Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 41


__ADS_3

Zicho yang datang ke ZN Group langsung menghampiri Hanna ke meja kerjanya. Tapi, ia tak mendapati Hanna disana.


"Hanna di mana?"


"Oh, Hanna sedang meeting dengan tim marketing."


"Baiklah, terima kasih."


Zicho pergi menuju ruang tunggu. Dengan sabarnya ia menunggu Hanna selesai meeting. Sekretaris yang ditemui Zicho tadi pun menghidangkan secangkir kopi.


Sesekali ia tersenyum genit kepada Zicho. Zicho hanya acuh karena sudah terlalu banyak yang begitu kepadanya. Bahkan lebih cantik dari sekretaris itu.


Zicho menyeruput kopinya sambil melirik. Ia merasa sedikit tak nyaman terus-terusan dipandangi.


"Ada apa? Kurasa aku tak ada perlu apa-apa denganmu," ucap Zicho menaikkan sebelah alisnya.


Sekretaris itu merasa malu dan langsung pergi meninggalkan Zicho.


Selang tak berapa lama, Hanna keluar dari ruang meeting. Zicho pun langsung menyambut Hanna dengan senyuman. Terlihat jelas raut lelah Hanna lalu berganti menjadi ceria ketika melihat Zicho.


"Tumben sekali kau kemari?"


Zicho menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Anu, aku ingin mengajakmu makan siang."


Hanna melirik jam tangan miliknya.


"Kau tak lihat jam?"


Zicho nyengir kuda.


Melihat Zicho begitu, Hanna menghela napas berat. Namun, tatapan Zicho yang memelas membuat Hanna sedikit luluh. Apalagi sepertinya Zicho belum makan siang.


"Baiklah, aku temani kamu makan sebentar di kantin. Setelah itu kamu pulang," ucap Hanna.


Zicho merasa sedikit kecewa. Akan tetapi, melihat Hanna tidak bisa diajak negosiasi Zicho pun menurut.


Mereka menuju kantin dengan saling diam. Hanna yang sibuk memeriksa pekerjaannya membuat Zicho tak berani bertanya apa-apa.


Zicho langsung memesan makanan dan beberapa cemilan agar Hanna tidak hanya menonton dirinya makan. Ia merasa tak enak jika Hanna hanya menemaninya makan.


"Hanna, kurasa tadi ayahku datang kemari. Apa dia menemuimu?" tanya Zicho.


Hanna mengalihkan pandangannya dari tablet di depannya.


"Tidak, aku tak melihat ayahmu. Kenapa?"


Zicho menatap Hanna sambil menggeleng. Ia pun melanjutkan makannya setelah melihat Hanna menyomot kentang goreng.


Tak banyak obrolan diantara mereka karena Zicho merasa begitu canggung jika harus membahas sesuatu yang berkaitan dengan perasaan. Tak peduli seingin apa dirinya membahas hal tersebut, ia tetap harus menahan diri. Ia tak mungkin mengungkapkan perasaannya terhadap Hanna padahal mereka belum lama saling mengenal.


"Oh iya, kamu ada perlu apa mencariku?" tanya Hanna meletakkan tabletnya.


"Hah?"

__ADS_1


"Oh, itu.... Anu.... "


Zicho berusaha memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan Hanna yang begitu tiba-tiba. Ia tak mungkin menjawab karena ia merindukan Hanna.


Hanna terus menunggu jawaban Zicho sambil mengunyah kentang goreng.


"Mmmm, itu.... Aku, aku ingin mentraktirmu. Iya, itu."


Hanna menyipitkan mata menyelidik karena jawaban Zicho sangat mencurigakan.


Melihat tak ada tanda-tanda kebohongan dari Zicho, Hanna mengangguk.


"Oh, baiklah. Harusnya kmu mengabariku dulu," ucap Hanna.


"Kau menyuruhku mengabarimu dulu?"


"Ha... Ha... Ha... Jangan melawak di depanku Hanna," sambung Zicho merasa kesal.


Hanna bingung dengan sikap Zicho yang demikian. Zicho yang saking kesalnya melihat reaksi Hanna yang begitu langsung menenggak segelas es teh miliknya.


Hanna semakin bingung dengan tingkah Zicho.


"A-ada apa?" tanya Hanna hati-hati.


"Oh! Tak apa, tak ada apa-apa."


Hanna pun mengangguk dan hendak memegang kembali tabletnya.


"Hei! Kau menyuruhku mengabariku tapi kau sendiri tak pernah memberikan kontakmu kepadaku," omel Zicho sangat panjang.


Zicho yang tak sengaja mengomel pun langsung menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut karena adegan itu benar-benar diluar kendalinya.


"A-anu Hanna,"


Hanna tersenyum ramah, "Rupanya begitu. Ini, kontakku."


Zicho tersipu melihat Hanna yang tersenyum ramah kepada dirinya hingga tak mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Hanna.


Melihat Hanna yang bangkit dari duduk, Zicho terkesiap ikut bangkit.


"Kamu mau kemana?"


"Mau kerja," sahut Hanna menunjukkan tablet di tangannya.


"Eh! Aku kan belum selesai makan,"


"Belum selesai apanya? Kau mau makan piringnya juga?" sahut Hanna sambil melirik makanan Zicho yang sudah habis.


Zicho pun mengikuti arah mata Hanna. Dan benar saja, makanannya sudah habis tanpa ia sadari. Tapi, Zicho belum rela jika Hanna kembali bekerja dan meninggalkan dirinya.


Hanna pun berlalu pergi meninggalkan Zicho sambil tertawa kecil. Ekspresi Zicho yang begitu lucu membuat Hanna tak dapat menahannya.


Zicho pun pulang setelah meletakkan piring kotornya ke tempat yang sudah disediakan.


"Zicho?" gumam Nicholas.

__ADS_1


"Sedang apa kau di sini?" tanya Nicholas yang mendekat kepada Zicho di lobby.


Zicho yang ditanya langsung menoleh. Zicho menaikkan sebelah alisnya bertanya-tanya.


"Memangnya kau melihatku sedang apa?" tanya Zicho.


"Hanya berdiri sambil celingukan seperti anak ayam yang terpisah dari induknya," sahut Nicholas dengan nada mengejek.


Zicho mencebikkan bibirnya mendengar ejekan Nicholas.


"Sudahlah, aku mau pulang."


"Pulang tinggal pulang. Siapa juga yang melarangmu?" sahut Nicholas acuh.


"Lagi pula, keberadaanmu juga tak diinginkan di sini," sambung Nicholas.


Zicho mulai kesal mendengar ucapan tajam Nicholas. Meskipun hal tersebut benar, tapi tetap saja itu terlalu kejam.


Nicholas pun berlalu pergi menuju ke ruangannya. Masih banyak pekerjaan yang sudah menantinya.


Melihat Nicholas pergi, Zicho pun pergi menuju mobilnya.


"Hanna, lain waktu. Aku pasti akan mengungkapkan perasaanku kepadamu," gumam Zicho di dalam mobil.


Sepanjang jalan ia terus tersenyum mengingat Hanna yang tersenyum ceria.


Sedangkan Nicholas terus saja menggerutu di ruangannya. Ia sangat yakin jika Zicho datang untuk menemui Hanna.


"Hanna, ke ruanganku sekarang," perintah Nicholas.


Hanna pun datang ke ruangan Nicholas. Melihat raut Nicholas yang begitu suram nyalinya jadi menciut. Tak biasanya Nicholas begitu kecuali ada pekerjaan yang sulit ditangani.


"A-ada apa Mr ?"


"Ah, hari ini kamu menemui siapa?" tanya Nicholas serius.


"Eh? Anu, saya hanya di ruangan lalu makan siang di kantin dan setelah itu saya meeting dengan tim marketing."


Hanna terdiam ketika melihat Nicholas menatapnya tajam.


"Ke-kenapa Mr?" tanya Hanna hati-hati.


Nicholas lantas bangkit dari kursinya dan mendekat kepada Hanna.


"Apa kau sunguh-sungguh?"


"Kau tak menemui Zicho atau siapapun bukan?" tanya Nicholas lagi.


Hanna membulatkan mata terkejut.


"M-memang apa urusannya dengan Mr?"


Nicholas yang sudah sangat dekat dengan Hanna langsung mendur karena tersadar dengan tindakannya yang berlebihan itu. Terlebih, tak ada status apapun diantara mereka selain bos dan pegawai. Status tersebut tentu tak cukup untuk bisa menanyakan hal-hal pribadi.


"M-maaf, lupakan saja. Kamu boleh kembali bekerja," ucap Nicholas dengan pipi merona karena malu.

__ADS_1


Hanna pun kembali sambil menahan tawa. Melihat wajah Nicholas yang memerah bagi Hanna sangat lucu.


__ADS_2