Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 17


__ADS_3

"Aw! Kamu siapa? Kenapa menjambakku!"


"Jauhi Zicho! Atau kau habis di tanganku," ucap wanita itu dengan tatapan galaknya.


"Orang gila! Lepaskan aku!" pekik Hanna sambil menjambak balik perempuan itu.


Ruang VIP riuh seketika. Hanna yang lama-lama terpancing emosi pun tak bisa lagi menahan diri dan menggunakan kemampuan beladirinya.


Perempuan itu jatuh tak berdaya di lantai. Hanna langsung merapikan rambutnya yang berantakan kemudian berjongkok di depan wanita itu.


"Apa masalahmu? Aku tidak kenal siapa kamu, tapi kamu malah mengusikku?" ucap Hanna penuh penekanan.


Tampak wanita itu sangat marah dan malu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa kepada Hanna.


"Ada apa ini?" tanya Zicho melihat seorang perempuan di lantai dan Hanna berjongkok di depannya.


"Zicho," panggil perempuan itu dengan nada manja.


Hanna yang mendengarnya memperlihatkan ekspresi jijik dan langsung bangkit, "Tuan Zicho, tampaknya nafsu makan saya sudah hilang. Saya permisi dulu."


"Oh iya, terima kasih untuk makan siangnya," sambung Hanna berlalu pergi.


Zicho hanya bisa menatap punggung Hanna yang kian menjauh. Zicho melirik perempuan di sampingnya dengan penuh emosi.


"Kau! Ikut aku!" perintah Zicho kepada perempuan itu.


Karin pun mengekor Zicho dengan patuh. Zicho membawanya ke ruangan manager restoran. Disana ia memarahi Karin habis-habisan.


"Siapa kau? Darah rendahan sepertimu selamanya tak akan bisa menjadi Nyonya Hamilton,"


"Itu miliku! Keluarga Hamilton hanya milikku seorang," sahut Karin emosi.


"Benarkah? Kau bukan keturunan sah Keluarga Hamilton. Jadi, selagi belum dihabisi kepala keluarga sebaiknya kau melarikan diri dan bersembunyi di lubang tikus jika tak ingin mati," lanjut Zicho dengan tenang namun ekspresinya menyiratkan tekanan yang begitu besar agar Karin mundur.


Zicho hendak melangkah keluar, tapi Karin malah memeluknya dari belakang.


"Aku tak peduli, karena aku hanya menginginkanmu."


Zicho menarik napas panjang dan berusaha melepaskan pelukan Karin. Karin tentu tidak mau melepaskan Zicho begitu saja. Apalagi, sangat jarang ada momen seperti itu diantara mereka.

__ADS_1


Karin memang berstatus sebagai adik Zicho dimata hukum. Namun, mereka tak memiliki hubungan darah sama sekali. Makannya Karin bersikeras ingin menjadi pasangan Zicho daripada menjadi adiknya.


Posisi Karin dalam Keluarga Hamilton hanyalah sebagai pengganti adik kandung Zicho yang hilang diculik oleh musuh Keluarga Hamilton. Keluarga Hamilton memang sudah memiliki Karin sebagai ganti Alexandria, tapi mereka juga tak pernah diam dan terus mencari keberadaan Alexandria. Mereka sangat yakin jika Alexandria masih hidup, karena ketika Alexandria hilang Keluarga Hamilton langsung memperkenalkan Karin yang masih bayi sebagai anak mereka agar yang menculik Alexandria mengira mereka salah menculik bayi yang tidak berguna dan bisa melepaskan Alexandria hidup-hidup.


"Robert! Seret Nona Karin Hamilton ini pulang lalu kurung di kamar untuk introspeksi diri selama 3 hari," teriak Zicho kepada pengawal yang bertugas menjaga Karin.


Karin langsung kesal dan melepaskan pelukannya.


Didikan dalam Keluarga Hamilton memang terkenal keras. Itu semua dilakukan agar setiap generasi bisa bertahan hidup dan terus membuat Keluarga Hamilton berjaya dalam ranahnya.


Setelah mengurus Karin, Zicho melenggang ke sebuah club. Para pegawai yang melihat kehadiran Zicho langsung membungkukkan badan tanda hormat.


Pengurus club langsung mendekati Zicho dan membisikkan sesuatu. Mimik muka Zicho langsung berubah drastis.


"Laporkan semua padaku di ruang kerja 5 menit lagi. Jangan sampai ada informasi yang terlewat sedikitpun," perintah Zicho pada pengurus club.


"Baik tuan, saya akan mengambil berkasnya," sahut pengurus club.


Zicho sangat percaya dengan pengurus club karena memang ia sudah lama bekerja untuk Keluarga Hamilton.


Kini semua urusan bisnis Keluarga Hamilton sepenuhnya dikelola oleh Zicho. Sedang ayah Zicho sebagai kepala keluarga Hamilton hanya mengawasi kinerja Zicho sambil diam-diam mencari keberadaan Alexandria.


"Tuan, baru-baru ini saya mendapat informasi bahwa ada pergerakan aneh di tempat itu. Ini beberapa berkas informasinya," ucap pengurus club menyodorkan sebuah amplop cokelat.


"Tetap awasi dan laporkan padaku. Sisanya biar aku yang mengurus," ucap Zicho setelah membaca berkas itu.


...****************...


"Hanna...." panggil Zahra sambil mewek.


Hanna pura-pura marah dan mengabaikan Zahra. Ia ingin membuat Zahra jera karena telah mengabaikan dirinya.


"Hanna, maafkan aku. Tadi bosmu mengusirku dan memaksaku bekerja. Jadi, aku tak tahu kau meneleponku," bujuk Zahra dengan tampang memelas dan puppy eyes andalannya.


Melihat wajah memelas Zahra, hati Hanna luluh dan menyodorkan jari kelingkingnya. Hanna ingin Zahra berjanji untuk mengabarinya jika memang dia akan sangat sibuk agar Hanna tak mengganggu ketika Zahra bekerja.


Zahra dengan mata berbinar menyambut jari kelingking Hanna.


"Ayo makan, aku beli kue kesukaanmu tadi," ajak Zahra menarik Hanna ke ruangannya.

__ADS_1


Untungnya Hanna ke kampus karena harus mengurus berkas untuk magang. Jadi ia tahu bahwa Zahra ada di kampus karena ada jadwal mengajar.


Hanna yang hendak bertemu dengan dosen pembimbingnya tak sengaja menabrak Zahra yang baru selesai mengajar. Dan jadilah, Zahra merengek membujuk Hanna setelah dimarahi karena tak ada kabar.


"Sebentar, aku mau kasih berkas ke pembimbing magangku," ucap Hanna.


"Siapa?"


"Mrs. Riska," sahut Hanna datar.


Ketika Hanna hendak pergi, Zahra menarik baju belakang Hanna. Mau tak mau Hanna mundur kembali selangkah.


"Apa?"


"Mana berkasnya?"


"Ayo ke ruanganku. Kamu tidak tahu jika pembimbingmu diubah?" lanjut Zahra.


"Hah?"


Dengan wajah terheran-heran Hanna diseret masuk ke ruangan oleh Zahra dan didudukkan di sebuah kursi depan meja kerja Zahra.


"Lihatlah,"


"Semuanya sudah beres. Biar aku yang mengatakan pada bosmu jika kau sekalian mengambil nilai magang nanti," sambung Zahra.


Hanna yang masih membaca kertas yang disodorkan Zahra hanya diam tak mendengarkan ucapan Zahra.


Ketika membaca namanya dan ternyata pembimbingnya adalah Zahra, matanya langsung membulat dan bersinar penuh kegembiraan. Bagaimana tidak, ia bebas dari dosen pembimbing paling killer di fakultas.


"Ra, ini beneran?" tanya Hanna memastikan.


"Iya, aku kan barusan bilang sama kamu. Berkasmu sudah ku urus, tinggal mengatakan pada bosmu saja. Kamu nanti tinggal bekerja dengan baik saja dan kalau bosmu menyusahkanmu, katakan padaku. Akan aku beri dia pelajaran," jawab Zahra berapi-api.


"Sudah, makan dulu kue kesukaanmu ini," sambung Zahra.


Hanna pun mulai menyendokan kue dan memberikan suapan pertama untuk Zahra. Hanna dan Zahra selalu terlihat sangat mesra bak pasangan kekasih. Mungkin jika orang melihat akan mengira mereka memang sepasang kekasih.


Tapi faktanya tentu tidak, meski mereka kerap berlaku manis kepada satu sama lain.

__ADS_1


Zahra menatap Hanna yang tengah mengunyah. Ia terlihat sangat menggemaskan, pipi chubbynya tampak mengembang seperti tupai yang menyimpan kacang di mulutnya.


Zahra secara diam-diam memotret Hanna karena terlihat sangat lucu.


__ADS_2