Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 33


__ADS_3

"Aahhhh.... hari melelahkan lainnya," keluh Hanna yang baru membuka mata.


Hanna meraba-raba mencari ponselnya yang semalam entah ia taruh dimana. Cukup lama ia mencari, tapi tak kunjung ia temukan hingga sebuah notifikasi yang masuk ke ponselnya membuatnya tahu bahwa ponselnya ada di bawah bantal.


[Hanna, bos sialanmu itu menyuruhku bekerja di Eropa untuk sementara waktu.]


Hanna menghela napas berat membaca pesan Zahra.


Hanna yang tengah membutuhkan kehadiran Zahra untuk menguatkan dirinya malah ia lagi-lagi harus menguatkan dirinya sendiri.


"Haaah, apa boleh buat. Hanna, bersemangatlah!" Seru Hanna pada dirinya sendiri.


Hanna dengan bersemangat berangkat ke kantor karena masih magang dan ia tentu akan terus bekerja di sana meski sudah bukan lagi pekerjaan magang.


Zahra lah yang sudah mengaturnya demikian dengan mengancam Nicholas. Padahal, tanpa diancam pun Nicholas akan dengan senang hati menerima Hanna bekerja di kantornya.


Baru sampai di kantor ia harus langsung mengurus klien dan menghendel beberapa meeting divisi. Kemampuan bekerja Hanna semakin hari semakin bagus. Hal itu membuat Nicholas sangat bangga. Bahkan, keuntungan perusahaan pun meningkat.


[Yang terhormat,


Kepada saudari Hanna Maureen harap segera menghubungi dosen pembimbing pengganti magang.]


Hanna menghela napas berat melihat pesan yang baru saja masuk ke emailnya.


Hanna yang sebenarnya enggan dengan terpaksa mencatat nomor yang tertera.


"Naz-riel," gumam Hanna mengejar nama dosen pembimbingnya yang baru.


Nama itu terasa tak asing bagi Hanna, tapi ia tak mau berpikir lebih karena masih ada banyak berkas yang sudah menanti di depan mata.


[Excuse me, Sir. Saya Hanna Maureen, salah satu mahasiswa magang dibawah bimbingan Miss. Zahra yang dialihkan.]


Hanna mematikan ponselnya setelah mengirim pesan kepada dosen pengganti itu.


[Saya tahu. Besok bimbingan melalui virtual meeting. Saya tidak sedang di tempat.]


Mendengar notifikasi, Hanna langsung membuka ponselnya dan mendapati balasan dari Mr. Nazriel. Hanna masih tak tahu jika itu adalah bosnya sendiri, Nicholas.


Hanna abai dan melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya karena Nicholas meminta bahan meeting besok harus sudah ia terima sebelum jam 7 pagi.


"Nicholas gila!" Keluh Hanna frustasi.


Tenaga Hanna sudah hampir habis karena mengerjakan banyak pekerjaan. Bahkan ia juga harus mengerjakan bagian Alex.

__ADS_1


"Alex, kapan kau kembali? Aku sudah tak sanggup lagi.... "


Lagi-lagi Hanna mengeluh. Ia meletakkan kepalanya di atas meja dan mulai mengantuk. Perlahan-lahan mata Hanna terpejam dan kesadarannya memudar.


"Hanna, menikahlah denganku!" Seru seorang pria membuat langkah Hanna terhenti.


Mendengar ucapan seperti itu, Hanna langsung berbalik dan mendekati pria tersebut. Ia menendang kakinya lalu berlalu pergi.


"Pria brengsek!" Gumam Hanna.


"Tidak Hanna! Tunggu!" Teriak pria tersebut.


"B-bos? Bos baik-baik saja?" Tanya seorang pria mencoba membangunkan Zicho yang tak sengaja tertidur di kursi kantornya.


Sekretaris Zicho itu terus saja berusaha membangunkan Zicho yang berteriak dalam mimpinya karena ditinggalkan oleh Hanna ketika dirinya melamar Hanna di depan umum.


Tak berapa lama Zicho membuka matanya dan menyadari ada sekretarisnya. Ia langsung bersikap cool dan menanyakan keperluan sekretarisnya itu.


"Ma-maaf bos, tadi saya mendengar bos berteriak jadi saya langsung masuk."


Zicho tak menyangka ia berteriak dalam tidurnya hingga membuat sekretarisnya khawatir. Untungnya bukan ayahnya yang tiba-tiba masuk dan menemukan dirinya berteriak seperti tadi. Kalau iya, pasti ia akan ditertawakan habis-habisan.


"Memalukan," gumam Zicho memijit pangkal hidungnya pelan.


Sekretarisnya langsung keluar meninggalkan ruangan Zicho.


Zicho masih tak percaya jika dirinya akan bermimpi demikian. Apalagi itu tentang Hanna.


"Masa sih ada yang bisa menolak pesona seorang Zicho Alexander Hamilton!" Ucap Zicho pada dirinya sendiri.


Zicho pun membuka ponsel dan sudah menunjukkan jam pulang kerja. Ia mencoba mengirim sebuah pesan kepada Hanna karena Hanna selalu berputar di pikirannya. Ia ingin mengantar Hanna pulang jika ia masih ada di kantornya.


[Hanna, kamu masih di kantor?]


Cukup lama Hanna tak membalas pesan Zicho.


[Apa besok malam kau senggang?]


Karena tak kunjung dibalas, Zicho pun menutup ponselnya dan berlalu pergi untuk pulang.


Disisi lain, Hanna yang baru terbangun langsung menoleh jam yang nangkring cantik di meja kerja Alex.


"Aih, sial! Kenapa sudah jam segini?"

__ADS_1


Hanna buru-buru mengemasi barangnya dan langsung ngacir pulang. Kantor sudah sangat sepi dan gelap.


Bukan rahasia lagi jika Hanna sebenarnya takut kegelapan apalagi ketika dia sendirian. Dengan meraba-raba Hanna berjalan pelan dalam kegelapan. Hingga akhirnya, penjaga kantor datang dengan sebuah senter.


"Ah.... Selamat," lenguh Hanna lega.


Hanna langsung berlari membuntuti bapak penjaga kantor. Sesekali Hanna mengajaknya ngobrol. Untungnya, ia orang yang sangat ramah, tidak seperti Nicholas yang selalu menyahuti obrolan Hanna dengan jawaban yang menyebalkan.


"Nona Hanna kenapa masih di kantor jam segini?"


"Tadi saya ketiduran pak. Gara-gara Mr. Nicholas ngasih kerjaan banyak banget," keluh Hanna.


"Tapi jangan salah non, Pak Nicholas itu orangnya sangat baik loh.... " Sahut penjaga kantor dengan senyum sumringah.


Hanna yang tak mengerti dari sisi mana Nicholas terlihat baik pun hanya memasang raut bingung.


"Aih, saya paham. Non, meskipun nada dan cara bicara Pak Nicholas menyebalkan, dia justru yang paling baik tapi tak ada yang menyadari hal itu."


Hanna hanya menanggapi dengan anggukan karena ia sudah terlalu lelah.


"Pak, bapak jaga sama siapa malam ini?" Tanya Hanna setelah keluar.


"Saya sendiri, Non."


"Oh gitu, sebentar ya Pak," ucap Hanna langsung berlari menjauh.


Bayangan Hanna menghilang ditengah bayang-bayang gelap. Namun, tak berapa lama ia kembali dengan menenteng sebuah kantong belanja.


"Pak, ini ada beberapa cemilan. Buat nemenin bapak jaga. Saya pamit pulang dulu ya Pak," ucap Hanna memaksa bapak penjaga agar menerimanya.


Setelah berpamitan, Hanna pun melajukan sepeda motornya membelah jalanan malam yang tak begitu ramai.


Ia nikmati dinginnya angin malam yang menubruk dirinya. Kehidupan seorang Hanna kembali monoton ketika tak ada Zahra yang selalu mengajaknya main dan jalan-jalan. Ia merindukan kehadiran sosok Zahra yang membuat hari-harinya berwarna.


"Coba saja aku punya uang lebih, pasti sudah aku susul Zahra ke Eropa," gumam Hanna.


Ketika sudah hampir sampai rumah, Hanna memelankan laju motornya dan mendadak berhenti ketika ia melihat sebuah mobil dan ada seorang pria yang berdiri di depan rumahnya.


Hanna langsung bersembunyi, tak lama kemudian terlihat seorang lagi pria tampak keluar dari rumah Hanna. Hanna sangat takut dan khawatir mereka penjahat dan sudah lama mengincar dirinya.


Ketika mobil dan dua pria itu pergi, Hanna buru-buru masuk ke rumah dan memeriksa apakah ada barang yang hilang atau tidak. Hanna lebih bingung lagi ketika melihat kondisi rumahnya baik-baik saja dan tak ada barang yang hilang. Hanya ada foto dirinya waktu bayi di panti asuhan yang sudah berubah posisinya.


'Tak ada yang hilang. Siapa sebenarnya mereka? Apa yang mereka cari?' batin Hanna sambil membenarkan posisi foto yang ia pajang di figura itu.

__ADS_1


__ADS_2