersisa.


"Loh Ann? Buburnya kemana?" tanya Nicholas yang baru datang membawa roti untuk Hanna.


Hanna hanya nyengir kuda dan langsung kabur ke kamarnya. Tentu, ia tak ingin diejek Nicholas karena ia memakan habis bubur buatannya padahal ia bilang tak suka bubur.


Nicholas sadar jika Hanna sudah memakan habis buburnya itu. Ia menggeleng heran, tapi juga senang. Bubur yang sudah susah payah ia buat untuk Hanna akhirnya dimakan oleh Hanna.


"Dasar kucing kecil," gumam Nicholas tersenyum.


Nicholas bergegas membereskan mangkuk kotor dan kemudian bergegas untuk pergi ke kantor. Ia secara pribadi sudah menyuruh Hanna agar beristirahat saja hari ini.


"Kamu tak usah ke kantor, aku tak mau citra ZN Group rusak karena ada berita 'seorang mahasiswi magang ditemukan pingsan karena kelelahan'."


Hanna awalnya menolak keras saran Nicholas karena ia pasti akan mati kebosanan jika tak melakukan apapun selama seharian. Tapi tentu saja, Hanna hanya bisa menuruti perintah Nicholas yang terdengar seperti ancaman.


Sepanjang hari ia hanya goleran di sofa ruang tamu sambil menonton televisi dan juga memakan beberapa snack. Ia benar-benar sangat bosan terus berada di dalam apartemen.


Ting.... !


[Mari kita bertemu, Nona Alexandria Hamilton.]


Hanna terkejut hingga melempar ponselnya begitu saja.


Sore mendung yang gelap menjadi benar-benar menakutkan bagi Hanna. Dengan tangan gemetar, ia ambil kembali ponselnya.


Hanna berusaha menenangkan dirinya dan memupuk keberanian untuk membuka pesan yang ia lihat dari notifikasi barusan.


[Jangan coba-coba menipu. Saya punya bukti akurat tentang identitasmu, Nona.]


[Saya tunggu jam 7 malam di kafe Orion.]

__ADS_1


Hanna terus berusaha tenang dan membalas pesan yang dikirim oleh nomor anonim tersebut.


[Siapa sebenarnya kamu?]


__ADS_2