
"Ni-Nicho," panggil Hanna takut-takut.
"Ah, Kak I-iell." panggil Hanna lagi.
Nicholas yang dipanggil hanya menggeleng lesu sambil menatap kedua mata Hanna.
"Bukan baby," lirih Nicholas sambil menggeleng pelan.
"Panggil aku sayang, itu baru benar." sambung Nicholas dengan nada merendah.
Hanna terpana mendengar suara Nicholas yang begitu lembut, tapi juga menggoda. Memang ini bukan pertama kalinya Nicholas berbicara begitu, tapi baru kali ini Hanna tergoda oleh Nicholas.
Jantung Hanna berdebar tak karuan hingga membuatnya tak fokus. Bahkan ia tak berani menatap Nicholas.
"A-aku.... "
"Aku haus," ucap Hanna asal dan langsung pergi ke mejanya dan menenggak secangkir kopi tanpa ragu.
"Aw!" pekik Hanna kepanasan.
Nicholas yang panik langsung mendekat. Nicholas yang sangat khawatir terus bertanya apa yang Hanna rasakan.
Zicho yang masih lemas pun ikut mendekat ke arah Hanna. Ia tak peduli dengan kondisi tubuhnya dan juga Nicholas yang juga ada di sana. Fokusnya hanya tertuju kepada Hanna.
Nicholas yang melihat Zicho hendak meraih tangan istrinya pun langsung menarik Hanna kedalam dekapannya. Ia begitu posesif seolah-olah Hanna hanya miliknya seorang. Alhasil, Zicho hanya meraih ruang kosong di depannya.
"Jangan sentuh istriku," ucap Nicholas tegas.
Hanna yang mendengar Nicholas menyebutnya istri pun langsung mendongak. Jantungnya berdebar semakin kencang juga ada rasa aneh yang menyusup kedalam hatinya. Rasa yang hangat memenuhi dirinya menjalar dari hati hingga seluruh tubuh.
Tatapan Hanna pun melembut, juga ada semburat merah muda di kedua pipinya.
"Kamu gapapa, sayang?" tanya Nicholas panik.
Hanna hanya menggeleng dalam dekapan Nicholas.
"Nicho, aku perlu bicara dengan Hanna. Beri aku kesempatan," pinta Zicho memelas.
Nicholas menatap Hanna meminta kepastian. Melihat manik mata Hanna yang terlihat ragu, Nicholas pun hendak menolak memberi Zicho kesempatan. Akan tetapi sebelum Nicholas buka suara, Hanna terlebih dahulu bicara.
__ADS_1
"Baiklah, tapi biarkan Nicholas tetap di sini." pungkas Hanna.
Tanpa pikir panjang, Zicho langsung mengiyakan syarat dari Hanna.
Zicho pun mulai angkat bicara, membicarakan topik yang sudah sangat ingin ia ungkapkan kepada Hanna setelah menyadari sesuatu.
Hanna terus mendengarkan dengan cermat kata demi kata yang diucapkan Zicho. Sedang Nicholas beberapa kali terpancing emosi hingga ingin memukul Zicho. Untungnya, ia ditahan oleh Hanna. Jika tidak mungkin Zicho sudah babak belur dan masuk rumah sakit.
Obrolan sengit antara Hanna dan Zicho terus berlanjut. Zicho yang yakin bahwa Hanna merupakan adik kandungnya yang hilang terus membujuk Hanna untuk memercayainya. Sedang Hanna terus menolak dengan tegas.
Nicholas yang melihat kondisi Hanna kurang baik pun langsung menengahi dan menghentikan Zicho yang terus memaksakan apa yang ia yakini kepada Hanna.
"Cukup bro, kau membuat istriku kelelahan." ucap Nicholas sembari mendorong Zicho menjauh dari Hanna.
Melihat Hanna yang semakin lemas, Nicholas langsung memapah Hanna menuju sofa. Zicho hanya bisa menatap Hanna dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Are you okay baby? Sebentar ya, aku ambilkan air," ucap Nicholas langsung pergi mengambil air minum.
"Ha-Hanna, maaf. Tapi aku benar-benar yakin kamu adik perempuanku. Tanda di lenganmu juga sama dengan miliknya," ucap Zicho kekeh.
"Tak apa. Pulanglah, aku butuh istirahat ."
Selang tak lama setelah Zicho pergi, Hanna juga keluar hendak menuju taman di rooftop. Ia ingin menenangkan diri sejenak sebelum menjelaskan semuanya kepada Nicholas.
Di bawah pohon rindang Hanna merasakan udara sejuk yang menenangkan. Sebuah pelukan hangat juga seketika menghabur melebur segala rasa lelah Hanna.
"Kamu sudah baikan, baby?" tanya Nicholas lembut.
Hanna terkesiap dan hendak bangkit melepaskan diri dari pelukan Nicholas. Akan tetapi, Hanna dicegah oleh Nicholas.
"Biarkan begini sebentar saja, baby."
Dengan nada suara Nicholas yang lembut, Hanna terbujuk dan membiarkan Nicholas memeluknya.
Mereka pun tenggelam ditengah sejuknya udara di bawah pohon. Suara burung-burung yang sesekali mampir menjadi musik pengiringnya. Juga lirih terdengar sesenggukan bersamaan dengan semilir angin yang meniup indah rambut Hanna.
Nicholas hanya diam pura-pura tak mendengar. Ia hanya mengeratkan pelukan untuk memberitahu Hanna bahwa dirinya tidak sendirian. Perasaan yang campur aduk membuat Hanna semakin terisak dalam pelukan Nicholas.
"Tak apa baby, aku akan melindungimu," bisik Nicholas.
__ADS_1
Hanna bukan makin tenang malah makin terisak mendengar bisikan Nicholas.
"A-aku.... "
Isakan Hanna yang semakin menjadi-jadi membuat Nicholas mencegah Hanna berbicara. Ia menyuruh Hanna untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Dengan setia Nicholas terus menemani Hanna. Ia tak peduli banyaknya berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Satu-satunya yang ia pedulikan adalah Hanna, istrinya.
Cukup lama mereka di rooftop, suara isakan Hanna pun sudah berubah jadi dengkuran halus. Nicholas pun tetap setia di sisi Hanna.
"Kalian, tolong bersihkan ruang istirahatku di kantor. Hanna biar aku saja yang menggendongnya," ucap Nicholas kepada beberapa bodyguard yang memang selalu membuntuti Hanna.
"Baik bos."
Nicholas sesekali membenarkan anak rambut Hanna yang menutupi wajah karena tertiup angin.
"Cantiknya istriku," gumam Nicholas.
"Bos, kamarnya sudah siap."
Nicholas pun langsung membopong Hanna. Untungnya, akses ke rooftop menggunakan lift bukan tangga. Jika menggunakan tangga mungkin Nicholas akan sangat kelelahan. Ya, meskipun Hanna yang mungil bukan masalah bagi Nicholas yang memang bertubuh kekar. Tapi tentu saja menggendong seseorang menuruni atau menaiki tangga bukanlah hal mudah.
Hanna yang sebenarnya sudah terbangun dari mulai di gendong pun sesekali mengintip. Melihat Nicholas yang mulai berkeringat membuat Hanna merasa sedikit iba, tapi ia ingin mengerjai Nicholas sekali-kali. Tak lama, mereka pun sampai di ruangan Nicholas dan Hanna langsung di tidurkan di kasur tempat biasa Nicholas istirahat. Hanna pun baru tahu jika di ruangan Nicholas ada ruang istirahat yang cukup megah.
"Baby, kamu nakal sekali." Ucap Nicholas yang sadar bahwa Hanna sebenarnya sudah bangun.
Tapi Hanna tak menjawab dan melanjutkan pura-pura tidur.
"Ya sudah, aku kerja lagi ya. Kalau ada apa-apa teriak aja," ucap Nicholas sembari mencium kening Hanna singkat.
Tentu saja, Hanna menghindar secepat kilat karena tak mau dicium Nicholas. Ia menumbalkan selimut untuk dicium Nicholas.
Nicholas hanya menatap Hanna terdiam. Sedangkan Hanna nyengir kuda tanpa dosa.
"Sudahlah, aku kerja dulu. Kamu tidurlah lagi," lenguh Nicholas.
"T-tapi.... "
"Sudahlah, itu bahas nanti saja. Kamu istirahat dulu," sahut Nicholas lagi.
Nicholas yang hendak bangkit dicegah oleh Hanna, ujung lengan bajunya digenggam Hanna. Hanna tampak enggan sendirian di sana.
__ADS_1
Nicholas yang menyadari hal itu pun langsung membujuk Hanna agar ia boleh mengambil laptop dan beberapa berkas yang penting. Hampir 15 menit Hanna tak membiarkan Nicholas beranjak. Namun, setelah Hanna terlelap Nicholas pergi meninggalkan Hanna.