Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 62


__ADS_3

"Morning, sayang."


"Saatnya sarapan. Ini khusus dibuatkan oleh chef Nicholas," sambung Nicholas sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


Hanna terperanjat mendengar suara Nicholas yang terdengar serak dan berat. Sangat menggoda, tapi juga membuat Hanna takut.


Melihat reaksi Hanna yang tak seperti biasanya membuat Nicholas sedikit sedih. Kedua bola mata Hanna begitu jelas menyiratkan rasa ketakutan yang terpendam. Dengan berat hati, Nicholas meletakkan bubur buatannya di meja nakas dan meninggalkan Hanna seorang diri.


"Makanlah, aku tunggu kamu di luar."


Baru juga Nicholas berbalik badan hendak pergi, ujung bajunya ditarik oleh Hanna. Ia menggeleng sambil menunduk.


"Tolong suapi aku," pinta Hanna masih menunduk.


Nicholas lantas menggenggam tangan lemah Hanna dan berjongkok. Sambil tersenyum sumringah ia mengambil mangkuk bubur itu lagi dan mulai menyuapi Hanna dengan perlahan.


"Pelan-pelan saja, kamu aman bersamaku." Pungkas Nicholas yang melihat Hanna menelan dengan terburu-buru.


"Lihat kan, jadi belepotan makannya."


Wajah Hanna memerah ketika Nicholas menggunakan tangannya mengusap bubur di sudut bibir Hanna.


Nicholas yang melihat ingin sekali tertawa dan menggoda Hanna. Tapi, ia harus menahannya karena Hanna masih belum menghabiskan buburnya.


"Bi-biar aku makan sendiri saja," ucap Hanna gugup merebut mangkuk dari tangan Nicholas.


Nicholas tersenyum puas melihat Hanna yang salah tingkah. Akan tetapi, di otak jahatnya terbesit ide untuk menggoda Hanna lebih intens lagi.


Dengan suara berat dan serak miliknya, ia berbisik, "Yakin kamu bisa makan sendiri sayang?".


Wajah Hanna semakin memerah ketika Nicholas mendekatkan wajahnya ke telinga. Tangan Nicholas pun mulai membelai rambut panjang Hanna. Wangi vanilla dari rambut Hanna benar-benar membuat Nicholas mabuk.


Nicholas yang tengah asyik mencium rambut Hanna sekilas melihat di tangan Hanna banyak bekas luka suntikan. Ia pun langsung meraih tangan Hanna kasar. Emosinya langsung memuncak ketika melihat wanitanya terluka barang sekecil apapun.


"Apa yang mereka lakukan padamu?" Tanya Nicholas dengan nada sedikit tinggi.


"Sa-sakit. Lepaskan aku," rintih Hanna sambil berusaha melepaskan tangannya dengan tatapan ketakutan.


Nicholas pun kembali tersadar ketika melihat kilatan mata Hanna yang penuh ketakutan.


Hanna pun memalingkan muka enggan menatap Nicholas. Ia juga memeluk dirinya sendiri.


"Pergi!"

__ADS_1


"Aku mau sendiri," sambung Hanna tanpa menoleh menatap Nicholas.


Sudut hati Nicholas terasa sakit mendengar ucapan Hanna. Selain itu, ia juga merasa bersalah karena tidak bisa mengendalikan emosinya hingga menyakiti tangan Hanna.


Dengan terpaksa Nicholas keluar meninggalkan Hanna sendirian di kamar. Ia juga hari ke kantor untuk kerja. Tapi, sebelum itu Nicholas meminta Rosa untuk datang dan menjaga Hanna selama ia tidak ada.


Selain itu, Nicholas juga meningkatkan penjagaan dengan menambah jumlah bodyguard.


"Ma, jagain istri Nazriel ya. Jangan sampai dia lecet ya ma. Awas aja," ancam Nicholas kepada Rosa.


Rosa sontak memberi tatapan tajam kepada putranya yang akhlak less itu. Melihat tatapan tajam dari mamanya, Nicholas langsung mengibrit pergi.


Rosa setelah meletakkan barang kebutuhan di dapur dan juga meletakkan tasnya di sofa langsung menuju kamar Hanna. Meski pintu kamar Hanna terbuka, Rosa tak langsung masuk karena itu perbuatan tidak sopan. Terlebih lagi, kondisi psikis Hanna yang belum stabil.


Dengan sangat berhati-hati, Rosa perlahan mengetuk pintu kamar Hanna setelah beberapa saat memperhatikan Hanna yang tengah berusaha menghabiskan buburnya.


"Menggemaskan sekali," gumam Rosa.


"Kasih liat papa ah, biar dia iri nggak bisa bareng menantunya."


Setelah Rosa mengirim foto yang ia ambil diam-diam kepada Wijaya, ia mengetuk pintu kamar Hanna yang sudah terbuka.


Tok tok tok.


"Bo-boleh ma," sahut Hanna terbata karena terkejut.


Hanna tentu tak menyangka jika ibu mertuanya akan datang ke apartment. Hanna masih tertunduk merasa gelisah.


Rosa yang paham pun perlahan-lahan mendekat dan menggenggam tangan Hanna.


Hanna sangat terkejut langsung menarik tangannya dari genggaman Rosa. Hanna tampak enggan dan masih trauma dengan kejadian penculikan itu. Belum lagi, bekas-bekas suntikan di tangan Hanna ada beberapa yang membiru.


Rosa merasa sangat iba dengan apa yang dialami oleh menantunya itu.


"Maaf sayang, mama nggak bermaksud."


Hanna hanya diam dan menunduk sambil memegangi tangan kirinya.


"Ah, baiklah. Sebaiknya kamu istirahat lagi sayang. Kalau butuh apa-apa mama ada di depan ya," ucap Rosa sembari membantu Hanna berbaring dan menyelimuti seluruh tubuh Hanna.


Rosa pun berlalu pergi menuju dapur. Ia membenahi belanjaan yang sengaja ia bawa untuk Hanna.


Setelah selesai menatap belanjaan, Rosa melihat banyak peralatan dapur yang kotor bekas Nicholas memasak bubur pun langsung ia cuci. Selang tak berapa lama ketika Rosa tengah mencuci piring, Hanna dengan langkah lemah dan sempoyongan berusaha menghampiri Rosa.

__ADS_1


Gubrak!


"Astaga, Hanna!"


Rosa langsung berlari menghampiri Hanna. Rosa tentu saja panik, ia bahkan sampai memanggil bodyguard yang berjaga di depan pintu apartment.


Rosa juga memanggil dokter pribadi keluarga karena takut terjadi apa-apa kepada menantunya itu. Para bodyguard yang bersiaga juga dengan sigap menggendong Hanna ke kamar lagi.


"Sayang, kamu baik-baik aja? Ada yang luka atau sakit?" tanya Rosa berturut-turut.


Hanna menunduk sembari memainkan jemarinya gelisah.


"A-anu ma," ucap Hanna hendak memgutarakan permintaan maaf kepada Rosa atas sikapnya tadi, tapi ia urungkan.


"Aku gapapa," sambuh Hanna sembari mencoba tersenyum.


Rosa tahu betul bahwa senyuman Hanna itu sangatlah palsu, tapi ia tentu tak ingin melukai perasaan menantunya. Jadi, Rosa menyambut hangat dengan sebuah pelukan.


Tanpa Hanna sadari, air matanya meluncur begitu saja membasahi bahu Rosa. Rasa hangat pelukan seorang ibu yang selama ini ia rindukan kini ia rasakan. Ternyata memang kekuatan pelukan seorang ibu sedahsyat itu.


"Gapapa sayang, kamu aman sekarang. Ada mama yang akan melindungimu di sini," ucap Rosa berusaha menenangkan Hanna.


Akan tetapi, kata-kata Rosa malah membuat Hanna menangis semakin keras. Juga Hanna membalas pelukan Rosa dan kian lama kian erat pelukannya. Seolah-olah Hanna tak ingin melepaskan pelukan itu.


Rosa yang sudah berpengalaman tentu tetap tenang. Ia malah menyalahkan putranya.


"Kalau Nazriel macam-macam dengan kamu, kasih tau mama aja. Biar mama hajar habis-habisan dia," ucap Rosa dengan menggebu-gebu.


Hanna pun mulai melepaskan pelukannya dan tertawa mendengar perkataan Rosa yang demikian. Hanna baru menyadari bahwa ibu mertuanya itu orang yang sangat tulus. Ia pun jadi merasa bersalah karena menikah dengan Nicholas hanyalah sebatas pernikahan kontrak.


"Oh iya sayang, tadi mama belanja bahan makanan. Kamu suka makanan apa? Biar mama buatkan," tanya Rosa dengan mata berbinar.


Hanna pun mulai membuka diri dan menyebutkan makanan favoritnya kepada Rosa.


Rosa yang melihat Hanna mulai ceria pun merasa senang karena ternyata kehadirannya itu bisa sedikit membantu memulihkan kondisi psikis Hanna.


Setelah tau makanan kesukaan menantunya itu, Rosa bergegas ke dapur dan memasak.


"Ma, aku boleh ikut?" tanya Hanna ingin sekali keluar dari kamar.


"Tidak, kamu di sini saja. Sebentar lagi dokternya sampai," sahut Rosa berkacak pinggang.


Mata Hanna pun kembali lesu.

__ADS_1


Dengan raut memelas Hanna masih mencoba merayu mertuanya agar diizinkan untuk keluar dari kamar. Tapi tentu saja, itu usaha yang sia-sia karena Rosa bukan orang yang ceroboh. Ia tak akan membiarkan kejadian yang sama terulang lagi. Terlebih lagi kepada menantunya.


__ADS_2