Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 27


__ADS_3

"Ayah manggil Karin kenapa?" Tanya Karin ketika baru masuk ke ruang kerja Hamilton.


Hamilton hanya melirik kedatangan Karin dan tampak begitu enggan.


"Mulai besok, kamu tak perlu lagi terlibat dalam urusan Hamilton company. Kamu fokus saja mengurus cabang di Amerika."


Karin membulatkan mata sempurna, "A-ayah ngusir Karin?"


Dengan raut tak percaya Karin mendekat pada Hamilton yang masih sibuk dengan berkas-berkas di depannya. Sedang Hamilton tak menanggapi pertanyaan Karin barang satu kata pun.


Hamilton berdehem membuat asistennya masuk dan mulai membacakan jadwal kegiatannya untuk seminggu kedepan. Dengan terpaksa, Karin pun pergi hendak mengadu kepada Zicho. Ia ingin Zicho membujuk ayahnya agar tak mengirimnya ke Amerika.


Karin yang begitu arogan masih tak mengetahui tentang identitas aslinya yang mana ia hanyalah putri pengganti di keluarga Hamilton. Ia yang selalu menganggap dirinya yang paling berkuasa terkadang membuat para pegawai jengah. Padahal Hamilton dan Zicho saja selalu memperlakukan para pegawai dengan baik.


"Kakak, aku dengar sesuatu yang tak masuk akal dari ayah. Tak bisakah kakak bantu membujuk ayah?" Tanya Karin dengan bergelayut manja pada lengan Zicho.


Zicho hanya diam tak menggubris Karin dan mencoba melepaskan pelukan Karin pada lengannya.


Karin melihat Zicho sudah mulai sibuk pun melepaskan pelukannya dengan terpaksa.


"Kakak harus membantumu membujuk ayah!" Teriak Karin ketika Zicho berlalu pergi.


Zicho menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati Karin.


"Kenapa? Bukannya dulu kamu ingin tinggal di Amerika? Ayah sudah susah payah membangun cabang di sana untukmu, tapi sekarang kamu begitu?" Ucap Zicho dingin.


"A-aku mana mungkin membiarkan ayah di sini sendirian kak," sahut Karin sedikit takut dengan tatapan tajam Zicho.


Karin mundur selangkah merasa terancam dan terintimidasi oleh Zicho. Zicho pun tersenyum miring melihat Karin terintimidasi oleh dirinya sendiri.


Zicho berlalu pergi karena harus datang rapat pagi ini. Ia meninggalkan Karin yang masih mematung tanpa sepatah kata pun.


Sedang Karin dengan sangat terpaksa harus mulai mengemasi barang yang ingin ia bawa ke Amerika. Karin menatap sebuah tiket dan juga passport miliknya yang sudah ada di nakas samping tempat tidur.


Ia ambil passport dan tiket itu, "Arghhh! Menyebalkan sekali!".


Karin membuang passport dan tiket itu ke kasur dan ia berbalik mengeluarkan koper dari lemari. Ia mulai membereskan pakaian yang hendak ia bawa.


Sudah ada dua koper besar yang Karin siapkan. Meski ia membereskannya sendiri, ia masih terus menggerutu tak ingin pergi.


Setelah semuanya selesai, kepergian Karin ke Amerika kali ini diantar langsung oleh Hamilton dan Zicho. Setidaknya itu yang bisa mereka lakukan agar Karin mau pergi dengan tenang.


"Kau ada rapat siang ini?" Tanya Hamilton menepuk bahu putranya.

__ADS_1


Zicho menggeleng, "Nggak ada yah, kenapa?".


"Ayo makan siang bersama, sudah lama ayah tidak makan bersama putra ayah," ajak Hamilton merangkul putranya.


"Baiklah, makan di restoran Zicho aja yah? Zicho suruh staff siapin ruangan VIP dulu," ucap Zicho mengambil ponsel dari saku celananya.


Ayah dan anak itu sebenarnya sangat akur, tapi ketika sedang membahas urusan pekerjaan keduanya menjadi serius dan dingin.


Mereka pun pergi hanya berdua naik mobil Zicho. Hamilton yang minta agar para bodyguard pulang duluan dan tak perlu mengikuti mereka.


Meski Hamilton memiliki banyak musuh yang ingin menjatuhkan dirinya, ia tak pernah sekalipun takut dirinya dikepung oleh musuh. Karena pendidikan keras sejak ia kecil membuatnya jadi pria yang kuat dan pemberani. Begitu juga dengan Zicho.


"Ayo yah, masuk," ajak Zicho.


Ketika masuk, betapa terkejutnya Zicho melihat Hanna yang duduk sendirian sedang menunggu makanannya disajikan. Dengan senang hati Zicho memperkenalkan Hanna kepada Hamilton.


Hamilton melirik putranya dan mendapati raut wajah putranya berubah drastis ketika bertemu dengan gadis yang ada di depannya itu. Akhirnya, Hamilton pun mengajak Hanna untuk makan siang bersama.


Apakah Hanna akan menolak? Oh, tentu tidak! Hanna yang sangat suka makan sudah psti akan menerima tawaran tersebut tanpa basa-basi.


"Ayo, ikut kami saja," ajak Zicho.


Zicho pun menarikkan kursi untuk Hanna duduk. Lalu, ia pergi mencari staff untuk menyiapkan satu set hidangan lagi untuk Hanna.


"Namamu siapa tadi?"


"Ah, nama saya Hanna Maureen om," sahut Hanna tersenyum ramah.


"Mmm, orang tuamu?"


"Saya yatim piatu yang diasuh di panti asuhan om," sahut Hanna tenang dan tetap tersenyum dengan ramah.


Hamilton hanya mengangguk tapi masih saja penasaran. Karena dari beberapa sisi, wajah Hanna agak mirip dengan mendiang istrinya.


Hanna sedikit gugup ketika Hamilton terus saja menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Zicho yang tiba-tiba datang.


Hamilton melirik Hanna, "Rambutnya bagus, mirip rambut ibumu.".


Zicho langsung tertawa berusaha mencairkan suasana. Hanna pun ikut tertawa meski tak tahu apa yang ia tertawakan.


Mereka bertiga pun mulai akrab dengan obrolan yang mengalir apa adanya. Makanan di restoran Zicho memang yang terbaik di kota. Tak heran, jika banyak pelanggan yang rela antre lama hanya untuk makan di sana.

__ADS_1


"Nak, kau pulang naik apa?" Tanya Hamilton.


"Ah, aku naik taksi om," sahut Hanna.


"Zicho, kamu tak keberatan kan kita mengantar Hanna pulang dulu?" Tanya Hamilton menoleh pada putranya.


Dengan penuh semangat Zicho menyetujui usulan ayahnya itu.


Hanna berusaha menolak tawaran Hamilton, tapi tentu saja ia kalah debat dengan Hamilton yang memang ahli dalam bernegosiasi.


"Baiklah, baiklah. Om yang menang," ucap Hanna pasrah.


Mereka pun melaju menuju rumah Hanna. Zicho sebenarnya sangat gugup, karena ini pertama kalinya ia mengantar seorang gadis pulang ke rumahnya. Apalagi Hanna duduk di sampingnya dengan ayahnya yang mengawasi di belakang.


"Benar arahnya ke sini kan?" Tanya Zicho memastikan jalan.


Zicho memang tak begitu paham jalan di daerah rumah Hanna karena ketika pertama kalinya Zicho ke daerah itu, ia tak begitu memperhatikan jalan dan diantar sopir.


'Aku harus berterima kasih sama ayah nanti,' batin Zicho sambil melirik ayahnya yang diam-diam sedang menatap Hanna.


Sebenarnya terbesit rasa penasaran dalam benak Zicho karena sejak pertama kali bertemu Hanna, ayahnya terus menatap Hanna dengan detail.


"Berhenti di sini saja," ucap Hanna.


"Rumahmu kan masih di depan," sahut Zicho enggan menurunkan Hanna di depan minimarket.


"Tak apa, aku perlu membeli sesuatu."


Zicho pun hanya bisa mengalah ketika melihat Hanna terus menolaknya untuk mengantar hingga depan rumah.


"Terima kasih om, sudah antar Hanna pulang," ucap Hanna tersenyum ramah.


Hamilton hanya mengangguk. Zicho yang melihat ayahnya mengangguk begitu saja pun langsung menatapnya tajam sebagai bentuk protes.


Dengan sangat terpaksa Zicho pun pulang dan meninggalkan Hanna di minimarket.


"Ayah! Ayah ini niat bantuin aku nggak sih yah?" Tanya Zicho kesal.


"Bantu apa? Dari awal ayah tidak berniat bantu kamu. Ayah cuma penasaran dengan gadis itu," sahut Hamilton.


Zicho hanya bisa memasak ekspresi bingung.


"Kamu nggak menyadarinya ya? Dari beberapa sisi, wajahnya mirip dengan mendiang ibumu." Jelas Hamilton sembari menatap foto istrinya di layar ponsel.

__ADS_1


Sesekali ia usap foto itu dengan senyuman penuh kerinduan pada sang istri. Sedang Zicho tak berani bicara sepatah kata pun ketika Hamilton sedang membicarakan mendiang ibunya.


__ADS_2