Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 61


__ADS_3

"Bos, kami sudah memeriksa titik sinyal ponsel milik nona. Disana tak ada apapun."


"Baiklah, segera kembali kemari." Perintah Nicholas langsung dituruti oleh anak buahnya.


"Sepertinya mereka ingin mengecohku," gumam Nicholas.


Nicholas kembali terfokus pada semua petunjuk di depan mata. Sembari menunggu forensik selesai memeriksa, ia ikut melihat tim IT yang mencoba melihat rekaman dari kamera dashboard taksi itu.


Cukup lama mereka berkutat dengan rekaman itu, tapi tak kunjung menemukan hasil yang signifikan.


Nicholas yang tak kunjung menemukan petunjuk keberadaan Hanna menjadi sangat frustasi.


Tim forensik pun tak menemukan petunjuk apapun. Mereka dilanda kebimbangan dan ketakutan ketika melihat Nicholas yang sudah seperti iblis.


Mereka semua dimarahi habis-habisan bahkan hampir saja mereka kehilangan pekerjaan mereka. Siapa yang tak tahu pembawa kejayaaan bisnis keluarga Wijaya itu seperti apa. Jangankan karyawan biasa, pemerintah kota saja enggan beesinggungan dengan keluarga Wijaya.


"Tak ada yang boleh istirahat sebelum menemukan petunjuk keberadaan Hanna."


Semua orang saling pandang satu sama lain. Mereka sudah pasti tak bisa membantah perintah bos mereka.


"Arthur, jangan biarkan keluarga Hamilton mengetahui bahwa Hanna hilang."


Arthur sang bawahan hanya mengangguk.


"Bos, setidaknya izinkan semuanya untuk tetap makan dan istirahat sebentar selama pencarian Nona Hanna," nego Arthur.


Nicholas menimang-nimang perkataan Arthur.


"Baiklah, istirahatlah 10 menit."


Nicholas berlalu pergi menuju mobil sambil memainkan laptopnya. Ia mencoba memikirkan cara lain agar Hanna cepat ditemukan.


Sambil jarinya mengotak-atik laptop, otaknya terus memikirkan Hanna.


"Bos, Tim 1 menemukan sebuah gubuk kayu di pedalaman hutan."


Nicholas yang mendengar laporan dari HT langsung berdiri.


"Periksa sekitar gubuk dulu. Jangan gegabah," perintah Nicholas.

__ADS_1


"Kirimkan titik kordinat lokasinya padaku."


"Baik bos,"


Berselang tak lama, sebuah notifikasi masuk di email Nicholas.


Nicholas dengan sigap memeriksa titik tersebut. Bukan Nicholas namanya jika tidak menyusun rencana dulu sebelum menyerang.


"Black Angel?"


"Arthur, suruh tim 1 untuk berhati-hati. Aku menemukan informasi ambigu tentang gubuk itu," Ucap Nicholas melalui HT.


"Bos, tak ada jawaban dari tim 1."


"Baiklah, suruh semua orang mundur terlebih dahulu."


Arthur pun mematuhi perintah Nicholas.


Semua orang yang mencari ke tengah hutan langsung kembali ke titik kumpul dimana Nicholas lah yang akan memimpin dan memberi arahan secara langsung.


Ketika semua berkumpul, tak ada suara grasak-grusuk karena ketegasan Nicholas kepada semua anak buahnya.


Panjang lebar Nicholas menjelaskan rencananya. Ia sangat yakin bahwa rencananya ini akan berhasil.


"Arthur, atur beberapa orang militer dan pihak kepolisian untuk mengepung hutan."


Arthur mengangguk dan langsung melaksanakan perintah Nicholas.


Semua pun bergegas bersiap. Semua sudah menyamar dengan penyamaran yang begitu sempurna. Bahkan mereka memiliki kode khusus untuk membedakan mana kawan mana lawan.


Perlahan-lahan mereka semua memasuki hutan atas komando Nicholas secara langsung. Ditengah perjalanan mereka menemukan salah satu anggota di tim 1 yang sudah terkapar tak bernyawa.


Takut? Panik? Tentu tidak. Mereka semua sudah terlatih dengan keras untuk menghadapi segala kondisi.


"Bos, bagaimana kalian sampai disini?" Bisik salah seorang tim 1 yang masih mengintai gubuk.


"Kalian tak dapat dihubungi. Jadi aku dan mereka datang. Pakai ini dulu," ucap Nicholas.


"Pengantar informasi kami tiba-tiba menghilang,"

__ADS_1


"Baiklah, aku mengerti."


Pemimpin tim 1 pun menceritakan keadaan di sekitar gubuk dengan detail.


"Orang kita sudah mengepung gubuk. Para penjaga itu terlihat sangat terlatih bos,"


"Kemungkinan mereka Black Angel, jadi berhati-hatilah."


Semua pun menyerang atas aba-aba dari Nicholas. Penyerangan dibagi kedalam 2 tim. Dimana tim kedua berfungsi untuk membackup tim pertama jika kondisinya sudah tidak memungkinkan.


...****************...


Hanna yang hanya bisa terbaring lemah mendengar ada suara bising di luar. Ia sangat ingin bangkit, akan tetapi badannya benar-benar sudah tak mampu untuk bergerak meski hanya sedikit saja.


Hanna yang kehilangan terlalu banyak darah hanya bisa pasrah entah ia akan menemui ajalnya atau malah ia akan diselamatkan.


Berselang tak lama, ada seseorang yang menggedor-gedor pintu ruangan Hanna. Pintu yang memang dikunci dari luar itu akhirnya didobrak paksa.


Hanna hanya memejamkan matanya pasrah. Ia tak berani melihat siapa yang datang.


Sedang Nicholas yang mendonrak pintu langsung jatuh berlutut melihat kondisi Hanna yang kurus kering dan tampak tak berdaya.


"Hanna," lirih Nicholas meneteskan air mata.


Mendengar panggilan itu, Hanna perlahan membuka matanya dan menoleh ke arah pintu.


Dengan mata berkaca-kaca Hanna menatap Nicholas lekat. Ia sudah tak berdaya meski hanya sekedar untuk tersenyum melihat Nicholas.


Nicholas dengan cepat mendekat ke arah Hanna.


"Maaf, maafkan aku. Aku terlambat menyelamatkanmu," lirih Nicholas sembari menangis menggenggam tangan Hanna yang sangat kurus.


Dengan gagah, Nicholas menggendong Hanna, "Ayo kita pulang, sayang."


Semua bodyguard pun mengawal Nicholas yang menggendong Hanna dengan ketat. Sedang orang-orang yang berhasil kabur pun dikejar dengan bantuan pihak kepolisian dan juga militer.


Nicholas tak berniat melepaskan barang satu orang pun. Terlebih lagi setelah ia melihat kondisi Hanna yang sangat mengenaskan.


Sepanjang jalan, Nicholas tak mau melepaskan Hanna dari pelukannya. Bahkan ia meminta Arthur untuk menyetir mobilnya. Nicholas cukup terpukul dan trauma dengan kejadian ini hingga ia semakin posesif terhadap Hanna.

__ADS_1


__ADS_2