
"Sudah?" Tanya Nicholas ketika melihat Hanna menyeka air matanya di dalam mobil.
Hanna mengangguk lalu membuka jendela melambaikan tangan kepada Ibu Ratna, kepala panti asuhan.
"Baiklah, gunakan sabuk pengamanmu dulu," suruh Nicholas lembut.
Melihat Hanna tak kunjung merespon dirinya, Nicholas pun mendekat untuk memasangkan sabuk pengaman.
Hanna terkejut karena Nicholas tiba-tiba mendekat kepadanya. Nicholas yang berinisiatif memasangkan sabuk pengaman untuk Hanna membuat jantung Hanna berdegup sangat kencang.
"Bi-biar saya saja," ucap Hanna gugup merebut tali sabuk pengaman dari tangan Nicholas.
"Mr, boleh saya minta tolong?"
Nicholas mengangguk sambil menatap jalanan di depan.
"Tolong sembunyikan saya untuk sementara waktu," ucap Hanna sangat serius.
Nicholas langsung mengerem mobilnya. Ia sangat terkejut karena Hanna tiba-tiba meminta hal seperti itu.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" Tanya Nicholas khawatir.
"Mereka bukan tandinganmu. Jadi, cukup bantu aku bersembunyi."
"Mereka?" Tanya Nicholas bingung.
Hanna mengangguk mantap tanpa menjelaskan siapa dan mengapa. Nicholas pun mau menuruti permintaan Hanna tanpa bertanya apa-apa. Karena pada dasarnya Nicholas tahu jika ada orang yang mengincar Hanna.
Ketika Hanna dan Ibu Ratna sedang di pemakaman, anak buah Nicholas mengabari jika ada mobil yang mengikuti mobil pengangkut barang yang digunakan untuk membawa barang-barang Hanna. Jadi, bisa dipastikan bahwa pihak lawan sudah tahu tempat tinggal Hanna yang baru.
"Baiklah, untuk sementara kau gunakan apartmen milikku di sebelah kantor. Mungkin akan sedikit Kotor karena sudah tak pernah ku tempati lagi," ucap Nicholas menawarkan apartmennya.
Hanna mengangguk setuju. Selagi ia bisa aman, ia tak mempermasalahkan apapun. Bahkan jika Nicholas mengirimnya ke tempat terpencil untuk mengurus cabang ia pun akan dengan senang hati menerimanya.
Mereka pun langsung menuju apartmen.
Nicholas yang masih belum tau siapa dalang yang mengincar Hanna dan apa motifnya semakin waspada. Ia berniat memperketat penjagaan di sekitar Hanna.
Kekuatan keluarga Wijaya memang tak kalah dengan keluarga Hamilton, akan tetapi jika keluarga Hamilton membawa bukti valid bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga Hamilton takutnya keluarga Wijaya tak bisa bertindak apa-apa.
"Ada sesuatu yang ingin kau ambil diantara barang-barangmu? Nanti aku suruh orang membawanya ke tempat jasa pengiriman barang."
Hanna berpikir untuk beberapa saat.
"Ah, aku ingin mengambil foto bayi."
__ADS_1
"Baiklah, nanti aku akan ambilkan."
Nicholas membantu Hanna membereskan sedikit bagian apartmen agar setidaknya Hanna bisa tidur dengan nyaman di sana.
"Tak usah terlalu di bersihkan, aku akan menyuruh orang untuk membersihkan semuanya besok pagi," ucap Nicholas yang melihat Hanna sudah bersiap dengan sapu, kemoceng dan kain lap yang nangkring di bahu kanannya.
"T-tapi ... "
"Menurutlah," ucap Nicholas lembut.
Hanna hanya bisa menurut karena ia masih memerlukan bantuan Nicholas.
Setelah Hanna merasa nyaman dan aman, Nicholas langsung pulang ke rumahnya. Ia masih perlu untuk mendiskusikan beberapa hal dengan Wijaya. Belum lagi, kondisi Zahra baru ia yang tahu.
"Benarkah yang tengah menyelidikiku keluarga Hamilton? Atau justru orang lain?"
"Sepertinya aku harus memastikannya sendiri," gumam Hanna serius.
Malam yang semakin larut membuat Hanna terlelap begitu saja. Penjagaan di apartmen Nicholas pun diperketat tanpa Hanna tahu.
"Sam, bagaimana keadaan Zahra?"
"Baik-baik saja. Tapi bos, kenapa si bodoh itu kau tinggalkan di sini?" Tanya Sam sambil melirik Alex yang tengah asik menikmati cemilan di tangannya.
"Dia berguna," jawab Nicholas terpotong.
Nicholas yang belum selesai bicara menggerutu mengapa ia mempekerjakan Sam untuk menjaga Zahra.
"Arghhh! Anak buat nggak ada akhlak," gerutu Nicholas memukul setir mobilnya.
Dengan perasaan dongkol, Nicholas melajukan mobilnya menuju kediaman Wijaya. Ia sudah sangat lelah karena seharian mondar-mandir kesan kemari bersama Hanna. Tubuhnya sudah meronta minta rebahan di kasur empuk miliknya.
"Anak nakal, adikmu mana? Masa kau tinggalkan dia di Eropa," sergah mamanya.
"Nyonya Wijaya, putramu ini sangat lelah baru sampai rumah. Kasih minum dulu kek baru ngomel," sahut Nicholas memasang ekspresi lelah.
Rosa pun mendekati putranya. Tanpa aba-aba ia memukulkan sapu lidi kecil ke pantat Nicholas. Lalu menjewer telinganya hingga mengaduh kesakitan.
"Ampun ma, ampun ... Ampun ... "
Rosa yang tanpa ampun terus menjewernya hingga ke kamar Nicholas.
"Ma, kalo telinga kakak lepas gimana?" ucap Nicholas mengusap-usap telinganya.
"Salahmu sendiri itu, orang tua nanya malah jawabnya begitu!"
__ADS_1
Nicholas menghela napas, menghadapi mamanya yang tengah marah memang lebih sulit daripada menjinakkan seekor singa betina yang sedang PMS.
Nicholas yang sudah sangat ingin beristirahat pun membujuk Rosa untuk menunggu hingga besok pagi karena dia akan mejelsskan hingga sejelas-jelasnya.
Nicholas langsung memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih lalu bersiap tidur. Sesekali pikirannya melayang memikirkan keadaan Hanna yang ia tinggalkan sendirian di apartmen tua itu.
...****************...
"Tuan Hamilton, tuan besar memanggil anda," ucap pengurus rumah setelah mengetuk pintu ruang kerja Hamilton.
Sepanjang menyusuri koridor menuju pavilion milik Ethan, Hamilton terus bertanya-tanya mengapa daddynya memanggil dirinya.
"Tumben sekali, hal serius apa yang ingin dia bicarakan," gumam Hamilton.
Tok ... Tok ... Tok ...
Hamilton langsung masuk ketika Ethan mempersilahkan. Ia memang anak yang paling to the point diantara anak Ethan yang lain. Tapi, disitulah letak data tarik seorang Hamilton yang berhasil mengembangkan keluarga Hamilton menjadi semakin besar dan kuat.
Bahkan, jika ada kerajaan pun kerajaan itu yang akan tunduk kepada keluarga Hamilton. Karena saking luasnya kekuasaan keluarga Hamilton saat ini. Juga kekuasaan di dunia bawah yang sudah tidak diragukan lagi reputasinya.
"Ada apa Dad?"
"Kau mau menikahkan Zicho dengan putri Wijaya?"
Hamilton mengangguk.
Ethan langsung melempar sebuah asbak hingga mengenai pelipis Hamilton. Darah segar mengalir, Hamilton hanya bisa menutupinya dengan tangan.
Pengurus rumah yang mendengar sur keras langsung masuk dan terkejut ketika melihat darah yang menetes ke lantai.
"Tuan... !"
Pengurus rumah langsung berlari mengambil sapu tangan di sakunya.
Hamilton pun mengambil sapu tangan yang diberikan untuk menekan lukanya.
"Hamilton, aku tak akan membiarkanmu melakukan hal itu. Jangan harap aku menyetujui rencanamu itu," ucap Ethan tegas.
Hamilton hanya mendengarkan Ethan tanpa reaksi karena ia tengah menahan rasa sakit di pelipisnya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu untuk mengobati luka," ucap Hamilton tetap dengan suara rendah.
Ia memang selalu menghormati ayahnya. Terlebih lagi, ia memang tak bisa membantah apapun perintah ayahnya. Karena ia beragapan bahwa ayah memah harus ia hormati selalu selama masih ada.
Ia tak ingin terlambat lagi menghargai kehadiran orang-orang yang menyayanginya setelah ia kehilangan Emily.
__ADS_1
Ethan kembali duduk berusaha meredam emosinya. Ia sadar bahwa ia sudah sangat keterlaluan kepada putranya.