
"Hanna! Ikut aku," teriak Zahra yang tiba-tiba muncul dari balik lift.
Hanna terjingkat kaget mendengar suara Zahra yang melengking. Belum juga siap, Zahra langsung menarik Hanna menuju lift dan mengajaknya ke taman di rooftop.
Hanna bingung kenapa hari ini banyak hal aneh yang terjadi di sekitarnya. Pertama Nicholas, Alex dan sekarang Zahra pun demikian.
"Kenapa? Ada apa kau menarikku?" Tanya Hanna menghentikan langkah.
Zahra menarik Hanna lagi menuju sebuah bangku. Hanna makin kebingungan dengan tingkah Zahra yang tak biasa.
Zahra langsung duduk, sedangkan Hanna yang masih kebingungan hanya diam berdiri menatap Zahra.
"Duduk," perintah Zahra.
Dengan raut cemberut Hanna terpaksa duduk.
"Ah, maafkan aku sudah menarikmu dengan paksa ke mari tanpa penjelasan," ucap Zahra membujuk Hanna yang kesal.
Sayangnya, Hanna bukan orang yang mudah untuk dibujuk.
"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, aku akan memenuhi satu permintaanmu hari ini."
Hanna masih pura-pura marah dan mencoba memanfaatkan kesempatan selagi Zahra tak sadar bahwa ia pura-pura.
Hanna menunjukkan dua jarinya tanpa menoleh kepada Zahra.
"Hei! Kau mau mengambil keuntungan dariku ya?" Pekik Zahra tak rela.
"Ya sudah, aku pergi."
Hanna pun bangkit dari duduknya. Namun, Zahra menahan lengannya dan hendak menyetujui permintaan Hanna.
Akan tetapi, ketika Zahra melihat senyum lebar Hanna ia tersadar.
"Hei! Harusnya aku yang marah padamu. Kenapa jadi kamu yang marah!" Ucap Zahra kesal.
Zahra pun langsung menunjukkan ponselnya kepada Hanna, "Dia siapa? Kau berkencan dengannya?"
Sekarang Hanna paham mengapa Zahra bersikap demikian.
"Tidak, aku tidak."
Zahra menatap Hanna menyelidik mencari kebohongan di matanya.
"Hei, dia hanya ganti rugi makan siangku yang pernah dirusak oleh adiknya."
Hanna mencoba meyakinkan Zahra dengan jawaban jujur. Sedang Zahra belum yakin dengan jawaban Hanna yang terdengar seperti omong kosong baginya.
__ADS_1
"Memangnya ada orang yang ganti rugi seakrab itu?" Tanya Zahra memojokkan Hanna.
"Kau ini kenapa? Memangnya jika aku berpacaran aku harus melapor padamu? Apa kau ibuku?" Tanya Hanna mengalihkan pembicaraan.
"Hanya ingin tahu. Aku tak mau kau jatuh ke tangan pria brengsek," jawab Zahra kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Kau tahu, di dunia ini ada begitu banyak pria brengsek yang meninggalkan kekasihnya hanya karena bosan. Dan aku, aku tak mau itu terjadi padamu," sambung Zahra sambil menatap langit yang mulai menampakkan senjanya.
Hanna menoleh pada Zahra. Ia yang tak pernah begitu dekat dengan siapapun kini merasa memiliki keluarga. Zahra sudah seperti saudara perempuan yang selalu Hanna inginkan kehadirannya.
Zahra yang merasa ditatap begitu dalam oleh Hanna pun menoleh dan tersenyum kepada Hanna.
Bagi Hanna, Zahra terlihat seperti malaikat yang dikirim oleh Tuhan kepadanya. Wajah cantik dan kulit putihnya terlihat begitu sempurna ditimpa cahaya keemasan matahari senja.
Selagi Hanna dan Zahra menikmati langit senja di taman ZN Group, ada Nicholas yang tiba-tiba keluar dari ruangannya.
"Alex, apa Zahra di sini? Tadi sepertinya aku mendengar suaranya," tanya Nicholas memastikan sambil menyapukan pandangannya.
Tak mendapati Zahra dan Hanna pun tak ada di mejanya membuat Nicholas menatap Alex penuh tanya.
"Hanna kemana lagi?"
Alex menghela napas berat, " Hanna pergi. Tadi ditarik Nona Zahra kecintaan Tuan Nicholas."
Alex kembali mengalihkan pandangannya kepada berkas yang harus segera ia selesaikan.
Alex yang hampir habis kesabarannya pun menjawab dengan malas, "Aku tidak tahu. Kau cari sendiri saja. Aku sibuk."
Baru saja Alex selesai bicara, ia langsung dihadiahi toyoran di kepalanya oleh Nicholas.
Alex sangat ingin mengumpat kepada bosnya itu. Tapi mengingat bonusnya belum cair, ia dengan terpaksa harus menahan diri.
"Kalau bukan rooftop, mereka ada di kantin," celetuk Alex tiba-tiba ketika Nicholas hendak masuk lagi ke ruangannya.
Namun, Nicholas terlihat tak peduli dengan informasi yang Alex berikan. Ia tetap melangkah kembali ke ruangannya.
Setelah Nicholas menghilang di balik pintu, Alex langsung menggerutu meluapkan rasa kesalnya.
Sedang Nicholas langsung menuju mejanya dan membuka akses CCTV di rooftop dan kantin. Ia tak peduli tentang Alex yang sedang mengucapkan sumpah serapah untuknya. Yang ia pedulikan hanya Zahra dan Hanna.
Nicholas mulai panik ketika melihat semua titik CCTV tak ada satupun yang menampilkan Zahra dan Hanna.
Akan tetapi, tiba-tiba ponsel Nicholas berdering menampilkan nam Zahra yang menelepon. Nicholas langsung mengangkatnya dan ketika hendak menanyakan keberadaan Zahra, sayup-sayup ia mendengar suara Hanna yang sedang menjelaskan bahwa Zicho hanya ganti rugi sebuah makan siang yang di rusak oleh adiknya.
Nicholas langsung tersenyum puas mendengar pengakuan Hanna.
"Begitu rupanya," gumam Nicholas tak berhenti tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku percepat saja rencananya. Aku tak ingin keduluan siapapun," ucap Nicholas sambil menyandarkan punggungnya merasa lega.
Nicholas pun menyusul Zahra dan Hanna ketika panggilan itu dimatikan oleh Zahra.
Hanna dan Zahra tak menyadari sama sekali kehadiran Nicholas di belakang mereka. Nicholas pun memutuskan duduk membelakangi mereka sembari mendengarkan obrolan Hanna dan Zahra.
Betapa terkejutnya Nicholas mendengarkan curahan hati Zahra yang sangat diluar dugaannya. Zahra yang terlihat begitu cuek dan baik-baik saja mengalami hal seperti itu dan mellauinya sendirian.
"Sial! Brengsek mana yang sudah menyakiti adikku," gumam Nicholas sangat pelan.
Nicholas mengepalkan tangannya dan langsung pergi begitu saja tak jadi menyapa Zahra.
Hanna dan Zahra yang begitu menikmati langit senja dan angin sepoi yang sesekali bertiup kencang tetap tak menyadari kehadiran Nicholas hingga Nicholas pergi.
"Alex!" Teriak Nicholas yang baru keluar dari lift.
Nicholas berjalan cepat menghampiri Alex. Sayangnya, Alex tak ada di meja kerjanya dan ia pun langsung merogoh saku celananya.
Betapa frustasinya Nicholas melihat ponsel Alex yang bergetar di samping komputernya.
"Astaga Alex!"
Nicholas membanting ponsel Alex karena sudah sangat marah. Ia tak peduli jika itu milik Alex. Ia hanya butuh sesuatu untuk melampiaskan emosinya.
"Pon-ponselku... " Ucap Alex yang baru datang dengan nada sedih.
"Hei! Kau gila? Kau merusak ponsel kesayanganku!" Bentak Alex nelangsa.
Nicholas hanya menatap datar printilan ponsel Alex yang habis ia banting. Melihat Alex yang begitu nelangsa, Nicholas pun tak jadi mengomel.
"Baiklah, baiklah. Akan aku ganti ponselmu itu."
Mata Alex langsung berbinar mendengar bosnya mau ganti rugi. Karena biasanya ia tak peduli tentang apapun.
"Ah iya Lex, tolong hubungi Sam. Dia masih di Eropa bukan?" Suruh Nicholas tanpa menjelaskan alasannya.
Alex mengangguk, "Baiklah. Tapi, setelah kau ganti ponselku."
Nicholas mengeluarkan dompet miliknya dari saku belakang celana. Ia mengambil kartu debit pribadinya.
"Belilah sendiri. Kembalikan kartunya padaku setelahnya," ucap Nicholas sedikit tak rela sebenarnya.
Dengan girang Alex berlalu pergi untuk membeli ponsel baru. Tentu saja ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Apalagi Nicholas seringkali pelit jika dengan Alex.
"Ra, tadi kamu ngerasa nggak sih kayak ada orang yang ngawasin kita?" tanya Hanna karena merasa sedikit tak nyaman.
Zahra menggeleng, "Nggak tuh. Kenapa?"
__ADS_1
Hanna terus menatap Zahra khawatir tanpa menjawab pertanyaan Zahra.