Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 48


__ADS_3

"Hanna, jangan sampai kau terhasut olehnya.... " gumam Nicholas.


"Kalian semua, bersiaplah!" ucap Nicholas kepada bawahannya melalui alat komunikasi.


Nicholas dengan santai memasuki pekarangan mansion Bella. Ia tak sedikitpun merasa gugup karena di sambut oleh anak buah Bella.


Nicholas memarkir mobil tepat di depan pintu mansion dan berjalan keluar dari mobil penuh wibawa.


Tak lama kemudian Bella pun keluar, "Wah wah wah, ada tamu tak diundang rupanya."


Nicholas menggertakkan giginya, "Dimana Hanna!"


"Santailah sedikit Tuan muda Wijaya," sahut Bella.


"Albert."


Albert yang dilirik Bella langsung paham dan masuk untuk menyeduh teh.


Bella pun mempersilakan Nicholas untuk masuk. Meski Nicholas sempat menolak, pada akhirnya ia mau setelah diancam menggunakan Hanna.


Nicholas mengekor Bella dengan patuh. Bella pun mempersilakan Nicholas untuk duduk dan menikmati teh yang sudah diseduhkan oleh Albert.


Nicholas tampak bimbang menggoyang-goyangkan cangkirnya.


"Kau takut aku memberimu sesuatu ya?" tanya Bella, namun tak direspon oleh Nicholas.


"Tenang saja, aku tak menambahkan apapun kedalam tehmu. Kecuali.... "


Nicholas langsung melirik Bella dengan penuh tanda tanya.


"Kecuali apa!"


Bella tertawa keras, "Kecuali gula. Kau serius sekali Tuan muda Wijaya."


Nicholas semakin kesal dibuat Bella. Ia pun langsung meneguk habis tehnya.


"Dimana Hanna!" teriak Nicholas tak terkontrol.


Emosi Nicholas yang semakin meledak-ledak membuat Bella semakin senang karena merasa terhibur.


Sedang Nicholas semakin tak tenang sebelum melihat Hanna baik-baik saja.


"Bella, aku tahu kau terobsesi dengan tahta dunia bawah milik keluarga Hamilton. Tapi, kau salah sasaran jika menjadikan Hanna sebagai umpan," ucap Nicholas dengan penuh emosi.


"Hahahaha, kau lucu sekali."


"Nicholas Nazriel Wijaya, kau salah dalam semua perkiraanmu. Termasuk yang terakhir," sahut Bella penuh penekanan lalu berlalu pergi.


"Albert, usir tamu tak diundang ini." perintah Bella kepada asistennya.

__ADS_1


Albert pun menyuruh beberapa bodyguard untuk menyeret Nicholas keluar dari mansion.


Nicholas tentu saja memberontak sekuat tenaga karena kedatangannya adalah untuk menjemput Hanna.


"Tuan muda Wijaya, yang anda cari sudah saya bantu membawanya ke mobil anda. Jadi, jangan buat keributan lagi di sini." ucap Albert dingin.


Nicholas pun langsung berlari menuju mobilnya tanpa menunggu apapun. Yang ia khawatirkan hanyalah keselamatan Hanna. Ia tak ingin terjadi sesuatu apapun kepada Hanna.


Albert tersenyum miring melihat punggung Nicholas yang menghilang di balik pintu utama mansion.


Nicholas yang melihat Hanna tak sadarkan diri pun langsung membawanya ke rumah sakit.


...****************...


"Tuan! Data kita hilang!" Ucap seorang dokter yang bertugas memeriksa sampel DNA Hanna.


"Apa! sudah kalian selidik?" tanya Ethan murka.


"Sialan! Kalian selidiki secepatnya. Gunakan sampel yang tersisa untuk memeriksa ulang," sambung Ethan.


Semua dokter yang hadir dalam panggilan video tersebut tampak ketakutan melihat Ethan yang murka bahkan hingga menghancurkan meja kerjanya.


Tanpa aba-aba para dokter langsung melaksanakan perintah Ethan. Tentu mereka harus patuh, karena nyawa akan menjadi taruhannya jika tak mau mematuhi perintah Ethan.


Ethan yang masih memegang tahta kerajaan dunia bawah keluarga Hamilton tentulah sangat ditakuti semua orang. Bahkan, tabiat buruknya terhadap putrinya di masa lalu pun sudah diketahui oleh semua orang.


Sebenarnya Ethan masih tak begitu percaya dengan keluarga Wijaya untuk bekerja sama. Tapi, dari semua pembisnis yang kinerjanya sangat memuaskan hanya dipegang oleh keluarga Wijaya.


"Tuan, saya dengar Nona Hanna diculik." lapor bawahan Zicho.


Zicho pun bergegas memeriksa dan melacak keberadaan Hanna. Dengan mengerahkan segala kemampuannya, Zicho berhasil menemukan lokasi Hanna.


"Apa! Ini kan," ucap Zicho kaget.


Tanpa pikir panjang, Zicho pergi sendirian meninggalkan anak buahnya.


Hamilton dan Ethan yang juga mendengar kabar tersebut pun langsung mengirim anak buah mereka untuk mencari Hanna. Akan tetapi, mereka terlambat karena Nicholas sudah lebih dulu membawa pulang Hanna.


Sedang Zicho yang datang tak berselang lama setelahnya Nicholas pergi sedang membuat keributan di mansion Bella.


"Dimana Hanna?" tanya Zicho dingin.


Bella tak bereaksi apapun melihat keponakannya menghancurkan barang-barang miliknya. Karena ia tahu, Ethan dan Hamilton akan bertanggungjawab nanti.


"Kau sembunyikan dimana Hanna!" teriak Zicho di depan wajah Bella.


Albert langsung menyuruh 2 bodyguard untuk menjauhkan Zicho dari majikannya.


"Anak bodoh, sudah kubilang orang yang kau cari tak ada disini." ucap Bella mulai kesal.

__ADS_1


Bella pun berlalu pergi, "Albert, urus keponakanku dengan baik. Aku sudah sangat lelah."


Albert pun menunduk patuh kepada Bella. Ia lantas menyuruh bodyguard mengusir Zicho dari mansion.


"Tuan muda, anda terlambat selangkah dari seseorang." ucap Albert mengejek Zicho dengan wajah datarnya.


Zicho menggertakkan giginya, "Siapa!"


Albert tersenyum miring lalu mendekat kepada Zicho.


"Tuan muda Wijaya," bisik Albert.


Zicho melotot kaget. Sedangkan Albert memasang ekspresi senang.


Para bodyguard pun melepaskan Zicho atas aba-aba Albert. Mereka meninggalkan Zicho sendirian di halaman mansion.


Zicho berjalan dengan tertatih-tatih menuju mobilnya. Hari yang tadinya cerah berubah gelap. Perlahan-lahan buliran air turun mengguyur jalanan panas hingga berasap.


"Ni-Nicholas. Lagi-lagi,"


"Hahahaha, lagi-lagi aku kalah darimu!"


Emosi Zicho benar-benar sulit dikontrol sekarang. Bahkan ia sampai mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan di tengah hujan. Ia merasa marah kepada dirinya sendiri karena tak pernah ada disaat Hanna membutuhkannya.


"Albert, data semua barang-barang yang dihancurkan anak sialan itu." perintah Bella.


"Oh iya, setelah itu kirim datanya ke kediaman Hamilton. Suruh Ethan dan kakakku untuk ganti rugi." sambung Bella.


"Baik, saya laksanakan segera. Tuan, apa tak sebaiknya kita singkirkan saja Nona Hanna?" tanya Albert hati-hati.


Bella hanya menggeleng. Ia sedang menyiapkan rencana selanjutnya. Ia harus mencapai tujuannya menggunakan Hanna sebagai batu pijakaan. Namun, Bella masih harus memastikan beberapa hal untuk meyakinkan dirinya agar tak salah mengambil langkah.


Albert pun patuh dengan Bella dan hanya akan melaksanakan semua tugasnya sesuai yang diperintahkan oleh Bella. Apalagi Albert merupakan satu-satunya tangan kanan Bella yang sangat dipercaya keloyalannya.


"Sepertinya aku perlu menyiapkan data cadangan," gumam Albert ketika melihat data barang-barang yang dihancurkan Zicho.


Albert memijit pelipisnya melihat mansion yang sangat berantakan.


"Aih. Anak itu benar-benar membuatku sakit kepala. Jika tuan melihatnya pasti akan sangat murka," lenguh Albert.


Albert pun menyuruh pelayan untuk membersihkan semua kekacauan yang ada. Sedang Albert melaporkan data barang-barang yang rusak kepada Bella sebelum dikirim ke kediaman Hamilton.


Semua harus dilaukan dengan teliti, karena Bella sangatlah sensitif jika berkaitan dengan barang-barang miliknya. Bisa-bisa mansion akan roboh jika si empunya mengamuk di dalamnya.


"Buat salinannya saja, satunya kirim langsung ke kediaman Hamilton. Aku sudah tak sabar mendengar permintaan maaf dari Ethan dan kakakku kepadaku," ucap Bella tersenyum miring.


"Ah, baiklah."


Albert pun langsung menyuruh asistennya untuk mengirim data tersebut langsung ke kediaman Hamilton.

__ADS_1


__ADS_2