
Hanna membuka mata lebar.
"Ra, kau mau meracuniku ya?" tanya Hanna dengan raut syok.
"Kenapa? Apa seenggak enak itu?" Tanya Zahra panik dan langsung mencicipi masakannya.
"Hanna! Kau menipuku..." Pekik Zahra setelah mencicipi masakannya sendiri.
Hanna hanya nyengir kuda dengan raut tak berdosa. Zahra pun memukul lengan Hanna pelan. Mereka berdua tertawa bersama.
Setelah puas tertawa, mereka pun menikmati masakan Zahra yang sederhana, tapi penuh makna.
"Ra, kamu nggak mau nginep aja? Ini udah malem banget loh..." Bujuk Hanna khawatir.
Zahra dengan tersenyum menunjuk mobilnya. Hanna yang kebingungan pun mengalihkan pandangannya dan merasa khawatirnya sia-sia.
Sudah ada 2 mobil hitam lengkap dengan orang berseragam hitam di sekeliling mobil Zahra. Akan tetapi, awalnya Hanna mengira mereka orang jahat karena memakai pakaian serba hitam.
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Mereka akan menjagaku sampai di rumah," jelas Zahra agar Hanna tak khawatir.
"Bu-bukan begitu. Tapi..."
"Udah, gapapa kok." Ucap Zahra masih berusaha menenangkan Hanna.
"Dapurku sudah kau buat berantakan Ra, apa kau akan meninggalkannya begitu saja?" Sahut Hanna bergeser memperlihatkan dapur yang berantakan dengan wajah tersenyum dan nelangsa.
Zahra tertawa kaku dan langsung kabur menuju mobilnya. Sedangkan Hanna hanya bisa pasrah menerima nasib harus membereskan kekacauan yang dibuat Zahra sendirian.
Akan tetapi, ketika Hanna melihat semua pria yang berpakaian hitam menunduk hormat ketika Zahra datang, membuat Hanna percaya bahwa Zahra akan baik-baik saja.
Setelah melihat mobil Zahra pergi, Hanna pun masuk dan menatapi dapurnya bingung hendak mulai dari bagian mana dulu.
"Baiklah Hanna, ayo bersih-bersih dan tidur. Besok kau harus kerja lagi," ucap Hanna menyemangati diri sendiri.
Hanna yang tadinya bingung mulai dari mana langsung bergerak memisahkan sampah kering dan basah juga yang organik dan anorganik. Setelahnya Hanna mencuci semua peralatan dapur yang Zahra gunakan lalu lanjut menyapu dan mengepel lantai.
"Waaaahhhh, melelahkan sekali..." Keluh Hanna membaringkan diri di sofa.
Hanna yang sudah sangat kelelahan pun perlahan-lahan memejamkan matanya. Mengarungi dunia mimpi yang membuatnya tak ingin kembali ke kehidupan nyata yang melelahkan.
...****************...
"Mama... I'm ho-!"
Brukkk
Sebuah bantal sofa melayang tepat mengenai wajah Zahra. Zahra pun mematung tak percaya dengan apa yang barusan terjadi padanya.
"Wah, Nyonya Wijaya. Kali ini kau tepat sasaran," ucap Zahra mengacungkan jempolnya dengan tersenyum bangga.
__ADS_1
Rosa yang melihatnya malah semakin jengkel, "Nggak putra, nggak putri sama aja kelakuannya."
Zahra pun langsung membuang tasnya ke sofa dan duduk di samping Rosa berusaha membujuknya agar tak marah kepadanya.
Zahra terus saja merayu Rosa agar tidak marah lagi. Bahkan ia hingga menjanjikan makanan kesukaan Rosa. Sayangnya, Zahra tak berhasil merayu Rosa.
"Menjauhlah dariku, aku tidak punya putri sepertimu." Pungkas Rosa masih jengkel.
Zahra pun mencibir dan mencium pipi Rosa lalu kabur ke kamarnya.
Rosa tersenyum simpul karena Zahra tetaplah putri kecil manjanya meski sering membuatnya darah tinggi menghadapi tingkahnya yang tidak masuk akal.
Zahra yang melihat mamanya senyum-senyum sendiri pun mengira ia senang karena putrinya yang nakal sudah pergi.
"Maaf Nyonya Wijaya, mengecewakanmu karena harus melihat wajah menyebalkanku lagi. Tapi, tasku tertinggal."
Rosa berjingkat terkejut setengah mati dengan kehadiran Zahra yang tiba-tiba sudah di sampingnya tanpa ada suara apapun. Rosa hanya menggeleng melihat putrinya yang selalu seperti anak-anak.
Tak berselang lama setelah Zahra pergi ke kamarnya, Nicholas keluar dari ruang kerja Wijaya.
"Ma, tadi kakak dengar suara Zahra. Kemana dia? Aku belum membuat perhitungan dengannya yang sudah menculik asistenku," tanya Nicholas sambil menyapukan pandangannya.
Rosa hanya mengedikkan bahu enggan menyahuti Nicholas. Ia lebih memilih menikmati drama yang sedang ia tonton di tv.
Melihat dirinya tak direspon dan seperti tak dinggap penting oleh Rosa, Nicholas langsung menempel manja pada mamanya. Nicholas terus memeluk mamanya meski berkali-kali tangannya ditepis.
Wijaya yang baru keluar dan melihat putranya hendak merebut istrinya pun langsung menyeretnya menjauh.
"Kalau mau manja-manjaan begitu cari istri sendiri sana," sambung Wijaya merangkul bahu Rosa.
Rosa tak peduli dirinya diperebutkan oleh suami dan putranya. Ia tetap asik menikmati drama sambil menyenderkan kepalanya di bahu Wijaya.
Sementara itu, Wijaya dan Nicholas bertatapan sengit. Tak ada yang mau mengalah.
Disaat mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga, Zahra baru selesai mandi dan memandangi setiap sudut kamarnya perlahan. Dengan pelan ia duduk di depan meja riasnya dan menarik laci paling atas yang ada di sampingnya.
"Tak apa," gumam Zahra gemetaran membuka secarik kertas yang dilipat.
Tok... Tok... Tok...
Zahra terkejut dan langsung memasukkan lagi secarik kertas itu ke dalam laci dan diselipkan di bawah beberapa buku catatan kecil miliknya.
"Ra, kamu di dalam?" Tanya Nicholas dari luar pintu.
Zahra langsung mengusap matanya yang berkaca-kaca dan menyahut, "Masuk aja kak, Ara lagi pake skincare."
Nicholas pun masuk dan duduk di kasur Zahra sambil mengamati adiknya melalui cermin.
"Dek, matamu kenapa? Kok merah gitu? Kamu habis nangis ya?" Tanya Nicholas menebak.
__ADS_1
"Mana ada! Kak iel oon banget sih. Aku abis mandi, mataku kemasukan air tadi," sahut Zahra dengan nada mengomel.
Nicholas pun mendekat untuk memastikan. Ia menangkup wajah Zahra dengan kedua tangannya. Ia mendekatkan wajahnya memeriksa lalu berbisik kepada Zahra.
"Aku belum cuci tangan," bisik Nicholas langsung lari keluar kamar Zahra.
"Nicholas Nazriel Wijaya! Kau sudah gila ya? Mau merusak wajahku?" Teriak Zahra sambil mengejar Nicholas.
Rosa dan Wijaya yang sedang bermesraan pun sontak menoleh ke arah suara cempreng yang menggelegar di seluruh penjuru rumah.
Nicholas langsung bersembunyi di belakang Rosa dan Wijaya. Ia takut adiknya yang sedang kesetanan itu akan membunuhnya begitu saja.
"Ma, Ara mau bunuh kakak ma..." Adu Nicholas pura-pura ketakutan.
"Kalian berdua ngapain sih? Ini sudah malam. Masih aja berantem," tanya Rosa kesal.
"Kakak tuh ma! Masa pegang muka Ara pake tangan kotor. Kan Ara baru selesai skincare-an ma," sahut Zahra marah.
Rosa menggeleng mengajak Wijaya ke kamar dan membiarkan kedua putra dan putrinya bertengkar.
"Ayo pa, biarkan saja mereka berantem. Nanti juga capek sendiri," ajak Rosa.
Wijaya hanya menurut digandeng Rosa meski ingin sekali rasanya ia menjitak kepala Nicholas karena sudah mengganggu princess kesayangannya.
Wijaya memelototi Nicholas sambil meletakkan jempolnya pada leher untuk memberitahu Nicholas bahwa ia akan membuat perhitungan jika masih mengganggu Zahra.
Nicholas menelan ludah dan memasak ekspresi takut. Tapi setelahnya, ia kembali berulah dan membuat Wijaya darah tinggi. Akan tetapi, Rosa menahan Wijaya agar tak ikut campur karena sudah tau akhlak kedua anaknya itu.
"Biarkan saja. Putri kesayanganmu itu tak akan kenapa-kenapa."
Baru saja Rosa selesai bicara, terdengar suara benda berat jatuh. Wijaya pun memeriksa dan betapa terkejutnya ia melihat Zahra membanting Nicholas ke lantai.
"Ara! Kamu baik-baik saja sayang? Mqnq yang sakit?" Tanya Wijaya panik.
Zahra langsung pura-pura sakit dan lemah agar diperhatikan papanya.
Sedang Nicholas yang merasakan punggungnya sakit dan masih terbaring di lantai malah dibiarkan begitu saja.
"Pa! Apa aku tak terlihat di mata papa? Aku yang terluka pa," rengek Nicholas seperti anak kecil.
Zahra menjulurkan lidah mengejek sedang Wijaya tak menggubris Nicholas.
"Sudah, nikmati saja akibatnya." Ucap Rosa yang membantu Nicholas berdiri.
Nicholas menatap Zahra sengit dengan mulut komat-kamit tak terima.
"Sudah mama obatin. Kalian berdua mama kasih waktu introspeksi diri di sini. Besok pagi belum baikan juga, mama buang kalian berdua ke got."
"Ayo pa, kita tidur."
__ADS_1
Rosa dan Wijaya pun pergi tidur. Sedang Nicholas dan Zahra ditinggalkan di sofa ruang keluarga untuk introspeksi diri. Sesekali mereka masih adu mulut dengan suara pelan dan saling menatap sengit.
Akan tetapi, lama kelamaan mereka lelah dan tertidur bersama di karpet sambil berpelukan.