
Semburat senja yang begitu cantik menelusuk ruang kerja mewah bergaya klasik melalui sela-sela gorden putih yang menggantung sempurna pada jendela. Seorang pria tampak tengah menunggu kehadiran seseorang bersama teh hangat yang tersaji di depannya.
Suara langkah kaki pelan terdengar memasuki ruangan membuatnya refleks berdiri sebagai tanda hormat.
"Ada apa tuan mencari saya?" Tanya Sam yang sudah menanti cukup lama.
"Carikan informasi tentang orang ini. Aku butuh secepatnya," perintah seseorang sambil menyodorkan sebuah foto seorang gadis yang tengah menikmati makanannya sembari tersenyum.
"Mengapa saya? Bukankah tuan memiliki anak buah sendiri?" Tanya Sam yang sebenarnya enggan menerima pekerjaan dari orang lain.
Pria di hadapan Sam memang memiliki banyak anak buah yang terkenal dengan kekuatannya. Namun, demi menjaga kerahasiaan hal tersebut ia meminta Sam untuk mengumpulkan informasi terkait seorang gadis.
Terlebih, kredibilatas Sam yang tak main-main membuatnya lebih percaya dan yakin kepada Sam.
"Dia siapa hingga tuan repot-repot meminta saya yang menyelidikinya?"
"Dia? Hanya seseorang yang saya curigai," jawabnya.
"Kau tahu bukan, aku tak suka seseorang menggali informasi lebih tentang apa yang ku inginkan?" Sambungnya.
Sam mengangguk dan menyeruput teh miliknya. Anak buah terbaik milik Nicholas itu pun sesekali bekerja untuk orang lain karena Zahra yang harus ia jaga sudah tak lagi berada di Eropa. Ia menjadi lebih santai karena hanya harus fokus mengurus beberapa bisnis milik Nicholas di Eropa.
Ketika Sam merasa penawaran kliennya tidak sesuai, ia akan pergi tanpa basa-basi. Demikian pula saat ini dan baru saja Sam pergi, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya.
"Halo."
"Sam, pulanglah."
Sam bingung lantaran tak tahu siapa yang menelepon dan malah menyuruhnya pulang seolah-olah ia tahu di mana rumah Sam.
"Kau siapa? Berani sekali menyuruhku," sahut Sam tak suka.
"Aku bosmu!" Sahut Nicholas tak sabar.
"Bilang dong dari tadi," jawab Sam santai.
"Kenapa mencariku? Zahra di Eropa lagi?" Tanya Sam memastikan.
"Tidak, pulanglah. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu."
"Ah, tidak-tidak. Aku yang menyusulmu saja," sambung Nicholas ketika melihat ada jadwal kosong minggu depan.
Sam mematikan panggilan dengan bingung. Ia berpikir sepertinya bosnya itu sedang kerasukan setan. Nicholas yang ia kenal itu sangat arogan dan dingin. Tapi, nada bicara Nicholas barusan seperti bukan Nicholas yang ia kenal.
Sam pun mengendarai mobil sport miliknya untuk pulang. Ia sudah sangat lelah karena harus mengurus bisnis Nicholas dan juga mengambil pekerjaan tambahan sebagai informan.
__ADS_1
"Ah, melelahkan sekali. Kira-kira, bagaimana kabar Zahra sekarang ya?" Lenguh Sam merebahkan tubuhnya di sofa.
Sam yang sudah sangat lama menjaga Zahra sesekali merasa rindu. Apalagi, mereka dulu sering sekali bertengkar karena Zahra yang suka sekali usil dan kabur.
"Dia tidak diganggu laki-laki brengsek lagi bukan?" Ucap Sam bertanya-tanya karena Nicholas tiba-tiba menghubunginya.
"Aih, haruskah kusuruh bawahanku untuk mengawasinya juga?" Sambung Sam frustasi.
Sam benar-benar tidak rela jika Zahra kembali dipermainkan oleh laki-laki.
"Ah, entahlah. Aku pergi kencan saja dengan Elena," ucap Sam sembari menghubungi kekasihnya.
Ketika Elena mengiyakan ajakan Sam, ia langsung begegas mengganti pakaian dan tak lupa ia membeli sebuket bunga untuk Elena.
"Bodoh sekali Sam. Apa suaraku berubah hingga ia tak mengenali suaraku?" Gerutu Nicholas kesal.
...****************...
"Hanna, sudah jam pulang bukan?" Tanya Zahra setelah melirik arloji di pergelangan tangannya.
Hanna menunduk lemas, mengingat kejadian ia dimarahi Alex. Hanna pun tanpa sengaja menceritakan masalahnya kepada Zahra. Ia tak pernah bisa menyimpan rahasia di depan Zahra. Mulutnya seolah bergerak sendiri mengucapkan kata demi kata tanpa kendala.
"Wah, berani-beraninya mereka memarahi kesayanganku..." Ucap Zahra berapi-api.
"Biar ku urus mereka. Kau pulang denganku hari ini," ajak Zahra menggandeng tangan Hanna.
Hanna tersenyum dan jalan beriringan dengan Zahra. Mereka berencana untuk makan malam bersama di rumah Hanna.
Hanna yang hendak mengambil tas di meja kerjanya sedikit bingung karena Alex tak ada. Tapi Hanna tak ambil pusing dan tak peduli.
Sedang Zahra tampak sibuk dengan ponselnya.
[Hanna aku ajak pulang. Kami mau makan malam bersama, jadi jangan ganggu aku.]
Pesan yang tanpa basa-basi itu ia kirimkan kepada Nicholas.
"Sudah?" Tanya Zahra kepada Hanna.
"Em," sahut Hanna singkat sambil mengangguk.
Mereka pun berlalu pergi menuju lobby. Karena Zahra memarkir mobilnya di lobby ketika datang.
Tanpa basa-basi Zahra langsung tancap gas. Bukan Zahra namanya, jika tidak mengebut.
"Kita masak apa?" Tanya Hanna melempar tasnya asal.
__ADS_1
"Kau mandi dulu saja, aku yang akan memasak."
Hanna menyipitkan mata menatap Zahra. Ia agak meragukan kemampuan Zahra di dapur. Mendengar ia yang akan memasak saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Kau yakin mau memasak?" Tanya Hanna was-was.
Zahra mengangguk penuh keyakinan.
Hanna masih saja khawatir meninggalkan dapurnya dengan Zahra. Bisa-bisa dapurnya sudah rata dengan tanah ketika Hanna selesai mandi nanti.
Melihat Zahra yang begitu bingung mencari panci dan yang lainnya, Hanna pun turun tangan.
"Ra, kamu aja yang mandi sana. Biar aku yang masak," ucap Hanna merebut pisau dari tangan Zahra.
"Hei! Kau tak percaya padaku?" tanya Zahra kekeh ingin masak.
Hanna benar-benar sulit mempercayai Zahra kalau urusan masak memasak. Akan tetapi, Zahra yang memaksa Hanna untuk mandi dengan mengancamnya pun pasrah saja meski sangat tidak rela.
Setelah Zahra memastikan Hanna mandi, ia pun mulai menyiapkan bahan-bahan masakan. Ia memotong bawang, cabai, daun bawang dan juga sayur-sayuran.
Sebenarnya Zahra tak begitu paham hendak memasak apa karena ia hanya mengikuti resep di internet.
"Apa bener begini motongnya ya?"
"Bener nggak sih?" tanya Zahra lagi lalu mengambil ponselnya dan memastikan apa yang ia lakukan sesuai dengan resepnya.
Melihat sudah sesuai dengan resep, Zahra pun melanjutkan aktivitasnya. Zahra hendak membuat sayur sop, sambal dan menggoreng telur.
Menu sederhana tapi bagi Zahra sangat sulit karena itu pertama kalinya Zahra memasak.
Zahra terus saja memasak dengan senang hati. Ia hingga lupa membereskan dapurnya.
"Kau sudah sele-sai?" tanya Hanna terkejut.
Hanna terkulai lemas di depan pintu kamarnya ketika melihat dapurnya sangat berantakan, "Ra, kamu apakan dapurku?"
Zahra tersenyum dengan wajah tanpa dosanya, "Hai Na! Ayo duduk. Aku sudah selesai masak."
Hanna berjalan perlahan mendekati dapur. Sambil berusaha membereskan semua kekacauan yang dibuat Zahra. Zahra yang melihat Hanna ke dapur malah langsung mendorongnya untuk duduk di meja makan.
"Hei, makanannya di sini, Na."
"Cicipilah," ucap Zahra sambil mengulurkan sendok untuk Hanna.
Hanna pun mencoba masakan Zahra dengan rasa curiga dan tak yakin. Dengan perlahan Hanna mencicipi sayur sop buatan Zahra. Ia tampak ragu menyuapkannya ke dalam mulut. Tapi, melihat Zahra yang begitu berharap Hanna mencicipi masakannya pun membuat Hanna terpaksa menyuapkannya ke dalam mulut.
__ADS_1
Hanna memejamkan matanya kuat-kuat.
"Bagaimana?" tanya Zahra tak sabar mendengar penilaian Hanna.