Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 47


__ADS_3

[Aku berubah pikiran tuan putri,]


[Kita batalkan saja pertemuan kita. Ku lihat, kau membawa beberapa serangga bersamamu.]


Hanna membulatkan mata terkejut. Ia bahkan tak tahu jika ada yang terus mengawasinya.


[Tidak! Tunggu, aku harus bertemu denganmu!]


Dia tersenyum miring melihat Hanna terlihat begitu gelisah.


[Baiklah, maju tiga langkah lalu lihat ke sebelah kananmu.]


Hanna pun menuruti arahan yang diberikan. Hanna melihat sebuah ponsel tergeletak di meja sebelahnya.


[Ambil.]


Hanna dengan ragu mengambil ponsel itu sambil celingukan. Hanna duduk dan membuka ponsel itu. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel itu.


[Aku tahu ponselmu di sadap, jika kamu ragu bertemu denganku kamu bisa pergi sekarang dan tinggalkan ponselnya.]


[Tidak. Aku ingin bertemu,]


[Baiklah, pergilah ke toilet. Aku sudah menyiapkan baju untukmu menyamar agar terlepas dari pengawasan pangeran kuda putihmu.]


Hanna pun menoleh ke seluruh sudut kafe. Ia mencari letak toilet sembari mengawasi keadaan sekitar.


Karena tak menemukan, Hanna pun menghampiri meja kasir untuk bertanya letak toilet. Hanna berjalan dengan santai menuju toilet agar orang-orang yang mengikutinya tak ada yang curiga.


[Keluarlah melalui pintu belakang kafe. Aku akan menjemputmu.]


Setelah membaca pesan itu, Hanna langsung bergegas mengganti pakaian. Ketika ia keluar dari toilet barulah ia menyadari bahwa memang ada yang mengikutinya. Ada seorang pria yang diam-diam terus mengawasi di depan pintu masuk toilet wanita.


"Siapa yang mengirimnya?" tanya Hanna dalam hati.


"Ah, urus nanti saja."


Hanna keluar dengan mulus. Tapi, ia bingung karena tak ada siapapun di belakang kafe. Cahaya remang-remang membuatnya sesekali menajamkan penglihatan mencari keberadaan orang itu.


Tak berapa lama, Hanna tiba-tiba kehilangan kesadaran setelah ada seseorang yang membekap mulut dan hidungnya.


"Tuan, target sudah bersama saya."


"Bawa ke mansion. Jangan biarkan siapapun menyentuhnya," sahutnya memberi perintah.


Disamping Hanna yang sedang tak sadarian diri, para bodyguard suruhan Nicholas sedang kelimpungan mencari Hanna yang tak kunjung keluar dari toilet. Akhirnya, dengan terpaksa mereka menerobos masuk ke dalam toilet wanita.


"Bos! Kabar buruk! Kami kehilangan Nona Hanna," lapor salah satu bodyguard kepada Nicholas.


Nicholas bergegas menuju kafe Orion.

__ADS_1


"Hanna! Apalagi yang kau rencanakan di belakangku," gumam Nicholas marah dan khawatir.


Sesampainya di kafe, Nicholas langsung menghampiri bodyguardnya.


"Kalian sudah cek CCTV?" tanya Nicholas.


"Maaf bos, mereka tak mengizinkan kami."


Nicholas tanpa banyak bicara langsung meminta kepada staff agar bisa bertemu dengan manager mereka.


Setelah negosiasi yang cukup panjang, akhirnya Nicholas mendapat izin untuk melihat CCTV. Dan mata Nicholas langsung tertuju pada Hanna yang mengenakan baju staff bersih-bersih.


"Ini pintu menuju ke mana?" tanya Nicholas.


"I-itu, itu menuju belakang kafe."


"Ada CCTV di sana?" tanya Nicholas panik sambil melihat satu per satu gambar di monitor.


Melihat apa yang terjadi kepada Hanna di belakang kafe membuat Nicholas menggertakkan giginya. Para bodyguardnya pun sampai ketakutan melihat Nicholas yang semarah itu.


"Kalian tunggu apa lagi?" tanya Nicholas tegas.


"Cepat lacak mobil itu!"


Para bodyguard pun langsung bergerak cepat. Mereka menuju mobil utama yang memang selalu berisi alat-alat semacam itu untuk berjaga-jaga jika mereka harus mengawasi Hanna dari kejauhan.


"Kalian lelet sekali!" bentak Nicholas.


Nicholas pun mengambil alih dan mulai melacak mobil yang membawa Hanna. Tak butuh waktu lama Nicholas sudah mulai menemukan jejak mobil yang membawa Hanna.


"Dapat,"


"Tunggu! I-ini," ucap Nicholas terhenti ketika melihat mobil tersebut memasuki sebuah mansion yang tak asing bagi Nicholas.


Nicholas langsung bergegas menggunakan mobilnya. Ia bahkan melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya.


"Sial! Kenapa aku tak menyadarinya!" Nicholas memukul setir mobilnya marah.


"Bagaimana bisa Hanna berurusan dengan orang merepotkan itu," gumam Nicholas.


Nicholas yang takut Hanna kenapa-kenapa memerintahkan sebagian besar anak buahnya mengepung mansion orang yang menculik Hanna.


Hanna yang sudah pingsan lama perlahan-lahan sadarkan diri. Ia menatap sekeliling yang terlihat sangat asing baginya.


Perlahan-lahan ia mencoba bangun, "Ssshhhh, ini di mana?"


Kepala Hanna terasa sangat sakit dan berat setelah ia mencoba untuk duduk.


"Wel-come...."

__ADS_1


Pandangan Hanna yang masih buram tak bisa melihat dengan jelas siapa yang berbicara. Apalagi ia yang berdiri di depan jendela besar membelakangi Hanna.


"Welcome Tuan putri," sambutnya lagi sembari membalikkan badan.


"Ka-kamu siapa?"


"Aku siapa? Hahahaha.... Tuan putri memang suka bercanda ya," sahutnya.


Hanna berusaha menajamkan penglihatannya. Namun nihil, Hanna tetap kesulitan melihat karena dia membelakangi cahaya. Hanna hanya mampu melihat siluet seorang pria. Akan tetapi, ia dibuat bingung dengan suara wanita yang ia dengar ketika seseorang itu berbicara.


Dengan santainya, ia berjalan mendekati kepada Hanna. Ia terlihat begitu senang melihat tatapan Hanna yang menyiratkan ketakutan.


"Wah, rupanya Tuan putri bisa takut juga."


"Berikan buktinya kepadanya," perintahnya menyuruh asistennya.


Seorang pria pun mendekat kepada Hanna sembari membawa nampan yang berisi semua data tentang Hanna. Semua datanya tertulis dalam bahasa inggris.


Selain itu, ada juga foto Hanna ketika bayi di rumah sakit, foto keluarga dan juga kalung peninggalan mendiang ibunya.


"I-ini.... "


"Benar, itu kamu. Saranku, jika kamu ingin selamat maka menjauhlah dari keluarga Hamilton."


Hanna masih saja kebingungan mencerna semua hal yang ia lihat dan baru ia ketahui. Karen meskipun ia dibesarkan di panti asuhan rupanya masih ada yang mengawasinya dari jauh.


Parahnya, Hanna tak tahu orang yang ada di depannya itu memiliki niat baik atau tidak terhadap dirinya.


"Si-siapa kau sebenarnya!" teriak Hanna.


Ia pun memerintahkan kepada asistennya untuk membuat Hanna pingsan kembali. Diambang kesadarannya yang hampir terenggut, Bella mendekat kepada Hanna.


"Ingatlah aku. Bella Hamilton, adik ayahmu yang membencimu."


Kesadaran Hanna pun terenggut sepenuhnya tanpa bisa melihat wajah Bella dengan jelas.


"Bos, mata-mata kita memberitahu bahwa Nicholas sedang menuju kemari."


"Biarkan saja, pindahkan gadis itu ke sofa."


Asisten Bella pun melakukan semuanya sesuai perintah. Dengan sigap bawahan Bella bersiap menyambut Nicholas dan melakukan semua sesuai arahan Bella langsung.


"Entah anak ini akan percaya padaku atau malah memilih mengambil resiko menyerahkan nyawanya secara percuma kepada keluarga Hamilton." gumam Bella tersenyum miring.


"Albert, ayo kita turun sambut tamu kita."


Albert menunduk patuh dan mengekor Bella. Bella merupakan adik Hamilton yang terabaikan sejak kecil karena dia merupakan seorang perempuan.


Dari dulu memang keluarga Hamilton selalu sulit menerima anak perempuan dalam keluarga mereka. Sedang Bella yang kini memiliki kekuatan pun berkat usahanya sendiri. Dengan semua luka dan trauma Bella berhasil tumbuh menjadi perempuan kuat yang tak tergoyahkan oleh siapapun.

__ADS_1


__ADS_2