Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 36


__ADS_3

"Alex! Sam!"


"Kakakku kemana sih? Ponselnya mati,"


Suara cempreng Zahra memenuhi ruangan membuat Alex dan Sam bergegas mendatangi Zahra.


"Mana kami tahu," sahut Alex.


"Lagi pacaran kali," celetuk Sam asal.


Mendengar jawaban Sam, Alex langsung menginjak kaki Sam.


"Ponselnya kehabisan baterai mungkin, Nona Bos," serobot Alex.


Zahra mengangguki jawab Alex pelan karena itu sangat masuk akal. Apalagi Nicholas memang tidak terlalu peduli dengan ponselnya.


"Kalian, belikan aku roti di toko langgananku," suruh Zahra memberikan uang kepada Sam.


Sam langsung berjalan mengambil jaketnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Sam ketika melihat Alex mengambil kunci mobil.


"Ikut dengamu, kemana lagi memangnya?"


Sam menepuk jidatnya. Ia heran bagaimana bisa Nicholas menyuruh si bodoh Alex ini tinggal di sini.


"Kau di sini saja. Jaga Zahra," ucap Sam.


"Kan tadi Nona Bos bilang 'kalian'. Itu artinya kita berdua," sahut Alex kekeh ingin ikut.


Sam langsung menjitak kepala Alex.


"Hei bodoh! Kalau kita berdua pergi terus nanti jika Zahra butuh bantuan bagaimana? Siapa yang akan membantunya?" Jelas Sam panjang lebar.


Alex tampak berpikir dan itu membuat Sam semakin frustasi.


"Tak usah pikir lagi. Kau diam dan temani Zahra di sini. Aku akan segera kembali," sambung Sam dengan nada pasrah.


Alex pun mengangguk dan ngacir menuju kamar Zahra ketika melihat raut Sam yang sudah sangat emosi menghadapi dirinya.


"Kau kenapa balik?" Tanya Zahra kepada Alex.


"Sam yang menyuruhku. Katanya, aku merepotkan jika ikut," sahut Alex sambil mengambil stik playstation.


"Ayo main, aku bosan," sambung Alex.


Zahra pun mengambil stik playstation yang disodorkan Alex. Mereka berdua bermain dengan senangnya meski dihiasi dengan beberapa perdebatan kecil.


Di sisi lain, Sam yang pergi membeli roti terus saja menambah kecepatan motornya. Ia khawatir meninggalkan Zahra bersama si bodoh Alex. Ia tak percaya jika Alex bisa menjaga Zahra dengan baik. Bahkan, Sam juga beberapa kali menerobos lampu merah.

__ADS_1


****


"Sudah semua?"


Hanna mengangguk mantap. Hanna dan Nicholas pun pergi meninggalkan rumah sakit.


Sedang dari kejauhan, Zicho hanya bisa menatap kepergian Hanna. Ia pikir, Hanna masih marah dan perlu waktu untuk bisa memaafkan dirinya.


"Kamu mau terus sembunyi di sini?" Tanya Hamilton menepuk bahu putranya.


Zicho sontak menoleh, "Ayah kok di sini?"


"Anak bodoh! Kau pikir ini rumah sakit milik siapa?" Sahut Hamilton menjitak kepala Zicho.


Zicho hanya diam enggan mempedulikan Hamilton.


"Kerjaanmu hari ini menjaga dinding ya?" Tanya Hamilton.


Zicho melirik Hamilton dan terlihat Hamilton sedang memikirkan sebuah akal bulus. Sebelum pria tua bangka itu memberinya banyak pekerjaan, Zicho sudah lebih dulu lari untuk mengecek restorannya.


Hamilton menggeleng melihat kelakuan putranya itu. Benar-benar mirip dengan dirinya ketika muda. Pandangan Hamilton teralihkan oleh Hanna yang berdiri sendirian di lobby menunggu Nicholas mengambil mobil.


"Hanna Maureen ya," gumam Hamilton.


Tak lama kemudian, ponsel Hamilton berdering. Sebuah panggilan dari salah satu bawahannya yang ia suruh untuk menyelidiki Hanna.


"Kami menemukan sesuatu, tuan," sahutnya dari ujung telepon.


"Baiklah, kita bicara di ruang kerjaku siang ini."


Panggilan pun berakhir. Hamilton bergegas kembali ke mansion keluarga Hamilton.


Hamilton sangat berharap banyak jika putri kandungnya masih hidup dan bisa ia temukan. Selama ini, pencarian putrinya selalu terhambat karena Karin yang begitu lengket dengan dirinya. Beruntungnya, ia berhasil membujuk Karin untuk mengurus cabang di Amerika.


"Didi, tolong ambilkan mobilku ke lobby sekarang," suruh Hamilton kepada penjaga pintu rumah sakit.


Didi mengangguk sedang Hamilton kembali ke ruangannya sebentar untuk mengambil jas dan tasnya.


"Terima kasih," ucap Hamilton langsung masuk dan melajukan mobilnya.


Hamilton tiba di mansion 30 menit sebelum jam janjian. Ia langsung masuk ke ruang kerjanya setelah memberi pesan kepada pengurus rumah jika ada yang mencarinya suruh langsung ke ruang kerja.


Jarak rumah sakit dengan mansion keluarga Hamilton memang cukup jauh sehingga butuh waktu yang lumayan lama untuk tiba. Tapi, Hamilton yang sudah tak sabar mendengar kabar dari bawahannya itu mengebut agar cepat sampai di mansion.


Tok tok tok


"Masuk," sahut Hamilton.


Theo langsung duduk di hadapan Hamilton. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat berisi informasi tentang Hanna.

__ADS_1


"Tuan, gadis itu dulu tinggal di panti asuhan. Saya sudah menyelidiki di panti asuhan tersebut, tapi tak banyak informasi yang saya dapat."


"Tak apa," sahut Hamilton sembari membaca beberapa lembar kertas yang beisi informasi tentang Hanna.


"Tuan, lihat ini. Saya menemukan ini di rumah gadis itu. Tapi, saya tak menemukan hal itu di panti asuhan," ucap Theo sembari menyodorkan sebuah foto.


Hamilton mengambil foto tersebut.


"Baik, keluarlah dulu. Aku akan mengabari untuk tindakan selanjutnya," ucap Hamilton.


Theo pun pergi meninggalkan Hamilton yang masih terpaku pada foto dalam genggamannya.


Mata Hamilton mulai berkaca-kaca.


"Putriku, Alexa.... " Lirih Hamilton.


Hamilton tak lagi mampu menahan air matanya hingga menangis tersedu-sedu.


Pengurus rumah yang mendengar suara tangisan Hamilton menjadi sedikit khawatir.


"Tuan, tuan tak apa?" Tanya pengurus rumah dari luar pintu.


Hamilton dengan suara yang hampir tak terdengar menjawab bahwa ia ingin sendiri.


Pengurus rumah pun pergi dari depan ruang kerja Hamilton.


Foto dua bayi yang ada di genggaman Hamilton terus saja di pandangi penuh haru. Sayangnya, Emily sudah tak lagi di sisinya untuk melihat putri mereka yang telah lama hilang.


"Nick, kirim 10 orang terbaik kita untuk menjaga Alexa, putriku." Perintah Hamilton melalui telepon.


"Tuan? Tuan bercanda? Nona muda Alexa sudah tidak ada, tuan," sahut Nick yang belum tahu.


"Pergi saja, minta alamatnya pada Theo. Kau akan tahu nanti," sahut Hamilton mematikan panggilan secara sepihak.


Hamilton meletakkan foto itu dalam sebuah figura. Ia meletakkannya di sebelah foto Emily yang tengah tersenyum.


Perasaan Hamilton campur aduk karena ia akhirnya menemukan jejak putrinya yang dulu di culik. Hal itu membuat Emily sangat terpukul hingga jatuh sakit dan akhirnya ia tak mampu lagi bertahan.


Karena Hamilton merasa gagal menjaga dua wanita yang sangat ia sayangi dan cintai akhirnya membangun sebuah rumah sakit.


"Emily, aku menemukan Alexa, putri kita," lirih Hamilton mengusap foto Emily.


"Sebentar lagi, aku akan membawanya menemuimu," sambung Hamilton.


Rasa haru di dadanya terus saja membuat air mata mengalir membasahi pipinya. Ia bahagia, tapi ada rasa sesak yang terasa sangat menyakitkan hingga Hamilton tak kuasa membendung air matanya.


Hamilton yang terkenal kejam dan dingin meneteskan air mata hanya karena wanita. Jika Zicho melihat pasti akan meledek dirinya yang menangis.


Melirik jam yang sudah semakin siang, Hamilton memanggil pengurus rumah untuk membawakan makan siang ke ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2