Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 34


__ADS_3

"Bos, ada dua orang pria yang menerobos masuk ke rumah Hanna."


"Selidiki! Tambah orang untuk berjaga di sekitar Hanna."


Nicholas menjadi was-was ketika mata-mata yang ia suruh menjaga Hanna memberikan laporan seperti itu ketika dirinya sedang tidak ada.


Karena ia khawatir, ia pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Sedangkan Alex ia suruh untuk menjaga Zahra bersama Sam.


Zahra sebenarnya enggan mengizinkan kakaknya meninggalkan dirinya di Eropa sendirian. Meski ada Alex dan Sam, tapi ia tak mungkin bermanja-manja dengan mereka.


Pagi-pagi buta, Nicholas memesan tiket dan langsung terbang untuk kembali.


"Mari kita lihat, siapa yang berani mengganggu wanita milik seorang Nicholas."


Perjalanan yang menguras waktu hingga 12 jam tersebut membuat Nicholas gelisah. Ia khawatir dengan keselamatan Hanna.


Ia tak sabar untuk cepat sampai dan mulai menyesal mengapa ia tak naik jet pribadi saja.


Ditengah kegelisahan Nicholas, Zahra menatap langit yang masih penuh bintang-bintang. Terbesit rasa rindu kepada Hanna yang selalu ia ajak bicara dan bermain.


Di Eropa, ia tak dapat melakukan hal itu karena tak ada teman yang seasik Hanna.


"Hanna, aku rindu.... " lirih Zahra pada angin malam yang membelainya lembut.


"Ara? Kamu ngapain di sana?" Tanya Sam mengagetkan Zahra.


Zahra buru-buru menyeka air matanya.


"Tak ada," sahut Zahra tak berani menatap Sam.


Sam yang sudah mengenal Zahra dari lama hanya menghela napas. Ia paham betul ketika ada sesuatu yang membebani perasaannya.


"Aku ... Hanya rindu temanku di rumah," ucap Zahra menitikkan air mata.


Sam pun mendekat dan memapah Zahra untuk duduk di kursi balkon. Sam menatap dalam manik mata Zahra. Zahra tak lagi mampu membendung air matanya. Ia merasa sangat terpuruk dengan kondisinya sekarang. Ditambah lagi dengan papanya yang hendak menjodohkannya dengan putra keluarga Hamilton.


"Hei.... Tak apa. Ada aku di sini," hibur Sam menenangkan Zahra.


Gadis mungil yang ia jaga dari beberapa tahun lalu itu membuat dirinya prihatin karena ia harus menghadapi hal berat semacam itu secara bersamaan.


Sam pun memeluk Zahra hangat. Meski rasanya berbeda dengan pelukan Nicholas, Zahra merasa sedikit terhibur dengan kehadiran Sam di sisinya.


"Istirahatlah, sudah malam. Biar aku temani," ucap Sam membujuk Zahra tidur karena esok akan jadi hari yang melelahkan bagi Zahra.


"Baiklah. Temani aku," sahut Zahra lesu.


Pagi mulai menyapa, tapi Hanna terus terjaga sepanjang malam karena was-was para pria itu akan datang lagi ketika ia tidur.


Meski kelelahan dan kurang tidur, Hanna harus tetap berangkat ke kantor. Sebelum berangkat, Hanna memastikan bahwa pintu dan jendela terkunci dengan benar.

__ADS_1


"Ngantuk sekali," gumam Hanna meletakkan kepalanya di meja kerja.


Ia benar-benar tak bertenaga. Tapi, pekerjaan Hanna sangat menumpuk dan itu tak akan mungkin selesai jika hanya ia lihat saja.


"Ayo, semangatlah Hanna!" seru Hanna menyemangati diri sendiri.


Hanna pun bangkit membuat kopi di pantri agar dirinya sedikit bersemangat.


Ketika kembali dari pantri, Hanna merasa sangat pusing dan terjatuh tiba-tiba. Semua karyawan yang melihat Hanna terjatuh pingsan langsung mengerubungi dan panik.


Nicholas yang terburu-buru hendak ke ruangannya melihat karyawannya berkerumun langsung membentak.


"Ada apa ini? Kalian tidak mau gaji kalian lagi?" Bentak Nicholas.


Semua karyawan langsung menghadap Nicholas sambil menunduk. Terlihat seseorang tergeletak dari celah-celah para karyawan yang berkerumun itu.


Nicholas langsung panik melihat Hanna tergeletak di lantai dan tak ada orang yang memanggilkan ambulans satu pun.


"Kalian bodoh ya? Panggil ambulans sekarang!"


Nicholas menggendong Hanna menuju lobby.


Dengan rasa khawatir Nicholas terus memegang tangan Hanna sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Melihat lengan Hanna tertanam jarum infus membuat Nicholas merasa sedih.


"Hanna, maafkan aku.... "


"Dia hanya kelelahan, biarkan dia istirahat sejenak," sahut dokter lalu berlalu pergi.


Nicholas sangat bersyukur karena tak ada hal serius yang terjadi kepada Hanna.


Tak lama kemudian Hanna tersadar dan terkejut karena Nicholas ada di sampingnya. Seharusnya Nicholas pulang 5 hari lagi, tapi malah ia ada di sampinya sekarang.


"Mr?" Panggil Hanna memastikan.


"Hanna! Kamu sudah sadar? Kamu haus? Kamu mau makan? Biar aku belikan," ucap Nicholas langsung berlalu pergi tanpa mendengar jawaban Hanna.


Nicholas pun pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makan.


"Nicho?" Panggil Zicho yang tak sengaja melihat Nicholas di kantin rumah sakit.


"Hei bro! Kok ada di sini?" A-apa Zicho kepada Nicholas.


"Eh? Kau ngapain di sini?" Tanya Nicholas balik.


Zicho mencebikkan bibirnya, "Kau lupa? Ini kan rumah sakit milik keluarga Hamilton."


"Astagaaa, iya juga. Kenapa aku lupa hal itu. Sebentar," sahut Nicholas.

__ADS_1


Nicholas lanjut memesan makanan dan minuman untuk Hanna terlebih dahulu. Sembari menunggu makanan jadi, Nicholas dan Zicho mengobrol tentang beberapa hal terutama bisnis mereka.


"Ah, aku di sini mengantar asistenku. Dia pingsan di kantor tadi," ucap Nicholas.


"Asisten! Alex? Kenapa? Biarkan aku menjenguknya," sahut Zicho yang tak tahu jika Nicholas punya asisten lain.


Nicholas hanya menggeleng dan meneguk kopinya.


"Siapa? Wanita? Ruangan mana? Biar aku jenguk asisten barumu itu," Zicho menjadi bersemangat.


Nicholas diam dan pergi mengambil makanan yang sudah ia pesan, "Ayo, kau bilang mau menjenguk asistenku."


Zichol langsung ngacir menyusul Nicholas. Sepanjang koridor Zicho terus bertanya karena sangat penasaran dengan sosok asisten Nicholas yang mampu membuat orang secuek Nicholas luluh.


"Masuklah," ajak Nicholas.


Zicho pelan-pelan muncul dari balik pintu membuat Hanna melotot kaget.


"Hanna!"


"Zi-Zicho," ucap Hanna dan Zicho berbarengan.


Nicholas menoleh Hanna dan Zicho bergantian. Ia bingung dengan situasi aneh yang ada di depannya itu.


"Kalian, saling kenal?" Tanya Nicholas.


"Kenal!" Sahut Zicho.


"Nggak," sahut Hanna berbarengan lagi dengan Zicho.


Nicholas semakin bingung mendengar jawaban Hanna dan Zicho yang saling berlawanan.


Sedangkan Zicho langsung mendekat kepada Hanna. Mereka terlihat sangat akrab membuat Nicholas cemburu.


"Hanna, makanlah dulu. Aku mau menyuruh orang kantor membawa pekerjaanku ke sini," ucap Nicholas langsung keluar.


"Sini, biar aku suapi," tawar Zicho merebut sendok yang ada di tangan Hanna.


Zicho terus saja mencoba untuk mendekati Hanna terlebih lagi Nicholas tidak ada di antara mereka.


"Ka-kamu ngapain ada di rumah sakit?" Tanya Hanna hati-hati.


Zicho tertawa kecil, "Ini rumah sakit milik pria tua yang mengajakmu makan bersama waktu di restoranku kemarin."


Hanna hanya mengangguk meski tak begitu paham maksud Zicho. Sedang Zicho terus tersenyum senang karena bisa menyuapi Hanna yang biasanya selalu menolak dirinya.


"Hanna, sepertinya mata pria tua bangka itu benar. Kamu sekilas terlihat sangat mirip dengan mendiang ibuku," ucap Zicho tiba-tiba.


Hanna langsung terdiam. Zicho yang melihat hal tersebut langsung berhenti menyuapi Hanna.

__ADS_1


"Sorry, aku nggak bermak-,"


"Hanna, aku harus ke kantor dulu sebentar. Nanti aku kembali lagi," ucap Nicholas yang tiba-tiba muncul memotong omongan Zicho.


__ADS_2