
"Baby, aku sudah meminta seseorang untuk mencegahmu masuk. Kamu berani sekali mengabaikan perintahku?"
"Aku juga terpaksa! Jika bukan kamu mana mungkin aku cari mati," sahut Hanna penuh emosi.
"Ah, jadi kamu mengkhawatirkanku ya?" Tanya Nicholas dengan nada menggoda.
Hanna langsung melengos pergi. Ia tak mau Nicholas tahu dirinya salah tingkah karena tergoda oleh kata-katanya.
"Sudahlah, aku mau pulang duluan. Aku bosan di sini." pungkas Hanna langsung pergi tanpa menoleh.
Nicholas hanya melihat Hanna pergi begitu saja? Tentu tidak, ia justru langsung mengejar istrinya itu. Mana mungkin dia melepaskan istrinya yang belum menerima hukuman dari dirinya.
Dengan sangat terpaksa, Hanna pun hanya bisa pasrah menghadapi Nicholas yang selalu sesuka hati.
"Mana mobilnya?"
"Di parkiran dong, sayang." sahut Nicholas lembut.
__ADS_1
"Ambil lah, tunggu apa lagi? Kau mau membiarkanku berakar di lobby?" ucap Hanna kesal.
Nicholas tersenyum tipis lalu pergi mengambil mobil. Sedangkan Hanna tolah toleh mengamati situasi. Para bodyguard yang tak ada di tempat membuat Hanna berpikiran untuk kabur karena ia tak ingin menerima hukuman dari Nicholas.
Dengan mengendap-endap Hanna pergi meninggalkan lobby dan menyetop sebuah taksi. Hanna langsung meminta diantar ke sebuah kafe. Sang sopir hanya melirik Hanna dari spion.
Setelah Hanna mengatakan tujuannya, ia mengecek ponselnya lalu mematikannya karena tak ingin diganggu oleh Nicholas. Hanna yang merasa sedikit bosan pun mengajak sang sopir mengobrol.
Sang sopir sembari merespon obrolan Hanna, ia terus menyetir dan memperhatikan jalan. Hanya sesekali ia melirik Hanna melalui spion.
Ketika sedang asyik mengobrol, Hanna tersadar jika jalan yang di lalu bukan jalan yang biasanya.
Sang sopir hanya diam dan terus mengemudikan mobilnya. Hanna mulai curiga dan ia mulai merogoh-rogoh tasnya mencari ponsel. Sang sopir yang mengetahui hal tersebut langsung mengebut dan sebisa mungkin membuat Hanna kesulitan mencari ponselnya untuk sementara hingga tiba di titik yang telah ditentukan oleh orang yang membayarnya.
Tin.... Tin.... tin....
Bunyi klakson dari mobil belakang membuat Hanna terkejut dan sang sopir pun langsung menambah kecepatan lagi.
__ADS_1
"Hanna!" teriak Nicholas.
Nicholas yang tak tahu Hanna sedang diculik pun mengira Hanna sedang marah kepada dirinya. Hingga dengan santainya ia berteriak memanggil Hanna.
Hanna yang melihat Nicholas ketika mobil Nicholas hampir menyalip taksi yang ditumpanginya itu pun langsung memukul-mukul jendela mobil sambil berteriak berharap Nicholas mengerti. Sayangnya, Nicholas dengan otak pendeknya tidak dapat membaca situasi dan kode dari Hanna.
"Nicholas! Tolong aku!" teriak Hanna terus yang berbuah sia-sia.
Ia melihat Nicholas malah terus saja membujuk dirinya agar jangan marah lagi.
"Pria bodoh! Aku sedang di culik. Cepat tolong aku!" teriak Hanna gemas kepada Nicholas yang tak paham-paham.
"Hah? Kau balas dendam kepadaku? Aku salah apa?" teriak Nicholas balik.
"Bedebah gila. Otak udangmu itu kau ganti dulu sana. Masa kalah pintar dengan seekor simpanse!" teriak Hanna sudah lelah.
"Apa! Kau di culik! Tunggu, aku akan menolongmu!" sahut Nicholas mulai paham.
__ADS_1
Hanna menghela napas kasar. Masa ia harus mengumpat dulu baru suaminya itu paham.
Nicholas pun langsung tancap gas salembari menghubungi para bodyguard untuk datang. Nicholas bukannya tak berani melawan sendirian. Tapi akan lebih baik jika keadaan benar-benar ada dalam kendalinya. Sehingga ia bisa mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan diluar rencana.