
Pagi cerah nan indah diiringi kicauan burung terasa sangat menenangkan.
Tidur pulas Emily terganggu dengan sebuah elusan di pipinya. Perlahan ia buka matanya.
"Sayang!" Emily terkejut.
Hamilton tersenyum, "Good morning, sweetie."
Emily langsung mengahambur ke pelukan Hamilton. Hamilton pun dengan senang hati menyambutnya.
Hamilton sangat mencintai istrinya itu, hingga rasanya tak tahan jika berpisah terlalu lama dengan Emily. Terlebih lagi, Emily tengah mengandung putri kecilnya.
"Aku sangat merindukanmu.... " Lirih Emily menitikkan air mata dalam dekapan Hamilton.
"Aku juga, sayang."
Keluarga Hamilton memang keluarga yang sangat harmonis. Kehidupan mereka sangat sejahtera juga penuh kasih sayang. Bahkan hingga para pelayan yang bekerja di sana sangat betah karena hal tersebut.
Kebahagiaan keluarga Hamilton membuat banyak orang iri dan memusuhi mereka. Tapi, keluarga Hamilton yang memiliki bisnis di dunia bawah pun bukannya tak punya cara untuk mengatasi masalah sepele seperti itu.
"Sayang.... ! Sayang.... ! Tolong.... !"
Hamilton yang tengah mendengarkan laporan dari bawahannya di lantai satu langsung berlari ketika mendengar teriakan Emily dari kamar.
Hamilton sangat panik mendengar suara istrinya yang terdengar sangat kesakitan.
Ketika mendapati istrinya pendarahan, Hamilton langsung memerintahkan beberapa bodyguard untuk menyiapkan mobil. Sedang Hamilton sendiri lah yang menggendong Emily.
Dengan sangat terburu-buru mereka pergi ke rumah sakit. Kondisi Emily yang sudah sangat lemah membuatnya langsung masuk ke ruang operasi.
Sudah lebih dari dua jam Hamilton mondar-mandir di depan ruang operasi menunggu istrinya selesai operasi.
"Eeaaa ... Eeaaa ... Eeaaa ... "
Hamilton tersenyum lega mendengar suara tangisan putri kecilnya. Selang tak berapa lama, Emily yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri didorong keluar menuju ruang perawatan.
Wajah pucat Emily membuat Hamilton sedikit khawatir. Tapi, dokter berkata bahwa istrinya hanya butuh istirahat setelah melahirkan.
"Pak, mau lihat putri bapak? Mari, saya antar."
Hamilton pun mengekor seorang perawat. Ia melihat putri kecilnya dari luar ruang bayi.
Bayi mungil yang begitu menggemaskan membuat Hamilton tersenyum bahagia. Namun, ia juga harus memperhatikan keselamatan putri kecilnya yang baru lahir itu.
__ADS_1
"Kalian berdua, berjagalah di sini. Jaga putriku dengan baik," perintah Hamilton kepada dua bodyguard yang ikut mengantar Emily tadi.
Hamilton menyusul istrinya di ruang perawatan dan syukurnya ia sudah sadar. Hamilton tersenyum melihat Emily yang menatapnya lemah.
"Sayang, di mana putri kita?" Tanya Emily lirih.
"Ada di ruang bayi. Aku sudah menyuruh bodyguard untuk berjaga. Akan aku tambah orang lagi," jawab Hamilton menenangkan Emily.
Hamilton mencium kening istrinya menyemangati.
"Sayang, apa kau lapar? Mau buah? Apel? Anggur? Atau apa? Aku belikan sekarang," rentet Hamilton.
Emily tertawa kecil melihat kelakuan Hamilton.
"Berikan aku apel saja," sahut Emily lembut.
"Ayah! Ayah sembunyikan di mana adikku?" Seru Zicho yang tiba-tiba muncul bersama pengurus rumah.
"Maaf tuan, tuan muda memaksa ingin kemari."
"Sudah, tak apa. Duduklah dulu,"sahut Hamilton ramah seperti biasanya.
Hamilton lanjut mengupas apel untuk istrinya. Sedang Zicho begitu cerewet mengajak pengurus rumah menemaniny bermain.
"Zicho, adikmu sebentar lagi diantar kemari. Jadi, jangan ribut.... " Tegur Hamilton memperingatkan putranya yang masih saja mengoceh.
"Sabar sayang, sekarang pulihkan dulu dirimu."
Emily bingung kenapa Hamilton tiba-tiba berkata demikian.
"Apa? Aku tidak mengatakan apapun," tanya Emily.
Hamilton menarik hidung mancung Emily, "Wajahmu mengatakan semuanya. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu itu, sayang."
Emily tersipu malu sambil memukul dada Hamilton pelan.
Pengurus rumah yang melihat majikannya tengah bermesraan pun langsung menyeret Zicho keluar ruangan dan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.
"Kenapa Tuan Lean menarikku!"
"Tuan muda, mama dan ayah tuan muda sedang mendiskusikan hal penting. Jadi, tuan muda tidak boleh mengganggu mereka dulu," sahut Lean sambil berbisik kepada Zicho.
Zicho pun menurut dan meminta Lean mengajaknya ke ruang bayi. Ia sudah sangat ingin melihat adik kecilnya.
__ADS_1
"Tuan Lean, lihat! Itu adikku," seru Zicho sangat bersemangat.
"Sssttttt.... Tuan muda, jangan berisik. Nanti mengganggu adik tuan muda yang sedang tidur," ucap Lean memperingatkan.
Zicho langsung menggerakkan tangannya seperti menutup risleting di mulutnya. Zicho mengamati bayi mungil cantik dari luar ruang bayi.
Tak lama kemudian, seorang perawat mengambil box bayi adiknya dan Zicho langsung bereaksi.
"Tuan Lean! Dia ingin mengambil adikku!" Teriak Zicho langsung menghadang di depan pintu.
Lean yang tengah mengobrol dengan salah satu bodyguard pun jadi panik. Para bodyguard pun refleks hendak menerobos masuk ke ruang bayi.
Sedangkan perawat yang membawa adik Zicho itu hanya berdiri kebingungan dan sedikit takut.
"A-aku hendak membawanya untuk disusui ibunya," ucap perawat tersebut.
Zicho, Lean dan para bodyguard pun membuntuti perawat. Ada juga yang berjalan di depan perawat tersebut. Mereka tak ingin mengambil resiko jikalau perawat itu ternyata memiliki niat buruk kepada putri keluarga Hamilton.
"Ayah! Mama! Lihat, siapa yang datang.... " Seru Zicho sembari berlari menghambur ke arah Emily dan Hamilton.
Sebuah senyum langsung merekah pada bibir manis Emily. Putri kecil yang dinanti-nanti akhirnya datang kedalam dekapannya.
Emily langsung memberi putri kecilnya itu susu. Dengan penuh kasih sayang dan sabar Emily membelai putri kecilnya yang tengah menyusul. Ia masih tak menyangka Tuhan sebaik itu kepada dirinya.
Sedang Hamilton yang berdiri di samping Emily menerima kode dari salah satu bodyguard. Karena merasa ada yang janggal dengan perawat yang tadi membawa Nona muda, ia pun langsung memberitahu Hamilton akan hal tersebut.
"Kami tak berkata apapun, tapi dia tiba-tiba bilang dia hendak mengantar Nona muda kemari dengan nada gugup dan takut."
Hamilton dengan feeling tajamnya langsung menyuruh Lean untuk mengajukan perawatan pasca melahirkan di rumah. Ia tak mau mengambil resiko musuhnya menyerang disaat ia lengah karena terlalu banyak orang yang ada di rumah sakit.
Lean mengangguk paham dan langsung melaksanakan perintah Hamilton tanpa tapi. Sedang para bodyguard terus mengawasi Emily, Zicho dan Nona muda mereka.
"Sayang! Aku sudah mempunyai nama untuk putri kecil kita. Aku membuatnya bersama Zicho," ucap Emily dengan riang.
"Benarkah? Apa itu?"
"Alexa! Alexandria. Bagaimana?"
"Hmmm, nama yang cantik! Sama seperti parasnya yang mirip denganmu," timpal Hamilton sedikit menggoda Emily.
Emily tersipu malu mendengar perkataan Hamilton. Tapi memang benar, Alexa sangat cantik dan sangat mirip dengan Emily.
Saat ini, Emily sangat-sangat bahagia. Ia tak memyesali apapun keputusannya menikah dengan Hamilton yang dulu diragukan banyak orang termasuk keluarganya. Emily memang bukan dari keluarga berada seperti keluarga Hamilton, tapi Hamilton dengan tulus menerima dan mencintai Emily.
__ADS_1
Kebahagiaan Emily lengkap sudah, ia sangat mensyukuri kehidupan yang ia miliki ini.
Ia tak takut pada apapun lagi dengan semua dukungan yang diberikan oleh Hamilton dan Zicho. Dan sekarang, bertambah lagi satu dukungan dari putri kecilnya, Alexa.